
"K-kau !" pekikku tertahan.
Aku betul-betul ketakutan ketika kenyataan di depan mata dan menjelaskan kalau pria yang bertabrakan dengan ku adalah si mata hijau yang tempo hari kulihat di lorong buntu Kota Scorpio.
Ya dia si mata hijau yang mengiris dada Tuan Shaakir El-Bacchus dimalam itu. Tak mungkin aku salah mengenal mata tajam itu.
"Lepaskan aku ! Aku bisa...!" jantungku terasa berhenti berdetak. Dia memegang tanganku.
Tangan pria itu begitu dingin ketika dia menyentuh lenganku, sepertinya mencoba menolongku untuk berdiri. Namun aku tak sudi dengan tipu muslihat dracula, seperti yang dikisahkan orang tua jaman dulu.
Aku betul-betul bahkan sudah tidak peduli dengan anjing galak yang mengejarku tadi. Yang menjadi sumber ketakutanku sekarang adalah dia si mata hijau dengan tubuh dingin, yang ku duga dracula. Aku mencatat dua hal itu baik-baik di dalam hati.
“Dia bermata hijau dan tubuh nya dingin seperti tidak memiliki nyawa”
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar harus pergi" kata ku menepis tangan pria itu yang masih memegang erat tanganku, masih berpura-pura sopan.
Aku betul-betul ketakutan. Dugaanku semakin kuat kalau pria tampan ini adalah sejenis drakula atau apapun itu. Tangannya yang dingin seperti mayat itu membuktikan kalau dia bukan makhluk fana seperti manusia pada umumnya.
Malam mulai merayap, langit terlihat hitam sekelam tinta dan aku dilanda keputusasaan. Aku bahkan tidak memperhatikan ketika pria bermata hijau tadi menghentikan salakan anjing yang menggonggong, hanya dengan satu tatapan mata saja.
Dadaku berdegup kencang, terdengar seperti gendang bertalu-talu, penuh memenuhi benakku. Sementara pria bermata hijau itu ku dengar terus mengikutiku pergi. Suara sol sepatunya terdengar bergema, membuat bulu roma ku merinding. Namun aku mencoba untuk tabah dengan tetap berjalan cepat-cepat.
Jalan yang kulewati dengan tergesa-gesa itu terasa makin sepi. Kalaupun aku melihat orang lain, mereka tak lebih dari kaum gelandangan yang mulai teller dengan minuman alkohol murah. Well hidup dalam kemiskinan, terkadang membuat orang membenamkan diri di dalam mabuk alkohol dan melupakan kesusahan barang sejenak.
__ADS_1
Lamat-lamat aku mendengar suara kepakan sayap, dari kejauhan, terdengar berirama, 'plak - plak - plak' sepertinya menuju kearah kepalaku. Aku ingin menjerit namun bibirku terasa kelu
Aku menduga kalau suara kepakan sayap itu datang dari makhluk seperti burung, atau mungkin kepakan sayap kelelawar.
"Tunggu sebentar..
Kelelawar?" tanyaku didalam hati, kini bertambah larut di dalam rasa panik.
"Jika itu benar adalah suara kepakan sayap kelelawar, artinya bahwa dugaanku selama ini benar..
Dia betul-betul tuan dracula"
Aku tak kuasa untuk menjerit keras-keras, kali ini suaraku terdengar melengking..
Aku berlari dengan cepat, tidak memperdulikan lagi benda apapun yang menghalangi di depanku, semua aku tabrak dengan ceroboh. Namun suara sayap makhluk itu terasa semakin dekat. Aku membayangkan ketika leherku di tancapkan dua gigi taring, lalu aku meregang nyawa...
"Aku belum kepingin mati !"
Entah dari mana kekuatanku berasal - well aku belum memberitahumu kalau, kadang-kadang aku merasa seperti mampu melakukan sesuatu, hanya dengan keinginan atau memusatkan konsentrasi ku. Kadang aku mampu memindahkan gelas misalnya, hanya dengan berupaya berkonsentrasi dengan lama. Kupikir ini mungkin adalah kemampuan garis darahku sebagai orang keturunan Suku Han dari Negeri Hydra. Yah .. walaupun ku akui, aku selalu berusaha mengingkari kalau aku adalah keturunan Negri Hydra, Orang Han.
Ku dengar suara kepakan sayap itu semakin dekat saja diatas kepalaku, kira-kira dua meter diatas kepalaku. Seketika kepala ku terasa membaal, kram dan tebal. Ibaratnya kepalaku ini terasa bagaikan tubuh orang yang di suntik dengan cairan pemati rasa.
Aku tahu dari cerita-cerita orang tua, jikalau kamu berjalan di tempat sepi dan kamu merasa kepalamu menjadi besar tanpa diketahui penyebabnya, itu pertanda ada mahluk jadi-jadian atau iblis yang diam-diam dekat dan mengincar mu.
__ADS_1
Dalam ketakutanku itu, aku menjerit sekeras-kerasnya..
"Pergi ! Aku tak ingin mati"
Aku berbalik dan memukul secara sembarangan ke arah yang kusangka kelelawar yang bersiap untuk menyedot semua darahku
Duar ! Aku tak sadar mengeluarkan api yang meledak cukup keras.
"Demi Tuhan..
Lea, kau kah itu?" aku masih seperti berada di dalam keadaan trance ketika tiba-tiba Tuan Shaakir El-Bacchus muncul dan menenangkan ku.
"Lea !.. namamu Lea bukan? Gadis yang menolongku ketika kemalangan menimpa diriku di Kota Scorpio" suara Shaakir El-Bacchus membuat ku tersadar..
Lama kami dalam diam, ketika obor di tangan Tuan Shaakir di dekatkan padaku, lalu Tuan Shaakir bertanya.
"Lea.. kamu adalah seorang pengendali api?
Maksudku kamu adalah seorang elementalist?" mata Tuan Shaakir bersinar dalam luapan kegembiraan. Namun yang ku pedulikan saat ini adalah, pergi jauh-jauh dari jalan sepi ini, menghindar dari makhluk kelelawar atau dracula tadi.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.
__ADS_1