Langkah Bersambung

Langkah Bersambung
Menolak tapi Menerima


__ADS_3

Akan kucoba percaya.


Anara masih termenung di kamar kosnya. Memikirkan sebuah kata yang terakhir ia lontarkan pada Candra di malam itu. Seminggu berlalu, tetapi hatinya belum bisa seperti dulu lagi.


Hujan dari langit di luar sana bagai tengah mencumbui tanah di bumi. Terhitung sudah hampir empat jam hujan turun. Tidak terlalu deras, tapi awet lama. Mendung berwarna putih di atas sana, makin mengijabahi ... hujan turun lama sore ini.


Tak ada kata kerja apa pun yang ingin dilakukan Anara kecuali makan mi kuah panas sambil mendengar lagu-lagu lawas favoritnya. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang sedang ia dustakan?


Sampai layar ponsel yang semula memutar lagu-lagu nostalgia berubah menampilkan panggilan dari kekasihnya. Ya, Candra masih kekasih Anara setelah malam di mana kesempatan kedua resmi ia berikan dengan memotong pita keegoisannya.


"Halo." Ucap Anara.


"Di kos?" Tanya Candra dari seberang sana.


"Iya."


"Aku ke sana ya?"


"Mau apa? Hujan."


"Aku kangen."


"Iya. Ke sini aja!" Ujar Anara menutup teleponnya.


Jarum jam menunjuk angka lima. Jam-jam Candra pulang kerja dan Anara segera paham jika Candra akan langsung menuju kos sepulangnya dari kantor.


Hawa dingin yang teramat membuat Anara malas untuk bangkit. Perempuan itu bahkan malah menyusup ke dalam selimut. Membuat tubuhnya hangat dan nyaman.


Netra Anara menatap keluar jendela. Hujan tak sederas tadi, tinggal rintik-rintik kecil yang masih menyapa. Tapi, dinginnya jangan ditanya! Semakin menjadi-jadi saja.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu diketuk teratur. Setelah mendapat izin Anara. Perlahan pintu kayu itu terbuka menampilkan sosok pengetuknya.


Benar kan dia langsung ke sini setelah kerja. Apa kubilang?


"Kamu sakit?" Tanya Candra mendapati Anara bergelung selimut.


"Enggak."


"Trus ngapain?" Sambung Candra menarik selimut.


Anara kembali menarik selimutnya hingga menutup lehernya.


"Dingin."


"Astagaaa." Candra menepuk jidatnya.


Lelaki yang masih rapi dengan setelan kerjanya itu malah ikut bergabung dengan Anara. Menyusup ke dalam selimut dan memandang kekasihnya dalam-dalam.


"Udah seminggu nggak ketemu kamu. Aku kangen." Ujar Candra menarik pinggang Anara.


Aroma woody yang sempat hilang kini menyeruak kembali. Kekasih di depan Anara sudah kembali menemukan dirinya setelah prahara foto yang menjadikannya merana. Tapi ... hati Anara belum sepenuhnya kembali menemukan rasa yang sempat ada.


"Hmmm."


"Kamu nggak kangen?"


"Kangen." Ucap Anara membalas tanya Candra.

__ADS_1


Candra! Kenapa aku jadi begini? Oh come on Anara! Kamu sendiri yang memberinya kesempatan kedua. Bertanggung jawablah!


Candra semakin menarik pinggang Anara bahkan sedikit meremasnya. Wajah Candea semakin mendekat, menghapus jarak di antara mereka. Sapuan napas Candra bahkan terasa begitu kuat menerpa wajah bersih Anara.


Anara hanya diam, menanti apa yang selanjutnya dilakukan Candra. Matanya sudah terpejam dan bibirnya merasakan hangat dari ciuman Candra.


Perlahan mata Anara terbuka dan tepat ketika Candra mulai menyesap bibir bawah Anara. Perempuan itu menarik dirinya. Menjauh dan membuat pertautan keduanya selesai.


"Kenapa?"


"Takut Hartik tiba-tiba ke sini." Kilah Anara bangkit dari tidurnya.


"Sebentar aja, An!"


"Itu tadi udah sebentar, Ndra."


"Sekali lagi."


Anara menggeleng sembari menampilkan senyum manisnya. Membuat Candra akhirnya menerima, meski gelora di hatinya sedang membara.


"Aku mau mandi." Tutur Anara meraih handuk.


"Aku tunggu di sini."


"Iya."


Anara bergegas keluar menuju kamar mandi. Sebenarnya malas sekali mandi ketika cuaca dingin seperti ini. Tapi, Anara rela mengguyur tubuhnya dengan air yang teramat dingin demi meredam perasaan aneh di hatinya.


