
Kereta kuda kami pada akhirnya memasuki Kota Virgo, ibukota Negeri Dorado tercinta kami. Kota ini kenyataannya adalah kota besar yang ramai bercampur kumuh. Aku berani mengatakan kumuh karena sepanjang jalan semenjak kami memasuki kota ini, keadaan yang terlihat tidak jauh berbeda dibanding Kota Scorpio tempat mana aku berasal.
Banyak sekali peminta-minta dan anak-anak yang terlihat berkeliaran, bahkan naga-naga nya mereka bersikap seperti pencoleng. Namun aku mencoba memahami akan hal ini, dengan membatin berkata dalam hati bahwa ini semua timbul akibat perang.
Perang yang merajalela hingga pelosok benua, sehingga mengakibatkan banyak orang menderita kesusahan lalu memilih menjalani kehidupan seperti demikian. Bertahan hidup dengan cara berbuat kejahatan seperti itu adalah pilihan untuk bertahan hidup di masa perang dan kesusahan melanda negeri
Walaupun demikian, sebagai ibukota negri, jelas sekali kalau Kota Virgo memiliki bagian kota yang modern, yang jauh dari pemandangan pilu seperti tadi.
Ini terbukti pada saat kereta kami ketika selesai berjalan melintasi kawasan kumuh, pemandangan berikutnya terlihat seperti memasuki kawasan modern kota besar, yang pantas disebut ibukota negri.
Aku berhenti di kantor perwakilan agen kereta yang kami kendarai dengan kebingungan, karena kantor ini rupa-rupanya berada tepat berada di jantung kota, di suatu tempat kawasan elit dan bersih dari Kota Virgo.
"Well .. alangkah baiknya aku berusaha mempelajari situasi dan melihat-lihat. Sesudahnya aku dapat langsung menemui Tuan Shaakir di Akademi militer nanti" batin ku dengan perasaan gembira.
Aku pikir tidak ada salahnya untuk bersenang-senang sambil melihat-lihat indahnya kota, sebelum akhirnya nanti akan dilatih keras di akademi yang konon amat ketat dalam metode pelatihannya.
__ADS_1
Sambil melihat-lihat indahnya bangunan berarsitektur Gothic, aku mencoba memerhatikan dan mendengar tata cara dan nada penduduk setempat ketika bertutur kata.
Seketika aku landa rasa malu yang mendalam. Dialek dan logat mereka terdengar merdu serta menarik, jauh indah dan keren dibanding logat Scorpioku yang menurutku terdengar kasar dan berbicara dengan suara keras-keras.
Aku bertekad dan berpikir bahwa hal pertama yang aku lakukan adalah memperbaiki cara bicara ku, juga pembawaan agar tidak mencolok nanti di akademi militer, karena takut dicap sebagai perempuan desa yang berbicara dengan kasar.
Aku mengagumi bangunan yang terlihat bergaya modern bercampur kuno, dengan arsitektur barat bercampur gotic yang terlihat elegan dalam warna yang memanjakan mata. Belum lagi lampu-lampu jalanan yang terbuat dari kristal-kristal khusus yang terlihat memiliki nilai estetis. Pohon-pohon jalanan juga menurutku terlihat indah dengan daun-daun berwarna kuning, kadang oranye musim gugur, yang jelas terawat oleh ahli dan membuat mata terasa sejuk ketika melihat pohon-pohon kota.
Bahkan aku mengagumi penampilan para wanita yang mengenakan gaun bertumpuk-tumpuk rapi, yang mana pemakainya adalah perempuan bangsawan yang berjalan menggunakan payung walaupun cuaca saat itu tidak panas. Aku sangat heran melihat pinggang mereka terlihat sangat kecil
Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak terlihat kampungan, meskipun mungkin orang akan langsung menilai ku sebagai perempuan dusun, ketika melihat mata ku jelalatan tatkala menyaksikan pameran busana kaum wanita kota Virgo ini.
"Mungkin mereka adalah para wanita keturunan bangsawan yang sejak usia dini telah dilatih tata cara tentang etiket dan teknik berbusana" pikir nya di lanca rasa cemburu.
Aku mengagumi ketampanan kaum pria yang melintas di jalanan Kota Virgo pada waktu sore begini. Aku mengagumi rambut mereka yang sepertinya di oles dengan lemak atau apapun yang membuat rambut mereka tersisir rapih, dengan menampilkan warna yang mengkilap.
__ADS_1
Andai saja aku bisa mendapatkan jodoh, salah satu diantara kaum pria tampan yang sepertinya juga sengaja berjalan-jalan sore untuk saling memamerkan diri. Pria-pria tampan ini sangatlah jauh berbeda dengan para pria di Kota Scorpio kami.
Di Kota Scorpio hanya dua aroma yang dapat kamu tebak dengan mudah, untuk memastikan seorang pria adalah warga Kota Scorpio. Wangi tembakau tua yang tercium memuakkan, serta aroma ikan dari laut, itulah bau yang dapat kamu kenali dari seorang pria di kotaku berasal.
Sambil melamun aku melihat satu sosok pria yang sangat menarik perhatianku. Dari belakang dia terlihat amat jangkung, dengan potongan badan serasi. Tidak kekar, namun juga tidak kerempeng. Pria itu mengenakan topi tinggi, jaket panjang hingga menutupi betisnya dan dia membawa tongkat sebagai hiasan, sebagaimana penampilan pria-pria lain di Kota Virgo ini.
Saking tenggelamnya aku didalam rasa kagum dengan perawakan pria itu, aku tidak menyadari tatkala pria itu berbalik ke arahku, lalu balik menatap diriku dalam-dalam. Aku tersentak ketika mata kami saling melakukan kontak.
"Mata itu !" jeritku panik.
Mata berwarna hijau emerald itu, adalah mata dingin yang aku lihat di lorong buntu di Kota Scorpio kami. Mata hijau itulah yang kulihat melukai Tuan Shaakir El-Bacchus.
Aku menjadi panik dan ingin melarikan diri. Namun aku sama sekali buta dengan Kota Virgo ini.
Bersambung.
__ADS_1
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.