Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Misi Ke Reruntuhan Purba


__ADS_3

  Aku mengurung diri seharian, mencoba menghafalkan baris-demi baris mantra sihir Tangan Racun Terkutuk itu. Meskipun ini hanyalah satu mantra penyerangan level nol - namun tidak akan ada seorangpun yang dapat mengaktifkan mantra ini, meskipun dia membaca dan mengucapkannya berulang kali.


   Mantra sihir hanya akan bereaksi oleh seorang penyihir, atau calon penyihir yang memiliki kekuatan energi sihir yang kami sebut magis, di dalam dirinya. Tentu saja ketika selesai merapalkan mantra ini lalu kemudian mantra bereaksi, sebagian besar energi pemulan seperti aku aku kehabisan tenaga. Diperlukan beristirahat minimal enam jam sebelum aku kembali pulih dan dapat melakukan mantra serangan ini sekali lagi.


"Tangan Beracun !" titahku sambil menunjuk sebatang pohon ukuran dua kali lengan ku. 


   Yasmin dan Salome ternganga ketika melihat satu tangan hitam jelek, berukuran agar besar muncul dari kehampaan. Kemudian tangan jelek sebesar penutup panci itu memuntahkan cairan kental hitam, langsung menyiram batang pohon - di Hutan  kecil di belakang Akademi.


   Yasmin dan Salome langsung muntah-muntah ketika melihat reaksi atas cairan gelap yang ditumpahkan tangan jelek tadi ke arah pohon besar itu. Pohon besar itu dengan cepat menjadi layu, lalu mengering dengan batang yang menjadi susut kecil, serta daun-daun kuning kecoklatan, pertanda layu dan tiada unsur kehidupan di dalamnya.


"Seberbahaya itukah teknik kutukan dan mantra-mantra kalian kaum magi itu?" tanya Yasmin penasaran.


   Aku tidak menyahut melainkan mengepalkan tinju dan mempersilahkan Yasmin dan Salome melihat apa dibalik kepalan tangan ku itu.


"Blep !"


   Kedua gadis itu terkejut, ketika melihat bola api sebesar buah jeruk bali menyala-nyala di tangan kananku.


"Bukankah ini terlihat indah bukan?" kata ku sambil memainkan bola api itu.


   Yasmin dan Salome sebagai seorang knight, tidak menjadi takut melihat bola api itu. Malahan kedua nya berulang kali memuji ketrampilanku sebagai pemanggil api. Tentu saja di balik puji-pujian dua kawan sekamarku itu, aku tidak memberi tahu bahwa kekuatanku sebagai pemanggil api, saat ini diperkuat dengan JImat Penguat Gelombang sihir, yang ku beli seharga 100 eliksir menengah.


   Yasmin dan Salome bertepuk tangan keras-keras, mengagumi dan menyanjungku. Tentu saja aku bangga karena dipuji akan ketrampilanku. Akan tetapi aku tidak lantas menjadi takabur. Ketika kedua gadis itu meminta ku untuk memperagakan teknik sihir yang lain, aku mengatakan semua ketrampilanku telah habis.

__ADS_1


   Mereka tidak menyangka sama sekali akan keajaiban yang dapat dilakukan seorang pemanggil api seperti diriku. Selain dapat membuat kebakaran dengan api besar, sesungguhnya aku dapat menyalurkan sihir api ini kedalam senjata yang aku gunakan. Dan tentu saja, efek senjata yang di beri kekuatan api, akan jauh lebih kuat, disamping sebagai pemanggil api, aku dapat membuat senjata lawan menjadi debu, ketika berbenturan melawan senjata ku yang menyala-nyala, dalam  balutan api sihir.


   Kami pun pulang lalu aku melanjutkan pelatihan siulian ku - untuk meningkatkan energi sihir di dalam diriku, yang kemudian ketika energi sihir meluap, aku dapat menembus kemacetan pelatihan sihirku, menjadi Asisten Sihir level satu.


"Mungkin dengan melakukan pertempuran lagi, aku sudah dapat menembus dinding kemacetan di meridian ku" kata ku kepada diri sendiri.


   Namun aku terlalu bosan untuk pergi seorang diri ke Hutan Cemara Angin, dan aku lantas mendaftarkan diri untuk menjalankan misi akademi, yang kemungkinan akan melibatkanku di dalam pertempuran - yang memang sengaja aku cari-cari.


   Aku berdiri di papan pengumuman akademi, dan memperhatikan ratusan bahkan lebih dari seribu tulisan kecil-kecil yang isi nya adalah misi akademi serta kompensasi yang akan diterima jika misi selesai.


"Apakah kamu seorang penyihir?" tanya seorang cowok kepadaku.


   Aku memperhatikan cowok itu lalu mulai menilai. Rambutnya ikal, panjang sebahu dan diikat membentuk kuncir kebelakang. Wajah nya terlalu putih dan pucat, seperti orang yang kekurangan sinar matahari. Dia tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dariku yang berukuran  170 sentimeter.


   Namun diluar daripada semua itu, aku menyukai mata birunya yang terlihat kuat, sepadan dengan tubuh tinggi namun berotot dan langsing itu.


"Namaku Cal -  Asisten Knight level satu. Kami berempat akan menjalankan misi akademi di reruntuhan kuno Kota Virgo, untuk membunuh mahluk pengganggu yaitu Imp dan hantu penasaran" kata Cal dengan setengah membujukku.


"Tim kami telah genap empat orang knight - maksudku Asisten Knight Level satu, namun kami kekurangan penyihir.


   Jika kamu memang berniat, mari bergabung dengan tim misi kami. Jangan takut, Point kontribusi di misi yang kami ambil ini terbilang cukup tinggi" kata Cal mengakhiri ceramahnya.


"T-tapi aku hanya seorang calon penyihir. Aku bahkan tidak memiliki level sama sekali" kata ku memperingati Cal terlebih dahulu.

__ADS_1


   Sambil tertawa santai Cal menenangkanku..


"Jangan kuatir. Asalkan kamu dapat merapalkan satu mantra penyerang saja, itu telah memenuhi syarat bergabung dengan tim aku" jawab Call dengan wajah cerah. Dia senang ketika mendengar aku mampu menggunakan mantra serangan.


   Dan aku menambahkan, sedikit membanggakan diri aku berkata.


"Sesungguhnya aku bukan sekedar calon penyihir perapal mantra saja.


   Aku seorang pemanggil api. Dengan api di tanganku, ku pikir aku akan jarang menggunakan Mantra Penyerang itu.


   Well, kau tahu bukan? Menggunakan mantra sihir penyerang seperti itu, akan memakan banyak sekali energi sihir.


   Aku tak mau menjadi beban kalian, setelah aku kehabisan tenaga karena merapal satu mantra serangan saja" aku diam sebentar.


   Akan tetapi Cal tetap bersikeras mengajakku ke dalam tim dia untuk menjelajah reruntuhan kuno, mendesakku berulang kali.


   Pada akhirnya aku luluh dan mendaftarkan misi tugas Akademi Militer - pada petugas di meja petugas misi.


"Lea - pengendali api, calon penyihir akan mendaftarkan misi" kataku kepada petugas yang kelihatannya sibuk. 


Bersambung.


   Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2