Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Pulau Ponris Atoll


__ADS_3

Duar !


Duar !


Ledakan terjadi ketika dua batu raksasa terjatuh di sisi kiri dan kanan kapal, membuat keadaan berubah panik. Kapal seketika berguncang akibat ombak lokal yang meluap.


"Cepat bergerak !"


"Semua tentara.. pasukan jarak jauh berpindah ke perahu ! Sekarang !"


Aba-aba dan perintah terdengar, dan aku melompat cekatan ke dalam perahu yang dalam sekejap mata langsung penuh dengan vampir-vampir tentara, yaitu pasukan perang jarak jauh yang terdiri dari penyihir dan juga bercampur dengan pasukan pemanah.


Rasa melankolis di hati ku sirna ditiup rasa ketakutan yang menyebar cepat. Perang itu telah dimulai. Dark Elf telah lebih dulu menembak senjata jarak jauh.


'Suittt' suara mengerikan terdengar dari atas kepala kami. Aku mendongak dan berseru ngeri. Diatas kepala kami, dalam jarak 20 tumbak di atas kepala kami.


"Seseorang harus memblokir batu raksasa itu !" jeritku ngeri.


Dua perapal mantra dengan sigap berdiri lalu membacakan mantra-mantra..


Wush !


Ilusi berbentuk jala-jala tercipta dari kehampaan, menjaring dan menahan gerak batu raksasa yang akan jatuh tepat di perahu kami.


"Cepat bergerak.. dayung lebih cepat lagi" kata salah satu perapal mantra. Keringat menetes, mengalir di dahi dua perapal mantra itu.


Kami serempak membantu mendayung, agar terhindar dari goncangan air manakalai perapal mantra tak mampu lagi menahan berat nya batu yang ditembakkan musuh.


'Byur !'


Air memercik keras, disertai gelombang lokal tatkala perapal mantra menghapus mantra pelindung yang menahan batu raksasa itu.


Beruntung bagi perahu kami. Gelombang yang ditimbulkan batu raksasa itu membuat perahu kami cepat menepi di bibir pantai.


Tapi itu semua belum selesai. seketika terdengar dengungan suara seperti sayap kumbang yang dikepak-kepakkan, kian lama kian keras.


"Panah !" seseorang berteriak.


"Larii !!" dengan wajah pucat pasi aku berlari sambil merapal mantra defense.


"Benteng Pertahanan !" teriakku merapal mantra sihir defense.


Seketika satu gelembung besar yang mampu menutup tubuhku seluruhnya tercipta. Aku berlari-lari dengan gelembung Mantra Benteng Pertahanan, ketika merasakan energi ku berkurang pelan-pelan.


Energi yang berkurang pelan-pelan dari dalam tubuhku itu adalah akibat anak panah yang beruntun menghujam tubuhku, namun ditepis oleh gelembung udara sihir itu.


Jika semakin banyak anak panah yang menghujam tubuhku, lama kelamaan semua energi sihir akan habis, lalu Mantra Benteng Pertahanan akan menguap lalu aku akan mati terpanggang anak panah.


"Ini tidak bisa dibiarkan !" pekik ku marah.


Aku berlari sambil menunduk, menuju dua mesin panah raksasa yang biasanya dibakar dengan api lalu akan meledak ketika ditembakkan ke arah musuh.


"Kau pemanggil api bukan?" tanya dua prajurit itu ketika aku menghampirinya.


"Bantu kami agar mesin ini bekerja lebih cepat. Buat api sihir yang berefek mematikan, ketika meledak di sasaran" kata prajurit yang satunya.


Tanpa menjawab sepatah katapun, aku memberi kode agar mereka menyiapkan anak panah.

__ADS_1


"Ready?" tanyaku


Begitu dua prajurit itu mengacungi jempol, aku lantas memanggil api.


"Fire !"


Api biru itu lantas terbentuk di dua tanganku, kiri dan kanan.


"Semoga semua diampuni dosa-dosanya !" doa ku pelan. Biar bagaimanapun ini adalah perang, tindakan membantai lawan yang tidak dikenali, bahkan mungkin adalah sosok tak berdosa yang hanya mengikuti instruksi raja.


Api biru menyala di ujung mata panah raksasa yang panjangnya lima tumbak itu. Kami bertiga berubah seperti makhluk biru di dalam gelapnya malam, memasang wajah tegang di bawah ribuan anak panah dan lontara batu raksasa yang kemudian meledak.


"Tembak !" teriakku kencang.


Dua anak panah itu melesat pergi, terbang seperti angin, sebentar saja terlihat kecil. Lalu...


Duar !


Dari kejauhan kami bertiga melihat ledakan diikuti nyala api berwarna biru, tampak indah sekaligus mengerikan.


Aku terdiam melihat api biru berkobar di kejauhan, disertai pekikan panik dari orang-orang di kejauhan.


"Gadis pemanggil api, Lea namamu bukan?" kata prajurit yang satunya.


"Namaku Kejox dan dia Paria.


Senang bisa bersama mu dalam tim ini. Mari kita lanjutkan" kata Kejox.


"Lea. Namaku Lea.


Lalu mari kita lanjutkan tugas kita sebagai prajurit" kata ku.


"Fire!" tembakan selanjutnya.


"Fire !" selanjutnya lagi.


Begitu berulang kali, sehingga tanpa terasa telah sepuluh anak panah raksasa itu dilepaskan Kejox dan Paria, dengan bantuan api sihirku.


Kami begitu bersemangat. TEntu saja, ini tidak akan berlangsung lama. Api sihir biru itu, jelas-jelas telah merugikan pihak lawan, Dark Elf.


