Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Amplop Putih


__ADS_3

Candra lebih banyak diam sedari mobilnya keluar dari halaman kos Anara. Mata lelaki itu tajam menghadap jalanan di depan. Anara di sampingnya juga tak banyak bersuara seperti hari-hari yang lalu.


"Kita kemana?" Tanya Anara memecah hening di dalam mobil.


Candra masih diam tak merespon, "kamu denger aku?" Ucap Anara lagi.


Candra mengangguk, tetapi tatapannya tak beralih pada perempuan di sampingnya. Hatinya masih berkecamuk, digelayuti segala tanya tentang dua orang yang sedang membuat janji untuk esok hari itu.


"Candra! Kita kemana?" Tanya Anara dengan lantang.


"Kemana pun."


"Serius deh! Kita kemana?"


"Makan bakso. Mau?" Balas Candra cepat. Kali ini netranya menatap Anara, melihat bagaimana respon perempuannya itu.


"Boleh."


"Ya udah."


Akhirnya keduanya berhenti di gerai bakso pinggir jalan. Pilihan itu jatuh ke tempat asal-asalah, asal jual bakso.


"Tumben nggak di tempat biasa?"


"Kejauhan."


"Ini untuk ngisi perut aja. Habis ini kita beneran jalan." Imbuh Candra, hatinya masih panas dibuat oleh Anara karena telepon tadi.


Pasti itu Bryan. Playboy itu ya. Dimintain tolong, eh malah keterusan.


Anara mengernyit heran melihat sikap dingin Candra, "kamu kenapa?"


"Lagi panas aja cuacanya."


"Perasaan ini dingin deh."


"Iya kamu, aku panas." Sungut Candra mengibas tangannya mengundang angin.


Tapi itu jelas percuma. Yang merasai panas adalah hatinya. Segala kalimat tanya bersarang di kepalanya. Dari kapan mereka saling teleponan?


Dua mangkuk bakso dengan kuah mengepulkan panas sudah siap di meja, Candra yang sebenarnya sama sekali tidak nafsu makan itu mulai mengaduk-ngaduknya setelah mencampur saus sambal dan kecap.


"Kenapa nggak dimakan?" Tanya Anara memerhatikan Candra yang hanya mengaduk-aduk di mangkuk.


"Nggak nafsu."


"Astaga, kamu sendiri yang ngajakin."


"Pulang aja yuk! Besok aku jemput kamu pagi-pagi." Ucap Candra tiba-tiba.


"Hah? Mau kemana?"


"Jalan."


"Aku besok udah ada janji, Ndra." Jelas Anara.


Janji sama Bryan? Baguuus. Pentingin aja noh dia!


"Janji sama siapa?"


"Bryan."


"Hmm ... ngapain janjian sama playboy cap kadal?"


"Katanya dia mau balik Surabaya. Aku pengen ngucapin makasih aja. karena dah mau repot-repit urusin kamu. Nah, besok aku janji traktir dia makan bakso. Gimana dong? Apa kamu ikut sekalian aja."

__ADS_1


"Beneran?" Tanya Candra antusias. Hatinya lega, ternyata Anara tak menyembunyikan itu darinya.


Anara mengangguk. Lalu Candra kembali berujar, "kalau gitu malam ini kita jalan!"


"Gimana sih?"


"Kalau besok sama Bryan ya keganggu dong nge-date kita, nggak mau." Jelas Candra.


"Terserah kamu aja." Anara kembali menyuapkan sendok ke dalam mulutnya. Candra yang semula hanya mengaduk-aduk tadi, kini ikut menikmati. Mood-nya sudah membaik rupanya.


...----------------...


Siang ini ketiganya berada dalam satu mobil dengan posisi Anara di belakang. Bryan yang awalnya menyangka acara makan bakso hanya akan dihadiri olehnya dan Anara saja, sedikit kecewa karena Candra juga ikut serta.


"Balik jam berapa, Yan?" Tanya Anara.


"Agak sorean, biar nggak pa-nas."


"Oh, ke Malang lagi kapan?"


"Nunggu kabar wisudamu." Balas Bryan tanpa menoleh. Membuat Candra makin kesal saja.


"Caroline nggak hubungi kamu sejak ketemu itu?"


"Hah, ketemu Caroline, kapan? Siapa?"


Anara mendadak teringat jika pertemuannya dengan Bryan waktu di kafe, adalah tanpa sepengetahuan Candra.


"Kita. Gue sama Anara ketemu Caroline pas malem-malem lu nyuruh gue yakinin pacar lu." Ucap Bryan menutupi.


"Oh, gimana kabar gadis itu? Nggak pernah contact-an Yan?"


"Nggak pernah." Jawab Bryan menatap keluar kaca mobil.


"Ke bakso yang mepet rel kereta itu kan?" Candra bertanya untuk meyakinkan kembali tempat yang dipilih Anara.


Makan bakso Sabtu siang sebagai ucapan terima kasih Anara (juga Candra) dan sekaligus acara perpisahan sementara dengan Bryan sudah tunai Anara tepati.


"Kenapa nggak pindah kerja ke Malang aja, Yan?" Suara Anara memecah sunyi dalam mobil.


"Biar aja kali dia ke Surabaya. Siapa tahu nemu jodoh di sana." Tukas Candra.


