Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
The Wing of Rainbow


__ADS_3

Aku melayang diatas udara Kota Sahireb. Hari ku penuh dengan bunga, rasa nya senang sekali.


Seperti teori yang aku pelajari, kemampuan terbang seperti ini hanya dimiliki oleh Magi level tinggi, yang memiliki artefak kuno atau disebut Noble Phantasm. Tapi aku? Lihatlah aku memperoleh keberuntungan melakukan transplantasi sihir atas sayap Harpiest.


Kota Sahireb dilihat dari ketinggian seperti ini, cukup menarik. Di kota ini aku mungkin bisa menjadi seorang yang disegani dengan level sihirku saat ini. Ditambah dengan kemampuan terbang ku, aku ibarat anak harimau yang di beri sayap. Kuat dan memiliki kelincahan yang mematikan untuk menjadi petarung.


Aku kembali ke kamar ku dan di sambut Shana. Dia memintaku untuk beristirahat karena luka akibat transplantasi masih belum pulih seratus persen.


Tapi aku tidak mengindahkan itu semua. Aku malahan mengajak Shana masuk ke laboratorium ku, dan mulai meracik bahan-bahan yang dapat membuka energi sihir Shana, agar anak itu bisa mengolah energi sihir, dan kelak menjadi seorang ahli sihir. Shana tentu saja mengucapkan terima kasih padaku akan hal ini.


Hari berlalu dengan cepat, tak terasa telah tiga bulan lamanya aku diam di Kota Sahireb setelah kepulangan dari misi membunuh Harpiest.


Sering kali Tuan Kota mengadakan pesta khusus, yang diperuntukkan buat semua ahli sihir dan Knight di Kota Sahireb. Di sana aku berkenalan dengan beberapa seperti :


Penguasa Kota : Rostam Tajik - Knight Level 3 - 55 thn, pria ini sudah aku kenali dan dia penyelenggara pesta.


Nama Knight ternama di Kota Sahireb :


Amin Nasirian - 40 th Knight level 3. Pria ini yang membantuku ketika mencari rumah tinggal ketika itu.

__ADS_1


Iraj Parastui - 50 th, Knight level 3. Dia adalah seorang pedagang antar kota. Aku banyak bertanya tentang Ibukota Azkabh dari Tuan Iraj. Aku bercita-cita untuk lerfinke ibukota, mencari berita tentang Benua Casiopea.


Arash Mostofi - 45 th, asisten sihir level 2. Dia adalah seorang pemilik usaha perdagangan, sekaligus pemburu misi.


Hadi Shokoohi - 39 th sihir level 2. Juga seorang pemburu misi dan petarung.


Sattar Mosta'An - Knight Level 2, usia 40 th. Dia pemilik toko bahan makanan di Kota Sahireb.


Terakhir adalah Tuan Ferdous Vossoughi. Pria ini adalah Alkemis asisten sihir level 3. Usianya cukup tua, 60 th.


Mungkin karena level sihirku di peringkat 3, maka aku amat akrab dengan Tuan Ferdous sang Alkemis. Dia bahkan memberitahukan aku tentang cara meramu Eliksir cair peringkat tinggi.


"Lea, ku dengar kau berhasil membantai Harpiest di gurun Atulla. Bagaimana dengan sayap makhluk itu. Apakah kamu menyimpan benda itu?" Tanya Iraj Parusti, Knight level 3 yang juga pedagang antar kota itu.


"Tentang hal ini, aku..."


Baru saja aku akan menjawab mengenai sayap yang telah aku lakukan transplantasi itu, perkataanku di potong oleh Arash Mostofi.


Penyihir level dua itu menyela dan berkata,

__ADS_1


"Aku bersedia membayar 1000 Kristal Eliksir peringkat tinggi, jika anda bersedia menjual nya" kata pria itu percaya diri.


"Ah ayolah Arash. Ku pikir sebagai seorang ahli sihir, kamu tidak membutuhkan sayap seperti itu.


Tolong jual saja pada ku yang tua ini Lea. Aku bersedia membayar 1.500 Kristal Eliksir" kata Iraj Parusti.


Dia orang itu saling membantah. Ribut benar dan membuat kepalaku pening. Tuan Verdous hanya tersenyum melihat dua orang yang berdebat itu. Dia lalu berkata.


"Tidak perlu kalian saling berdebat.


Lea telah menggunakan sendiri benda yang bisa dikata artefak itu. Dia melakukan ritual mantra pencangkokan yang rumit. Dan kini sayap bernama The Wing of Rainbow telah menyatu dengan tubuhnya" suara Tuan Verdous mengejek.


"Betulkah? Aku tak percaya" kata Arash Mostofi dan Iraj Parastui berbarengan.


Aku melambaikan tangan dengan dramatis. Lalu berputar 360 derajat. Sayap lebar itu membentang, muncul dari kehampaan. Bukan ilusi tapi nyata, berwarna pelangi, indah dan menyilaukan mata.


Orang-orang itu menatapku dengan mulut terbuka dan mata menyala. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka, tapi jelas dari sinar mata itu, mereka kagum, takjub sekaligus cemburu.


Bersambung.

__ADS_1


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2