
Hari telah malam. Angin bertiup kencang sesekali membawa butir-butir Debu di padang Gurun Atulla. Ketika itu terlihat tiga pria berbadan kekar berjalan mengendap-endap di bukit-bukit batu cadas, jalan sempit yang hanya dapat dilewati dua kuda bersamaan.
Mereka bertiga ini dikenal sebagai tiga Bandit dari Barisan Tengkorak Hitam, kelompok penyamun yang paling ditakuti oleh semua pedagang dan pelintas Jalur Sutra Gurun Atulla, belakangan ini.
Masing-masing dari mereka bernama Ali Rafi, Kamyar dan Taji. Mereka memiliki penampilan seperti kaum bandit pada umumnya. Tubuh tinggi besar, muka bercodet bekas sisa pertempuran, kena senjata tajam.
Kabar burung memang sangat cepat berhembus di antara para Bandit dan kaum Penyamun. Ali Rafi selaku pemimpin dari 3 banding itu telah mendengar kabar bahwa akan ada sekelompok kaum petarung akan datang menyergap mereka.
Tentu saja sebagai bandit di ternama di Gurun Atulla, Ali tidak ingin kelompok mereka mati percuma, disergap oleh petarung bayaran dari kota Sahireb.
Dia lalu mengatur cara agar sebelum mereka disergap petarung-petarung bayaran, maka kelompok Bandit Tengkorak Hitam mereka yang akan terlebih dahulu meringkus para petarung sewaan dari kota Sahireb.
Dia mengatur rencana agar masing-masing dari mereka bertiga untuk memisahkan diri. Kamyar seorang bandit petarung akan menyerang dengan bersembunyi di sisi kanan, di ketinggian di lereng-lereng cadas.
Sedangkan Taji, bandit yang lainnya akan menyergap musuh dari bagian belakang. Dia sendiri akan muncul dari arah depan, menakut-nakuti membuat lawan mereka ketakutan.
Ali berjalan di kegelapan malam pelan-pelan, tak ingin diketahui oleh kaum petarung dari kota Sahireb. Jauh-jauh hari dia telah mengasah goloknya tajam-tajam, berkilauan mengerikan tertimpa cahaya Rembulan.
Ali menyamarkan kilau golok itu dengan selembar kain tipis berwarna gelap sehingga tidak memantulkan cahaya apapun. Bibir nya tersenyum kejam, merancang teknik membunuh seperti apa yang akan dia lakukan tatkala mengeksekusi tiga petarung sewaan itu.
'Apakah aku akan mencabut lidah mereka? Atau akan menusuk jantung mereka dengan sendok? Hmmm.. cara terkejam lah yang aku pakai membunuh kalian.
Kalian hanya sekelompok tikus-tikus got yang berani untuk berhadapan dengan Tuan Bandit ini itu. Lihat saja nanti akan ku tunjukkan kepada kalian Siapa sesungguhnya Ali, pemimpin 3 Bandit Tengkorak Hitam' batin pria itu dengan geram.
Dari kejauhan dia mendengar bunyi derap kaki kuda berjalan melewati jalan celah sempit di antara dua tebing tinggi. Ali berpikir bahwa dia akan menjerat leher mereka dengan tali, sebelum menghabisi tiga petarung dari Kota Sahireb. Goloknya langsung terhunus, berkilau tanpa takut terdeteksi.
__ADS_1
Adranalin Ali meningkat tinggi, semangat membunuh membakar hatinya. Mendadak dia mendengar suara kepakan sayap, keras terdengar sampai-sampai menimbulkan debu bertebaran di sekitar tempat dia berdiri.
'Binatang apa yang demikian keras kepakan sayapnya ini? Ini bukan burung biasa'
Ketika Ali menatap ke arah langit untuk mencari lihat apa gerangan burung yang membuat badai dengan dengan sayap yang demikian besar, menimbulkan debu di mana-mana.
