
Hari ini adalah hari pelajaran pemanggilan. Pemanggilan yang di maksud di sini adalah teknik seorang penyihir untuk memanggil roh dari alam lain, yang akan di kontrak untuk menjadi budak atau setidaknya servant seorang penyihir. Aku sendiri belum tahu siapa yang akan menjadi tenaga pengajar untuk pelajaran ini, namun aku telah merasa sangat antusias
Dua orang kawan sekamarku Yasmin dan Salome tak habis-habisnya bertanya dengan antusias - seperti apakah pelajaran yang di maksud dengan pemanggilan itu?
Aku harus dengan sabar menjawab berulangkali pertanyaan dua gadis penasaran itu, bahwa aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang teknik sihir pemanggilan ini. Namun karena mereka semakin mendesakku untuk memberi penjelasan, dengan terpaksa Aku menjelaskan kepada mereka, bahwa ada banyak sekali keahlian sihir dari seorang petarung yang menggunakan kemampuan sihir.
Namun meski kedengaran tak penting, petarung dengan kemampuan sebagai seorang summoner seperti ini juga patur di pertimbangkan sebagai lawan yang kuat, kata ku (padahal aku hanya membaca penjelasan sempit ini di perpustakaan akademi, dan aku bertindak seolah-olah aku paham tentang penyihir dengan kemampuan summon seperti ini).
"Mengapa summoner ini kau anggap penting sebagai petarung?" tanya Salome.
"Karena dia dapat memanggil roh" jawabku.
"Lantas apa yang dilakukan makhluk yang dipanggil itu?" tanya Yasmin tak mau kalah mencercaku.
Well.. sesungguhnya aku sendiri bingung. Semua jawabanku hanyalah aku salin mentah-mentah dari buku teknik dasar sihir, yang mana tentu saja semua jawabanku tidak akan membuat puas dua kawan sekamarku.
Sambil berpura-pura misterius, aku berkata,
__ADS_1
"Mungkin besok setelah aku mempelajari langsung teknik dan dasar-dasar pemanggilan itu, maka aku akan menjawab pertanyaanmu..." kata ku tersenyum.
"Dan sekarang mari kita tidur"
Aku memberi jawaban tertutup, sehingga dua gadis itu tak dapat lagi mendesakku dengan pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu apa-apa.
***
Keesokan harinya, setelah pelajaran umum tentang dasar-dasar kewarganegaraan, kami bertiga - aku, Chinno dan Sakhandi berjalan di lorong-lorong akademi, menuju kelas sihir dengan instruktur bernama Kapten Trisoka.
Sepanjang perjalanan menuju kelas sihir, aku berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa dengan dua orang itu, sementara mereka berdua juga terlihat menjaga jarak denganku. Mungkin karena dua tanda mata yang aku berikan kepada mereka, yaitu rambut Chinno menjadi hangus dan membuat gadis itu terpaksa mengenakan topi atau semacam bandana guna menyamarkan penampilan buruk mereka.
Sakandhi sendir tampak seperti tak peduli dengan rambut indahnya yang kini harus dipotong hampir gundul. Dia terlihat santai saja dengan penampilan barunya itu. Namun aku harus jujur, Sakandhi bahkan terlihat menjadi tampan dengan potongan rambut cepak seperti itu
Saat ini Instruktur Trisoka memasuki kelas kami, dan dengan penuh semangat aku memperhatikan baik-baik semua pelajarannya. Setelah selesai dengan sesi perkenalan - seperti biasa hanya basa basi menanyakan, 'kamu anak siapa?'
Atau pertanyaan 'kamu adalah keturunan murni seorang knight' adalah pertanyaan rutin di dalam setiap pelajaran. Lalu kemudian dengan suara manja dan malu-malu kucing, Chinno akan menjawab bla-bla dan bla. Aku mulai muak dengan pertanyaan-pertanyaan terkesan nepotisme itu.
__ADS_1
Instruktur Trisoka sendiri adalah pria usia 40 tahun, dan menyandang pangkat kapten di militer. Karir militernya adalah menjadi salah satu pelindung Raja dari kalangan sihir. Wajahnya terlihat biasa saja, dan tidak memberi kesan seorang ahli berkemampuan sihir.
"Di dalam teknik pemanggilan roh, ada terdapat lima makhluk roh atau spirit yang sering di panggil oleh penyihir.
Imp adalah roh peringkat paling lemah kekuatannya yang dipanggil penyihir, menyusul Folliot, lalu Jin, Afrit dan Marid"
Aku mencatat baik-baik semua penjelasan ini. Hal-hal seperti ini jarang dibahas di buku-buku penuntun di perpustakaan, mengingat banyak sekali teknik sihir yang diajarkan langsung seperti ini, guna menghindari pencurian teknik sihir oleh lawan atau ras lain yang berperang melawan manusia.
"Hanya penyihir-penyihir berkemampuan tinggi saja, yang dapat memanggil Jin, Afrid bahkan Marid.
Dan apakah kalian tahu mengapa?" tanya instruktur Trisoka.
Mata pria itu beredar diantara kami bertiga. Lalu mata tajamnya tertuju padaku, mata yang begitu dalam seperti dalamnya samudra, membuatku pening dan terasa seperti akan trance.
"Tolong kamu jelaskan.. Lea.
Well namamu Lea bukan? Dan kamu adalah gadis pemanggil api itu bukan?" tanya Instruktur Trisoka dan membuatku menjadi gugup. Entah mengapa aku seperti gugup ketika berbicara dengan orang ini. Aku merasa seakan-akan ada sesuatu tersembunyi di balik diri pria ini, yang memperhatikanku dalam-dalam.
__ADS_1
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.