Ketika Kejox dan Paria masih berusaha menggerakkan tuas untuk menarik daya lontar panah raksasa itu, aku melihat mendadak dua vampire itu kelojotan, lalu terguling diam tak bersuara di tanah berpasir.


Rupanya kami telah menjadi sasaran pihak musuh, setelah mencermati dari mana datang nya panah raksasa yang menyala kebiruan itu.


Aku lantas siaga dengan kembali merapalkan mantra Benteng Pertahanan, yang seketika membentuk gelembung balon melindungiku.


Padahal aku sementara beristirahat dengan sekedar menyulut api sihir di dua mesin pembunuh itu, tapi kini tak berguna lagi.


Maju dan bergabung dengan penyihir dan pasukan jarak jauh mungkin lebih aman, ketimbang diam di bagian mesin pembunuh ini.


Aku menelan dua tabung kecil berisi cairan Eliksir cair kebiruan, untuk mengembalikan energi yang terkuras, sejak awal tadi ketika terkena tembakan ratusan anak panah.


Aku berlari-lari merunduk, agar mengurangi resiko terkena anak panah lawan, meskipun itu sia-sia. Beberapa kali aku merasa energi ku menguap dan berkurang, pertanda ada anak panah yang lolos dan menusuk ke gelembung tameng perlindungan sihirku.


Tak lama kemudian aku telah bergabung dengan rombongan pemanah vampire, bercampur dengan penyihir-penyihir tentara.


Di atas kami, langit terlihat penuh dengan sulaman anak panah berseliweran, ada yang menyala karena di beri api, dan ada yang tidak menggunakan api.

__ADS_1


Blep - blep - blep


Suara anak panah menyeramkan ketika lolos sasaran, yang tertancap di papan-papan penghalang yang dibuat untuk perlindungan selama perang berlangsung, membuat aku makin hati-hati.


Sementara itu para perapal mantra bersuara mendengung, melontarkan kutuk dan sumpah keji, yang berakibat berbagai macam serangan sihir terbentuk di seberang sana, dan merongrong pihak lawan, Dark Elf.


Sesekali aku membentuk anak-anak panah kecil dari api, lalu meluncurkannya dengan seluruh kekuatan yang aku miliki.


Tapi menurutku ini kurang efektif. Akan lebih bermanfaat ketika aku menggunakan Mantra Fire Arrow yang memiliki efek ledak mematikan, dengan area jangkauan melebar menjadi seluas lima tumbak (sepuluh meter) lebih, ketika aku menjadi Asisten Sihir Level 3.


"Lea !" sebuah suara akrab memanggilku.


Aku berputar sambil melihat Kravas berdiri di belakangku, terlihat kacau dan tegang. Memang.. penyerangan kami kali ini, sepertinya telah di duga oleh pihak lawan, sehingga mereka mengadakan perlawan luar biasa, yang berbalik membuat kami menjadi tertekan di bawah angin.


"Lea.. apakah kau takut ketinggian?" tanya Kravas dengan wajah memohon.


"Tidak. Ada apa?" tanya ku sedikit heran.


"Aku berpikir kalau efek erangan api mu itu akan lebih efektif jika dilakukan dari ketinggian.


Kami terpojok karena pihak Dark Elf sepertinya telah mengetahui serangan hari ini" kata Kravas.


Mata ku menyala, seolah meminta penjelasan Kravas akan hal ini..


"Dark Elf telah siap sedia dengan serangan kami ini.


Mata-mata melaporkan ada lebih dari 2000 tentara Dark Elf telah berjaga-jaga, menanti serangan kami di Pulau Ponris Atoll ini.


Dengan mulut menganga, aku balik bertanya..


"Mengapa bisa? Bagaimana caranya mata-mata ras vampire ini demikian lambat memberikan informasi?" kata ku dengan nada sesal.


"Pantas saja. Baru saja kami diatas perahu di bibir pantai, serangan bom batu telah bertubi-tubi mencecar.


Belum lagi hujan anak panah yang mengambil sebagian nyawa tentara di perahu kami" kata ku sedikit emosional.


Jelas aku marah. Kami diatas perahu yang tidak kuasa bergerak, lalu dihujani ribuan anak panah.. bukankah ini tindakan bunuh diri tanpa perlawanan?


"Apakah ada mata-mata di dalam pasukan vampire ini" tanya ku berbisik. aku tak ingin dituduh sebagai penjilat dan penyebar berita bohong yang bersifat menuduh.


Kravas menggeleng kepala. Katanya..


"Akan ku selidiki lebih lanjut.


"Sekarang, apakah kamu bersedia untuk terbang, di atas punggung satu tentaraku yang mengenakan sayap besar?" tanya Kravas.


"Dari atas punggung penerbang itu, kamu akan leluasa menembak dan menyebar ledakan api, sehingga lawan akan menjadi panik" kata Kravas.


Meski sesungguhnya aku belum pernah terbang dengan menunggang di atas punggung seseorang seperti ini, tapi menurutku ini adalah hal yang menantang. Aku tertarik dan berminat mencobanya.


"Aku belum pernah terbang atau naik di punggung satu makhluk yang dapat terbang.


Akan tetapi aku berpikir kalau aku tidak takut dan mau mencoba pengalaman menarik ini" kata ku percaya diri. Wajah Kravas berubah cerah ketika aku meng-iyakan permintaannya.


"Lihat saja nanti. Aku akan berubah menjadi Ratu Api ketika berperang dari punggung tentara yang mahir terbang itu..


Bersambung.

__ADS_1


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2