
Aku terantuk-antuk di dalam kereta kuda yang membawa kami, beberapa penumpang dari Kota Scorpio menuju Ibukota Negri Dorado yang juga bernama Kota Dorado atau juga sering disebut Kota Virgo.
Aku masih merasa sedih karena masih teringat jelas pelukan erat Adele ketika mengantarkan ku ketika kereta kuda kami menjemputku di rumah. Ketika itu, sambil memelukku, Adele memberikan sekantong uang yang kemudian aku hitung nilainya sebesar lima koin tembaga.
Kondisi keuanganku setelah dikurangi lima koin perak untuk biaya perjalanan dan menyewa seorang Knight, semestinya tersisa dua koin tembaga saja. Oleh karena aku sangat gembira dengan lima loin tembaga yang diberikan Adele sehingga setidaknya 7 koin tembaga akan membuatku tidak terlalu takut untuk terlantar di ibukota nanti.
Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, ketika aku kemudian melupakan kesedihan perpisahan dari Adele serta Kota Scorpio ku. Rasa antusias akan pertemuan dengan orang baru nanti, serta euforia akan melihat keramaian dan keindahan Ibukota Dorado - Virgo, membuatku melupakan dengan cepat semua kesedihanku.
Sebenarnya perjalanan menggunakan kereta yang memuat kurang lebih sepuluh - kami dapat langsung memotong jalan melalui Provinsi Taurus dan melewati Kota Taurus itu. Akan tetapi terdengar kabar kalau jalan menuju ke Provinsi Taurus saat ini mengalami kerusakan parah, akibat hujan yang tidak berhenti tercurah selama seminggu penuh.
Alternatif lainnya, jika kereta kami melewati Provinsi Cancer, maka perjalanan akan menjadi lebih panjang dan lama, karena harus melewati tiga provinsi sekaligus yaitu Provinsi Cancer, Provinsi Gemini, lalu Provinsi Taurus, baru kemudian menuju ibukota Dorado yaitu Kota Virgo. Dan tentu saja, waktu perjalanan akan menjadi dua kali lebih lama dan biaya akan makin membengkak.
Kusir kereta lantas memilih melintas Provinsi di sebelah barat daya yaitu Provinsi Aries sebagai alternatif pilihan lainnya. Perjalanan melewati Provinsi Aries memang sedikit beresiko karena sepanjang jalan di jalur pesisir terdapat hutan pohon kelapa, yang konon terlalu rawan dengan serangan mahluk-mahluk liar dan ganas. Serigala misalnya.
Meskipun itu hanya serigala, namun kusir kereta kami tidak memandang sebelah akan bahaya serangan makhluk buas seperti serigala, seperti yang dituturkan oleh para pelintas lainnya. Petugas kereta kami seperti yang aku ceritakan awal tadi, memang sengaja menyewa seorang Knight atau petarung guna melindungi perjalanan kami dari serangan serigala itu.
Malam pun tiba dan kami belum lagi melewati separuh perjalanan menuju Kota Aries, dan kusir kereta meminta kami untuk beristirahat, karena dua kuda yang menarik kereta kami juga membutuhkan waktu istirahat dan makan rumput jerami yang telah disediakan guna mengembalikan energi yang terbuang selama perjalanan.
"Sebaiknya kalian tidak pergi jauh-jauh dari api unggun ini.
Ada banyak mahluk aneh tak terduga yang kemungkinan dapat membuat kamu terluka dan bisa berakibat lebih fatal lagi" kata kusir kereta setelah dia selesai menyiapkan api unggun.
Api menyala dengan tinggi, yang memberi kehangatan setelah kusir dan knight membakar kayu bekas pelepah kelapa yang banyak berserakan di pinggir jalan.
Aku duduk dekat-dekat dengan api unggun, sambil diam-diam melirik Knight yang di sewa kusir kereta itu. Wajahnya tidak terlalu nyata terlihat, karena tersamar dengan semacam tudung berwarna gelap, selaras dengan jubah hitam yang dia kenakan.
"Apakah kamu pergi ke Kota Dorado untuk menerima pekerjaan? Ku dengar banyak gadis-gadis Kota Scorpio yang pergi ke ibukota untuk bekerja sebagai perempuan bayaran.
Gadis-gadis Kota Scorpio kami memang terkenal hangat diatas ranjang sehingga menarik minat pria hidung belang di ibukota" kata seorang perempuan gemuk yang mengenakan gelang dan kalung emas besar-besar secara mencolok. Meskipun tampak mencolok, namun aku menduga semua gelang dan kalau yang dia kenakan adalah barang imitasi.
__ADS_1
Aku melirik ke perempuan tidak menarik yang berusaha membuka pembicaraan dengan ku, namun dia membuat kesalahan dengan mengkritik ku di awal percakapan.
"Seorang yang benar-benar kaya, tidak nanti akan secara gegabah mengenakan barang berharga dan memamerkannya dengan terang-terang seperti babi gemuk ini" batinku balas menghina di dalam hati, karena aku tak berdaya untuk melakukan konfrontasi secara terang-terangan.
Dia bahkan menambahkan kata-kata kritikan tanpa merasa segan, apakah aku akan tersinggung atau tidak.
"Namun sepupuku di ibukota berkata bahwa pria-pria kaya dan para bangsawan di sana tidak tertarik dengan perempuan Han, atau keturunan Han.
Orang-orang Negeri Hydra itu terlalu banyak mempraktekkan tenung dan sihir, sehingga orang menjadi takut menjalin hubungan mendalam dengan Orang Hydra" perempuan itu berhenti berceloteh sambil menarik nafas dalam-dalam. Dia terlihat ngos-ngosan dan suara nafasnya demikian keras seperti suara babi.
