Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Zalrin Yang Malang


__ADS_3

   Hari ini kami mulai berkumpul di Hutan Harmoni, satu-satunya hutan besar yang ada di Pulau Minnetois. Itu adalah hamparan luas yang dipenuhi dengan tanaman plum atau persik.


   Aku melihat tenda demi tenda, yang jumlahnya ada lebih dari 20 tenda bermuat 100 prajurit, berjejer rapi sesuai dengan jumlah pasukan kami. 


   Pasukan kami itu terbagi dalam pasukan pemanah, pasukan perang jarak dekat dan pasukan serangan jarak jauh menggunakan sihir. Sihir selalu penting dalam peperangan.


   Sedangkan total pasukan kami kurang lebih 1.000 tentara yang akan pergi berperang ke Ponris Atoll, perbatasan dua wilayah nanti. 


   Selama menjalani masa pelatihan di Hutan Harmoni itu, aku memiliki sangat sedikit sekali tentara vampire yang mau bercakap-cakap dengan ku. Sepertinya mereka semua tidak terlalu suka dengan ras manusia.


   Meskipun demikian, ada dua tentara vampire yang bersikap baik denganku. Karena tidak memiliki satu kenalan pun, selan Kravas tentunya, maka aku menganggap Engur Kradriren dan Dram Sholzurden sebagai temanku.


   Meskipun mereka berdua adalah laki-laki, tapi mereka tidak menganggapku sebagai wanita yang lemah.


"Ayolah Lea, ku dengar kau adalah seorang penyihir yang dapat memanggil api. benarkah?" tanya Engur padaku.


   Dram yang tadinya diam-diam saja, pada akhirnya ikut-ikutan mengajukan pertanyaan serupa.


"Iya Lea. Kami mendengar kabar burung. Semua berhembus santer di Kota Obsidian itu.


   Kau adalah satu ras manusia yang telah merebut hati Lord Kravas. Dan itu semua karena kemampuanmu sebagai pemanggil api.


   Dapatkah kau menunjukkan pada kami sehebat apa penyihir dengan kekuatan api itu?


   Aku mendengar kalau di dalam peperangan, penyihir pemanggil api itu adalah sosok yang paling ditakuti. Dan kau kabarnya mampu membuat api sebesar puri Lord Kravas. Benarkah?" tanya Dram seperti mencercaku.


   Aku menghela nafas dalam-dalam lalu berkata.


"Ku akui apa yang di gosipkan mengenai diriku benar adanya.


   Aku adalah gadis afinitas api. Sehingga dengan kemampuanku, aku dapat memanggil api, bukan ilusi" kataku lalu membuat dua tanganku berubah warna menjadi merah kekuningan. Lidah api kecil menjilat membuat tanganku terlihat eksotis, tapi tidak hangus terbakar.


   Dua Vampire itu terbelalak.. 


Aku menjelaskan,


"Namun mengenai kabar burung bahwa aku telah menjadi kekasih Lord Kravas, itu tidak betul sama sekali. Aku hanyalah satu tawanan perang, yang kemudian menjadi tentara sewaan sekarang demi kebebasanku: wajah dua vampire itu berubah, seperti kecewa.


   Engur berkata,


"Aku lebih suka jika kau yang menjadi kekasih Lord Kravas. Lalu kemudian kau menjadi istrinya, ketimbang Zalrin.


   Gadis itu terlalu sombong. Dan lagi, ayahnya adalah seorang bangsawan vampire yang berhati licik" desis Engur.


   Aku menegur engur agar tidak memburukkan orang lain dibelakang mereka. 


"Lebih baik kita berlatih pedang daripada membicarakan orang lain" kataku.


"Dapatkah kalian menunjukkan teknik Sempurna Pedang Abadi buatku?" tanyaku meminta petunjuk


   Kami bertiga pun lantas sibuk dan tekun berlatih bersama. Engur dan Dram adalah dua prajurit tempur yang mumpuni. CAra mereka mengayunkan pedang sesuai teknik yang menjadi andalan Ras Vampire, amatlah sempurna.


   Kelincahan mereka dalam menghindar dan bergerak cepat, meskipun mengenakan zirah, amatlah luwes ketika menghindari tikaman pedang di tanganku.


   Mereka berdua bahkan memberi petunjuk dan mengoreksi semua gerakan ku ketika menggunakan pedang Abadi kaum vampir itu. 


