Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Perjumpaan Pertama dengan Zalrin (ii)


__ADS_3

Maka dengan tidak kalah tajamnya aku pun balas berkata, terdengar datar tapi dingin.


"Sayang sekali kau bertemu dengan diriku ketika kemampuanku untuk memanggil api diblokir dengan kalung ilusi ini.


Kalau saja kau bertemu denganku beberapa waktu yang lalu ketika aku tidak diberi kalung kutukan ini, ... Aku ragu." jawab ku berusaha tenang dan terkesan dramatis. Lanjutku...


"Aku sungguh ragu ketika kau bertemu dengan Lea Sang Pemanggil Api waktu dulu, aku tak yakin kalau pada hari ini kau masih dapat berdiri di depan pintu dapur itu dan berkacak pinggang seolah-olah kau adalah tuan rumah.


Mungkin kau telah menjadi debu di tangan seorang pemanggil api !" balasku tak kalah tajamnya. Aku melihat perempuan Vampire itu terperanjat mendengar perlawananku. Wajahnya seketika berubah jadi buruk.


Mungkin selama ini tidak ada yang menunjukkan perlawanan dengan sikap manjanya itu. Tapi tidak dengan aku. Aku akan melawan !


Di tengah-tengah kemarahan Zalrin, ...


Aku mendengar suara cekikikan Betty, setelah aku membalas kata-kata tajam Zalrin vampir perempuan itu. Tapi sesungguhnya aku tidak takut sama sekali melawan kesombongannya itu.


Bukankah yang punya Puri ini, yang bertindak sebagai tuan rumah adalah Kravas? Apalah Zalrin ini. Dia bukan pacar, bukan juga tunangan, apalagi istri Kravas. Tidak ada hubungan penting sama sekali. Dan berani-beraninya dia dengan lancang mengeluarkan kata-kata tajam itu untuk menghina diriku? Aku tak terima !.


Cekikikan Betty itu ibarat minyak yang dituang ke dalam bara api, setelah nya api meluap dan membumbung tinggi. Zalrin marah !


Seketika ruang dapur itu dipenuhi dengan suara geraman seperti geraman berung. Itu adalah tanda marah dari Zalrin. Wajah nya beringas, gigi-gigi taring nya sengaja ditonjolkan.


Huh, tapi aku tidak takut sama sekali. Aku bahkan pernah berperang, hidup atau mati. Aku menyaksikan kematian banyak orang di depan mataku. Zalrin Vampire manja ini, paling- paling hanya meringkuk di kasur, ketika petarung- petarung ras Vampire mereka lenyap ditelan api sang pemanggil api, ketika perang itu.


Dengan bengis perempuan Vampire itu berkata dan menantangku. Tangannya meninju di dinding dapur dengan keras-keras, mencoba membuat ku terkesima. Meskipun menimbulkan suara dan getaran, tapi dinding itu tidak mengalami kerusakan sama-sekali. Aku menduga kemampuan kekuatannya setara dengan seorang Asisten Knight Level tiga.


Cih ! Asisten Knight level tiga seperti itu tidak ada artinya di depan mantra Fire Arrow ku. Sayang sekali semua kemampuan sihir ku di blokir. Jika saja kekuatanku tidak diblokir, paling tidak aku dapat menjentikkan bola api kecil, dan melihat Vampire manja ini menjerit ketakutan.


Lamunanku buyar ! Kenyataan di depan mata !

__ADS_1


"Mari kita tunjukan siapa yang lebih pantas disebut sebagai petarung, dengan duel persahabatan di ruang latihan sana !" tunjukkan ke arah ruang latih tempur.


"Aku akan bertarung denganmu tanpa menggunakan kekuatan atau sihir sama sekali.


Biarlah pertarungan kita berdua berlangsung dengan adil !" katanya dengan nada berapi-api


Tentu saja aku juga yang tidak terima setelah dihina pada pertemuan pertama. Tanpa berpikir panjang, aku lantas mengiyakan tantangan Zalrin.


***


Tidak menunggu waktu terlalu lama dan kami berdua telah berada di ruang latihan tempur yang letaknya di lantai 2 di Puri.


