Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Paviliun Musim Panas yang Menakjubkan


__ADS_3

Aku lantas pulang ke Hotel Drexx Inn tempat aku menginap. Sementara Shana Gadis pengikutku itu telah menunggu lama di depan hotel dengan wajah cemas.


"Nona Lea, apa yang terjadi?. Mengapa anda terlihat begitu marah, setelah sebelumnya meninggalkanku tanpa pamit?" kata Shana yang belum hilang rasa cemasnya.


"Sesuatu telah terjadi. Ada satu kelompok di kota ini yang berniat menahanku dan menjadikanku sebagai perempuan bayaran" kataku masih uring-uringan.


"Aku sendiri heran, dari mana kelompok orang yang menghadangku itu tahu bahwa aku ini ada di Kota Azkabh dan berniat menangkapku" kataku heran.


Tapi aku tidak memperpanjang masalah itu dengan terus berkeluh kesah.


"Lebih baik kita duduk di Bar Drexx Inn sambil mendengar alunan musik khas kota Azkabh dan menikmati minuman segar" ajakku pada Shana.


Tak Berapa lama kemudian aku mulai melupakan semua kejadian itu. Lagi pula 10 laki-laki kasar itu telah kubuat terluka tak bisa melihat lagi.


Tenggorokanku terasa segar tatkala anggur manis yang mengandung alkohol itu mengalir dan masuk memenuhi lambung ku. Pikiranku langsung terasa jernih setelah efek dari alkohol mulai bekerja.


Hingga malam menjelang aku dan Shana Masih betah duduk-duduk di cafe sambil menikmati minuman beralkohol. Sejak meninggalkan kota Scorpio, aku tak pernah lagi menenggak minuman beralkohol, karena dianggap masih di bawah umur.


Kini di kota Azkabh, dengan statusku sebagai penyihir level 3, masalah usia tidak lagi diperdebatkan. Aku dengan bebas dapat memesan minuman beralkohol, karena alasan bahwa terkadang untuk memperkuat energi sihir, beberapa ahli-ahli Spell Castor membutuhkan alkohol menjadi katalisator penguat mantranya.


Sesudahnya kami kembali ke kamar masing-masing dan tidur dengan pulas. Hingga esok harinya tatkala waktu menunjukkan jam 09.00 pagi Aku baru terbangun dengan mata bengkak.


Pintu kamarku diketok secara halus, dan seseorang terus berkata


"Nona Lea.. Apakah anda telah bangun?


Kami dari Hotel Drexx Inn, ingin menyampaikan pesan khusus dari Tuan Muda Mortezza Fallah" begitu berulang-ulang suara perempuan itu berkata dengan sopan dari balik pintu kamarku.


Dengan mata yang masih bengkak karena pengaruh tidur larut serta pengaruh alkohol, aku membuka pintu kamarku dan menemukan seorang perempuan berpakaian rapi berdiri dengan sopan di depan pintu kamarku.


Usianya mungkin sekitar 35 tahun, Dia terlihat langsing dengan postur yang cukup tinggi, hidungnya mancung terlihat serasi dengan bibir kecilnya. Rambutnya ditata dengan disanggul kecil kemudian dijepit dengan jepitan berwarna perak berhiaskan batu-batu imitasi.

__ADS_1


Dia terlihat bersahaja, dengan dandanannya yang minimalis serta perhiasan murah.


"Perkenalkan namaku adalah Miss Anna, dan aku adalah manajer di Hotel Drexx Inn ini" dia membungkuk dan memberi hormat dengan sangat sopan.


Jelas menghadapi seseorang yang bersikap sopan, Meskipun aku sedikit terganggu tapi aku balas menyapanya dengan sopan.


"Miss Anna, bolehkah aku diberitahu apa yang menyebabkan anda di pagi-pagi benar ini, telah memaksa mengetuk pintu kamarku berulang kali, dan menanyakan keadaanku" Aku berusaha terdengar ramah.


"Maafkan kami Nona Lea.


Sesungguhnya ini bukanlah kehendak pihak Hotel Drexx Iin kami.


Akan tetapi tuan muda Morteza Falah telah menginstruksikan pihak hotel untuk membangunkan anda dan meminta nona untuk pergi memenuhi undangan tuan muda, di Paviliun Musim Panas, milik kelompok Konglomerat Emas" kata miss Ana tetap lembut.


Mendengar nama konglomerat emas ini, pikiranku lantas teringat pada 10 pria kasar yang kemarin memaksaku untuk menjadi selir tuan muda kelompok konglomerat emas mereka.


'Apakah Tuan Muda Morteza Fallah ini adalah sosok yang sama dengan tuan muda yang disebutkan 10 pria kasar kemarin itu?' hatiku dibuat penasaran.


Aku tahu benar tapi ketika aku menolak mentah-mentah undangan Morteza Fallah itu, imbas yang akan terjadi adalah pihak Hotel Drexx Iin - bahkan mungkin Miss Anna secara pribadi akan dipersulit oleh pihak tuan muda hidung belang itu.


