
"Pulang jam berapa, Tik?"
"Pagi ini, An. Biar nggak kesorean sampai rumah."
Terlihat satu tas ransel dan satu paper bag siap untuk di bawa. Mungkin isinya oleh-oleh.
"Tik."
"Ya, An?"
"Aku besok ke Kalimantan." Hartik menoleh ke arah Anara dengan wajah terkejutnya.
"Mendadak banget. Sama siapa? Ngapain?" Hartik memberondong Anara dengan raut selidik.
"Iyaa ... sama Candra, abahnya sakit katanya." Anara sudah duduk di pinggir ranjang Hartik.
"Kamu ikut ke rumahnya gitu?"
"Iya, tiket juga udah siap."
"Ciee. Mau dikenalin ke keluarganya ya?" Ekspresi Hartik yang semula penuh selidik kini berubah menggoda Anara.
"Nggak tau lah. Aku deg-degan, Tik."
"Ya maklum kan mau ketemu camer." Ekspresi senang Hartik bahkan melebihi Anara.
"Itu juga, tapi aku lebih kepikiran gimana pas naik pesawat."
"Banyakin doa aja! Segala sesuatu kan udah ada garisnya, hidup dan mati. Pasraaah, tenaang, dan nikmati!"
"Ya ampun, Tik. Kalimat kamu tuh malah bikin aku makin takut."
"Udah, tenang! Nikmati aja perjalanan lewat udara! Aku malah pengen naik pesawat."
Hufh
"Aku mandi dulu. Habis ini kita cari sarapan ya, An!" Anara mengisyaratkan oke dan Hartik dengan berkalung handuk melenggang pergi dari hadapannya.
...----------------...
"Berarti kamu nggak jadi pulang?" Hartik menyeruput kuah soto terakhir dari mangkuknya.
"Tetep pulang tapi setelah balik dari Kalimantan. Hari Minggu." Jawab Anara dilanjut menyesap teh hangatnya.
"Baik-baik ya An di sana! Hati-hati!" Anara hanya mengangguk mengerti.
"Terus gimana kabar Janu? Masih suka hubungi kamu?"
"Pernah WA, nggak kubales."
"Jadi, udah beneran bisa move on ni?"
"Ya gimana, udah terlanjur lengket sih sama Candra." Kalimat Anara diiringi tawa renyah khasnya.
"Oke. Kudoain semoga langgeng sampek kiki nini ya." Hartik mengangkat kedua tangan persis sedang berdoa.
"Ya udah yuk! Keburu siang." Hartik beranjak dari duduknya menuju tempat parkir depan warung soto.
"Yuk!" Anara yang baru keluar warung kini sudah mengarahkan matic-nya menuju kos kembali.
Jalanan pagi ini masih sedikit lengang, mungkin karena musim libur UAS, beberapa mahasiswa pulang ke kota asalnya. Sama halnya dengan yang akan ia dan Hartik lakukan.
Kota Malang barangkali tersenyum dengan hari-hari ini, wajahnya tak harus merasai banyak polusi asap kendaraan. Sejenak udara segar bisa dihirup dengan leluasa.
Berbeda dengan para pedagang, tentu dengan pulangnya mahasiswa, omzet mereka pasti turun. Sabaaar! Ini hanya sebentar.
"Nanti malem kamu **** di kos sen******, An?" Suara Hartik dari belakang samar terdengar oleh Anara.
"Apa Tik? Nggak denger."
"Ti-dur sen-di-ri-an di kooooos?" Hartik mengulangi kalimatnya.
"Siapa?" Suara Anara tak kalah kencang.
"Kamuuuuu."
"Eh, iya dong?" Suara Anara terdengar kecewa setelah menyadari itu.
Matic milik Anara kini sudah terparkir di garasi kos. Ia masih berpikir bagaimana nasibnya nanti malam. Tak mungkin ia tidur seorang diri di kos yang terbilang besar ini, takut kalau terjadi apa-apa.
Gimana kalau ada maling? atau gimana kalau ada orang jahat? Ia segera menghilangkan pikiran buruk dari kepalanya dan menyusul Hartik yang sudah lebih dulu menghambur ke kamar.
