Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Tuan Kota Roostam


__ADS_3

Setelah perjalanan panjang ku semalaman melintasi jalur sutra di Gurun Atulla. Kini Kota kecil, sepi dan tidak ramai di penghujung negri Chambat di terlihat di depan mata.


Aku melepaskan tali kendali kuda setelah melewati gerbang kota, membiarkan Kuda itu berjalan sendiri mengantarku ke Kantor Tuan Kota.


Tidak ada sorak sorai atau kata-kata pemujaan seperti layaknya ketika seseorang menyelesaikan misi, memberantas mahluk mengerikan yang menjadi momok dan menghantui pelintas di Gurun Atulla.


Diam diatas punggung kuda, menyusuri sendirian di jalan-jalan di kota Sahireb ini, aku hanya melihat kesunyian dimana-mana. Sesekali terlihat satu atau dua orang melintas, mungkin akan melakukan aktivitas orang pada umumnya seperti ke pasar atau ke kantor atau kegiatan lainnya.


"Kota ini betul-betul sepi dan hening. Sampai-sampai kadangkala aku berpikir kalau kota ini adalah kota mati, tidak ada penghuninya" batin ku dalam hati


Aku tersadar dari lamunan, ketika kuda yang ku tunggangi berhenti di Kantor Tuan Kota, tempat untuk melakukan klaim atas penyelesaian misi yang sudah aku berburu Hapiest,


Masih seperti biasa, kantor itu sepi, tidak ada banyak petugas yang terlihat. Satu-satunya yang berjaga di kantor tuan kota adalah seorang pria, dia duduk dibelakang meja dan mencatat keluar masuk Para Petarung yang menyelesaikan misi dan melakukan klaim hadiah.


Wajahnya mengumbar rasa tidak peduli, terlihat menatapku dengan malas. Past dia menyangka kalau aku akan melakukan klaim atas misi kecil atau sederhana saja. "Liha saja nanti pemalas !" batin ku mencibir.


Duar


Aku membanting sosok Harpiest yang kaku tidak bernyawa lagi, dengan dramatis di meja kerja petugas berwajah malas itu.


"Misi nomor satu, melenyapkan Harpiest selesai !.


Aku datang untuk melakukan klaim kompensasi atas pekerjaanku ini" kata ku sombong ke petugas yang kini tidak lagi berwajah malas itu.


Pria bernama Mahyar itu terbelalak ketika melihat benda yang aku letakkan di meja kerjanya.


ini adalah mayat kaku dari Harpiest yang menua - karena pengaruh sihirnya lenyap dan menonjolkan dirinya sebagai makhluk yang tua.


Mahyar terlihat muntah ketika melihat sosok ganjil berkepala manusia dan memiliki bagian tubuh mulai dari pinggang sampai dengan kaki berbentuk burung.


"H-harpiest?" suara Mahyar gugup, tak percaya kalau aku menyelesaikan misi tersulit ini.


Aku tak membiarkan Mahyar tenggelam dalam keterkejutan. Kemudian aku berbisik pelan ke telinga pria malas yang kini masih dilanda rasa kaget itu.


"Sayap dan kaki Harpiest itu telah aku panen.. karena itu menjadi hak aku selaku tangan pertama yang menjadi pembunuh makhluk Harpiest ini ini"


Mahyar tidak menjawab kata-kata ku, dia masih terdiam, kelu tetap diselubungi rasa kaget.


Mendadak seorang pria keluar dari dalam kantor, di ruang aula yang mungkin khusus diperuntukan bagi tamu-tamu istimewa saja.


Tanpa ragu-ragu pria itu langsung berdiri di dekat sosok Harpiest yang tidak bernyawa.

__ADS_1


Aku memperhatikan baik-baik pria itu, yang kini berdiri dekat denganku. Dia mengenakan kain yang dililit di kepalanya membentuk semacam topi tinggi yang terlihat lebih indah, terbuat dari satin yang mahal.


Aku juga memperhatikan hiasan di penutup kepalanya. Itu adalah batu-batu permata, yang ku duga adalah batu Ruby atau Emerald, atau bahkan Safir (aku hanyalah gadis miskin pada awalnya, jadi masalah batu permata seperti itu, sangat awam pada penglihatanku.


Pakaian yang dia kenakan adalah setelan jaket yang


dijahit rapi, yang kentara dikerjakan oleh tangan profesional. Celana panjang nya, dilengkapi dengan sepatu tinggi mencapai betis atau yang disebut sepatu boot.


"Dia terlihat dramatis dan fancy !"


Aku menyimpulkan bahwa pria ini adalah seseorang yang bukan masyarakat pada umumnya. Dari penampilannya yang fancy jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang bangsawan atau setidaknya Pejabat Negeri.


Mahyar petugas di Kantor Tuan Kota itu buru-buru memperkenalkan ku dengan pria yang terlihat Fancy itu.


"Lea,...


Perkenalkan ini adalah Tuan Kota kami. Namanya Tua Roostam Tajik"


Aku tersenyum tipis, sementara itu kulihat Tuan Roostam menatapku tak berkedip, seolah tengah menilai, siapa diriku.


