
Hari hampir petang ketika mobil travel yang membawa Candra dan Anara berhenti di depan rumah. Keduanya masih tak banyak bicara, hanya sikap Candra sudah tak sedingin kemarin.
Setelah insiden air mata Anara yang menganak sungai di pesawat tadi. Akhirnya Candra benar-benar membawanya dalam pelukan. Hatinya ternyata masih ada hingga tak kuasa melihat perempuannya menangis.
"Kamu bisa di sini! Biar nanti aku di kamar Bryan." Ujar Candra membuka pintu kamarnya.
"Kamu masih marah?"
"Enggak, An."
"Lalu?"
"Kamu mau kita satu kamar?"
"Candra. Dengerin aku! Aku nggak ada apa-apa sama dia, Ndra. Aku juga nggak tau kalau dia WA. Aku bingung harus gimana lagi biar kamu nggak diam terus?"
Candra sudah menarik Anara dalam pelukannya. Kalau dipikir-pikir sebenarnya kenapa dia harus marah? Nomor itu tidak disimpan dan dia sendiri yang menyuruh Anara untuk mengangkat telepon. Lalu tanpa penjelasan dia mendiamkan Anara hampir dua hari. Siapa yang egois?
"Aku minta maaf karena nggak dengerin kamu. Padahal aku sendiri yang minta kamu buat angkat telepon itu." Tangannya membelai rambut Anara dengan lembut.
Anara membalas pelukan Candra dengan erat. Perasaannya berangsur lega. Akhirnya Candra membuang sikap egoisnya jauh-jauh.
"Maafin aku yang terlalu cemburu!" Anara menenggelamkan kepalanya ke dada Candra.
"Aku janji nggak akan begini lagi, maaf, An. Sudah buat kamu nangis ...." Mata Candra sudah menatap dalam pada netra Anara.
"Aku perlu bukti, Ndra." Tukas Anara. Dia lelah jika kejadian seperti ini terulang lagi.
"Akan kuperbaiki. Sebisa mungkin kukubur rasa cemburu pada mantanmu itu. Tapi, tetap. Aku tak mengizinkan kamu WA-nan atau teleponan sama dia."
Anara mengangguk. Toh, dia juga sudah menutup kenangannya dengan Janu. Bagi Anara kisah lalunya sudah tutup buku.
Kruk ... kruk
Suara perut Anara menahan lapar. Wajar saja ia belum mengisi perut sejak siang tadi. Tenaganya habis untuk menahan ketakutan juga untuk menangis.
"Kamu lapar?" Candra melepaskan pelukan.
"Menurutmu?" Sungut Anara
"Iya, iya. Mandi dulu baru kita keluar cari makan!" Ujar Candra.
"Nggak. Aku capek banget."
"Ya udah kita delivery aja."
"Oke. Aku mandi duluan." Ciuman kilat mendarat di pipi Candra.
"Aaaan." Tangan kekar milik Candra sudah menarik tubuh Anara lagi.
"Apa?" Senyum Anara menggoda.
"Kamu makin berani ya sekarang."
"Kamu yang ngajarin kok."
"Lagi kalau gitu!" Candra menyodorkan pipinya.
"Nggak. Aku masih bauuuu."
"Aku mau kok."
"Enggak. Aku mau mandi."
Anara melepaskan pelukan Candra dan mengambil handuk dari koper. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Candra sibuk dengan ponselnya untuk memesan makanan.
__ADS_1
"An. Sebentar. Mau makan apa?"
"Apa aja."
"Piza mau?" Anara mengangguki pertanyaan Candra, tak lama ia masuk ke kamar mandi.
Sekitar 30 menit kemudian piza pesanan Candra sudah datang. Sambil menunggu Anara yang entah masih apa di dalam kamar, ia putuskan pergi ke pantry membuat es lemon tea. Minuman favorit Anara.
"Kamu buat apa?" Anara keluar kamar tak mendapati kekasihnya, ternyata Candra tengah di pantry dan tangannya sibuk membuat sesuatu.
"Kesukaanmu."
"Udah selesai. Yuk kita makaaaan!"
"Kamu makan yang banyak!" Titah Candra sambil menggigit piza.
"Kamu mau aku gendut?"
"Ya udah biar aku yang porsinya banyak."
"Kamu mau aku kelaparan?"
Huh. Dasar wedok! Suruh makan banyak salah, dikit salah. Apa maunya?
"Ya udah terserah kamu, An."
"Nyerah ya?"
"Daripada makin panjang trus kamu ngambek."
"Eits. Bukannya kamu yang suka marah? Lupa ya?" Senyum mengejek terpasang di bibir Anara. Tangan Candra mengacak rambut perempuannya.
"Tidur di sini, kan?" Anara mengangguk.
"Bagus. Kosmu pasti sepi. Aku nggak mau aja lagi nyenyak-nyenyak tidur trus kamu telepon suruh jemput kesana."
Mereka kembali melanjutkan makan malam.
...----------------...
