
" Nak,,,,,ini bunda Rahayu , Istri pertama dari ayah kalian dan mereka anak-anak dari ayah kalian , kalian semua adalah saudara , saudara seayah " Tutur Wulan pada anak-anaknya ,
" Kenalkan Ini Januar anak pertama , ini Febio anak kedua , ini mario anak ketiga , ini Mei anak keempat , ini Julia anak kelima , ini Sapta anak keenam " Wulan memperkenalkan buah hatinya pada Rahayu dan keenam anaknya , anak-anak Wulan pun mengangguk seraya mengulas senyum kala nama mereka disebut satu-persatu oleh ibunya ,
" Nak,,,,,ini ibu Wulan , istri kedua ayah kalian , ini Mega , Jingga , Mentari , Senja , Pelangi dan Bayu " Rahayu memperkenalkan buah hatinya pada Wulan juga keenam anaknya ,
anak-anak Rahayu menguncupkan tangannya didepan dada seraya mengulas senyum kala nama mereka satu-persatu disebut oleh sang bunda ,
" Ayo nak,,,,,kalian saling berjabat tangan , peluklah saudara baru kalian ! " titah bunda pada keenam buah hatinya ,
" Ayo nak,,,,,! " Wulan pun memerintahkan hal yang sama pada buah hatinya ,
Anak- anak dari kedua istri mendiang Adijaya pun saling mendekatkan diri , berjabat tangan dan berpelukan seraya mengamati wajah -wajah saudara baru mereka ,
" Alhamdulillah,,,,,masyaallah,,,,tabarakallahu,,,,! " Arman adik ipar Rahayu mengucap syukur atas apa yang dilihatnya hari ini , kepergian mendiang Adijaya mendatangkan hikmah , telah menyatukan kedua istri dan kedua belas anaknya ,
" Mulai hari ini kalian harus hidup rukun saling berdampingan , ayah kalian diatas sana pasti merasa senang melihat kalian bersatu " tutur Arman ,
Keduabelas anak mendiang Adijaya pun menganggukkan kepalanya bersamaan , mereka pun akhirnya mengakrabkan diri dengan berbincang-bincang , sementara para orang tua tengah berunding mengenai pelaksanaan acara tahlilan yang akan digelar dimana Arman berlaku sebagai sesepuh dari pihak keluarga besar Rahayu , alhasil kesepakatan pun didapat yang mana tahlilan akan digelar didua tempat secara bergantian ,
Tahlilan hari ke tujuh mendiang Adijaya akan digelar dikediaman Wulan , hari ke empat puluh dikediaman Rahayu , hari keseratus akan digelar kembali dikediaman Rahayu ,
Sepeninggal Adijaya , pertemuan antara keluarga Rahayu dan Wulan semakin intens , mereka dengan kompaknya menggelar acara tahlilan mendiang ayah mereka ,
__ADS_1
Seperti yang terlihat dikediaman Rahayu hari ini , semua keluarga besar Rahayu tengah sibuk mempersiapkan acara tahlilan seratus hari kepergian mendiang Adijaya , yang akan dimulai selepas shalat magrib , Rahayu mengundang kerabat juga tetangga terdekat untuk turut serta mendoakan mendiang suaminya , bahkan Keluarga besar Wulan pun telah datang selepas dzuhur tadi ,
Selepas magrib , para tamu undangan mulai berdatangan memadati kediaman Rahayu , acara tahlilan pun dimulai , lantunan ayat-ayat suci alqur'an menyentuh relung hati yang terdalam , memberikan kesejukan dan kedamaian dijiwa , Rahayu dan keenam buah hatinya turut melantunkan ayat semi ayat dengan khusyuk , hingga tanpa disadari air mata meluncur bebas dari kedua kelopak matanya , rasa kehilangan dan kesedihan kembali menyergapnya ,
Rahayu tak henti mengaminkan doa yang dilafalkan oleh pemuka agama yang memimpin jalannya acara tahlilan , dengan harapan doa mereka sampai kepada mendiang suaminya dan di ijabah oleh sang pencipta alam semesta ,
Dua jam berlalu acara tahlilan pun telah usai , satu- persatu para tamu dan kerabat telah meninggalkan kediaman Rahayu , begitu pula keluarga besar Wulan , mereka telah meninggalkan kediaman Rahayu lima belas menit yang lalu ,
