
Pulang dari menyerahkan naskah berita di hari terakhirnya sebelum mengambil cuti kerja. Candra dikagetkan oleh WA dari sang adik. Rati mengabarinya jika Anara dipaksa ikut ke mobil oleh seorang lelaki.
Mata Candra membelalak membara tatkala membaca pesan setelahnya. Lelaki itu adalah Janu, mantan pacar Anara. Lelaki sialan itu benar-benar minta dihabisi.
"Kenapa nggak diangkat-angkat, sih?" Gerutu Candra karena teleponnya diabaikan begitu saja oleh Anara.
"Rati. Gimana? Udah ketemu?" Candra berganti menelepon adiknya.
"Belum, Mas. Ini aku sama Mas Bryan juga."
"Ya ampuuuun. Kok bisa laki-laki sinting itu tau kalau Anara ke Jogja?"
"Udah, Mas! Aku tutup. Mau nyari lagi." Sambungan telepon ditutup.
Candra bergegas memasukkan beberapa baju ganti ke dalam tas ransel miliknya. Menyambar kunci mobil dan bersiap melakukan perjalanan panjang Malang-Jogja.
Bersyukur di zaman sekarang ada aplikasi penunjuk jalan online. Tinggal menulis kota tujuan, maka semua akan tiba pada waktunya. Candra hanya berharap, semoga kekasihnya baik-baik saja.
"Ya Tuhan kemana lagi?"
"Aku juga nggak tau, Mas."
"Coba kamu telepon!"
"Udaaah. Nggak diangkat."
"Coba lacak nomornya!"
"Kok nggak kepikiran sih kita."
"Kita? Kamu kali. Aku kepikiran." Tukas Bryan.
Dalam situasi genting begini mereka masih saja berdebat.
"Mas, ini kayaknya ke arah kos deh."
"Mana? Lihat!" Manik mata Bryan menatap layar ponsel Rati.
"Ya sudah. Kita ke kos!" Sambung Bryan.
Pada belokan terakhir sebelum sampai ke kos. Keduanya berpapasan dengan sebuah mobil. Menurut ingatan Rati, mobil itu seperti tak asing baginya.
Kayak mobil yang dipakai Janu tadi.
Di bawah cahaya terang lampu gerbang kos. Terlihat Anara tengah mondar-mandir bak setrikaan baju. Perempuan itu terlihat biasa, baik-baik saja.
"Kak Anara!"
"Rati. Akhirnya kamu pulang juga. Aku WA."
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Bryan.
"Aku baik."
"Aku khawatir sekali, Kak. Tadi aku telepon nggak bisa, WA nggak dibales."
"Maaf ya! Buat kamu khawatir. Janu cuma ngajak ngobrol."
"Nggak diapa-apain kan?" Balas Rati, mengingat lelaki itu pernah nekat hampir mencium calon iparnya.
"Enggaak."
"Bukan cuma Rati, aku dan Candra pun khawatir, An. Takut laki-laki itu nekat."
"Candra?"
"Iya, Kak. Aku kasih tau Mas Djata."
Ya ampuuuuun! Bisa runyam urusannya.
"Dia udah di jalan. Barangkali dini hari baru sampek." Lanjut Bryan.
Tepuk tangan untuk duel maut Rati dan Bryan! Yang sudah menyiarkan kabar ini hingga sampai ke telinga Candra. Pasti lelaki berjambang itu akan semakin mengatur-atur ruang gerak Anara.
"Dia kesini?"
"Iya." Jawab Bryan tanpa keraguan.
Baru tadi Candra kularang nyusul. Sekarang Rati dan Bryan malah mengundangnya.
Melihat raut wajah Anara yang berubah. Bryan dan Rati bertanya-tanya ada apakah gerangan? Apa mereka salah?
"Kenapa, An?" Tanya Bryan.
"Enggak kok."
"Kak Anara nggak mau Mas Djata kesini?" Tebak Rati melihat perubahan ekspresi Anara ketika mengetahui kakaknya akan bertandang ke Jogja.
"Bukan nggak mau kalau masmu kesini. Cuma nggak ingin ada acara baku hantam lagi." Jelas Anara.
"Lagian aku heran kenapa sih lelaki itu terkintil-****** banget sama kamu?"
"Dia mantanku, Yan."
"Kalau itu aku tahu, An. Gagal move on dia?"
"Sepertinya ... padahal dulu dia yang pergi. Setelah ketemu lagi jadi gitu."
"Karena perempuan emang lebih menarik pas udah jadi mantan."
"Mas Bryan curhat?" Tukas Rati membuat Anara terkikik.