Mobil Bryan sudah terparkir di halaman rumah Abah Kayaat. Ia berniat mengajak sahabatnya, Anara, dan juga Rati keluar. Sekadar jalan-jalan keliling Kota Balikpapan.
Lelaki berbadan tegap dengan wajah blasteran itu memakai celana jeans hitam berpadu kaus abu-abu yang dibalut jaket jeans. Langkahnya mantap memasuki rumah berukuran besar tersebut. Senyumnya mengembang seolah menyambut harapan.
Karena sudah akrab dengan keluarga Abah Kayaat, Bryan langsung menuju ruang makan. Mama Ira dan Bu Asih masih sibuk menyiapkan makan malam di dapur yang letaknya bersebelahan.
"Tante ...." Sapa Bryan.
"Oh Bryan, rapi? Mau kemana?" Tanya Mama Ira sambil menuangkan gulai ikan yang baru saja dihangatkan.
"Ajak Candra keliling kota, Tante. Tapi, kok sepi ya?" Mata Bryan menengok kanan-kiri mencari.
"Loh! Djata sama Anara sudah balik ke Jawa siang tadi, Yan."
Bryan mengernyit tak percaya. Pasalnya Candra atau Anara tak memberi kabar padanya.
"Emang mereka nggak bilang ke kamu?" Bryan menggelengkan kepala.
"Ya sudah. Sudah sampai sini. Makan malam bareng yuk! Biar tante panggil abah sama Rati." Wanita cantik itu berlalu meninggalkan Bryan yang kecewa.
Pulang ke Kalimantan kususulin. Eh taunya sekarang dah balik aja ke Malang. Dasar!
Setelah semua berkumpul dan selesai berdoa. Keempatnya menikmati makan malam dengan pelan. Tak ada cerita atau pertanyaan kenapa Candra buru-buru balik ke Malang?
Mobil Bryan sudah menyusuri jalan protokol kota. Di sebelahnya duduk Rati yang sibuk melemparkan pandangan keluar. Menikmati suasana malam Balikpapan.
__ADS_1
"Masmu kenapa buru-buru?" Tanya Bryan ketika mobilnya berhenti di lampu merah.
"Nggak tau. Tapi kayaknya marahan."
"Siapa?"
"Mas Djata sama Kak Anara."
"Kok bisa?"
"Iya, soalnya dari kemarin kuperhatikan mereka nggak ada tuh ngobrol. Di meja makan juga diem aja." Jelas Rati.
"Bukannya kebiasaan keluargamu ya kalau makan diem?"
"Bukan begituuu mas. Maksudku pas selesai makan juga nggak ngobrol. Saling lihat pun enggak."
"Masa sih?" Rati mengangguk.
Setelah memarkir mobil. Bryan dan Rati masuk ke salah satu mall di kotanya. Akhirnya ia habiskan malam dengan gadis SMA ini. Daripada sepi sendirian di rumah pikirnya.
"Kita ngapain mas?" Bryan mengangkat bahunya pertanda tak tau.
"Duuuh. Makan apa nonton apa gimana?"
"Aku ngikut kamu aja, Rat."
"Ck. Ratiiii mas. Rati!" Mengesalkan sekali.
Rati berdecak kesal. Tapi, Bryan hanya tertawa. Suka sekali Bryan dan Candra memanggilnya dengan penggalan suku kata 'Rat'.
"Mas Bryan mau susulin ke Malang?" Tanya Rati sambil menyuap es krim ke mulut.
"Enggak. Mau ketemu ayah dulu." Rati mengangguk-angguk mengerti.
"Tumben. Biasanya kemana-mana berdua kayak prangko sama amplop."
"Perlu dijelasin kenapa nggak barengan terus?" Bryan sudah melotot.
"Hahaha. Ya pasti karena Mas Djata sudah ada Kak Anara lah."
Bryan memutar matanya malas. Sekarang Rati yang berbalik menyerangnya. Bakat yang diturunkan dari sang kakak.
"Makanyaaaa, cepetan cari pasangan, Mblo jomblo!"
"Jomblo teriak jomblo. Udah cepetan abisin!" Rati terkekeh.
"Buru-buru banget mau ngapain sih, Mblo?"
"Mau lempar kamu ke hutan!"
"Astaghfirullah, mulutnya maaaas."
Pukul 10 WITA mobil yang membawa Bryan dan Rati sudah memasuki halaman rumah. Sedikit kemaleman karena Mama Ira mewanti-wanti agar Rati sampai rumah jam 09.00. Ini karena Rati yang mengajak Bryan mampir dulu makan nasi goreng kaki lima.
"Semoga mama udah tidur ya mas!"
"Kamu sih pakai acara makan nasi goreng segala."
"Tapi suka juga kan? Enak kan?"
"Udah turun gih!"
Rati turun dan dengan pelan membuka pintu yang ternyata belum dikunci. Ia mengibaskan tangannya pada Bryan untuk segera pergi. Hahaha ... persis kencan diam-diam. Padahal mereka berangkat baik-baik. Bukan sedang backstreet dan tak mungkin juga backstreet.
...----------------...
__ADS_1