__ADS_1
"Tik. Gimana dong aku ntar malem?"
"Gimana apanya?"
"Nggak mungkin aku tidur di kos segede ini sendirian. Kalau ada apa-apa gimana? Teriak? Mana mungkin ada yang denger?"
"Ya udah. Kamu minta Candra aja buat jemput! Tidur di rumah dia! Dimana itu rumahnya? Aku lupa."
"Kusuma Estate."
"Naaah. Pikiran juga kan kalau kamu sendiri di kos. Tapi ...." Hartik menjeda kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Kalau tidur di sono, kamu sama Candra jangan macem-macem loh!" Pukulan ringan mendarat di lengan Hartik.
"Ditahan kalau udah nafsu!"
"Astagaaa, Hartiiiik."
Hartik sudah siap menggendong ransel di punggung dan menjinjing satu paper bag. Sebentar lagi gadis berhijab ini akan berjuang melawan mabuk perjalanan di bus. Musuh terberat Hartik saat ini.
"Udah antimo-nya?"
"Nih, beserta Freshcare juga. Jangan khawatir!" Hartik memamerkan dua senjata pamungkasnya.
"Lebih khawatir sama orang yang duduk di sebelahmu nanti aku Tik." Anara terkekeh.
"Aku udah lama nggak mabuk kok. Beneran."
"Iya, iya percaya. Hati-hati di jalan. Jangan molor mulu! Ntar waktu turun malah bablas." Anara mewanti-wanti sahabatnya yang hobi tidur di bus itu.
"Siap Bu Candraaaa." Anara mencebikkan bibirnya.
...----------------...
Menjelang petang, Anara sudah siap dengan koper berukuran 20 inch dan sling bag favoritnya. Barang penting seperti ponsel dan dompet sudah tertata rapi dalam sling bag berwarna hitam yang kini sudah menggantung di badannya.
Anara masih menunggu kedatangan Candra, lelaki itu bilang akan menjemputnya menjelang petang. Ketika Anara mengutarakan maksud hatinya untuk tidur di rumah Candra, lelaki itu tidak hanya setuju, melainkan juga bahagia. Bahagia yang tak terkira.
Sekitar 10 menit, mobil putih milik Candra sudah memasuki area kos. Lelaki dengan celana jeans berpadu o neck sweater warna putih gading yang diharap kedatangannya oleh Anara, kini sudah mendaratkan diri di sofa.
"Minum dulu?"
"Tapi ini udah mau petang, Ndra. Nggak enak suasananya." Seketika Candra teringat bahwa kekasihnya ini kurang menyukai temaramnya langit sore.
"Iya udah. Teh aja."
Anara bergegas menuju dapur. Ia seduh teh merk Sari Harum yang aromanya menenangkan hati, dua gelas teh menemani obrolan mereka.
Anara menanyakan progres tugas akhir Candra, sudahkah dikerjakan seperti milik sahabat karibnya?
"Belum. Kalau aku cepet lulus, kita bakal jarang ketemu."
"Alasan apa kayak gitu? Nggak masuk akal tau."
"Tapi, kalau aku udah lulus dan kerja. Pasti waktu kita ketemu makin dikit, An."
"Kan bisa diatur. Ini demi masa depan kamu loh."
Anara terus mendebat Candra, agar lelaki itu lekas memikirkan skripsinya. Dia tentu tak ingin pacarnya jadi mahasiswa karatan karena skripsi yang tak kunjung kelar.
...----------------...
Ceklek
Pintu terbuka dan Candra sibuk memasukkan koper milik Anara ke dalam rumah. Setelah kenyang menyantap tahu telur kaki lima di pinggir jalan, Anara masih meminta Candra mengarahkan mobil menuju kedai angsle yang menurut informasinya ada sejak 1948.
"Nggak nyangka ternyata cewek makannya banyak juga." Anara yang merasa tersindir hanya tertawa.
"Aku taruh sini aja ya?" Candra menunjuk koper berwarna abu-abu di samping sofa dan Anara hanya mengangguk.
"Bryan kemana? Kok sepi."
"Kamu ngapain cari Bryan?" Ketus Candra penuh selidik.
"Nanya doang, Ndra. Biasanya kalian kan ribut mulu kalau lagi bareng."
