
Kami bertujuh pulang ke rumahku, setelah aku mendapatkan satu petarung lainnya, untuk menjadi teman petarung sakit itu.
Nama mereka adalah Parisa dan Hasti, dua budak yang diangkat menjadi pelayan. Naghi adalah budak laki-laki yang kuangkat menjadi tukang kebun. Sedangkan Enayat adalah petarung yang kuangkat menjadi pengawal dan penjaga rumah, sedangkan petarung yang sakit itu bernama Moein Sadeghi.
Moein menceritakan kalau dia terluka karena sebelumnya bertarung di arena hidup mati, di satu kota yang jauh dari Kota Sahireb. Kemudian ketika dia terluka, pemilik arena merasa kekuatan nya menurun lalu menjual Moein sebagai budak.
Aku kemudian menugaskan mereka sesuai kebutuhan yang telah diatur sebelumnya, tetapi Moein karena masih sakit, dia ku dibebaskan dari tugas menjaga rumah. Parisa dan Hasti yang akan merawat luka-lukanya sampai petarung itu sembuh.
Sementara itu, aku kini menjadi lebih leluasa karena rumahku telah lengkap dengan masing-masing petugas, dan aku akan lebih berkonsentrasi melakukan pencangkokan sayap Harpiest.
Aku masuk kedalam laboratorium, meminta Shana untuk menyiapkan semua bahan-bahan guna perapalan mantra dan proses transplantasi.
"Apakah semua telah komplit, sesuai permintaan ku?" Tanyaku pada Shana.
Gadis itu membaca ulang semua bahan sihir yang telah aku pesan ketika dia pergi ke toko alkimia di kota.
"Nasi Khaimera, serbuk rambut Nymph, air mata duyung, daun Osmanthus rohani dan bunga Peony surgawi.
Semua telah lengkap nona"
__ADS_1
"Bagus. Sekarang kami bisa menjerang air dengan menaburkan bubuk rambut Nymph, karena aku akan mensterilisasi sayap Harpiest" kataku.
Tidak menunggu lama, Shana langsung menjerang air dan mendidih dalam waktu singkat.
"Bawa kemari air mendidih itu" titahku.
Shana tergopoh-gopoh membawa seember air mendidih, meletakkannya di dekat kaki ku.
Ketika aku mengeluarkan sayap rainbow itu, Shana melebarkan matanya, mulutnya ternganga dan kata pujian mengalir tiada henti dari bibir kecilnya.
"Ini adalah sepasang sayap terindah yang pernah aku lihat nona" kata Shana berulang kali.
Bulu-bulu nya indah, mengkilap dengan warna mulai dari gelap sampai ke terang, mungkin campuran 24 macam warna pelangi. Aku membanggakan kemampuan ku di hadapan Shana dengan menceritakan ulang pertarungan mendebarkan, sampai aku menaklukkan Harpiest.
Shana tak dapat berkata-kata, selain sorot mata kekaguman yang membuat ku paham kalau anak itu amat memujaku. Aku tahu.. Shana begitu ingin menempuh jalan keabadian sebagai seorang penyihir seperti aku.
"Tidak usah kuatir Shana.
Kelak ketika aku selesai dengan transplantasi Sayap ini, aku akan meramu satu ramuan khusus untuk mu, dan membuat energi sihir bangkit dalam diri kamu" kataku, dan melihat ekspresi gembira di wajah kecil itu.
__ADS_1
Tak bisa ku pungkiri. Shana adalah seorang gadis yang baik dan bertekad kuat. Tapi itu tidak cukup untuk seorang penyihir. Diperlukan garis darah bawaan untuk membuat seseorang menjadi ahli sihir yang disebut Magus.
Pendapatku pribadi, Shana hanya akan terhenti pada level 1 asisten sihir. Itupun dengan bantuan ramuan sihir yang akan aku buat nanti.
Aku pernah memberitahu Shana hal ini. Dia akan mentok pada level satu saja, seumur hidup. Meskipun demikian, gadis itu tidak menjadi sedih..
"Asisten sihir level satu sudah sangat baik dan terhormat untuk kawasan kecil seperti Kota Sahireb ini nona" kata Shana sopan.
***
Aku mengibas tanganku dan menaburkan cairan sihir, bercampur air mendidih, untuk kebutuhan sterilisasi sayap. Bubuk itu berpendar, mengkilap lalu terbang seperti bulu, jatuh ringan ke dalam air mendidih. Bau harum langsung menyeruak di dalam laboratorium.
Sielun Puhdistus !
Desahku dalam mantra kuno. Dan air campuran itu terlihat melayang, memercik sepasang sayap yang ku letakkan di meja laboratorium.
Suara desis seperti api disiram air terdengar. Aura jahat Harpiest lenyap seperti asap, pergi menjauh setelah mantra itu ku bacakan.
Bersambung.
__ADS_1
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..