Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Sayap Pelangi


__ADS_3

"Aduh !" aku aku berteriak kesakitan manakala angin badai yang dibuat secara sihir oleh makhluk Harpiest itu melemparkan tubuhku dengan badai angin, hingga tubuhku menghantam tembok dalam gua laboratorium.


Meskipun aku tahu bahwa harpiest itu memiliki kekuatan sihir yang mampu menimbulkan badai angin, yang kadang-kadang digunakan menghantui penghuni atau pelintas di Gurun Atula merasa seperti dilanda bencana alam, namun aku tak menyangka bahwa kekuatannya amatlah dahsyat. Ini sangat menyakitkan. Tulang-tulangku terasa akan copot dari tubuh ini,


Di tengah-tengah sengsara ini, aku berpikir bahwa Harpiest ini adalah seorang pengendali angin. atau setidaknya dia adalah pemanggil angin bukan secara sihir.


Hal ini mungkin saja bukan? Dia hanya perlu mengepak sayapnya, lalu angin badai datang dan merubah menjadi satu bencana alam ini.


Teknik ini mirip dengan teori-teori sihir yang menyebutkan bahwa kemampuan ini disebut Chakra dilakukan oleh sekelompok makhluk berekor lebih dari satu atau disebut Hokou. Makhluk itu menguasai elemen angin atau Cakra angin. Ini adalah tindakan dan kemampuan yang berbeda dengan sihir pemanggil angin.


Pikiranku bekerja cepat. Aku harus mencari jalan keluar agar secepatnya keluar dari terpaan angin badai ini.


"Semua belum terlambat !"batinku cerdik.


Bukankah ini mirip dengan teori yang menimpa seorang ahli sihir pada umumnya? Ketika kami terlalu banyak mengeluarkan energi untuk membuat satu tindakan sihir, otomatis energi sihir kami akan lama-kelamaan akan kosong, habis dan di perlukan waktu yang lama lagi untuk mengembalikan semua energi itu.


"Kecuali dia memiliki Eliksir cair !" pikirku.


"Tak mungkin dia memiliki benda itu. Eliksir cair hanya dijual terbatas di kalangan ahli sihir saja. Lama kelamaan makhluk ini akan lemah karena keterbatasan Eliksir"


Rasa putus asa berubah menjadi semangat yang muncul seperti setitik cahaya di tengah kegelapan.


Dengan sabar aku menunggu dibalik sebuah meja beton besar yang sepertinya benda itu adalah batu alami yang dipahat menyerupai meja eksperimen.


Aku masih menunggu dengan sedikit cemas.


"Kapankah badai angin ini akan berlalu?"


Rasanya 15 menit telah berlalu, merangkak pelan, sangat terlalu lama dan badai ciptaan itu belum juga reda.


Aku mulai putus asa, dan berpikir bahwa mungkin kematian akan menjemput ku.


"Gurun Atulla ini adalah lokasi petualangan terakhirku sebagai penyihir.


Aku bahkan belum menjadi apa-apa ketika tewas di gurun sialan ini" keluhku dalam hati.


Namun tak disangka dan tak kuduga sama sekali.


Memasuki menit ke-20 setelah badai yang luar biasa itu, aku merasa terjadi perubahan angin. Luapan angin dahsyat yang tadinya bertiup seperti ingin mengiris daging di tubuhku, rasanya pelan-pelan mereda.


"Bagus ! Sepertinya makhluk itu telah kehabisan energi sihir,


Inilah kesempatan ku untuk membalas menyerang nya,


Aku tak ingin mati konyol ditangan satu makhluk jadi-jadian makhluk gagal percobaan dari seorang Dark Magus" kutuk ku dalam hati.


Diantara angin yang makin reda, aku mengerahkan tenaga sihirku, mengalir ke dua tangan yang mengeluarkan cahaya warna biru dan putih.


"Mungkin pembalasanku akan setimpal" batinku etika melihat api menyala.


Api sihir amatlah berbeda dibanding api biasa. Api sihir biasanya membunuh bahkan menghanguskan hingga jia lawan ku akan hancur tak tersisa.


Keadaan kini telah lengang sunyi dan Hening. Di dalam gua laboratorium ini, aku hanya mendengar suara detak jantungku, berdebar-debar menanti mahluk itu masuk menyergap.

