
Hingga pagi menjelang, mata Anara sulit sekali untuk dipejam. Pikirannya sedang bermalam mingguan memikirkan Candra juga Bryan. Dua sahabat itu, ternyata ....
Berkali-kali pula, Anara membaca surat balasan dari Bryan. Sekadar memastikan ia tak salah lihat, juga tak salah baca. Namun, tulisan itu tak berubah. Isinya memang begitu adanya.
Amplop berisi kenyataan yang mengantarnya pada awal dirinya jadi mahasiswa itu diletakkan di meja, dekat dengan notebook dan beberapa buku referensi tugas akhirnya.
Sedangkan di belakang pintu sana, jaket hitam milik Bryan menggantung dengan gagah. Menjadi pemandangan di kamar Anara yang tak seberapa luas ini.
Lelaki bermata cokelat itu, desir pertama darah Anara ketika awal jumpa, tapi lelaki gondrong dengan rambut keriting ikal itu tiba-tiba hilang, dan kembali setelah hampir empat tahun berdiam.
Sayangnya, lelaki itu kembali bukan pada waktu yang tepat. Anara masih kekasih Candra, sahabat baik Bryan sendiri.
Aku masih nggak nyangka, semuanya seperti ini.
Selama ini kita begitu dekat layaknya sahabat, kamu yang selalu jadi pendingin untuk setiap amarah Candra, juga untuk masalah kami berdua.
Setelah menikmati pemandangan di depan matanya, Anara kembali merebahkan diri. Ia jadi tak enak hati sendiri.
Berangsur-angsur kesadarannya hilang dan matanya benar-benar rapat terpejam. Mengarungi mimpi yang kadang lebih nyata dari kenyataan yang kadang bagai mimpi itu sendiri.
Cahaya matahari sudah sedikit meninggi di sebelah timur, menghangatkan awal hari yang sarat dengan riuh aktivitas penghuni kos. Hari libur seperti ini, kos selalu heboh dengan suara-suara penghuninya yang bersih-bersih kamar, mencuci, atau hanya saling ngobrol.
Keramaian pagi ini semakin bertambah oleh suara ketukan di pintu kamar Anara sejak beberapa detik yang lalu. Pria dengan celana jogger polos warna hitam berkauskan polo warna putih itu kembali melempar senyum ke arah penghuni kos yang melewati tempatnya berdiri.
An, buka dong! Ya ampuuun. Temen satu kos-mu serem-serem, lihat orang kayak mau menelanjangi.
Candra mempercepat ritme ketukannya di pintu, seolah tak sabar meminta pemilik kamar untuk segera membukanya. Namun, pintu itu belum kunjung terbuka. Berkali-kali pula Candra menghubungi perempuan di dalam, tapi masih belum ada sahutan.
Ceklek ...
"Lama banget sih buka pintunya," gerutu Candra ketika wajah Anara terpampang di sana.
Lelaki itu tanpa permisi lagi, mendorong pelan Anara masuk kembali diikuti dirinya, dan pintu ditutup seperti semula.
"Kamu kok udah di sini? Dari tadi?" Tanya Anara masih mengantuk.
"Dari tadi aku panggil nggak didenger, pintu aku ketuk juga nggak respon, ditelepon apalagi. Kamu baru bangun?" Tanya Candra melirik selimut di atas kasur yang masih teronggok.
Anara mengangguk, "iya. Baru bisa tidur dini hari."
"Kenapa?"
"Kebanyakan kopi kayaknya," balas Anara.
"Mentang-mentang libur, begadang? Lihatin film? Atau begadangin apa?"
"Begadangin malam minggu, kamu ... udah rapi banget?" Anara menatap heran pada kekasihnya di depan.
"Aku mau ajakin kamu ke Pasar Minggu, CFD-an. Kita olahraga, trus kulineran."
"Ya ampuuuun, kenapa nggak bilang?"
"Aku WA kamu semalem, nggak dibaca, nggak ada respon," balas Candra yang tengah duduk di tepian ranjang.
"Astaga, aku mandi dulu kalau gitu. Nggak akan lama," Anara berlalu dengan tergesa menuju kamar mandi.
Menunggui Anara yang sedang di kamar mandi, netra Candra menyapu seluruh ruangan. Matanya tertuju pada benda putih di meja. Langkahnya mendekati meja dan meraih benda itu ... surat.
*****
"Kamu pengen makan apa?" Tanya Candra menatap perempuan di sampingnya. Tangannya menaut jemari Anara begitu erat.
"Pengen bakso goreng, trus nasi kuning pake urap, oseng tempe, lauknya telur bacem, sama kasih kuahnya dikit. Roti maryam, getuk, trus minumnya ... hmmm, lihat ntar aja deh," balas Anara antusias.
__ADS_1
"Kamu ini, olahraga sama makan kencengan makannya. Habis itu semua?"
