
Aku memasuki kota Askabh dengan perasaan antusias, bahkan mungkin sedikit berlebihan. Kota Azkabh ini adalah satu kota yang teramat sangat modern, memiliki arsitektur yang sangat menawan jauh berbeda dari kota-kota sebelum yang pernah aku datangi.
Meskipun kota ini seharusnya terlihat tandus, ciri khas Benua Upios, namun ciri-ciri tandus tadi tidak berlaku untuk kota Azkabh.
Sepanjang jalan masuk menuju pusat kota penuh dengan Pohon-pohon palem di kiri kanan jalan. Kemudian tatkala mata memandang ke taman-taman kota itu penuh dengan Pohon-pohon Zaitun dan Pohon Ara membuat sejuk perasaan.
Total kesimpulanku adalah Kota Azkabh ini tidak sepanas Kota Sahireb, dan Kota Azkabh adalah Kota termodern yang pernah aku kunjungi.
Jika aku yang sudah sering melanglang buana, berpindah dari satu kota ke kota yang lain, akan tetapi tetap saja terpukau akan keindahan Kota Azkabh ini, kalian dapat membayangkan reaksi Shana gadis dusun yang seumur hidupnya hanya tinggal di kota kecil Sahireb.
Sana tak henti-hentinya berseru kaget. Raut wajahnya berulang kali menampakan perubahan roman berbeda - terkejut melihat kecanggihan teknologi di kota Azkabh.
Bangunan-bangunan di kota itu terlihat tinggi-tinggi, semua fitur-fitur bangunan secara detail dikerjakan oleh seniman ahli membuat kesan antik tapi modern ketika menatap bangunan demi bangunan.
Di kota ini untuk pertama kalinya aku dan Shana melihat ada banyak kapal terbang di angkasa yang kemudian berhenti di alun-alun kota yang mereka sebut sebagai Pelabuhan mengambang.
"Shana lihat. Ini sangat ajaib sepengetahuanku kapal itu hanya berlayar di lautan atau di air tawar sungai dan danau.
Tapi kini di kota modern ini aku pertama kali melihat kapal yang dapat terbang" kataku seperti orang dusun kepada Shana.
Jika aku adalah orang dusun orang seperti apakah Shana ini pantas disebut? Dia hanya menjawab seadanya, matanya liar melihat ke sana kemari mirip seperti rusa Baru kali ini masuk kampung.
Wush ! Wush !
Sesuatu berkelebat cepat menimbulkan angin pertanda terjadi pergerakan penerbangan jarak rendah.
Kali ini aku melihat orang-orang terbang di atas karpet kecil, itu terlihat indah seperti dalam kisah-kisah dongeng yang tak pernah terbayangkan.
Aku memang pernah menaiki mesin naga ketika berperang melawan Dark Elf di lautan Kalumish.
'Akan tetapi ini hanyalah sebuah kain atau karpet belaka yang mampu menerbangkan manusia?' tatap ku tak percaya makin kagum dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di kota Azkabh ini.
Belakangan aku tahu benda itu disebut dengan karpet terbang, mirip seperti artefak atau jimat sihir yang digunakan oleh orang-orang kaya yang mampu membeli karpet ajaib itu.
__ADS_1
Aku bersyukur dalam hati karena memiliki The Wing of Rainbow, satu artefak yang kupanen dari Harpiest monster mengerikan di Gurun Atulla.
Kami menyusuri jalan memasuki keramaian menembus pasar yang disebut bazaar, terlihat ramai penuh orang-orang berbagai macam ras.
Memang aku sejak kecil mendengar kisah-kisah akan ras-ras mula-mula di benua Casiopea kami. Ras Vampir dan Ras Duyung pernah aku jumpai bahkan menjadi sahabat atau musuh ketika masih tinggal di kepulauan Lautan Kalumish.
Akan tetapi Ras Aviance atau Ras Unggas atau Ras Burung itu sama sekali belum pernah aku jumpai. Di Bazaar Kota Askabh ini aku melihat ras unggas atau avianse itu.
Kali ini Ras Avianse yang aku lihat adalah seorang perempuan yang memiliki ekor mirip seperti burung, dia juga memiliki sayap yang disembunyikan di punggungnya.
Aku tertegun ketika tahu bahwa perempuan Ras Aviance itu ternyata seorang pelacur yang tengah menjajakan diri di tengah-tengah pasar Kota Azkabh.
Aku melongo tak percaya tatkala melihat perempuan ras burung itu berlaku demikian genit ketika seseorang mungkin dari ras raksasa memiliki badan tinggi besar menariknya dan masuk ke dalam losmen di tengah bazar yang ramai itu.