"A-apa itu?" Ali tak pernah menyangka. Ini adalah kata-kata terakhir dalam hidupnya
Mulutnya terbuka menganga menatap tidak percaya ke arah atas. Dari langit terlihat jelas satu burung yang besar, bahkan ini teramat besar dengan sayap lebar yang dibentangkan lebih dari 3 untuk masing-masing.
Ali tak sempat berteriak apa-apa, ketika tiba-tiba sinar berbentuk api biru jatuh dari atas menimpa dirinya langsung menembus dadanya. Ali mati seketika tanpa sempat berpikir lagi bahwa burung raksasa itu sesungguhnya adalah sosok orang perempuan muda.
***
Aku menginstruksikan kepada Hadi dan Sataar agar bersiap-siap bertempur, karena aku akan terbang memisahkan diri.
Lalu kalian berdua menerobos masuk ke celah tebing dan bertempur langsung dengan dua anak buah lainnya" kata ku pada dua rekanku itu.
Hadi dan Sataar setuju dengan usulku. Kemudian aku langsung lenyap seketika dari hadapan mereka hanya dengan satu kali mengibaskan sepasang sayap pelangi itu.
Debu bertebaran di mana-mana ketika tubuhku telah berpindah secara cepat, lebih dari 10 tombak ketika sayap pelangi itu aku kepakkan.
Aku melayang, terbang tinggi di antara awan-awan. Kemudian aku merapalkan mantra sehingga pandanganku menjadi lebih tajam pada ketinggian ini.
Aku melihat tiga sosok itu bandit-bandit Tengkorak Hitam itu, berjalan mengendap-endap di atas tebing tinggi di sisi kanan, mungkin berdiskusi.
__ADS_1
Kemudian mereka saling memisahkan diri. Yang satu berpindah ke tebing bagian kiri dan yang satu turun menunggu di ujung jalan, celah sempit satu-satunya penghubung Gurun Atulla dengan dunia luar.
Aku tertawa kecil di dalam hati mengejek kelakuan bodoh 3 Bandit Tengkorak Hitam itu. Mereka tahu sama sekali, kalau dengan diam-diam aku mengawasi mereka, melihat dan mencatat apa yang mereka rencanakan.
Sepertinya aku akan membuat kejutan bagi Bandit -bandit tu. '
Lihat saja apa yang akan terjadi' batinku mencemooh.
Aku memilih target, seorang laki-laki yang berjalan ke penghujung jalan sana. Dia kupilih karena menurut pandanganku dia adalah yang terkuat di antara mereka bertiga.
Ketika aku dilanda rasa bosan, merasa eksekusi dua kawanku terlalu lama, sekonyong-konyong aku ingin bermain-main dan menakut-nakuti pria yang bersembunyi di ujung jalan itu.
Ketika malam semakin dingin dan angin-angin padang gurun menerbangkan debu, aku Lantas ikut-ikutan mengibaskan the Wings of Rainbow ini kencang-kencang, menimbulkan lebih banyak lagi abu menerpa pria yang bersembunyi di ujung jalan sana.
Aku tertawa keras-keras ketika melihat wajah penuh teror, mata terbelalak penuh rasa takut. Ketika aku melihat tangan pria itu bergerak, dia melepaskan sarung yang menutupi golok itu, dengan spontan aku lantas memanggil api dalam satu mantra penghancuran.
"Fire Arrow !"
Panah penuh api menyala-nyala, itu berwarna biru bercampur putih, seketika muncul dari kehampaan siap terlepas dari tangan kananku.
Dengan satu lambaian kecil anak panah berlapis api sihir itu terbang cepat seperti bayangan menembus menembus malam. Tubuh pria yang kuduga sebagai pemimpin para Bandit itu hangus di bagian dada sebelum sempat melakukan tebasan golok.
Dia mati tanpa sempat mengeluarkan suara sama sekali. Hanya aura raut wajah ketakutan yang tersisa pada sosok yang setengah hangus itu.
Aku berjalan pelan-pelan setelah meninggalkan jenazah Pemimpin kaum Bandit itu berniat membuat kejutan selanjutnya bagi dua kawan bandit yang mati pertama tadi.
__ADS_1
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..