   Aku beruntung karena baru-baru ini telah meningkatkan kemampuan sihir, sehingga kelincahan ku berada pada angka 9, membuatku tak kalah lincahnya bergerak menghindari tusukan pedang Dram, walaupun mengenakan zirah 


   Saking asyiknya kami bertiga berlatih, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ada beberapa pendatang, yang dengan sengaja datang melihat pelatihan kami, lalu mengacaukannya. 


   Dia adalah Zalrin dengan pengikut-pengikutnya, Ongier Maugennen (laki-laki), Ginom Klervurd (laki-laki) dan Vernula Eldel (perempuan). Keempat vampire ini kemana-mana selalu bersama.


   Pada mulanya aku berusaha untuk mengabaikan 4 ras vampire  itu. 

__ADS_1


"Toh mereka tidak menggangguku" batin ku tak peduli.


   Aku mengayunkan pedang ketika  Dram mencoba menggertak dengan satu tusukan,


Hiyaa !


   MUla-mula keadaan terkendali, meskipun kami berlatih keras, di bawah pelototan delapan pasang mata penuh penilaian itu.


   Tapi lama-kelamaan mereka mulai melancarkan aksi usil mereka. Bermula dengan intimidasi verbal, dengan lontarkan kata-kata merendahkan seperti,


"Teknik pedang mu sangat buruk manusia !"


"Dengan gaya berpedang selemah itu, aku tak heran jika dia kan menjadi sasaran tombak kaum Dark Elf, sebelum satu tarikan nafas perang di mulai nanti" nada Zalrin terdengar menghina. Zalrin rupa-rupanya mendugaku adalah seorang lemah. 


   Dia tidak tahu kalau aku adalah penyihir api, yang ditakuti oleh sebagian ras Benua Casiopea ini. Dan aku menunggu kesempatan yang tepat, untuk menunjukkan kemampuan sihir ku pada gadis manja itu.


"Lihat saja nanti !" bisik ku dalam hati.


   Saat itu aku sedang melakukan melakukan salto putaran di udara sambil menusuk pedang kepada Drad. Tiba-tiba saja, satu batu yang dengan sengaja dilempar tepat kena pada mata pedangku yang tengah membuat gerakan tusukan itu.


   Jelas-jelas hal itu amatlah mempengaruhi teknik pedang ketika melakukan tusukan sambil salto di udara. 


   Gerakan pedangku menjadi kacau melenceng dari arah yang seharusnya tuju. Aku tentu saja menjadi gusar.


   Namun tidak berhenti disitu saja. Menyusul batu kedua dan ketiga, berturut-turut mengenai lututku. Aku terpental dan jatuh terjerembab di atas tanah dengan suara yang sangat keras.


   Meski sakit, tapi aku berusaha menahan rasa sakit dengan geram, dan tidak mengeluh sama sekali. Aku tidak akan memberi ruang pada pembully itu untuk merasa puas.


   Aku mendengar suara gelak tawa dan ejek-ejekan yang tertuju padaku, terlebih-lebih lagi ejekan dan tawa Zalrin dia tunjukkan dengan terang-terangan. 


   Zalrin mencercaku dengan kata kata seperti ini,


"Huff.. kamu ternyata seorang yang lemah.


   Di dalam kehidupan ras vampire kami ini, tidak ada tempat bagi kaum lemah seperti kamu Lea" kata-kata nya tajam dan penuh penuh provokasi.


   Lalu menyusul ejek-ejekan pemanas suasana, dari kawan-kawannya kaum penjilat itu.


   Aku mulai marah. Apalagi Dram dan Engur juga terlihat kurang puas. Bahkan Engur dengan terang-terangan berkata,


"Ayo Lea tantang perempuan itu dalam sparing latihan" teriak Engur. 


   Mendapat dukungan dari dua kawanku, seketika nyali bangun. Aku lalu berkata dengan nada yang sangat dingin pada Zalrin


"Zalrin Ozennust...


   Jika kau berani, aku Lea menantang Mu dalam sparing. Taruhannya adalah jika saja kau kalah dalam latihan ini aku menuntutmu untuk meminta maaf atas tindakan kasar mu" 


   Zalrin terkejut. Dia tak menyangka sama sekali kalau aku nekad untuk menantangnya. Jelas-jelas dalam latihan di Puri Kravas, aku hampir mati di bunuhnya kala itu.


   Wajah Zalrin berubah beringas, lalu menjadi gembira. Dia mengiyakan tantanganku dengan girang.


   Katanya balik menantang.


"Dan aku menuntutmu, jika aku menang nanti..


   Kau harus meninggalkan kravas. Jangan pernah sekali-kali kau berjalan dengan dia.


