
Mereka sedang duduk berdua di teras depan. Masih saling mengunci rapat mulut masing-masing. Entah akan dimulai dari mana?
Wajah Anara masih terlihat amat layu, lingkar matanya juga lebih gelap. Serupa kembang yang lalai disiram hampir seminggu ketika musim kemarau. Kering kerontang.
Sudah dua hari sejak kedatangan Caroline yang membawa kabar buruk paling menyakitkan, Anara sering menghabiskan waktu di kamar. Hartik yang lebih aktif mengunjunginya sekadar mengingatkan mandi dan makan.
Hidup terus berjalan sejatuh apa pun takdir menghempaskan, sepahit apa pun kenyataan diperikan.
Dan kini, Candra benar-benar menunaikan janjinya. Mendatangi dan hendak mengajaknya bicara. Meski sudah hampir satu jam keduanya sama-sama setia dengan kebisuan kata.
"Ehm," deham Anara demi memecah hening.
Lama kelamaan hatinya tak sabar juga. Ingin mendengar langsung penuturan dari Candra tentang semua. Meski, dalam hati kecilnya ... mulai tak yakin dengan pria di depannya yang kini tengah duduk menerawang.
"Kamu ke sini bukan untuk membisu kan?" Tanya Anara, suaranya bergetar bahkan hingga ke telinganya sendiri.
Serapuh itu dirinya kini.
Candra menolehkan kepala, menatap pupil bulat Anara yang juga menatapnya.
"An," ucapan Candra terpotong. Hanya terdengar suara napas panjang yang lirih.
Napas penyesalan, yang semakin memperjelas keadaan. Namun, Anara tak ingin prematur mengambil kesimpulan. Tekadnya sudah bulat, ingin mendengar sendiri penuturan Candra, semenyakitkan apa pun itu.
"MAAF."
Maaf? Maksudmu karena telah berkhianat? Atau karena melambungkan asaku kemudian tiba-tiba menghantamku melesak ke perut bumi?
Sakit Candra, mati-matian kamu-aku saling membangun kepercayaan LAGI. Tapi, semua semu dan palsu.
"Aku akan tanggung jawab."
Sekuat sisa tenaga dan kepura-puraan tegarnya Anara berusaha bersikap. Digigitnya bibirnya sendiri demi menggagahi diri. Agar tak semakin terkulai lemah pada kalimat-kalimat kejujuran Candra setelahnya.
Aku harus apa Candra? Menangis? Sudah hampir kering air mataku.
"Kapan kalian melakukannya?" Suara Anara lagi-lagi bergetar.
"Aku sendiri nggak sadar kapan tepatnya, An. Aku lupa. Yang jelas waktu itu aku ketemu dia di club malam," terang Candra berkali-kali meraup wajahnya.
"Kami ngobrol, panjang lebar. Aku memang minum malam itu, An. Malam ketika kamu minta putus," lanjut Candra dengan wajah serius kali ini.
"Aku masih ingat dia yang membopongku keluar club hingga memapahku ke kamar, tapi setelahnya aku ga ingat apa pun. Pagi hari ... keadaanku sudah kacau."
"MENJIJIKKAN CANDRA!"
"Oh, rupanya ikat rambut itu milik Caroline, hah? Bukan Rati? BOHONG KAMU?"
"Segala bunga coklat yang kamu titip ke Hartik, sebagai permintaan maaf yang ini?"
__ADS_1
"Aku ga pernah nyangka, Candra."
"Kalau Caroline diam, aku bakalan be go Candra. Ga tau apa-apa."
"Dalam diam, kamu tiba-tiba maksain tunangan. Ternyata karena ingin kabur dari dia rupanya."
"An, aku salah," sahut Candra dengan wajah penuh permohonan.
"Tanpa kamu bilang pun, kamu memang salah. Apalagi kamu ga jujur, sampai kita akhirnya TUNANGAN Candra. Di mana pikiranmu?"
Anara mulai hilang kendali. Ia benar-benar tak menyangka Candra begitu tega memberinya harapan. Orang tuanya, keluarganya, bahkan keluarga Candra sendiri bahkan dibohongi. Sungguh akal Anara tak sampai ke sana.
"An, dengar aku dulu!" Ucap Candra berusaha meraih pergelangan tangan Anara. Namun, dengan cepat ditepisnya tangan itu.
"Kamu yang harusnya dengar aku! TANGGUNG JAWAB kamu!"
"An, kita udah tunangan. Pleaseee! Aku ga cinta."
"Maksudmu? Kamu ga mau tanggung jawab?" Tanya Anara lebih tak mengerti dengan jalan pikiran Candra.
"Pleasee, An! Aku cintanya sama kamu, bukan dia Anara."
Anara benar-benar tersenyum getir kali ini. Pria di depannya yang sekian tahun dipujanya ternyata tak lebih dari seorang bajingan pecundang. Memuakkan dan memalukan.
