Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Hari berlalu hari. Menghitung setiap detik dan menit dalam keadaan meregang sakit hati yang seolah tidak pernah berkesudahan. Hari-hari Anara yang hambar akibat mendera luka dikhianati sedikit tawar oleh datangnya Bryan. Yang hingga beberapa hari pun, akhirnya memutuskan untuk tinggal di Malang.


Betapa datangnya pundak yang selalu ada itu memang penting dan perlu! Anara sendiri yang membuktikan.


Pagi yang tidak terlalu cerah itu pun berhasil memaksa Anara untuk mengeret tubuhnya ke kamar mandi. Dengan suasana mendung di langit yang memayungi. Pun dingin yang merasuki hingga tulang belulang paling dalam, Anara akhirnya mengguyur tubuhnya.


Bukan demi apa-apa. Bryan lah yang berhasil memaksanya mandi. Bukan untuk sekadar meluruhkan sakit hati yang terbawa air mengalir jatuh ke sarang, tetapi rencana mereka yang hari itu hendak berkeliling kota, healing menyembuhkan luka.


Bolehkah Anara menyebut ide Bryan amat konyol dan gila? Tetapi, ia bahkan malah bersuka cita demi menyambut rencana yang sedikit aneh, nyeleneh, dan tidak biasa itu.


Srooot!


Parfum vanila andalannya telah disemprot ke beberapa titik saraf paling sensitif yang membuat aromanya awet sepanjang hari. Di depan cermin kamarnya sendiri, Anara tersenyum geli mengingat tingkah polahnya.


Untuk apa pula?


"Eheeeem!"


Kreeek!


Pintu kamarnya terbuka persis setelah suara dehaman reda. Tanpa perlu repot-repot menatap ke sumber suara pun, Anara paham siapa yang berdeham dengan nada mengejek sempurna itu.


Siapa lagi? Tentu Hartik, yang ketika mata Anara bergulir ke ambang pintu. Gadis berjilbab itu mengulum senyum seringainya. Dengan tatapan wajah yang seakan-akan pula hendak mencemoohnya.


"Mau ke mana, An? Pagi-pagi rapi amat? Wangi lagi, dari tangga aja kecium loh baunya."


Benar, kan? Wajah Hartik terpasang sedemikian rupa untuk mengejeknya. Dan terbukti, kalimat barusan sekilas terdengar hanya bertanya. Padahal, jika ditelaah lebih lanjut, terdengar pula cemoohan di sana.


"Mau ngalusin jalan! Biar makin mulus," balas Anara asal. Ia tidak terlalu menganggap serius pertanyaan Hartik. Ia hanya tidak ingin Hartik semakin melesakkannya ke dasar bumi melalui kalimat-kalimat bernada ejekan serta cemoohan darinya.


"Serius, ah? Mau ke mana? Udah sembuh sakit hatinya by the way?"


Suara tawa pun pecah setelahnya. Mata Anara sontak menatap kepada Hartik dengan sedikit mengerutkan kening, matanya mendelik.


"Apa aku bilang? Sakit hati itu bisa sembuh dengan datangnya orang baru." Hartik kembali percaya diri dengan kalimat serupa yang beberapa hari lalu dikatakannya.


Ah, sial!


Anara baru sadar jika apa yang Hartik ucapkan memang sedikit banyak benar. Anara baru sadar pula jika keberadaan Bryan beberapa hari itu memang mampu mengurai sakit hatinya, perlahan dan pasti.


Tidak bisa dipungkiri, meskipun belum hilang sepenuhnya. Pun lukanya belum mengering sempurna, tetapi setiap kalimat konyol, candaan garing, dan berbincang tak penting dengan Bryan nyatanya mengisi ruang kosong nan luka di hati Anara.


Whats an amazing!


Melihati Anara yang hanya diam membisu dari kata-kata, Hartik pun lalu kembali berujar menyambung kalimatnya sendiri.


"Sudah cakep. Buruan turun! Keburu berakar dan jamuran itu nanti si Bryan!"


Hah?


"Bryan udah datang?" tanya Anara dengan wajah cengo.


Hartik mengangguk. "Sudah, mungkin setengah jam yang lalu." Mata Hartik sengaja diputar-putar seolah tengah nampak berpikir.

__ADS_1


Padahal percayalah! Itu adalah gerakan bola mata mengejek sempurna.


"Kenapa baru bilang, sih? Kan kasihan dia nunggu lama!" gerutu Anara, menyambar sling bag yang teronggok di atas ranjang.


Sejenak, ia kembali menatapi cermin dan memastikan penampilanbya tidak salah. Centil sekali!


"Bukannya dia memang nunggu udah dari lama, ya? Kamu aja kan yang nggak ngerasa, An?"


Pertanyaan Hartik barusan tentu saja berbeda konteks. Bukan lagi menunggu dalam artian menunggu ia selesai dan segera turun.


"Nggak kasihan kamu?" tanya Hartik dengan wajah seolah cemberut.


Ya ampun! Anara kicep sekarang. Tidak mampu menjawab pertanyaan Hartik dengan kata-kata. Ia merasa bersalah. Telak.