   Terlebih lagi kau harus pindah dan tidak tinggal di Puri Kravas" wajah Zalrin penuh tuntutan.


   Aku hanya tertawa dalam hati. Jelas-jelas aku telah berencana untuk melarikan diri pada saat perang berlangsung. 


"Guna apa gadis bodoh ini meminta ku menjauhi Kravas?"

__ADS_1


   Aku lantas berteriak keras-keras "Baik, aku Lea menerima tantanganmu. Jika kalah aku akan pergi dari Puti Kravas" kataku keras-keras. 


   Pedang dan pedang dicabut, dengungan dan demi dengungan senjata tajam itu terdengar bising memenuhi lapangan tempat kami latihan.


   Kami buat berlari untuk saling bertubrukan, semua dalam kecepatan tinggi, lalu menebas dan membuat gerakan saling menusuk.


Tsing !


Hop !


   Tidak puas dengan gerakan pedang, karena sepertinya kami seimbang. Kembali pedang saling berbenturan, yang satu menebas, yang lain memblokir !. Tetap seimbang.


   Sementara itu, penonton pertarungan itu semakin banyak. Semua memberi semangat pada kami berdua, yang kian kalap dan lupa bahwa ini hanya sparing, bukan ajang saling bantai.


   Lebih dari 50 kali putaran kami telah saling ber berbenturan senjata tajam. Lalu Zalrin semakin menindas.


   Kekuatan Asisten Knightnya di level tiga, jelas jauh di atasku, membuatku cepat lelah.


   Pada satu kesempatan, Zalrin menghantam dadaku keras, menggunakan gagang pedang.


   Tentu saja aku terlempar, lalu  jatuh terpuruk. Jarak ku terlempar itu ada sejauh 5 tombak.


   Rupa-rupanya Zalrin tidak puas dengan kondisi ku yang telah jatuh terpuruk seperti itu. Zalrin berniat lebih. Dia ingin menghabisiku.


   Sambil berteriak keras-keras Zalrin melompat tinggi, pedangnya tertuju ke dadaku, siap membunuhku.


"Mati kau Lea !


   Aku akan mengambil nyawamu. Kau adalah Duri dalam daging !" jarak pedangnya semakin dekat, ada sekitar tiga meter dari dadaku.


   Ketika itu aku dilanda ketakutan.  Refleks sesuatu dalam diriku bertindak refleks. Sekonyong- konyong energi itu meluap dari pusat kekuatan sihir ku.


   Lalu suatu cahaya seperti lidah api menyala-nyala di kedua tanganku dalam warna merah kuning. Percikkan terpencar keluar dari kedua tanganku. Dan tanpa aku sadari, aku memerintah api itu seperti ratu memerintah dayang-dayang.


"Fire ! Membunuh !" 


   Api berwarna biru itu meluap cepat, menyergap Zalrin ketika dia masih do tengah di udara, dua meter dari dadaku.


   Vampire bodoh itu lantas menjerit ketakutan, ketika tubuhnya lenyap terbungkus dalam nyala api berwarna biru. 


   Lolongan pilu terdengar. Aku tersenyum puas, meskipun aku tidak sengaja membakar dia.


"Hentikan !" suara menyela terdengar. Aku tahu itu Kravas. 


   Meskipun aku benci dengan Zalrin, akan tetapi melihat kedatangan Kravas, aku langsung menarik api sihir ku.


"Kembali !" titahku


   Api meredup menyisakan nyala api pudar di kedua tanganku. 


   Zalrin terjatuh ke tanah dalam keadaan yang menyedihkan. Rambutnya hangus setengah wajahnya lebam penuh dengan tanda gosong terbakar api. 


   Beruntung sekali, dia mengenakan Zirah sehingga baju besi itu saja yang rusak. Tidak ada anggota tubuhnya yang terluka bakar. 


   Beberapa Healer bergegas datang guna mengobati Zalrin yang malang. Aku menatap Zalrin tanpa rasa iba, sementara gadis itu kini ketakutan menatap ku. Dalam hati aku memaki,


"Rasakan kau perempuan sombong. Sehebat apapun kau, tidak nanti kau akan melawan satu penyihir. Apalagi penyihir pemanggil api!" wajah ku terkesan mencemooh Zalrin. 


   Kravas lantas mengajakku pergi sambil menenangkan diriku yang masih diliputi amarah itu. Tidak terlalu lama, aku menjadi bahan pembicaraan tentara-tentara, anak muda vampire.


Bersambung.


   Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2