Mahyar kembali membuyarkan suasana hening itu..


"Tuan Kota, perkenalkan gadi petarung ini.


Tuan Roostam menatapku dengan serius, dan aku melihat kilatan rasa tak percaya dimat itu. Lalu dia bertanya.


"A-anda.. pada usia semudah ini telah mencapai tingkat Asisten Sihir level 3?


Oh lihatlah. Anak-anak muda zaman sekarang ini betul-betul pekerja keras.


Mereka begitu cepat berlatih dan cepat mencapai tingkat yang demikian tinggi pada usia muda." Roostam kembali memperhatikan ku dari dekat, menyelidiki masih tak percaya.


Dengan helaan nafas panjang dia melanjutkan..


"Seketika ini juga aku merasa diri telah amat tua dan ketinggalan dari dunia yang bergerak cepat, seperti kalian anak-anak muda !" kata Tuan Roostam memuji.


Memang aku melihat kalau Tuan Rostam ini adalah seorang Asisten Knight peringkat 3, setara dengan kemampuan ku sebagai asisten sihir level 3.


Tapi aku tidak pantas menyombongkan diri dengan berkata bahwa aku kuat.


Melainkan aku berusaha bersikap merendah dan mengatakan bahwa

__ADS_1


"Semua ini hanyalah karena kebetulan belaka.


Aku bekerja keras dan berlatih. Juga aku menemui beberapa keberuntungan yang membuatku cepat menerobos menjadi asisten sihir level 3" kata ku merendah.


Tuan Roostam mengajakku mengobrol di dalam ruang kerja pribadinya. Dia telah memerintah Mahyar untuk mengambil sejumlah Kristal Eliksir yang akan diberikan kepada ku, langsung di ruang kerja nya.


Aku pun mengikuti Tuan Roostam ke ruang kerjanya dan duduk di dalamnya. Aku cukup terpesona melihat ruangan dengan dekorasi unik khas Negri Chambat.


Ini adalah satu ruangan kerja yang terlihat kuno namun berkesan mahal. Aku memperhatikan dekorasi didalamnya satu persatu. Aku melihat patung-patung kecil berkesan kuno dan mistis. Ada lemari buku yang ketika ku selidiki judul-judulnya, judul buku tentang sejarah dan kepahlawanan.


Aku tak ingin kepergok ketika tengah melakukan penyelidikan seperti ini. Kemudian aku melihat meja kerja Tuan Roostam. Di sana ada hiasan tembikar yang ku perkirakan asalnya dari Negeri Timur nun jauh.


Tiba-tiba Tuan Roostam masuk, langsung duduk di kursinya dan mengajakku bercakap-cakap. Ini hanya percakapan umum tentang kemampuan ku dan tentang pengalaman ku ketika menyelesaikan misi Harpiest.


Kemudian pembicaraan kami berubah tentang kekuatan ahli sihir dan knight. Memang keberadaan kami sebagai kaum yang berbeda dari manusia fana, membuat para ahli sihir atau ahli tempur Knight sering menyembunyikan diri, tidak ingin terlihat menonjol di mata manusia fana.


Tuan Roostam menceritakan bahwa ada terdapat lebih dari lima orang yang memiliki kemampuan sebagai ahli sihir, ksatria knight dan satu Alkemis sihir.


"Kapan-kapan aku akan mengadakan pesta khusus ahli sihir dan knight Kota Sahireb.


Aku akan mengundangmu untuk bergaul dengan ahli-ahli sihir dan knight itu, Lea" kata Tuan Roostam bersemangat.


Mendadak dia mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab.


"Apakah anda tidak berminat untuk tinggal di kota Sahireb ini" tanya Tuan Kota.


Dengan sopan aku mengungkapkan keinginan ku untuk menyewa gedung yang luas dan beberapa budak atau pelayan yang akan dipekerjakan di rumahku nanti.


Mengenai masalah itu Tuan Roostam berkata bahwa aku dapat pergi ke pasar tempat perdagangan kota dan menemui seseorang bernama Amin Nasirian.


"Amin itu sesungguhnya adalah seorang knight yang menyembunyikan kemampuan dirinya, dan mengambil pekerjaan dalam bidang jasa jual beli berbagai macam hal.


Anda dapat menemui Knight Amin dan mengemukakan bahwa diri anda adalah penyihir yang direkomendasikan oleh ku.


Aku yakin, dia pasti akan merekomendasikan gedung yang cocok dan pantas untuk anda" kata Tuan Roostam. Dia tidak menyelidiki bangunan yang disewa akan digunakan untuk apa. Tapi kurasa dia pasti paham, sebagai ahli sihir, aku pasti akan melakukan eksperimen di tempat itu nanti.


Tak lama kemudian, Mahyar muncul dengan membawa satu kantong besar Kristal Eliksir, yang langsung diserahkan kepada tuan kota.


Hatiku gembira, ini adalah Eliksir kristal tingkat tinggi. Selama ini aku belum pernah memiliki uang sebanyak itu.


Aku Pun meninggalkan kantor Tuan Kota, bergegas menuju pasar tempat perdagangan, mencari Amin Nasirian.

__ADS_1


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2