Maaf Candra.


"Kamu keluar dulu!" Pinta Anara kepada Candra.


"Kenapa?"


"Ganti aja, An!"


"Keluar dulu!"


"Kayak nggak pernah aja." Decak Candra melangkah keluar.


Setelah menyisir rambutnya dan mencepolnya ke atas. Anara segera membuka pintu kamarnya kembali. Lelaki dengan wajah kesal itu masuk dengan tatapan tak terima kepada Anara.


"Kenapa sih gitu banget wajahnya?"


"Lagian dicium nggak mau, ganti baju pakai harus suruh aku keluar."


"Emang gitu seharusnya."


"Gitu gimana?"


"Kita harus pacaran sehat. Nggak boleh dua-duaan macam ini di tempat sepi."


"Maksudmu pacaran sehat?"


"Kurangi ciuman! Juga tangannya berhenti menjelajah." Ujar Anara serius.


"Apaan sih?" Candra terkekeh.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nggak bisa."


"Asal nggak kuladenin kan udah. Beres." Tukas Anara.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Candra memegang bahu perempuannya yang menurutnya sedikit aneh.


"An!"


"Iya Candra?"


"Nggak lucu bercandamu."


"Aku serius."


"Aku nggak mau."


"Kamu pacarin aku cuma mau enaknya aja?"


"Selama ini kamu nggak enak?" Tanya balik Candra yang membuat Anara diam seketika.


Tak bisa Anara bohongi, setiap sentuhan dari tangan dan bibir Candra selama ini melambungkan angannya. Membawanya menari ringan di angkasa. Menikmati setiap rasa yang indah dan ingin selalu dirasakan.


"Apa arti kesempatan keduamu tanpa penyatuan?"


"Kalau gitu maumu. Kayaknya emang perlu aku lamar kamu langsung. Nggak usah nunggu lulus." Ujar Candra panjang lebar.


"Apaan sih? Aku belum mau nikah. Aku masih ngurusin skripsi."


"Ya udah nggak usah aneh-aneh!"


"Hmm."


Tentu bukan alasan ingin pacaran sehat yang sebenarnya Anara ciptakan. Dia hanya ingin diberi waktu untuk menata hatinya yang sempat hancur karena kebohongan Candra. Tapi, kenapa lelaki itu sepertinya tak memahami dirinya?


Candra sudah kembali merengkuh tubuh Anara yang hanya berbalut kaus oblong dan celana bahan di atas lutut. Ada-ada saja. Minta pacaran sehat tapi kamu mengundangku untuk melakukannya?


Bibir Anara sudah berada dalam gigitan-gigitan lembut Candra. Sesekali lidah Candra menyusup ke dalam meneguk manis cinta dari sana. Tengkuk Anara ditahan agar lidahnya lebih leluasa masuk semakin dalam menjelajah.


Tangannya sudah menemukan benda favorit yang seperti lama tak dijamah tangannya. Anara hanya diam merasakan setiap sentuhan Candra. Hatinya malah sibuk meratapi perasaannya sendiri.


Kaus oblong milik Anara sudah tersingkap ke atas. Tangan Candra menyusup membelai pinggang Anara dan berhenti di pengait bra milik kekasihnya. Jari tangan Candra melepaskan kaitan bra yang membungkus benda kenyal di depannya.


Berpindah ke depan. Dada Anara diremasnya dengan pelan, terkadang jarinya memainkan puncak milik Anara yang sudah menegang. Membuat Anara merasakan panas dingin tak karuan.


Napas keduanya tersengal-sengal berebut oksigen disela ciuman yang sengaja dilepas-tautkan. Anara terus merasakan permainan tangan Candra semakin turun ke bawah, melewati perut ratanya, dan menyentuh celananya.


Ini salah, An! Berhenti!


Anara menahan tangan Candra agar tak semakin turun. Pertautan bibir mereka terlepas, "aku pengen, An!" Ucap Candra dengan tatapan meminta. Namun, Anara menggelengkan kepalanya.


Tangan Candra kembali naik dan meremas kedua benda kembar itu secara bergantian. Membuat Anara meloloskan suara-suara yang semakin memicu adrenalin Candra.


"An, buka ya!" Pinta Candra memegang celana Anara.


"Enggak, Candra." Anara melepaskan pelukan Candra dan merapikan dirinya.


Hati menolak, tapi bibir dan tubuh menyambut. Apa-apaan ini?


Candra mendengus kecewa, rindunya belum terobati dengan sempurna.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2