Tetapi, tidak ingin berlarut dan membuat Bryan menunggu lebih lama. Anara pun memilih diam tanpa menyahuti kalimat Hartik yang sejujurnya menyesakkan dada itu.


Dengan sedikit tergesa. Kakinya segera memakai flat shoes dan dalam gerakan secepat kedipan mata, Anara mulai menuruni satu per satu anak tangga. Turun hendak menghampiri Bryan.


Di anak tangga terakhir, matanya segera menemukan Bryan yang terlihat rapi dalam setelan kemeja terbuka yang kesemua kancingnya sengaja tidak dikaitkan. Kaus di bagian dalamnya berwarna hitam polos. Rambutnya terlihat disisir rapi meninggalkan lekuk sisa sisir yang bertengger di sana.


"Pagi, An!" sapa Bryan yang rupanya juga melihat kedatangannya.


Mendedahkan senyum, Anara pun seraya melangkahkan kaki mendekat ke arah sofa di kos-nya.


"Pagi juga, Yan."


Sedikit canggung, di antara mereka malah selanjutnya sunyi menggerogoti.


"Maaf ya! Nunggu lama," cetus Anara, ia memutuskan untuk melanjutkan percakapan dengan meminta maaf.


Seperti biasa, lelaki yang senyumnya menghasilkan debaran tak terduga itu, yang terkenal sebagai playboy cap kadal itu pun, tersenyum ke arah Anara.


Astaga! Ya Tuhan!


Sejenak, sakit hati Anara akibat dilukai mantan kekasihnya menguar ke udara tanpa sisa. Luar biasa kehadiran lelaki di hadapannya!


"Nggak apa-apa. Aku sudah terbiasa menunggu, An!"


Deg!


Menunggu di sana, persis seperti yang tadi Hartik ucapkan. Mata Bryan yang semula mengimbangi senyuman di bibirnya. Berubah menjadi sorot serius yang seketika. Canggung kembali menghampiri.


Ah, sialan sekali! Momen-momen tidak mengenakkan seperti itu seperti semakin membuat Anara merasa berdosa.


"Ah, eh. Hmm. Begitu ya?" sahutan yang cukup bodoh akhirnya terlontar begitu saja dari bibir Anara. Tangannya menggaruk tengkuknya agar ia tak mati gaya di depan Bryan yang terus menatapinya.


"Kita jalan sekarang!" sambung Anara benar-benar berniat memutus tatapan Bryan dari dirinya.


"Hmm. Iya, kita jalan sekarang!" balas Bryan tersenyum, tangannya yang lebar itu selanjutnya menarik lengan Anara untuk berjalan mendahuluinya.


"Kamu mau ke mana hari ini?" tanya Bryan terdengar dengan nada yang kembali seperti sedia kala.


Hmmmm.

__ADS_1


Anara menghentikan langkahnya. Telunjuknya diketuk-ketukkan pada dagunya mendukung otaknya yang tengah memikirkan ke mana mereka hendak pergi?


"Ah, aku ikut kamu aja, Yan! Terserah!" balasan pamungkas kaum hawa pun jadi solusi yang sepenuhnya malah mendatangkan masalah baru.


"Bisa nggak ... nggak terserah jawabnya?"


Hahahaha!


Memahami maksud Bryan, Anara pun tertawa dengan lepasnya.


"Tapi beneran, terserah kamu ajak aku ke mana!" tegas Anara. Menatap Bryan sungguh-sungguh.


Sepersekian detik, waktu seolah berhenti. Mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Saling menyorotkan tatapan yang entah, tak ingin Anara maknai.


"Permisi!" ucap seseorang tiba-tiba.


Memaksa pandangan mata itu berakhir detik itu juga.


Seorang pria paruh baya dengan seragam berwarna orange yang besar kemungkinan berasal dari pihak ekspedisi.


"Iya?" Anara memasang wajah penuh tanya.


"Cari ... ." Pria tersebut menggulir tatapan pada sesuatu di tangannya.


"Mbak Anara Reswari," lanjut sang pria.


Anara mengedutkan keningnya. Itu adalah namanya. Dan ...


"Saya, Pak. Ada paket, kah?"


"Iya, Mbak. Mohon tanda tangan bukti diterima ya!"


Anara pun menandatangani bukti penerimaan dokumen. Setelah menerimanya, matanya langsung tertuju kepada pihak pengirim dokumen untuknya.


Astaga!


Dari Caroline.


Tak sabar! Anara pun membuka dokumen tersebut serta merta. Senyuman paginya hasil kedatangan Bryan seketika pudar demi melihat apa yang ada di tangannya.


Dadanya bergemuruh. Tidak tahu diri sekali perempuan bernama Caroline itu.


"Undangan?" ucap Bryan mempertegas keadaan.


Buru-buru Anara memasukkan kembali undangan ke dalam amplop dokumen dan meletakkannya di sofa kos. Kakinya melangkah keluar dengan segera. Bibirnya pun mengatup rapat tidak minat berujar kata.


...----------------...


Hai, maaf banget kalau slow update!


LANGKAH BERSAMBUNG ini hanya ada di Noveltoon, ya! Kalau mau lihat karya yang lain langsung ke IG @lisnaasaarii saja! Hihi.


Thanks, Guys!

__ADS_1


__ADS_2