Kini tinggallah Rahayu dan keenam buah hatinya , mereka tenggelam dalam keheningan , sudah tidak ada lagi yang harua dikerjakan , kediaman Rahayu pun telah tertata rapi seperti semula ,
" Nak,,,,,ibu mau istirahat duluan ya,,,,! " Pamit ibu pada buah hatinya ,
" Baik bu,,,,! " sahut mereka bersamaan ,
Rahayu tertegun , ia bisa merasakan seolah ada yang tengah memeluknya dari belakang ,
" Apa jangan-jangan mas Adijaya,,,," gumam Rahayu dalam hati ,
" Aku tahu kamu ada disini mas,,,,aku bisa merasakan hadirmu,,,,,aku tahu mas meskipun ragamu tak lagi disisiku tapi ruh mu ada didekatku " Rahayu mencoba berkomunikasi dengan mahluk tak kasat mata yang tengah memeluk dirinya yang diyakininya adalah mendiang suaminya ,
Rahayu menikmati gelenyar hangat yang dirasanya , kehangatan itu semakin lama membuat Rahayu nyaman dan damai hingga membuat Rahayu terlelap ,
Keesokan harinya ,
__ADS_1
Rahayu terjaga dari lelapnya , ia bangkit dari tidurnya , mendudukkan tubuhnya didepan meja rias menatap pantulan dirinya dicermin , menggulung rambutnya yang panjang keatas lalu menyematkan jepitan rambut disana ,
" Aku tidak akan menangis lagi mas , aku tidak akan lagi merasa kesepian , karena aku tahu kamu akan selalu ada didekatku juga anak-anak kita " gumam Rahayu seraya mengulas senyum ,
*****
Hari berganti minggu , minggu berganti bulan , bulan berganti tahun , tak terasa genap satu tahun sudah mendiang Adijaya meninggalkan Rahayu serta keenam buah hatinya ,
Kepulangan Adijaya menghadap sang khaliq , tidak berpengaruh besar pada kehidupan Wulan dan anak-anaknya namun lain halnya dengan kehidupan Rahayu dan anak-anaknya ini adalah awal penderitaan mereka , dimana mereka harus berusaha menanggung kebutuhan hidup dan keperluan sekolah mereka sendiri , mengingat sang ayah yang menopang hidup mereka telah tiada ,
Nama besar dan harta peninggalan sang ayah tak dirasakan oleh Rahayu dan keenam buah hatinya , uang pensiun beserta tunjangan peninggalan mendiang Adijaya jatuh ketangan Wulan , dan hanya wulan beserta buah hatinyalah yang menikmati hasil jerih payah mendiang Adijaya ,
Rahayu beserta buah hatinya tak menuntut apapun , mereka berusaha legowo dan menyerahkan segalanya pada sang pencipta , Rahayu percaya jika rejeki dirinya dan juga keenam buah hatinya sudah ada yang mengatur ,
Kepergian mendiang suaminya tidak lagi membuatnya larut dalam kesedihan , ia menjadi lebih kuat dan bersemangat menjalani hari demi keenam buah hatinya ,
Begitu pula dengan keenam buah hati Rahayu , sepeninggal sang ayah , mereka menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri , saling bahu-membahu meringankan beban sang bunda ,
Ditinggal mati orang yang kita cintai bukanlah akhir dari segalanya melainkan melanjutkan kehidupan baru tanpa kehadiran sosok yang telah tiada , bahkan kepergian mendiang Adijaya , menghadirkan sosok baru yang menggantikan sosok ayah dikehidupan kedua putrinya Mega dan Senja yang mulai beranjak dewasa dan mengenal cinta ,
Rahayu yang notabene adalah seorang ibu , ia akan selalu mengawasi dan mengingatkan pergaulan keenam buah hatinya untuk selalu mawas diri dimanapun mereka berada dan mendukung apapun yang menjadi kebahagiaan keenam buah hatinya ,
Terlebih lagi sosok lelaki yang tengah dekat dengan kedua putrinya masih terbilang kerabat Rahayu , sehingga Rahayu merasa lebih tenang menitipkan putrinya pada kedua lelaki pujaan hati putri-putrinya , hingga tiba masa mereka dipersunting kelak ,
__ADS_1
mengingat beberapa bulan lagi kedua putrinya akan menyelesaikan sekolah pendidikan SMA nya ,