***


Aku melangkahkan kakiku menaiki tangga-tangga di Paviliun Musim Panas kelompok Konglomerat Emas, yang mungkin lebih pantas disebut sebagai istana kecil dibanding Paviliun.


Diam-diam aku menghitung jumlah anak tangga yang berada pada angka 100, yang pegangan tangga semuanya dilapisi warna emas, entah Apakah itu adalah emas asli atau imitasi aku tak dapat membedakannya.


Ada air mancur kecil yang tinggi pancurannya kira-kira 2 tombak di kiri kanannya dihiasi patung malaikat mirip anak kecil, telanjang dan masing-masing memegang alat musik yang satunya memetik harpa dan yang lainnya meniup seruling.


Itu belum cukup sampai disitu Setelah tiba di anak tangga ke-100 aku harus berjalan menyusuri taman yang indah dihiasi bermacam-macam bunga yang baru kali itu aku lihat. Semuanya hanya pernah kulihat di gambar-gambar pada Akademi Dorado tatkala belajar tentang ilmu tanaman pengobatan dan tanaman hias.


Aku melirik terkejut ketika melihat bunga-bunga anggrek hutan tropis berdiri berjajar di tiang-tiang yang dibuat menyerupai kayu alami tapi sesungguhnya adalah imitasi. Sesudahnya adalah hamparan Bunga Lily dan Bunga Krisan, sebelum memasuki hutan Mini dipenuhi tanaman Osmanthus.

__ADS_1


Tampak air terjun mini yang dibuat tangan manusia tapi semuanya terasa alami, mirip seperti gambar-gambar yang sering kulihat di buku-buku perpustakaan Akademi Dorado.


Aku terkejut ketika mendengar suara siulan burung-burung, mengingatkanku pada malam ketika Menyusuri hutan cemara di belakang Akademi Dorado kami.


'Hanya orang kaya saja yang akan mampu membuat hamparan bunga-bunga asli mirip seperti pada habitatnya asalnya, juga hutan-hutan negri subtropis, terlihat mirip seperti hutan aslinya.


Terlebih lagi air terjun yang terlihat mirip seperti di hutan tropis, itu membuatku bertanya-tanya. Seperti apakah sosok tuan muda dari kelompok Konglomerat Emas ini? Dia pasti adalah seorang yang sejak lahir dengan sendok emas yang berada di mulutnya' pikirku menjadi makin antusias setelah takjub melihat semua demonstrasi kekayaan ini.


Kemudian pelayan pengantarku itu berhenti dan berkata bahwa aku dapat melanjutkan masuk sendiri ke aula konglomerat emas karena dia hanya dapat mengantar di tepi hutan Osmanthus buatan itu.


Aku memasuki Aula yang lantainya terlihat berkilauan, membawa hawa dingin yang terasa jelas, karena dibuat dari marmer pilihan asalnya dari negeri musim dingin.


Suara musik mengalun dalam irama lembut menenangkan pikiran tatkala Aku Makin mendekati aula Paviliun Musim Panas itu.


"Selamat datang Nona Lea, senang sekali anda mau datang memenuhi undangan tuan muda ini, di Pavilion musim panas kami yang sederhana" suara Seorang Pria Muda memecah lamunanku.


Seolah-olah pada babak pembukaan di teater, secara dramatis ada satu macam tirai yang terkuak, bergerak cepat dan berkesan seperti adegan drama.


Aku melihat seorang pria duduk di kursi penuh bantal tebal di kiri kanannya terdapat masing-masing perempuan dan laki-laki yang memegang kipas sangat besar, sibuk mengipas-ngipasi laki-laki itu.


Padahal saat ini ruang aula Paviliun musim panas itu terasa dingin, mungkin pengaruh marmer istimewa yang didatangkan dari negeri musim dingin.


Pria itu menebar senyumnya, bersikap manis dibuat-buat berusaha menonjolkan rahangnya yang terlihat keras dengan alis meruncing dan mata setajam elang. Bibirnya tipis dengan hidung mancung terlihat serasi, dengan penampilan baju mirip kaum tentara, dia pasti mampu membuat gadis manapun akan merasa kejang perut, ingin bertekuk lutut di kakinya.


Aku menatap Waspada, mencoba mencari jejak sihir atau ilmu pelet yang ada di ruangan itu. Tapi semuanya tidak terlihat wajar-wajar saja, yang berarti bahwa pesona itu memang alami adanya.


Hal yang membuatku lebih terkejut lagi adalah seorang perempuan yang duduk bersimbah di kaki laki-laki itu, matanya berulang kali dikejar-kejap kan kepadaku seolah-olah memberitahuku dengan kode-kode khusus.


Namun yang membuatku sangat terkejut, perempuan itu kenyataannya adalah Zalrin, gadis keturunan vampir yang menjadi musuhku di Pulau Minnetois Lautan Kalumish.


Bersambung.

__ADS_1


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2