
Dua minggu setelah kejadian malam selepas hujan itu, hubungan Candra dan Anara semakin ruwet seperti benang kusut yang sulit ditata kembali.
Kemarin, ketika Anara pulang dari konsultasi di kampus menjelang sore. Mobil Candra sudah terparkir di halaman kos. Lelaki itu hampir setiap hari datang.
"An, sendirian?"
"Iya. Baru konsultasi skripsi. Alhamdulilah acc seminar hasil."
Lelaki dengan jambang rapi itu bangkit dan memeluk kekasihnya yang banyak berubah, terlebih sorot matanya.
"Selamat. Aku seneng, An. Semakin cepat kamu lulus semakin cepat pula impian kita segera terwujud."
"Impian kita?"
"Iya, menikah." Jelas Fajar dengan wajah sumringahnya.
"Oh iya."
Kini keduanya sudah berada di lantai atas. Tepatnya di kamar nomor 29, kamar milik Anara.
"Kamu mandi! Kita keluar setelah ini." Seru Candra membelai rambut perempuannya dan mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Anara.
"Kamu?"
"Setelahmu aku akan mandi juga, di sini."
"Bawa ganti?"
"Ada di mobil. Nanti kuambil pas kamu mandi." Anara mengangguk lalu keluar menuju kamar mandi.
Netra Candra seolah mencari-cari sesuatu. Tangan Candra sudah membuka tas milik Anara dan menemukan benda yang ia cari.
"Sial. Dikunci pola lagi."
Lima kali Candra mencoba membuka ponsel Anara dan berakhir gagal. Kembali ia masukkan benda itu ke dalam tas lagi, sesuai dengan sebelum ia ambil tadi, rapi. Semoga nggak curiga!
Lelaki dengan pakaian kerja lengkap itu segera menuruni anak tangga menuju mobilnya dan kembali menuju kamar perempuannya dengan satu paper bag berisi baju ganti di tangan kanannya.
Ceklek. Tangan Candra membuka pintu yang jelas terbuka ketika ditinggalnya tadi.
"Candra!" Pekik Anara dengan suara ditahan. Perempuan itu belum selesai berpakaian. Tangannya masih sibuk mengancing pattern warna abu-abu untuk menutup tubuh atasnya.
"Lain kali dikunci kalau ganti! Atau kamu memang sengaja?" Ucap Candra mendekati Anara dan membantu perempuannya mengancingkan baju setelah memutar kunci pintu.
Susah payah Candra menelan saliva ketika tangannya mengenai benda menonjol tempat kancing bertahta. Sudah sekian lama tangannya tak menyentuh Anara setelah insiden foto itu. Jantungnya berdebar, juga Anara, merasakan debaran serupa.
__ADS_1
"Lama, aku tak memberimu nafkah batin." Ucap Candra setelah merampungkan acara kancing-mengancing baju perempuannya.
Bisa saja ia menyentuh Anara, meremas benda yang tadi tersenggol olehnya, benda yang dirinduinya. Tapi, ... ia tak ingin melakukan itu dengan keadaan Anara yang kini bagai bongkahan es kutub dinginnya.
"Kamu masih ragu?" Tanya Candra menyematkan helai rambut Anara yang basah.
"Hmmm." Hanya suara deham yang keluar dari bibir Anara.
"Aku harus gimana, An?" Tanya Candra menampilkan wajah frustrasi.
Hampir setiap sore Candra datang berkunjung, hampir setiap sore itu pula ia pulang ke rumah dengan hati hampa. Kekasihnya seperti menghukum dirinya. Kesempatan kedua itu hanya serupa status belaka.
"Beri aku waktu, Ndra!" Pinta Anara menatap manik mata Candra.
"Berapa lama?"
"Entah." Anara menggeleng.
Candra memalingkan wajahnya demi mengerjapkan mata yang perih. Hatinya seolah dicabik berangsur-angsur. Jangan tanya sakitnya! Ia saja tak kuasa untuk menjelaskan.
Candra menarik pinggang Anara agar mendekat. Aroma sabun mandi yang menyeruak ke hidung Candra semakin membuatnya ingin berlama-lama di dekat kekasihnya.
"Biarlah begini! Aku cuma kangen." Candra menarik Anara ke dalam dekapannya. Tak ada penolakan, tangan Anara bahkan mengerat pada tubuh Candra.
"Aku kangen, An." Ucap Candra tepat di telinga Anara. Membuat Anara menegang seolah menahan napasnya.
Momen seperti ini rasanya benar-benar Anara rindukan, lembutnya Candra, harum khas woody darinya kekasihnya, dan kecupan yang berkali-kali mendarat di ubun-ubunnya.
Pelukan itu berlangsung lama. Kedua manusia yang saling bimbang itu sebenarnya masih memiliki rasa yang sama, degup jantung serupa, dan bunga-bunga bertebaran kala sentuhan satu sama lain saling dirasa.