"Mulai deh."
"Kan mas sendiri yang bilang kalau perempuan lebih menarik pas jadi mantan."
__ADS_1
"Caroline berarti cantik banget pas ketemu di acara wisuda itu?" Goda Anara.
"Terserah kalian lah." Rati dan Anara tertawa puas.
"Sebentar. Aku kabarin Mas Djata lagi. Biar nggak pikiran di jalan."
Rati mengambil ponsel dan men-dial nomor sang kakak. Terdengar suara lega dari seberang sana. Kini, ponsel Rati sudah berpindah ke telinga Anara.
"An."
"Iya, ini aku."
"Aku susulin. Nggak tega kalau kamu di sana lama-lama."
"Iya. Hati-hati."
"Kamu juga." Sambungan telepon tertutup.
"An, catat nomorku! Kalau ada perlu kamu bisa telepon! Setidaknya sampai Candra sampai." Bryan memperlihatkan layar bertuliskan nomor 12 digit miliknya.
Motor matic tengah membawa Bryan kembali ke peraduan. Hari yang melelahkan baginya. Mulai dari baku hantam dengan Janu tadi sore hingga diculiknya Anara barusan.
Mantan Anara emang bajingan!
Memasuki tempat tinggal sementaranya di Jogja, Bryan menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar. Hatinya tergelitik pada perilaku Janu, membuatnya kesal sekaligus salut.
Lelaki bajingan itu tak pantang menyerah meruntuhkan benteng pertahanan hubungan kedua sahabat baiknya. Janu bagai tak punya malu untuk menjilat ludah yang telah ia buang.
Tak seperti diriku yang sembunyi bahkan menghilang dari cinta yang pertama hadir menyapa hati.
...----------------...
Perjalanan Malang-Jogja yang melelahkan terasa lunas dibayarkan ketika manik mata Candra menyaksikan Anara tengah terlelap. Dini hari tadi kakinya kembali menginjak tanah Jogja. Kota yang dulu ia benci setengah mati.
Tetapi sekarang, ia rela datang dengan hati yang lapang. Mengikuti kekasih hatinya yang seakan sudah candu pada Jogja. Cinta memang mampu merubah segalanya. Hahahaha
"Rati! Banguun." Candra mengguncang tubuh adiknya.
"Hmmm."
"Banguuun! Udah pagi no."
"Mas Djata apaan sih? Berisik." Ucap Rati masih mengucek netra yang terasa masih lengket.
"Banguun!"
"Kenapa sih? Tuh, Kak Anara juga masih tidur."
"Kamu ini, semenjak jadi anak kos bangun telat mulu ya?"
"Kayak mas enggak aja."
Akhirnya Rati dengan langkah gontai menuju kamar mandi. Hendak membersihkan diri yang terasa bau debu jalanan karena pencarian calon ipar semalam. Kakaknya sedang di sini, ia harus memanfaatkan keberadaannya.
Kalau Mas Bryan tau rencanaku. Pasti dia akan mengataiku pengerat. Hahaha.
"Awas ya! Mas jangan aneh-aneh! Ada CCTV di kamarku."
"Mana adaaaa?"
"Jangan macem-macem!"
"Iya. Iya. Buruan mandi!"
Kembali Candra pandangi raut wajah di depannya, perempuan yang mengikat hatinya. Ia masuk di satu selimut yang sama dengan Anara. Tak lama mata indah di depannya mengerjap merasakan pergerakan seseorang di sampingnya.
Anara mengucek netranya untuk memastikan. Mengedip-ngedipkan mata berulang. Tetapi lelaki di depannya tidak hilang, itu berarti bayangan Candra adalah nyata, bukan sekadar bunga tidurnya.
"Udah bangun?"
"Kamu udah di sini?" Candra mengangkat alisnya sambil tersenyum.
"Kapan?"
"Semalem."
Tangan Candra menyibakkan helai rambut yang menutupi wajah Anara, membuat pandangannya semakin leluasa. Sementara tangan satunya melingkari pinggang Anara yang masih berbalut selimut.
"Rat-ti?" Anara menyapu ruangan kamar yang cukup luas itu.
"Mandi."
"Sepagi ini?"
"Setengah delapan sayaaang."
"Masa sih?"
Anara menggeliat mencari ponsel miliknya. Mengetuk layar kaca itu dua kali. Benar saja, sudah setengah delapan.
Candra kembali menarik pinggang perempuannya untuk mendekat. Rasanya rindu sekali dengan momen seperti ini. Akhir-akhir ini ia disibukkan dengan pekerjaannya. Hingga waktu mereka bersua semakin singkat dan tidak sebebas dulu.
