
Setelah di dorong-dorong dan setengah di paksa oleh kawan-kawannya, Luwai si perapal mantra dari Cahaya Primordial melompat dan menghadangku.. aku memperhatikan wajah nya yang tersenyum licik..
Dengan pongah, Luwai merapal mantra, lalu telapak tangannya terbuka lebar-lebar, dia melempar sesuatu ke arah ku'
"Bunuh dia !" kata Luwai bengis
Aku mencoba menghindari ketika suara dengunakan kepakan sayap seperti suara-suara lebah tersa dekar dngan kuping ku. Aku tahu kalau ini adalah mantra serangan dengan membuat lebah beracun, yang dapat menyengat seseorang, lalu meracuninya hingga individu itu terluka parah dari keadaan tubuh bengka-bengkak. Kemudian jika tidak mendapat pertolong dari healer, maka invididu itu dapat meregang nyawa beberapa hari kemudian.
Aku memaki keras keras sambil tangan kananku memanggil api. Aku melempar bola api tersebut, lalu meledak dan menghanguskan semua lebah sihir, yang jumlahnya mungkin sekitar lima puluh ekor.
"Kamu adalah perapal mantra bukan? Menurutku kamu agak kejam untuk seseorang yang tidak kamu kenali sama sekali" kataku pada Luwai.
Tangan kananku melambai dan aku merapal mantra 'Tangan Racun Terkutuk', tapi aku tidak mengerahkan kekuatan penuh. Lima puluh persen kekuatan sihirku, kupikir akan cukup menaku-nakuti anak manja itu.
Luwai menjerit ketakutan, tatkala tanpa dia sangka.. Sebuah tangan besar muncul dari kehampaan, lalu membasahi tubuhnya dengan larutan berwarna hitam.
Luwai menjerit dalam tangis, ketika dia merasa tubuhnya menjadi bengkak-bengkak, dipenuhi rasa gatal yang luar biasa. Aku menikmati melihat anak sombong itu, berguling-guling sambil menggaruk-garuk sekujur badannya, yang kemudian berubah menjadi semacam kudis.
Luawi melolomng dan berulang kali meminta ampun dari ku, sehingga lama kelamaan aku menjadi iba melihat kondisi anak itu. Lalu aku memberikan sebotol kecil, berisi pemunah racun dari mantra kutukanku tadi, dan langsung diminum dalam sekali tenggak oleh Luwai
Aku melirik kearah empat kawannya yang memasang wajah kuatir, karena ternyata kelompok kami memiliki penyihir sekejam diriku.TApi aku tak peduli sama sekali. Yang kubutuhkan sekaran ini adalah kekuatan. Dengan kekauatan, maka aku dapat bediri di panggung-panggun kehormatan, sambil mengangkat kepala tinggi-tinggi dan di uji-puji orang banyak
Puas dengan khayalanku tadi, aku terbangun dari lamunan dan menghadapi kenyataan berada di reruntuhan kuno, berhadapan dengan lima anak muda Akademi Cahaya Primordial.
"Kamu tahu bukan? semua penyihir atau magus itu juga memiliki mantra-mantra khusus?" tanya ku mengintimidasi setelah melihat Luwai kini menjadi baik-baik saja. Semua kudis dan bekas-bekas luka racun kutukan telah lenyap dari kulit coklatnya.
"Apakah sekarang kamu masih berani bertarung melawan seorang pemanggil api, yang juga mempunyai mantra penyerang?
Mantra beracun tadi misalnya? Tanyaku semakin menakut-nakuti Luwai, yang kini mulai menyalakan api di jari telunjuk kanan ku.
Pop ! Api kecil berwarna merah dan kuning seketika keluar dari ujung telunjukku. Cantik dan menggemaskan.
__ADS_1
"Benda ini terlihat cantik dan menawan, ketika dia dalam bentuk mini dan kecil seperti ini.
Namun jika dia berubah menjadi sebesar bola basket..." kata ku dengan dramatis..
Pop !
Api dalam balutan warna merah dan kuning kini berubah menjadi sebesar bola basket, melayang-layang mengintimidasi di telapak tanganku.