Zalrin kini memutar-mutar dan mengayun ayunkan pedang yang berwarna perak penuh cahaya itu.


Sementara aku? Aku hanya menggunakan pedang latihan yang dipajang di dinding-dinding bercampur dengan tombak dan lain-lain alat tempur, di ruangan latihan itu.


Sebenarnya, kondisi ini bukanlah pertandingan yang adil menurutku. Penyebabnya adalah Zalrin perempuan Vampire itu, dia menggunakan senjata perang yaitu pedang berwarna perak yang tentunya dibuat secara khusus oleh ahli penempa pedang atau blacksmith.


Sementara aku, aku hanya menggunakan pedang latihan yang ada di dalam ruangan latihan tempur itu. Jelas senjata yang aku gunakan ini, bukanlah senjata peruntukan pertempuran satu melawan satu, apalagi digunakan untuk pertempuran dalam peperangan.


Akan tapi, aku tetap menjaga harga diriku tinggi, agar perempuan Vampir itu tahu siapa Lea sesungguhnya. Lea sang gadis pemanggil api yang telah membantai beberapa vampir di peperangan beberapa waktu yang lalu.


Zalrin berlari dengan cepat dan menusuk pedang perak nya ke arahku. Da aku memutar pedang berusaha memblokir serangan itu.


Trang - Krak !


Dalam sekali tikaman saja pedang latihan yang kugunakan langsung patah, terkena tebasan pedang perak di tangan Zalrin. Aku mengeluh di dalam hati karena pedang jelek itu. Aku berpikir menyudahi duel persahabatan ini.


Namun perempuan ras Vampire itu tidak berhenti sampai disitu. Dia kembali mengayunkan pedangnya lalu menebas ke arahku, dengan niat memenggal kepalaku.

__ADS_1


Aku terpukul dan sangat terkejut.


Tak Kusangka hal yang sebelumnya dianggap sebagai pelatihan persahabatan ini, tiba-tiba menjadikan Zalrin berubah cepat menjadi satu monster ganas, yang berniat membunuh diriku.


Dia bertindak seolah-olah kami berdua adalah musuh bebuyutan yang telah bertahun-tahun tidak saling menyukai


Aku menutup kedua mataku dan pasrah jikalau aku memang harus mati di di ruang latihan ini, dalam satu pertarungan pedang yang tidak adil.


Namun, seketika ruangan membeku. Ruang dan waktu seperti berhenti sejenak. Aku terkejut, demikian juga Zalrin..


Wush !


Tanpa diduga dan tanpa disangka tiba-tiba Kravas telah berdiri di antara kami berdua. Dia muncul seperti iblis diantara kami berdua, yang membeli, freeze sesuai perbuatan Kravas yang menghentikan ruang dan waktu.


Kravas lalu menepis pedang perak di tangan Zalrin sehingga pedang itu terlempar jauh-jauh, dalam bunyi menyakitkan kuping. 'Klontang !'


Sesudahnya, Kravas lalu menjentikkan jarinya dan dunia kembali berputar dengan normal. Aku lantas membuka mata, terbelalak melihat kejadian tak disangka itu.


Sedangkan Zalrin, juga memiliki raut wajah terkejut, tapi jelas bernada kurang puas.


Kravas dengan kasar menarik Sarin lalu menyeretnya ke ruang depan. Aku mendengar samar-samar mereka berdua saling membentak dalam pertengkaran hebat.


Ketika aku keluar dari ruang latihan dan bermaksud pergi ke dapur untuk menceritakan kejadian tersebut kepada Betty,


aku melihat Zalrin menatapku dengan tatapan kebencian.


Dia seolah-olah ingin mencabik-cabik diriku, gigi gigi taringnya menonjol membuat wajah vampire nya menyeramkan. Lalu dengan suara geraman yang sangat keras, Zalrin pergi meninggalkan Puri menyisakan suara sepatu boot berhak 10 cm 'tok - tak -tok -tak !'. Lalu dia membanting pintu Puri keras-keras.. Blam !


Bersambung.

__ADS_1


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2