
Di Toko Amin Nasirian..
Pada akhirnya aku memperoleh apa yang aku inginkan. Ami. Nasirian menunjukkan pada ku satu rumah besar, yang letaknya jauh dari tengah kota, lebih tepat lagi di pinggiran Kota Sahireb.
Rumah itu dinding nya terbuat dari batu campuran bahan tertentu, tebal dan mulai luntur warnanya. Ada lebih dari sepuluh kamar disana, dimana kamar utama letaknya di lantai 2, memiliki teras sendiri yang menghadap ke Gurun Atulla.
Aku lantas meminta Shana asisten ku untuk menunjukkan padaku, dimana aku bisa menemukan pekerja yang akan menjadi penjaga tempat tinggal ku, juga sebagai pelayan di rumah besar yang memiliki 10 kamar ini.
Aku akan menggunakan kamar utama serta tiga kamar sisa yang akan ku gunakan sebagai gudang penyimpanan barang percobaan, dan juga sebagai laboratorium sihir.
Ini berarti ada kamar sisa di lantai dua, khusus untuk Shana karena dia akan membantuku dalam pengerjaan berbagai eksperimen. Aku telah bertekad untuk mencoba transplantasi Sayap makhluk Harpiest itu. Juga Eliksir cair harus aku produksi, selain untuk persediaan ketika bertempur nanti, aku mungkin aka. Menjual beberapa di Pasar Gelap, The Bazaar of Wonder.
"Shana, apakah kau tahu di mana pasar gelap yang menjual manusia sebagai budak?" Tanya ku pada asisten ramuanku.
Wajah Shana berubah dalam raut yang sukar di tebak. Namun dia menjawab bahwa dia tahu,
"Jaraknya kurang lebih 2 jam perjalanan dari Kota Sahireb kami.
Apakah Nona Lea ingin aku mengantarmu kesana?" Tanya Shana. Aku mengangguk kepala tanda setuju. Memang aku tidak mengijinkan Shana memanggil ku Master, hanya Nona saja.
__ADS_1
Bagi ku jabatan Master terlalu berat. Sementara aku hanya seorang Asisten Sihir Level 3, yang rasanya belum pantas dipanggil master. Nona, menurutku adalah panggilan yang cocok.
Bersama dengan Shana, kami berdua menaiki kuda dan pergi ke pasar gelap lainnya, yang menjual budak untuk pelayan, atau budak petarung untuk menjadi penjaga rumah ku nanti.
Perjalanan ke pasar gelap budak tidak terlalu lama. Mungkin sekitar dua jam dari Kota Sahireb kami. Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa pasar budak itu bukan di adakan di tengah kota saja? Bukankah itu memudahkan pelanggan? Ya kamu benar jika menebak bahwa perdagangan manusia adalah ilegal.
Sultan Negri Chambat ini menerbitkan dekrit bahwa perdagangan manusia adalah ilegal adanya. Walaupun demikian, perdagangan budak tetap menjamur dimana-mana. Kebutuhan akan tenaga budak serta kemiskinan melanda Negri, membuat banyak orang tua yang menjual anak anak mereka, tumbuh seperti jamur di musim hujan.
Pasar budak itu tidak terlalu besar. Bentuknya dari luar terlihat seperti arena pacuan kuda yang dikelilingi pagar dan tembok dari papan-papan tinggi, menyembunyikan semua kegiatan di dalam sana.
Aku dan Shana melangkah masuk melewati pintu gerbang pasar, yang dijaga oleh dua pria berotot tebal, mengenakan baju ketat tanpa lengan, memperlihatkan potongan lengan yang terlatih itu. Wajah mereka garang tanpa senyum, pedang berujung melengkung tersampir di pinggang masing-masing
"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya ku malas.
"Perempuan dilarang masuk ke dalam pasar budak !" Kata pria yang satu nya.
Mata ku terbuka menatap bola mata pria berotot itu. Kataku..
"Betulkah?...
__ADS_1
Bahkan jika aku penyihir?"
Wush !
Api biru menyala lembut di ujung telunjuk ku. Lalu aku melambai pelan ke arah penjaga kasar tadi.
Blam !
Aku hanya menatap tanpa rasa, ketika penjaga arogan itu berteriak minta tolong, memohon ampun dan meminta ku menghentikan aksi sihir ku.
Kembali ! Titah ku, dan api biru itu kembali ke tanganku, menghilang di dalam jari ku.
Dia pria berotot itu menggigil ketakutan, pada hal itu hanyalah satu adegan show of force belaka.
Tanpa banyak bicara lagi, aku dan Shana melenggang masuk ke dalam Pasar Budak itu.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..
__ADS_1