Perlahan Candra melepas dekapannya. Ia pandangi wajah Anara yang masih menunduk. Diangkatnya dagu Anara pelan, wajah keduanya semakin dekat hingga bibir Anara merasakan hangat dadi bibir Candra yang sudah menciumnya.
Candra mencecap lama bibir Anara bergantian atas dan bawah, tangan kirinya menahan pinggang Anara, sementara tangan kanannya menahan tengkuk Anara agar ciuman itu tak berlalu begitu saja.
Anara yang awalnya pasif, secara perlahan mulai merespon permainan bibir Candra. Setelah Candra menggigit bibir bawah Anara sedikit kasar, perempuan itu membuka mulutnya, mempersilakan lidah Candra untuk memasuki tempatnya.
Merasa menerima undangan, Candra dengan lembut menyeruakkan lidahnya semakin masuk, melilitkan lidahnya pada lidah Anara, saliva saling bercampur di sana. Keduanya sama-sama terpejam menikmati perasaan yang sempat redup tertiup angin.
Semakin lama ciuman lembut Candra seolah menuntut lain. Tangannya turun dari tengkuk menuju benda kenyal yang sudah menempel di dadanya sedari tadi. Perlahan pula ia meremas benda itu dari luar. Memijat pelan membuat Anara semakin melambung ke awang-awang.
Lama tangan Candra tak menangkup benda itu. Rasanya rindu di hatinya sedikit terobati, bongkahan es Anara perlahan berganti hangat seiring ciuman yang masih menyatukan keduanya.
Bibir Candra perlahan turun menuju leher Anara, mengecupi di sana. Anara mengambil napas terengah-engah dalam menengadah wajahnya. Rasa-rasanya jantung Anara semakin berdebar menerima sentuhan Candra.
Kancing kemeja pattern yang beberapa menit lalu dikancing sendiri oleh Candra, kini mulai dibukanya. Cukup dua kancing yang terbuka untuk memperlihatkan apa yang tertutup di sana.
__ADS_1
Benda putih itu kembali ditangkap indra penglihatan Candra. Ingin rasanya melahap habis Anara malam itu juga. Tapi, sekali lagi. Candra tak akan tergesa, apalagi memaksa.
Candra ingin sentuhan malam ini berarti bagi Anara, bukan sebagai menuntaskan rindu belaka, tapi Candra ingin membangun cinta di hati Anara lebih megah dan kuat di sana.
Candra menghentikan semua aktivitasnya. Meski tangannya masih berada di dada Anara, tapi adegan memijatnya ia hentikan. Anara dengan matanya yang telah sayu seolah bertanya 'kenapa?'.
"Aku nggak ingin kamu mikir hanya sebagai pelampiasan, An. Aku serius." Candra mendaratkan kecupan di antara dada Anara yang masih berbalut kain sempurna.
Tangan Candra dengan sigap mengancingkan kembali kemeja perempuannya. Kemudian mengecup puncak kepala Anara sambil memeluknya lama.
"Aku sayang kamu, terlalu sayang." Bisik Candra di telinga Anara.
"Jika kamu masih ragu, biar aku sendiri yang membangun kembali cinta di hatimu untukku. Aku akan bersabar, An. Demi kamu." Candra melepaskan pelukannya dan tersenyum manis menatap Anara yang masih membisu.
Aku tahu, kamu masih sayang, An. Kamu hanya masih kecewa.
Beringsut dari hadapan Candra. Anara bergegas mendekat ke arah cermin di kamar kosnya. Sementara Candra meraih paper bag miliknya dan melangkah menuju pintu. Ditutupnya pintu itu perlahan.
Anara yang baru memulai mengoles krim ke wajahnya terkejut mendengar dering telepon dari ponselnya.
"Iya, Yan." Sapa Anara menempelkan benda pipih ke telinganya setelah melihat siapa yang menelepon.
"Besok, aku balik ke Surabaya. Barangkali kau ingin tahu."
Anara terkekeh, ia menyadari bahwa dirinya sungguh merepotkan sahabatnya itu. Sampai harus hijrah dari Surabaya ke Malang demi hubungannya dengan Candra.
"Aku ingin berterima kasih, Yan...."
"Sama-sama, Anara."
"Belum selesaiiii."
"Berterima kasih secara langsung. Besok kutraktir bakso. Ya?" Tawar Anara.
"Dengan senang hati, An." Bryan terkekeh dari seberang sana.
"Candra belum pulang." Ungkap Bryan.
"Iya, dia di sini. Di kosku, masih mandi."
"Oh, kukira kemana. Ya sudah aku lanjut buat konten tulisan." Ucap Bryan memutus teleponnya.
Anara lanjut meratakan krim wajahnya kemudian mengoles pelembab ke bibirnya.
Setelah terdengar suara dering telepon tadi, Candra masih mematung di depan pintu. Terdiam lama dengan pikiran sibuk menerka.
__ADS_1
Yan?
...----------------...