"Kan ada kamuu, apa gunanya?"
"Jadi, aku semacem tempat pembuangan kalau makananmu nggak habis?"
Anara terkekeh, "kalau mau, kalau enggak ya aku bawa pulang ke kos. Pasti habis."
Tangan kiri keduanya sedang memegang pincuk berisi nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya. Sementara tangan kanan masing-masing sibuk bekerja memasukkan makanan ke mulut, mengisi amunisi setelah berjalan sekian jauh.
Di dekat duduknya pada emperan pembatas jalan dengan trotoar, kantong-kantong plastik berisi bakso goreng, getuk, dan roti maryam sesuai keinginan si perempuan tadi. Dua standing pouch bening berisi minuman dengan bubuhan daun mint menjadi pelengkap Minggu pagi keduanya.
"An," tegur Candra yang baru menghabiskan sarapannya.
"Hmmm."
Perempuan dengan rambut diikat kuda yang masih sibuk dengan bakso gorengnya itu hanya berdeham memandang Candra, menanti kata berikutnya.
"Dua minggu lagi, aku bawa orang tuaku ke rumah kamu ya?"
"Hah?" Anara terkejut hingga hampir tersedak.
Setelah menyodorkan air ke perempuannya, Candra kembali berujar, "kelamaan?"
"Kok kelamaan. Itu malah terlalu cepet, Ndra?"
"Kenapa? Nunggu aku ketikung?" Tatap Candra pada manik mata Anara dengan instens.
"Ketikung siapa sih? Ngomong apalagi, nggak jelas deh!"
"Bryan."
Anara menepuk dahinya, melawan gemuruh di dadanya, "astagaaa itu lagi yang dibahas dari kemarin. Ngerusak suasana tau nggak?"
Anara bangkit dan berjalan duluan, Candra mengikuti langkah Anara yang semakin terang menyiratkan kegundahan itu.
"Terserah kamu, Ndra."
"Jangan terserah! Kita berdua yang jalani. Kenapa hanya aku yang seolah ingin kita lebih serius?"
"Berapa kali aku bilang? Aku masih pengen fokus skripsi, masih pengen ke sana ke sini menikmati masa muda," balas Anara kesal.
"Karena itu? Bukan karena hal lain?"
"Apaa?"
"Lupakan!" Tukas Candra akhirnya. Percuma mendebat Anara, dia mulai pandai berkelit.
Ditariknya pelan lengan perempuannya, menuntun Anara kembali menapaki jalan hubungan yang sedang berliku dan berlubang. Sesekali netra Candra menatap ke belakang, menemukan perempuannya sedang sama terdiam.
Tidak akan kulepas kamu barang sekejap. Aku tahu ada tangan lain yang sedang merentang dan siap menarikmu sewaktu-waktu ketika aku lengah sebentar saja.
Sepanjang jalan, keduanya saling membisu tak melontarkan satu kata pun. Hanya lingkaran tangan Anara pada pinggang Candra yang seolah menjadi isyarat bahwa mereka mencoba terlihat baik-baik saja.
Motor Candra terus melaju melewati jalan yang tak terlalu ramai pagi menjelang siang ini. Gang menuju kos Anara pun sudah lewat beberapa meter lalu. Namun, lelaki itu tak mengindahkan pertanyaan Anara yang bertubi-tubi.
"Kita kemana, Ndra?"
Suara dari belakang bagai backsound yang mengiringi pikiran kacau Candra,
Sahabatku sendiri mencintai perempuanku, apa yang lebih mengkhawatirkan dari itu?
"Candraaa! Kita kemana?"
__ADS_1
"Ke rumahku."
Selang 15 menit, keduanya sampai di halaman rumah industrial itu. Tangan Candra membuka pintu dengan tak sabar. Hatinya digelayuti perasaan marah, kecewa, dan was-was jadi satu.
Anara yang mulai merasa kekasihnya tak sungguh baik-baik saja itu hanya mengikuti langkah kaki Candra masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, pikiran Anara justru sibuk memutar kembali memori hari kemarin ketika Bryan masih berada di sana.
"Aku mandi dulu," ucap Candra datar. Anara hanya mengangguk.
Berlalunya Candra semakin meliarkan imajinasi Anara, kepingan memori bersama Bryan kembali terangkai utuh memantik kenangan itu hadir lagi.
Pertama kalinya Anara teriak melihat Bryan bertelanjang dada keluar kamar sambil mendendang lagu. Ketika dirinya mendengar Bryan yang memetik gitar melantunkan lagu Naff menjelang rencana keberangkatan mereka berlima ke Jogja. Juga makan siang sepulangnya dari dinas sosial dan ... banyak lagi.
Menyakitkan, Yan. Maaf. Aku yang kurang peka.
