
Hari ini adalah hari ketiga ketika aku dengan 2 kawanku ras duyung Ervin dan Alana Kakak beradik, saling berpisah. Pantai Oyster Beach jadi saksi air mata sedih ku gugur kala itu.
Meskipun telah lewat 3 hari berpisah, entah kenapa aku masih terbayang dan memikirkan keakraban di antara kami bertiga. Aku betul-betul merindukan wajah ramah Ervin dan manisnya Alana.
"Apakah aku sedang jatuh cinta? Atau ini hanya pelampiasan rasa rindu ku akan kampung halaman saja?" Aku bertanya-tanya di dalam hati.
Akan tetapi aku harus menghadapi kenyataan bahwa kini aku adalah tawanan, di penjara tapi bebas di Puri Lord Kravas ini.
Meski sedih, tapi aku tetap yakin bahwa suatu hari kelak 2 kawanku ras duyung itu akan datang mengunjungi ku. Hatiku sedikit terhibur ketika mengingat rumah keong ajaib yang diberikan Ervin. Tanpa sadar aku mengelus rumah keong itu, di dalam tas Antariksa ku.
Bukankah Ervin berpesan di kalau aku rindu akan dia dan Alana, aku hanya perlu mengusap-usap dan berkata-kata singkat. Pipi ku memerah ketika sadar sedang mengelus keong kosong itu.
Kata Ervin, meskipun mereka berada dalam jarak ribuan mil dari Pulau Minnetois, namun mereka dapat menangkap sinyal dan maksud Bahkan kata-kata rindu melalui telepati.
Akhirnya aku melewati hari dengan tenang. Lalu tidur pada malam harinya.
******
Hari itu aku bangun seperti biasa. Lalu aku pergi berlatih di ruang tempur di Puri.
Setelah aku mengamat-amati teknik tempurku, aku tersadar akan kemajuan ku di dalam melakukan gerakan Pedang Abadi.
Aku sendiri terkagum-kagum akan kecepatan pedang ku, yang kini semakin cepat dua kali lipat dibanding ketika aku baru pertama kali datang dari Benua Casiopea.
Mungkin teknik tersebut di dalamnya mengandung unsur kelincahan atau evasion yang sangat diperlukan oleh ahli pedang seperti kaum assassin atau pemanah.
Saat ini, meskipun kemampuan sihir ku telah diblokir oleh kalung ilusi itu akan tetap aku benar-benar sangat memperhatikan dan melatih element yang namanya kelincahan.
Kelincahan bagi seorang petarung atau seorang magus adalah hal yang mutlak diperlukan. Di dalam pertarungan, kelincahan juga merupakan elemen atau skill yang sangat vital bagi para petarung yang mengenakan baju besi ringan atau mengenakan baju kulit yang berlapis-lapis dan berat, agar bergerak lincah menghindari tusukan pedang atau terjangan panah lawan.
Aku duduk mengaso, dengan peluh bercucuran. Baju ku basah kuyup. Aku berpikir tentang Teknik Pedang Abadi ini. Kenyataan bahwa yang aku pelajari saat ini hanyalah bagian dari kulit-kulit ilmu pedang Abadi kepunyaan ras Vampire itu.
Tentu saja ada larangan untuk mengekspos teknik sesungguh nya dari Pedang Abadi ini. Akan tetapi aku cukup puas dan merasa bahwa teknik pedang ini membuka banyak wawasanku di dalam menarikan Tarian Perang dengan Pedang.
Kembali aku berdiri dan mengulangi semua gerakan pedang. Sosok ku lenyap dalam balutan kilatan pedang.
Ketika aku tengah sibuk dengan pelatihan ku, aku tidak menyadari ada terjadi keributan yang terjadi di luar ruangan latihan tempur itu.
Lambat laun aku tersadar. Lalu aku menghentikan pelatihan Pedang Abadi ini ketika mendengar bunyi pintu dibanting keras-keras.
Seketika itu juga aku kaget, melepas pedang dan memasang kuping di pintu untuk mendengar percakapan di balik pintu, arahnya dari ruang depan.
"Kravas !"
"Itu adalah suara Kravas !" batinku.
"Apakah vampir galak itu telah selesai dengan segala urusannya?
Dan apa gerangan yang membuat dia sampai marah, mencak-mencak seperti itu?"
__ADS_1
Rasa ingin tahu ku amatlah besar, tetapi aku tidak berani untuk keluar dari ruang latihan.
Jantungku berdegup dengan kencang ketika samar-samar aku mendengar Kravas demikian keras berteriak kasar mengucapkan kata-kata
"Jala tali Rami !"
"Aku mencari tahu siapa yang lancang mengoyak jala tali rami sihir itu?"
Aku membatin,
"Apakah yang dimaksud itu adalah jala Rami yang sengaja dipasang di laut pantai Oyster, jala Ra.i yang mana aku menyelamatkan Ervin dan Alana dan mengoyaknya dengan belati?"
"Lalu apakah perangkat tersebut memang dengan sengaja dipasang oleh laki-laki vampir ini?" batinku penasaran.
Tapi aku tak berani keluar ruangan. Aku memilih berdiam diri saja di dalam ruangan pelatihan itu. "Ini tempat teraman!"
Aku menutup mata dan berharap semoga Vampire itu cepat reda dari kemarahan, karena aku benci keributan.
Waktu berlalu dan aku mulai bosan, karena tidak melakukan apa-apa selain duduk dan menyandarkan punggungku di tembok, menunggu suasana mereda.