"Biar kalian bisa kayak dulu. Bareng-bareng terus." Lanjut Anara.


"Semua ada masanya, An. Nggak mungkin juga kita bareng terus. Hidup terus berjalan, waktu terus berputar. Nggak ada yang abadi." Ucap Bryan.


"Kamu baru kejentus apa sih, Yan?"


"Sok bijak. Kagak pantes lu." Sela Candra.


"Tapi, beneran lo. Sekarang udah beda. Nggak kayak dulu. Makin dewasa aja semenjak kerja." Ucap Anara heran.


"Itu namanya berkembang, An. Kalau aku stuck tetep kayak zaman kuliah berarti aku nggak semakin dewasa di umurnya yang kian bertambah."


"Tuuuh, kan. Jadi bijak banget ya? Iya kan, Ndra?"


Puji teruuuuus. Puji terus, An! Sengaja banget buat aku panas.


"Iya. Jadi be-da." Balas Candra menatap ke arah Anara, memperlihatkan tatapan tak suka.


"An, ikut ke rumah ya!" Pinta Bryan.


"Ke rumah siapa?" Sambung Candra bertanya-tanya.


"Rumah elu lah."

__ADS_1


"Ngapain?" Tanya Candra dengan nada tinggi.


"Boleh, iya. Lama aku nggak ke sana. Semenjaaaak-," Ucapan Anara dijeda.


"Semenjak foto itu?" Tanya Bryan membuat Anara mengangguk.


"Nggak usah diperjelas! Udah tutup buku masalah itu." Ketus Candra melajukan mobilnya semakin cepat.


Sesampainya di rumah yang lama tak ia singgahi, Anara sedang duduk di ruang tamu. Sementara Candra membuat minum untuk kekasihnya, Bryan masuk ke kamar dan keluar dengan sebuah amplop di tangannya.


"An, mungkin aku lama nggak ke Malang nanti. Ini ... sebagai tanda perpisahan kita. Jangan dibuka dulu!"


"Oh ya, jangan kasih tau cowokmu!" Bisik Bryan.


"Hah, kenapa?"


"Buka pas kamu wisuda! Anggep aja biar penasaran. Jadi, kamu semangat ngerjain skripsi dan segera lulus." Terang Bryan tersenyum.


"Kenapa Candra nggak dikasih tau?"


"Itu permintaanku sebagai seorang sahabat. Jadi tolong!" Anara mengangguk kemudian memasukkan amplop itu ke dalam sling bag hitam setelah melipatnya.


"Kalau aku nggak penasaran, gimana?"


"Ya nggak usah dibuka! Buka nantiiii kalau kamu mau aja."


"Apa sih isinya?" Anara menatap amplop berwarna putih itu lama, hadiah perpisahan macam apa ini? Malah bikin orang penasaran. Ada-ada aja.


"Penasaran kan? Makanya cepet lulus." Bryan terkekeh.


Candra yang memerhatikan keduanya malah merasa jadi obat nyamuk di rumahnya sendiri.


"Jadi gue yang macem nyamuk. Buatin minum pula. Mereka malah asik ngobrol." Gerutu Candra mengaduk lemon tea buatannya.


"Ngobrolin apa sih lu, Yan? Masih pacar gue itu. Jangan lupa!" Pekik Candra dari arah pantry.


"Masih? Bakalan bukan berarti?" Goda Bryan tanpa menoleh ke Candra.


"Iyalah. Setelah dia lulus, bakalan naik level jadi tunangan, langsung istri kalau perlu." Terang Candra yang kini sudah membawa tiga cangkir minuman menuju ruang tamu.


"Sono lu, jauh-jauh! Jangan modusin cewek gue!" Candra memberi isyarat agar Bryan menjauhkan duduknya dari Anara.


"Ngobrolin apa sih kalian?"


"Ngomongin kamu, sebentar lagi Bryan balik ke Surabaya. Semoga nggak nyusahin aku." Jawab Anara.


"Emang aku pernah nyusahin kamu, sayang?"


"Enggak. Tapi bikin nangis jagonya." Tukas Anara.


"Udah, lu siap-siap sono, Yan! Packing!" Titah Candra yang tak ingin momennya dengan Anara terganggu.


Tanpa menunggu diusir lagi, Bryan angkat kaki dan masuk ke dalam kamarnya, kamar yang mungkin tak akan didatanginya lagi. Tangannya lalu sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper kecil. Sementara telinganya sibuk mencuri dengar percakapan dua manusia di ruang tamu.


"Ngobrol apa?" Tanya Candra lagi kepada Anara.


"Nggak ada, cuma wanti-wanti kalau kamu nakal aku suruh bilang ke dia." Jawab Anara.


"Emang dia siapa? Ayah kamu?" Kesal Candra karena Bryan sok jadi pahlawan bagi Anara.


"Dia sahabat kita. Emang begitu seharusnya, Ndra."


"Kurasa dia ngarep lebih."


"Ngomong apaan sih kamu?" Sergah Anara kemudian menyesap tehnya.

__ADS_1


Bryan tersenyum getir di dalam kamar, netranya memandang ke awang setelah merebahkan tubuhnya. "Semoga Candra lelaki tepat yang bisa bahagiain kamu, An!" Lirih Bryan mengucap doa.


...----------------...


__ADS_2