"Dari kemarin-kemarin kelihatannya mulai akrab. Ngobrol lumayan lama kan pas aku tidur di sebelah?"
"Terus aku harus gimana? Kalau ada dia pura-pura nggak kenal?"
__ADS_1
"Aku nggak suka ya kamu deket-deket cowok lain."
"Siapa yang deket-deket sih? Aku cuma nanya dia ngapain kemarin tuh."
"Lagi nyekripsi kan? Jadi karena itu kamu nanyain skripsiku tadi?"
"Astagaaa."
"Kamu mau bandingin aku sama dia?" Raut muka Candra sudah dipenuhi emosi, rahangnya mengeras.
Anara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti. Pertanyaan simple dari bibirnya tak disangka akan jadi serumit ini.
"Udah! Bahas yang lain aja." Kalimat Anara barusan membuat keduanya sama-sama diam. Hanya suara jarum jam yang terdengar di antara mereka.
Kini, tangan Anara sesekali sibuk bermain pada benda canggih di hadapannya. Seutas senyum kadang tersungging dari bibirnya.
"Ngapain?" Anara hanya menatap Candra sekilas lalu kembali fokus pada gawainya.
"An. Aku nanya. Kamu ngapain?"
"Chattingan." Jawaban itu keluar bersama tatapan datar dari Anara pada manik mata Candra.
Bikin kesel banget ni Candra.
"Sama siapa?"
"Hartik"
"Kenapa senyum-senyum?"
"Ya terus gimana? Nangis-nangis?" Anara sudah akan beranjak dari duduknya, merasa aura di ruang tamu tak nyaman lagi. Ia makin dongkol pada Candra yang suka sekali emosi.
"Mau kemana?" Tangan Candra sudah menahan Anara untuk tak beranjak.
"Keluar. Cari angin."
"Lihat chat kalian!"
Anara mengarahkan layar ponselnya kepada Candra. Candra yang sedang membaca chat antara Anara dengan Hartik hanya diam.
"Puas?"
Dilangkahkan kaki perempuan itu keluar. Menikmati suasana malam yang damai tak seperti malam di kosnya ... deru kendaraan sahut-menyahut tiada henti. Udara di sini ternyata menusuk hingga ke tulang belulangnya.
Dingin.
Ekor mata Anara melirik pada lelaki di dalam, masih di sofa tak beranjak. Ia juga tak berharap Candra keluar menghampirinya seperti yang sering ia lihat pada film-film.
Cemburuan sekali.
"Maaf." Tangan Candra sudah melingkar pada pinggang Anara yang membelakangi pintu. Anara masih tak bergeming. Ia masih kesal dengan sikap Candra yang dinilai berlebihan.
"Aku minta maaf, An." Diciuminya lekuk leher Anara berharap itu bisa meluluhkan, sayangnya tidak. Anara masih tak menunjukkan respon.
"An."
"Anara Reswari." Nada bicara Candra sedikit ditinggikan.
"Tuh kan. Gitu aja udah mulai emosi lagi." Kali ini Anara hanya menoleh ke samping, masih tidak melihat lelaki di belakangnya.
Tadi dilembutin nggak respon. Giliran naik dikit baru buka suara.
Candra mengacak rambutnya kesal.
Dasar wanita, makhluk membingungkan. Dan lemahnya, kaumku bahkan menggilai makhkuk ini.
"Belajar sabar gitu loh!"
"Iya, iya, maaf." Pelukan Candra semakin erat ketika angin berembus.
"Maaf maaf maaf terus. Kamu tuh kebiasaan mikir yang enggak-enggak tentang aku."
"Aku cuma nggak mau kamu contact-an sama cowok lain, persis pas waktu sama Janu itu."
"Astagaaaa. Kamu kira aku bakal chattingan gitu sama Bryan? Berlebihan tau nggak?"
"Dia itu playboy Anara."
"Kamu bahkan hampir tiap hari bilang begitu. Kenapa sih? Dia sahabat kamu loh."
Candra menarik napas kuat-kuat dan mengembuskannya kasar.
__ADS_1
Kamu bahkan nggak peka Anara. Aku cemburuuuuuuuuu.
...----------------...