Satu jam kemudian ketika aku mendengar keadaan telah hening, dan sepi dan dengan sedikit keberanian aku keluar dari ruangan itu. Sambil mengendap-endap aku pun melangkahkan kaki ke dapur, seperti biasa menemui Betty teman baikku itu.
"Dari mana saja kamu?" kata Betty tanpa menoleh, dengan tangan yang tetap tekun mengiris-Iris Sayuran dan rempah-rempah, juga daging yang akan dimasak untuk makan siang nanti
Aku bersuara manja, lalu kemudian memeluk Betty dari belakang. Kataku,
"Tentu saja aku harus berlatih teknik pertempuran sesungguhnya. Aku mau memendam cita-cita untuk menjadi seorang Ksatria petarung.
"Aku tidak percaya.
Aku malahan lebih percaya jikalau kau berkata bahwa kedatanganmu ke dapur kini hanyalah untuk mencari tahu apa yang terjadi, penyebab semua keributan di ruang tamu tadi bukan?" kata Betty menghentikan kegiatannya, lalu menatapku mencemooh.
Rahasia kecil ku terbuka sudah di hadapan Betty. Jelas bahwa aku tak perlu lagi berpura-pura dan menyembunyikan keingintahuan ini.
Dengan suara yang manja seperti anak kucing, kembali aku merangkul Betty dan berkata.
"Kamu ini mirip seorang peramal atau ahli Nujum pembaca sifat. Kamu begitu tepat menebak keinginanku" kata ku tertawa.
"Hal sepele seperti itu tidaklah perlu untuk menjadi seorang peramal nasib atau ahli Nujum.
Hanya dengan melihat raut wajahmu saja semua orang langsung dapat menerka bahwa kau datang ke sini penuh dengan kepura-puraan.
Yang sesungguhnya adalah kau datang untuk mencari tahu apa yang penyebab keributan tadi bukan?" Kata Betty, kini kembali ramah. Mungkin dia tersanjung pujian ku kalau dia pandai meramal.
Aku melihat kesempatan. Secepatnya aku menyosor Betty.
"Tolong Betty" kataku.
"Jelaskan saja, tidak perlu memarahiku. Pliss ... aku hampir mati di sini karena penasaran dengan penjelasanmu" kata ku merajuk
__ADS_1
Betty mengalah lalu bertutur
"Kravas baru saja pulang dari. suatu tempat yang dinamakan Ponris Atoll.
Itu adalah daerah perbatasan di antara wilayah kekuasaan ras vampir dan ras Dark Elf
Rupa-rupanya terjadi ketegangan antara Kravas dengan pihak penguasa Dark Elf.
Belum sampai di situ ketika dia pulang ke Puri ini. Kravas menemukan bahwa perangkap jala sihir yang sengaja ditebar di laut tepi pantai Oyster itu telah terkoyak-koyak.
Seperti jala Rami itu dengan sengaja dirusak oleh seseorang" kata Betty
Hatiku mencelos. Aku betul-betul langsung merasa bersalah. Rupa-rupanya kravas, memang sengaja memasang perangkap itu untuk menangkap penyusup yang ternyata adalah Ervin dan Alana.
Akan tetapi aku menemui kenyataan bahwa Ervin dan Alana bukanlah makhluk berbahaya. Mereka berdua bahkan mungkin adalah makhluk ras duyung yang amat sangat ramah, dan bersahabat denganku.
Bahkan kalau disuruh memilih, aku lebih memilih Ervin daripada memiliki Kravas yang dingin dan kejam itu, batinku.
Aku tak akan membuka rahasia ini kepada Betty. Karena aku tahu dia adalah perpanjangan tangan dan mata-mata Kravas.
Sambil memasang wajah Penuh Kepalsuan aku pun berpura-pura terkejut
"Oh... Siapakah yang demikian lancang merusak jala yang telah dipasang oleh Lord kravas itu?
Aku berharap itu bukanlah bagian pekerjaan dari orang-orang yang berada di dalam Puri ini" kataku meyakinkan, namun hati kecilku merasa bersalah
Betty hanya mengangkat bahu seolah berkata bahwa dia pun tidak tahu apa-apa
Sementara kami berdua diam dalam keheningan, setelah menebak-nebak siapa sosok yang berani merusak jala yang disebar oleh kravas itu tiba-tiba pintu dapur terbuka.
Lalu aku merasakan suatu aura yang sangat menekan dan seperti biasa, itu membuatku bergidik. Aku yakin kalau itu adalah Kravas. Sudah jelas kalau dia telah berada di depan pintu. Aku tahu yakin itu.
Aku terus berpura-pura seakan-akan tidak menyadari dengan kehadirannya, dan tetap memalingkan wajah sambil berbicara Tanpa arti kepada Betty.
Mendadak...
Suara keras terdengar, dingin dan berupa suatu perintah.
"Apa yang kamu kerjakan hari ini Lea !
Dapatkah kau ikut denganku? Aku ingin menunjukkan kepadamu sesuatu" kata Kravas.
Dengan jantung yang berdebar kencang, ibaratnya seperti gendang yang ditabuh bertalu-talu aku berbalik badan lalu menatap Kravas.
Mungkin jika orang melihat wajahku saat itu, wajahku terasa menjadi kaku dan pasti pucat seperti kertas. Apakah perbuatanku telah ketahuan?
Perbuatan lancang ku yang mengoyak jala-jala Rami yang dipasang oleh Kravas.
Bersambung.
__ADS_1
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..