"Kamu tahu bukan? Kekuatan terbesar kedua dari root seorang magus adalah api?
Aku tidak segan-segan membakarmu menjadi abu, jika kamu dan kawan-kawanmu, anak-anak manja itu berkeras untuk mengambil barang-barang kami"
Wush !
Aku menyapu tangan ku dengan gerakan melambai yang anggun ke udara, ku atur se- dramatis dan mengesankan agar mereka kagum. Lalu percikan api itu menyala besar, mengelilingi Jein, Cody, Vargas dan Fuaad.
"Tolong.. jangan bunuh kawan-kawanku !" wajah Luwai memucat, ketika dia mendengar teriakan Jein dan yang lainnya.
Aku tertawa keras-keras di dalam hati. Sesuai dugaanku sebelumnya, ternyata benar anak-anak manja dari Akademi Cahaya Primordial ini adalah anak-anak manja yang penakut.
Namun aku bukannya seorang gadis bodoh nan lugu yang tidak mengenal praktek-praktek kekejian dan tipu daya. Pengalaman hidupku dibesarkan di Kota Scorpio, hidup dalam keadaan susah di antara kaum pengemis dan penjaja cinta membuatku memikirkan hal-hal yang bakal terjadi jauh kedepan. Dan aku harus mengantisipasi ini.
Bukannya mengecilkan api yang mengelilingi empat anak muda dari Akademi Cahaya Primordia itu, aku malahan memompa energi sihirku ke api yang menyala-nyala itu.
Kontan saja Luwai mencak-mencak dan menjadi marah..
"Apa yang kau lakukan?
Tindakan sembrono mu itu bisa mengakibatkan anak-anak bangsawan itu mati" wajah Luwai memucat.
Namun aku hanya tersenyum licik dan berkata..
__ADS_1
"Aku hanya akan melupakan kalian, jika kalian bersumpah tidak akan menceritakan kejadian malam ini kepada siapapun. Aku terlalu kuatir kalau-kalau kalian akan bernyanyi kepada tentara di kerajaan, bahkan mungkin melebih-lebihkan kejadian malam ini.. yang selanjutnya mempersulit kami berlima" kata ku tegas.
Aku melirik ke arah Cal dan yang lainnya. Mereka mengangguk kepala pertanda setuju dengan syarat yang dikemukakan.
Empat kawan Luwai terlihat berdiskusi tentang syarat yang dikemukakan. Sementara itu, diam-diam aku meneguk eliksir cair berwarna biru itu. Eliksir yang sisa setengah itu aku habiskan dengan sekali tenggak..
Luwai menatapku curiga.. Dia lalu bertanya
"Aku bertanya-tanya di dalam hati. Apakah kau mengkonsumsi eliksir cair? Dari mana kamu mendapatkan beda mahal dan langka itu?" tanya Luwai mendesakku.
Dengan dingin aku membentaknya..
"Tutup mulutmu !
Disini kamu adalah terdakwa dan di bawah penindasan diriku. Kau tidak berhak untuk bertanya-tanya apa yang aku lakukan. Paham?" jawabku ketus.
Meskipun terlihat tidak puas, namun aku mendengar Luwai menggerutu pelan..
"Aku tahu.. itu adalah eliksir biru muda peringkat rendah.
Baru-baru ini beberapa pedagang yang melintasi Pegunungan Hantu di rampok oleh kawanan Imp.
Aku menduga kamu telah menjarah hasil rampokan mereka dari Imp-mp itu" kata Luwai pelan.
"Diam !" teriakku.
"Aku tak segan-segan menghapus memori mu dengan lidah api ini. Kau tahu sendiri bukan, ketika api sihir menyerang benak seseorang, hanya dua hal yang akan terjadi.."teriakku mengancam.
"Kau akan mati atau setidak nya menjadi orang gila" katanya keras-keras.
Sesungguhnya aku hanya berbohong. Teknik untuk menyerang benak seseorang menggunakan api sihir seperti ini, hanya dapat dilakukan oleh magus-magus bersertifikat. Golongan seperti aku hanya bermimpi untuk melakukan hal-hal dahsyat seperti kata-kataku tadi.
__ADS_1
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih