Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Tak Sengaja Membawa Berkah


__ADS_3

  Dua hari sebelum aku pergi ke Hutan Cemara angin, suatu hutan rimbun di belakang Akademi kami, aku memeriksakan diri ke laboratorium, dimana terdapat alat analisis kemampuan. 


   Cara nya cukup mudah. Hanya dengan membayar satu point kontribusi saja, maka petugas di laboratorium akan memberikan semacam batu giok yang dapat mengukur kemampuan masing-masing siswa akademi.


   Aku lupa menceritakan bahwa setiap siswa baru yang diterima di akademi militer ini, akan mendapatkan satu token yang di dalamnya telah terisi modal poin kontribusi senilai sepuluh point. 


   Jumlah sepuluh point itu akan berkurang, ketika siswa melakukan pelanggaran yang harus ditebus dengan point kontribusi, sementara rata-rata penjualan barang di gerai-gerai akademi, hanya melayani pembayaran menggunakan poin kontribusi atau Eliksir.


   Cara lain untuk mendapatkan poin kontribusi adalah dengan melakukan penyelesaian misi yang dibuat oleh akademi. Namun kami belum diizinkan menjalankan misi, karena tugas ini hanya akan dilakukan oleh siswa yang telah mencapai peringkat Asisten Sihir Level satu atau Asisten Knight Level satu.


   Aku memegang giok kecil, alat pengukur kemampuan siswa dengan cemas. Aku takut kalau nilai kekuatan tempur dan kekuatan sihirku lemah.Jelas hal itu adalah sama dengan melakukan tindak bunuh diri, pergi ke Hutan Cemara Angin dan bermimpi membunuh serigala roh tingkat pemula.


   Mataku terbelalak ketika melihat nilai angka hasil analisis kemampuan ku :


Kekuatan tempur : 0,5


Kelincahan : 0,3


Daya hidup : 0,6


Kekuatan sihir : 1


Status : sehat.

__ADS_1


   Nilai-nilai kemampuanku tidak bisa di bilang buruk. Memang sebelum mencapai peringkat Asisten satu, baik untuk penyihir ataupun knight, semua nilai itu adalah di bawah angka satu. Namun yang membuat ku heran adalah kekuatan sihir ku bernilai satu.


   Nilai satu? ini setara dengan kekuatan minimal seorang asisten sihir level 1. Aku begitu bersemangat. Tentu saja ini lah faktor yang menyebabkan aku mampu menciptakan bola api sebesar bola basket.


   Aku meninggalkan laboratorium dan menuju ke perpustakaan dan berpikir untuk meningkatkan kemampuanku. 


"Aku harus mendapatkan setidaknya petunjuk bersemedi, guna mengontrol dan mengatur kekuatan sihirku" pikirku saat itu.


"Ini penting" batinku lagi.


   Aku sadar sepenuhnya. Meskipun di hari pertempuran sparingku melawan Sakandhi, memang aku berhasil menciptakan bola api besar, sebesar bola basket.


   Namun saat ini, setelah sesi sparing itu, aku hanya mampu menciptakan bola api sebesar kelereng saja.


   Dengan kemampuan pengendalian diri dari dalam berkat latihan itu, Chakra Api yang ada di dalam diriku akan dapat dipanggil kapan saja, dan dalam bentuk terbesar sesuai kemampuan sihirku.


   Di perpustakaan aku membolak-balik buku-buku teknik pernapasan untuk mengontrol diri. Namun sekian lama membolak-balik buku-buku tebal itu, tak satupun teknik pernapasan mudah dan instan yang dapat dijadikan pedoman untuk bersemedi.


   Ketika asik membolak-balik buku-buku tebal dan kuno itu tanpa sengaja aku menjatuhkan satu catatan kecil dari buku tebal yang ku pegang.


   Aku membaca isi tulisan itu dengan pelan,


"Teknik pernapasan kuno ini dinamakan Siulian, dan hanya cocok di praktekan seorang perempuan. Sebaiknya kamu tidak usah bermimpi mampu mempraktekkan teknik Siulian ini, jika kamu adalah seorang anak laki-laki"

__ADS_1


   Aku berpikir keras, "siapakah yang bermain-main dengan teknik pernapasan seperti ini?"


   Namun saking penasarannya, aku meneruskan membaca kertas itu,


"Jika kamu adalah perempuan, kamu dapat melanjutkan membaca teknik siulian ini.


   Ingat ! Ketika kamu telah berhasil menghafal dan menguasai teknik pernapasan ini, segera kembalikan lembaran kertas ini, untuk dapat dipelajari oleh generasi kamu di masa datang"


   Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekian lama mencoba mencari teknik pernapasan cuma-cuma, dan yang ku temui hanya sampah belaka... kini ketika mendapatkan sebuah wasiat ibaratnya, aku berpikir akan berjudi dengan membawa pergi lembaran tulisan itu.


   Kusimpan kembali buku-buku petunjuk pernapasan sihir ke rak-rak dengan rapi, sambil menghafal dari buku mana lembaran kertas ini keluar.


   Aku meninggalkan perpustakaan tanpa menimbulkan rasa curiga sama sekali. Dan hatiku meluap penuh kegembiraan, ketika di kamar mulai membaca dan mempraktekkan kata0kata yang tertulis di dalam lembaran Teknik bernama Siulian tadi.


"Hati yang  kosong, membuat kepala jernih, membangunkan energi spiritual di dalam tubuh, dengan penuh semangat menumbuhkan energi dingin, dan kemudian mematikan energi panas tubuh".


   Aku mengulangi menghafal isi tulisan itu dengan mata terpejam, dan duduk bersila di tempat tidurku dalam posisi yang disebut posisi lotus.


   Aku bahkan tak ingat sama sekali, kapan aku tertidur, dan lupa akan segala sesuatu, dengan perasaan nyaman, yang belum pernah aku alami.


Bersambung.


    Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2