"Aku kangen." Sebuah kecupan mendarat di kening Anara.
"Aku juga." Anara membalas dengan kecupan kilat di bibir Candra, membuat lelaki itu membulatkan mata.
"Kenapa?" Tanya Anara.
"Enggak kenapa-kenapa sayang. Makin agresif ya."
"Kan kamu gurunya." Candra tertawa.
Dalam posisi saling berhadapan. Candra memagut perempuan di depannya dengan lembut. Sarapan pagi ini tidak boleh buru-buru. Tak lama, Anara melepas pertautan mereka.
"Candraa. Kemarin ...."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Janu ..."
"Ngajak balikan?"
"Aku bilang untuk lupain aku."
"Dia nggak aneh-aneh kan?"
Awaaas lu Janu! Gue habisin, ha-bis-sin! Kalau lu aneh-aneh.
Gelengan kepala Anara membuat Candra lega. Jika saja lelaki itu menyentuh kekasihnya, ia akan menghapus setiap letak sentuhan itu dengan dirinya. Juga, ia pastikan Janu menyesal membuat masalah dengannya.
"Apa kamu akan hilang begitu saja suatu hari nanti, Ndra?"
"Entah." Candra tersenyum menggoda.
"Kok gitu?"
"Umur mana ada yang tau, sayaaang?"
"Jangan ngomong begitu!"
"Aku nggak akan hilang kayak cinta pertamamu itu." Candra mencebikkan bibirnya.
"Demi apa?"
"Demi kamulah."
"Senyum-senyum? Seneng?" Sambung Candra.
"Banget."
"Perempuan hobi banget ya digombalin?"
"Berarti kamu cuma nggombal?"
"Serius."
"Awas ya kalau ilang!"
"Kenapa emang?"
"Kupasang baliho beserta selebaran buat cari kamu." Ucapan terakhir Anara membuat Candra tertawa.
"Nanti anter aku cari buku ya!"
"Kemana pun, Nona."
Candra kembali menarik Anara. Menatap lekat-lekat ciptaan Tuhan di depannya itu. Jarak di antara mereka semakin dekat. Sapuan napas keduanya terasa hingga ke wajah masing-masing,
Ceklek ...
Pintu kamar mandi terbuka. Anara menarik diri menjauhi Candra. Membuat lelaki di depannya membuang napas dengan kecewa.
"Ehmmm ... Mas Djata mandi!"
Ganggu aja nih Rati.
"Iyaaa." Candra menyibak selimut dengan malas.
Bryan sudah menuju arah kos Rati pagi ini. Hari ini ia akan bertemu sahabat karibnya, Candra. Enam bulan keduanya tak bersua, telinga Bryan seperti merasa rindu dengan panggilan 'kadal' dari Candra.
"Kadaaaal." Candra membawa Bryan dalam pelukan.
"Rindu gue lu julukin begitu."
"Kenapa? Nggak ada temen lu di Surabaya."
"Ada. Tapi nggak sebobrok elu." Bryan tersenyum smirk.
"Lebih bobrok?" Keduanya tertawa, melepas kerinduan yang bersemayam di dada.
"Lu kesini ngapain?"
"Mainlah, sambil kerja."
"Enak ya jadi freelancer." Tutur Rati.
"Kalau Bryan jadi apa aja enak. Orang dia diem bae uang ngalir." Balas Anara.
"Pewaris tunggaaaal" Sambung Candra.
"Apaan sih? Gue tuh bisa kali kerja sendiri. Biarpun serabutan, yang pasti ada duitnya dan banyak." Ujar Bryan dengan bangga. Ia tak suka terus dikaitkan dengan perusahaan ayahnya.
Semua sudah siap untuk pergi. Membawa motor adalah pilihan tepat. Mengingat Jogja sangat macet sekarang.
"Mas Bryan nggak pengen tuh begitu?" Tanya Rati menunjuk ke arah Candra dan Anara yang berboncengan di depan.
"Ah, udah pernah. Kamu tuh pengen nggak begitu?"
"Ini kan udah begitu." Sahut Rati tertawa.
"Bukan itu kampret. Maksudnya nggak pengen punya cowok?"
"Belum ah, aku kemana-mana bisa kok sendiri, Mas."
"Ya ampun trus kamu kira cowok itu tukang ojek?"
"Hahaha. Terus buat apa dong?"
"Iya, ya buat apa ya?"
Keduanya pun tertawa.
__ADS_1
...----------------...