__ADS_1


Aku menahan diri, bersabar dan tidak ingin mengeluarkan suara mencurigakan sedikitpun. Aku diam mematung dengan posisi tangan ku yang siap melontarkan kutukan Fire Arrow.


Dug - dug - dug ... suara detak jantungku memacu kencang, terasa bertalu-talu dalam ketegangan.


Tak Berapa lama kemudian aku mendengar suara seperti kaki yang diseret berjalan masuk ke dalam gua laboratorium itu.


Blam ! Makhluk itu !...


Aku terdiam membisu ketika melihat sosok yang tampil di hadapanku.


Dia adalah satu perempuan yang wajahnya amatlah cantik ganjil, namun berkesan aneh dan mistis.


Rambutnya yang hitam panjang tergerai sampai ke punggung dengan struktur Ikal.


Wajahnya yang menawan itu, memberi kesan sadis dan kejam. Penampilan ganjil nya adalah badan indah itu memiliki bagian bawah dari pinggang sampai ke kaki, semua adalah bentuk burung.


Terlebih- lebih lagi yang membuatku terpesona adalah.. sayap nya. Itu adalah sayap tercantik yang pernah aku lihat. Warnanya yang seperti pelangi. Indah, mempesona sekaligus memberi kesan berbahaya (aku teringat badai angin yang dibuat dua sayap mahluk itu !)


Sambil mengeraskan hati, aku membentak Harpiest itu.


"Jadi kamu adalah makhluk Harpist yang menciptakan badai angin, sampai- sampai 3 orang kawanku ini telah tewas.." kata ku sinis.


"Aku tahu. Kini kau telah lelah dan kehabisan energi sihir.


Lalu jangan berpikir bahwa kau akan dapat melarikan diri dari sini hidup-hidup." ancam ku


Makhluk itu menggeram seperti singa. Aneh bukan? seharus nya dia mengeluarkan suara seperti burung layaknya, namun yang muncul adalah suara mengerikan singa. Kembali aku menakut-nakuti mahluk itu.


"Tidakkah kau lihat di kedua tanganku ini nyala api? Ini adalah sihir yang menjadi andalan ku sebagai seorang pemanggil api.


Aku mengangkat dua tanganku, mengarah ke Harpiest itu, dan nyala api biru putih terbentuk menyerupai anak panah.


Rasanya telah siap dilontarkan untuk memanggang makhluk itu, jika dia bertindak macam-macam. Tapi aku masih mempertahankan kesabaranku dengan belum melontarkan api sihir itu


TIdak perlu menunggu lama ketika aku dapat menyimpulkan bahwa semua tindakan negosiasi ku gagal.


Aku melihat Harpiest itu mengeram. buas seperti layaknya makhluk liar. Wajahnya mengganas, terlihat mengerikan.


Kini bukan lagi berwajah cantik, akan Harpiest itu tetapi terlihat seperti iblis perempuan yang marah dengan taring-taring jahatnya.


"Makhluk ini sungguh ganas. Dia telah kehabisan energi sihir, akan tetapi hal itu tidak mengurangi keinginannya membunuhku"


Makhluk setengah burung itu melompat dan menyambar ku cepat dengan menggunakan sayap.


Sayapnya seketika berubah berbahaya dengan kibasan cepat menjadi seperti sebilah pedang bermata dua.


Jelas aku tidak akan membiarkan kejadian ini, mati konyol terjadi begitu saja. Sudah sejak tadi aku benci pada makhluk ini. Dia membuat sekujur badanku sakit dan tulang-tulangku seperti akan patah saja.


Lalu tanpa rasa belas kasihan sedikitpun, aku Melambaikan tangan kananku. Bibirku mulai merapalkan kutukan sihir.


"Fire Arrow" kutuk ku.


Warna api biru putih itu melayang dengan indah, terlihat memukau sampai-sampai Harpiest itu tertegun, seperti terpesona akan api berwarna biru keputih-putihan itu.

__ADS_1


"Ini kesempatan sihir api membunuhmu" tatap ku keji.


Sayang sekali dan malang bagi makhluk setengah burung itu. Dengan kondisi yang telah kehilangan banyak energi sihir, dia bukan apa-apa dibandingkan kejamnya Mantra Fire Arrow yang kini memiliki 16 titik ledak.