"Kamu pikir aku mau berhubungan dengan pria yang menghamili perempuan lain? MIKIR DONG KAMU!"
"TAPI AKU GA CINTA SAMA DIA, AN!" Pekik Candra dengan nada meninggi.
"Dengan sadar atau tanpa sadar, Caroline menuai benih yang kamu tanam!"
"Kamu ga cinta sama aku? Kamu nyuruh aku tanggung jawab ke dia? Seolah-olah kamu fine dengan semua ini, An?"
"Fine? Fine kamu bilang?" Tanya Anara dengan tawa getir.
"OTAK KAMU DITINGGAL DI MANA?"
"Saking kecewanya aku sampai ga bisa nangis Candra. Terlalu sakiiit," terang Anara dengan mata berkaca, pandangannya buram karena tertutup air mata.
"Seandainya setelah putus kamu ga bawa lagi kata-kata cinta yang meyakinkan. Aku malah akan bersyukur. Tapi nyatanya, kamu terlalu pandai bermanis-manis kata," ucap Anara dengan bahu dan dada naik turun. Air matanya sudah melewati pipi.
"Sekarang, aku harus mikir gimana ngomong ke keluargaku. Gimana jelasin ke mereka ulahmu ini. Dengan enteng kamu bilang fine?"
"Seharusnya kamu ga pernah datang lagi, Candra! Ga perlu merentang tangan seolah menjanjikan bahagia."
"Bener-bener kejam kamu. TEGA!"
"Kamu bahkan lebih brengsek dari pria mana pun, CANDRA!"
Demi melihat Anara yang kacau, Candra hanya mampu diam, merutuki kesalahannya, kebodohannya, dan ketidakwarasannya.
__ADS_1
Dia hanya mampu membisu beberapa waktu.
"AN!"
Candra yang hanya diam mendengarkan ucapan Anara kini wajahnya terlihat digelayuti mendung seketika.
"Aku pasti tanggung jawab. Aku akan biayai semua sampai anak itu lahir, sampai anak itu tumbuh berkembang selayaknya anak lain. Tapi An."
"Tapi tolong! Jangan suruh aku nikahi dia!"
"Aku cuma mau kamu," tutur Candra menyugar rambutnya kecewa. Namun, matanya menyorotkan harapan sekaligus permohonan pada Anara.
Sontak membuat mata Anara yang masih basah membelalak dengan sempurna.
"BAJINGAN KAMU!"
"Selain ga ngotak. Ternyaya kamu juga ga punya hati. Ga akan mau aku punya suami macam kamu CANDRA!" Pungkas Anara hendak berlalu.
Namun, tangan Candra lebih sigap. Menarik Anara dalam rengkuhan. Membuat darah Anara semakin mendidih, tetapi hatinya melunak. Bagaimana pun rasa itu tak bisa sirna hanya dalam satu kedipan mata.
Seandainya bukan kamu Ndra! Semua akan tetap indah.
"An, maafin aku!"
"Aku ga mau kita usai, aku cinta sama kamu," lanjut Candra.
Anara merenggangkan pertautan mereka. Menatap Candra dari jarak paling dekat sebelum kenyataan kembali mengikis harapan yang tinggal kenangan.
Aku juga Candra. Tapi, terlalu sering aku memberi kesempatan. Dan kamu mengecewakan. Bukan hanya aku, tapi juga keluargaku, keluargamu.
Dengan napas yang masih berusaha dinetralkan, degup jantung yang masih tak karuan, juga kenyataan yang tak mungkin dipungkiri begitu saja.
Perlahan Anara lepas cincin tunangan mereka. Cincin yang disemat oleh Mama Ira tempo waktu.
"Bukan aku orangnya," ucapnya menengadahkan telapak Candra, meletakkan benda kecil itu, dan menangkupkan telapak itu kembali.
"An, kamu apaan sih?" Tanya Candra dengan raut tak terima.
"Datang dan pertanggung jawabkan perbuatanmu! Aku ikhlas," ucapnya dengan bibir mengatup sempurna setelahnya.
Anara berbalik arah dan berlalu, tak lagi memedulikan teriakan Candra. Langkahnya panjang, buram, dan tak terarah. Hanya kamar Hartik yang jadi tujuan.
Air matanya sudah menganak sungai mengingat keputusannya yang diharap sudah sesuai porsi, tempat, dan takaran. Hatinya yang berharap semoga dirinya BISA, cukup itu saja.
Kita harus bahagia di jalan masing-masing, Ndra! Bohong kalau aku ga terluka, tapi ... aku tak diberi pilihan.
Karena aku cinta, teramat cinta. Aku ga mau kamu jadi pria brengsek yang tak bertanggung jawab.
"Tik. Aku ga mau ketemu siapa pun," ucapnya tersengal ketika pintu kamar Hartik dibuka.
__ADS_1
Perempuan dengan jilbab terjuntai itu memeluknya yang tengah terisak-isak dalam tangis pilunya.
...----------------...