'Dia menjajakan diri pada siang hari yang bolong seperti ini?' Batinku tak percaya.
'Apakah ini legal di kota Azkabh? Seseorang jelas-jelas menjajakan diri pada siang hari bolong, dan lantas membiarkan dirinya dibawa pergi oleh laki-laki dari ras lain'
Kami lantas memilih untuk menginap di salah satu hotel yang terlihat tidak terlalu buruk tapi juga tidak terlalu bagus bernama Drexx inn and cafe.
Mungkin dengan rileks sejenak, duduk-duduk di cafe sambil menikmati anggur dan menatap orang-orang yang lalu lalang akan membuat pikiran rileks setelah bertahun-tahun rasanya hidup seperti orang dusun di kota Sahireb.
Aku bergegas mengganti pakaianku dari yang semula terlihat seperti tukang pukul, kini mulai compang-camping akibat perjalanan panjang melintasi gurun menuju Kota Azkabh ini.
Aku mengoleskan pemerah bibir yang khusus aku beli di pasar of Wonder pada Gurun Atulla, yang menurut penjualnya seorang perempuan muda berkata bahwa benda ini adalah selundupan dari benua di barat sana.
"Perempuan-perempuan di benua Barat amat gemar mengenakan pemerah bibir seperti ini, yang konon katanya mengandung Ilmu pengasih untuk menggaet laki-laki"
Terpikat akan bujuk rayu dari perempuan itu aku membeli ramuan pemerah bibir ini yang konon mengandung Ilmu pengasih menjerat laki-laki.
Akan tetapi hasilnya ternyata amat mengerikan. Aku menatap ngeri melihat wajahku di depan cermin setelah ramuan pemerah bibir itu aku oleskan di Bibirku.
'Mengapa bibirku terlihat berwarna gelap mirip seperti seorang pembunuh bayaran bahkan wanita kekasih drakula' batinku jijik.
__ADS_1
Buru-buru aku menghapus pewarna bibir itu, tak ingin diriku disangka sebagai seorang pembunuh bayaran oleh orang-orang Kota Azkabh, kota yang baru saja aku datangi ini.
Namun betapa sialnya diriku pemerah bibir berwarna merah gelap itu tak mau hilang meski aku telah mengusapnya berulang kali menggunakan kain kasar basah.
Sambil memaki dalam hati aku menyerah membiarkan bibirku berwarna mengerikan mirip seperti pembunuh bayaran, lantas mengenakan gaun dari kain satin warnanya Merah Gelap mirip seperti warna darah.
Kini aku terlihat dramatis mirip seperti Ratu iblis yang siap mencabut nyawa siapapun yang mencoba menentang aku.
'Ah sudahlah... lagi pula tidak ada seorangpun yang kenal dengan diriku di tempat ini.
Lagi pula dengan berdandan seperti ini cukup menguntungkan. Laki-laki hidung belang tidak nanti akan mencoba menggangguku secara sembarangan'
Rambut pendek ku yang dahulu aku Tata di salon kecantikan kota Virgo - yang berwarna biru cerah, kini telah tumbuh panjang menyisakan dua warna yang berbeda - aneh pada rambut ku yang kini panjang sepunggung.
'Aneh.. bagian atas rambut berwarna gelap dan bawah berwarna biru terang' tawaku melihat penampilan aneh dan dramatis ini.
' ini pasti aneh akan tetapi aku tak peduli batinku sambil mengambil satu bakiak tinggi berjalan menuruni tangga dengan niat rileks dan menikmati minuman anggur di Cafe Drexx Inn.
Sepanjang jalan ketika aku menuruni tangga-tangga lantai 2 semua orang menatapku dalam dengan wajah yang sulit kutebak apa maksud hati mereka.
Akan tetapi hal ini lama-kelamaan membuatku menjadi Jengah ketika makin banyak yang menatapku dalam pandangan sulit diterka.
'Mungkin mereka merasa aneh, karena terlihat seperti Ratu sihir' batinku menghibur diri.
Akan tetapi Jantungku berdebar kencang ketika aku melihat samar-samar satu sosok perempuan mirip seperti Zalrin Ozennust, gadis vampir yang mengejar-ngejar Kravas dengan niat untuk menjadi istrinya.
'Dia adalah tiket perjalananku untuk pulang kembali ke benua Casiopea' batinku sambil mengejar ke arah perempuan yang menggandeng tangan satu laki-laki menghilang di ujung jalan Bazaar.
"Berhenti" teriakku.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..
__ADS_1