Entah sudah berapa kali aku menyaksikan kematian di depan mata, sehingga aku tidak merasa iba sama sekali ketika mendengar jeritan lolongan kesakitan dari makhluk Harpiest itu. Ketika itu panah sihirku menembus dadanya, dan membuat luka besar kehitaman seperti hangus.


Harpiest itu menghembuskan nafasnya yang terakhir bahkan ketika dia tidak sempat mengeluarkan satu patah kata pun, mungkin kata-kata penyesalan menjalani hidup sebagai terkutuk.


******


Aku menghapus keringat yang mengucur di dahi ku setelah lolos dari maut, berhadapan dengan makhluk terkutuk Harpiest itu.


"Aku beruntung !" batin ku lega.


Kini aku mengamat-amati makhluk yang telah lunglai terbaring tanpa nyawa di lantai dan mulai memperhatikan satu demi satu anggota tubuhnya.


"Sumber daya apa sajakah yang dapat dipanen dari makhluk ini?" batinku


Aku memutuskan untuk memanen sayapnya dengan pertimbangan kalau aku memiliki catatan harian dari Magus Gelap, tentang teknik transplantasi. Belum lagi aku memiliki mantra transplantasi yang kubeli di The Bazaar of Wonder, pada toko Tuan Hamid.


Hatiku amatlah gembira ketika memikirkan bahwa tidak sia-sia 100 Crystal elixir peringkat yang telah kupakai untuk membayar mantra transplantasi yang awalnya aku ragu kan akan ada manfaatnya itu.


Aku lalu mengeluarkan belati dan menguliti punggung hardisk itu. Ku keluarkan dengan hati-hati, sayap yang melekat pada tulang di punggung makhluk itu.


Beruntung di Akademi Dorado kami, aku pernah mempelajari tentang anatomi tubuh makhluk hidup baik manusia dan makhluk lain seperti jenis burung-burungan. Tentu saja hal ini mempermudah ku ketika melakukan bedah memanen sayap Sang Harpiest.


Aku berpikir keras kira-kira apalagi yang dapat dipanen dari makhluk ini. Kemudian aku memutuskan untuk mengambil dua kakinya yang berbentuk seperti kaki burung dan kusimpan di dalam tas Antariksa ku.


Mungkin suatu ketika benda ini akan bermanfaat apakah akan menjadi ramuan sihir, ataukah menjadi bahan katalisator Artefak dan lain sebagainya benda sihir.


Bahkan dalam keadaan terburuk pun aku dapat menjual kaki Harpiest ini toko-toko alkimia atau di pasar gelap yang tentunya akan menghargai nya dengan harga tinggi.


Waktu berlalu, pada akhirnya malam itu juga aku selesai memanen sumber daya dari Harpiest. Kemudian aku memutuskan kalau malam itu juga harus pergi meninggalkan gua sarang Harpiest.


Sebelum pergi, aku memakamkan 3 orang tentara yang ku sewa sebagai tanda penghormatan. Aku memilih lokas makan mereka tidak jauh di kaki tebing batu di padang gurun.


Sedang jasad Harpiest itu harus kubawa sebagai bukti pada Tuan Kota, Kota Sahireb guna mengklaim hadiah penyelesaian misi ini.


Malam gelap, Gurun Atulla sunyi dan sepi. Angin berhembus pelan menambah kesan mistis pada malam yang Dingin.


Menjelang tengah malam yang tak seorang pun yang tahu, adalah satu sosok berjalan di jalur sutra Gurun Atulla.


Siapakah dia? sosok yang berani berjalan di Gurun yang sepi, seorang diri duduk diatas kuda berkesan misterius.


Mungkin jika seseorang melihat dia akan berpikir bahwa itu adalah makhluk gaib atau penjahat pemberani. Akan tetapi kenyataannya itu adalah diriku yang memutuskan malam itu juga harus kembali ke kota Sahireb.


Awan Gelap terbentuk di langit dan itu bukan Halangan bagi aku untuk bergerak pulang ke Kota Sahireb.


Pada akhirnya ketika pagi menjelang pada jam kira-kira pukul 8 pagi, Kota Sahireb terlihat di depan mataku.


Kota itu terlihat hanya sebuah kecil kota kecil, tapi kota itulah yang akan memberikan uang bayaran misi dan mengubah takdir ku untuk kembali benua Casiopea.


Bersambung.

__ADS_1


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2