Aku berusaha memasang wajah tidak terlihat jijik ketika perempuan gemuk itu mencoba untuk melanjutkan kritikannya, dan berharap perempuan itu sadar jika aku enggan dengan cerita bodoh penuh kritikan tidak jelasnya itu.
"Kau tahu bukan? Semua pria di ibukota terlalu takut kalau mereka akan kena tenung atau jampi-jampi pengikat cinta jika berhubungan dengan orang-orang Han.
Mendengar cerita sepupuku itu, aku menerka, paling-paling kau hanya akan menjadi pelayan bar atau di satu kedai makanan kecil di ibukota nanti.. Mungkin warna rambut hitammu yang terkesan jahat...."
"Cukup !" Aku menjerit keras meminta perempuan segemuk babi itu menghentikan celotehannya. Aku menarik keluar belati dari saku tersembunyi di celana panjang ku dan menikam tanah keras dimana aku duduk.
Perempuan gemuk itu terdiam seketika. Dia sepertinya baru mulai tersadar kalau aku telah menjadi marah dengan kata-katanya sembrono nya itu. Dia lalu membuang mukanya dengan mimik yang terlihat seperti tersinggung setelah aku menancapkan belati di atas tanah.
Aku mendengar babi gemuk itu menggumam dengan nada tidak puas,
"Anak-anak muda jaman sekarang benar-benar minim tata Krama!"
Meskipun demikian aku tak peduli. Bagiku yang terpenting adalah perempuan gemuk itu berhenti mengkritik dan tidak lagi berceloteh tentang keburukan orang-orang suku Han di Hydra sana.
Sementara itu, sayup-sayup terdengar lolongan serigala dari kejauhan. Dan waktu saat itu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, saat nya mahluk malam berkeliaran.
"Sebaiknya kalian masuk dan bersembunyi di dalam kereta !" titah knight berjubah gelap itu.
Bahkan tanpa diminta, sesungguhnya kami semua para penumpang telah bergegas masuk ke dalam kereta dan diam didalamnya dengan cemas.
__ADS_1
"Ayah.. aku takut" kata seorang anak perempuan usia sepuluh tahun. Dia memeluk laki-laki yang disebutnya ayah dengan erat. Memang kami semua dilanda rasa takut ketika mulai mendengar suara pertempuran di luar kereta.
Suara sabetan pedang terdengar diiringi suara pekik serigala yang mati ditebas pedang di tangan Knight itu. Namun aku merasa ada sesuatu yang aneh. Menurutku suara serigala yang melolong seperti tidak ada habis-habisnya.
Diam-diam aku mencoba untuk mengintip, apa gerangan kejadian yang terjadi di luar. Dadaku berdegup kencang ketika mengintip dan melihat Knight yang mengawal kami di kerumuni ada lima serigala putih yang besar-besar.
"Jika tidak dibantu, aku ragu apakah Knight itu akan mampu bertahan melawan lima serigala besar itu" batinku.
Pelan-pelan dengan mengendap-endap aku membuka pintu kereta diiringi teriakan tertahan penumpang lainnya pertanda mereka tidak setuju dengan keputusanku untuk keluar, tapi aku tidak peduli. Jika tidak ada satu orangpun yang ikut bertempur melawan mahluk itu, aku yakin Knight aku lambat laun akan letih lalu kalah dengan keganasan serigala putih. Jika Knight Itu tewas nanti, hanya masalah waktu saja bagi kami seisi gerbong kereta untuk menyusul dia mati.
"Turun dan ikut bertempur tidak akan ada bedanya dengan jika menunggu di dalam kereta, lalu pelan-pelan kami akan kami kelaparan dan keluar dari gerbong untuk menyerahkan nyawa kepada makhluk terkutuk itu" maki ku di dalam hati. Mengendap-endap aku mendekati kumpulan serigala darinarah belakang.
Tanpa aku sendiri sadari, dengan gerakan acak aku menghujam kepala serigala putih terdekat menggunakan belati yang aku beli di pasar. Gerakan seperti itu aku tiru dari gerakan pertempuran antara tiga sosok di lorong buntu Kota Scorpio, kala itu.
"Bles !" bunyi belati di tanganku menembus tempurung kepala serigala putih terdekat, yang tidak menyadari dirinya diintai dan menjadi sasaran belatiku.
Aku berusaha lari kembali kedalam kereta setelah membunuh dengan diam-diam, dan serigala yang paling dekat dengan keberadaanku tadi langsung mai.
"Aww !" jeritku
Saat ini aku merasa kalau kakiku terasa berat ketika celana panjang ku di tarik dan di gigit oleh satu serigala lainnya dengan ganas. Beruntung saat ini aku mengenakan celana pekerja dari bahan kanvas kasar yang keras, sehingga gigitan serigala itu langsung merobek kakiku.
"Tolong aku !" pekikku menggedor pintu kereta, berharap mereka yang di dalam membuka pintu. Namun semua itu sia-sia belaka. Tidak ada satu orangpun yang bersedia membuka pintu kereta dan membiarkanku bersembunyi di dalam kereta itu.
Lebih parahnya lagi, aku mendengar cacian dari suara yang amat ku kenal.
"Matilah kau, perempuan laknat. Kesombongan mu berbuah manis dan membawamu pada kematian"
Itu adalah suara perempuan gemuk tadi. Aku menjadi pusing. Bagaimana tidak? Aku membunuh serigala ini demi membantu Knight dan juga turut mengambil bagian menyelamatkan orang-orang di dalam kereta itu. Namun yang kuterima sebagai bahasa bukannya rasa terima kasih, melainkan cacian dari perempuan gemuk itu.
Bersambung.
__ADS_1
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.