Anara meraup wajahnya kasar. Dari arah belakang muncul kembali Candra sedang bertelanjang dada, bagian bawah tubuhnya hanya tertutup handuk yang melilit.
Tatapan mata lelaki itu tak bisa diartikan. Sendu namun menyimpan banyak tanya. Langkahnya semakin mendekati Anara yang tengah duduk di sofa. Dihampirinya Anara setelah menutup pintu dengan sempurna.
Candra yang sudah berada di samping Anara membuka suara, "kita tunangan dulu!" Kalimat itu kembali terlontar. Namun, kali ini dengan nada datar.
"I-iya," balas Anara yang diselimuti rasa was-was tiba-tiba.
Candra memajukan tubuhnya tanpa melepas tatapan intimidasinya, menekan Anara hingga di batas sofa. Tangannya sigap menahan tengkuk Anara. Perlahan kepalanya dimiringkan dan bibirnya menyinggahi bibir Anara.
Dengan lembut Candra memagut perempuannya. Tangan satunya sudah sibuk meremas benda kenyal di depan. Membuat Anara meloloskan suara desahan hingga lidah Candra leluasa menyeruak masuk ke sana. Saling membelit dan bertukar saliva.
Seiring suara Anara yang semakin meracau karena pijatan di dadanya. Candra menyusupkan tangannya ke dalam kaus, menaikkan penutup benda itu dan jemarinya sibuk bermain di pucuk dada Anara. Menjadikan Anara semakin melenguhkan suara-suara indah di telinga.
"Teruslah mendesah, Anara!"
Perlahan kaus putih milik Anara disingkap semakin ke atas oleh Candra. Ciumannya semakin turun ke leher melewati kaus dan berhenti di gundukan kenyal. Menyapu benda itu dan membuat tanda-tanda merah di sana.
Kemudian lidahnya beralih ke pucuk dada perempuannya, bermain di sana. Anara sudah menyenderkan kepalanya di sofa merasakan permainan tangan juga lidah Candra.
Tangan Candra semakin turun melewati perut Anara dan menyusup ke dalam celana olahraga Anara hingga semakin ke bawah menyentuh kain terakhir. Masuk di antara sela paha dan menemukan benda yang sudah mulai basah karena ulahnya.
Jari candra perlahan bermain di area sensitif itu, suara Anara semakin meracau bersahutan dengan semakin cepatnya Candra memainkan jarinya. Tak kuasa lagi, Candra melepas celana Anara dengan kasar dan tak sabar.
Jarinya kembali menyentuh benda itu bahkan semakin liar. Bibirnya kembali mencumbui Anara dan dengan cepat tangannya membuka lilitan handuknya.
"Can-dra, stop!" Pinta Anara di tengah cumbuan panas mereka.
Tetapi, lelaki itu sedang terlanjur dikuasai ketakutan dan amarah. Ia ingin segera memiliki Anara seutuhnya. Ucapan Anara berlalu begitu saja di telinga.
Dengan sigap ia memegangi tangan Anara yang semakin meronta. Dengan tak sabar pula ia menekan miliknya pada milik Anara yang terasa sempit sekali. Tak dihiraukan lagi suara Anara juga mata yang berkaca-kaca sedang memohon itu.
"Bersiaplah sayang. Ini menyakitkan, tapi ... kamu akan ketagihan," ucap Candra kembali berusaha menekan miliknya.
"Kau sempit sekali, sayang," Candra terus menekan miliknya.
"Sudah Candra! Cukup!" Anara mulai merasakan panas di pusat miliknya, lelaki di atasnya begitu memaksa untuk masuk.
Anara yang semakin terisak sekuat tenaga mendorong tubuh kekar Candra. Namun, percuma. Kekuatannya tak seberapa.
Bayang-bayang Bryan kembali terbersit begitu saja seiring seringai Candra yang menakutkan. Seharusnya laki-laki itu tiba-tiba muncul menolongnya. Tapi, Anara sadar, dia bukan tokoh di film atau novel khayalan.
Perlahan rontaan Anara melemas. Menyadari itu, Candra merenggangkan cengkeramannya pada lengan Anara. Merasa memiliki waktu. Akhirnya sekuat sisa tenaga didorongnya Candra yang sedang digelayuti nafsu sialan itu.
Tangannya cepat memukul tengkuk lelaki itu, "bajingan kamu, Candra."
Dengan sigap, Anara kembali memungut celana dan memakainya. Memutar kunci dan membuka pintu lebar. Di tengah langkah seribu, Anara merutuki Candra. Hatinya kecewa dan dari netra indahnya kembali jatuh air mata yang mulai menganak sungai.
"Candraaaa, tega kamu!" Pekik Anara keluar gerbang perumahan itu.
__ADS_1
"Hampir hilang mahkota," gumam Anara lega melihat ke ujung sana. Ia seka air mata dari netra sembabnya.
...----------------...