Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Pasukan Oranye (ii)


__ADS_3

Aku sedikit tidak memperdulikan bunyi denting Baju-baju besi dari sekian banyak orang- orang yang berbunyi-bunyi ketika memasuki istall tempat kuda-kuda perang kami disediakan.


Sebagai pasukan khusus ahli Magus dan sihir, yang diberi nama pasukan Oranye - zirah kami terlihat berbeda dengan warna zirah tentara yang lain, pasukan Oranye kami di berikan masing-masing seorang kuda perang.


Aku sangat terkejut ketika melihat pasukan khusus penyihir kami yang diberi nama Pasukan oranye itu, ternyata bukan hanya dari kalangan siswa-siswa di Akademi Militer Dorado kami.


Aku melihat ada wajah-wajah tak ku kenal, yang juga mengenakan zirah warna tembaga ini yang mungkin berasal dari siswa- siswi Akademi Cahaya Primordial.


***


Masuk di istal kuda tersebut, aku melihat Sakandhi Rokana kawan sekelasku sang pengendali air. Anak itu sibuk berbincang dengan suara pelan bersama Chino Akae sang peramal mantra - yang secara mengejutkan ketika aku pindai, kedua nya juga di tingkat Asisten Sihir Level 2, sama seperti aku.


Sakandhi mengangkat kening nya, mencoba bersikap ramah menyapaku, lalu aku membalas juga seadanya..


"Hebat Lea, kamu juga sekarang Asisten Sihir 2" kata Sakandhi memuji.


Tentu saja aku terkejut. Tumben anak itu mau menyapaku ramah, dan aku membalas juga ramah.


"Ku lihat kamu juga berada pada tingkat Asisten Sihir dua. Kerja yang bagus Sakandhi" kata ku balas memuji. Aku tidak mengucapkan sepatah katapun kepada Chino.


Kemudian aku memperhatikan, siapa-siapa saja dari akademi kami yang ikut berperang. Aku melihat kakak tingkat ku dari Academy Militer Dorado.


Rupa-rupa nya benar gosip itu. Hanya siswa khusus berkemampuan tukang sihir seperti aku yang dipanggil berperang. Gosip beredar bahwa, ahli-ahli sihir perang Dorado kami banyak yang tewas. Sehingga, mau tidak mau semua pelajar berkemampuan sihir ini, harus pergi ke Medan perang.


Perang memang identik dengan campur tangan penyihir. Kami dapat memanipulasi berbagai element, lalu mengolahnya menjadi serangan mematikan yang eksplosif, dengan jumlah korban banyak, dalam sekali serangan.


Nama-nama siswa-siswi dari Akademi baik Dorado (kakak tingkat) maupun siswa dari akademi Cahaya Primordial adalah sebagai berikut :


(Akademi Dorado) :


* Aurora seorang gadis perapal mantra

__ADS_1


* Alex si pengendali tanah


* Dylan seorang healer


* Moses sang pengendali cuaca


* Sakhandi Rokana pengendali air


* Chino Akae, perapal mantra


* Aku sendiri, Lea pemanggil api.


Dari Akademi Cahaya Primordial :


* Luwais perapal mantra (aku pernah bertemu anak ini di reruntuhan kuno ketika misi berburu Imp).


* Anita gadis pengendali cuaca


* Muktaar seorang healer


Aku tak menyangka, jumlah ahli sihir atau calon Magus dari Akademi Dorado kami lebih banyak dari Akademi Cahaya Primordial. Padahal, mereka rata2 keluarga Kaisar yang mendapat perawatan khusus dari segi sumber daya. Tapi ternyata hanya ada sedikit calon Magus di akademi itu.


Aku sedikit kaget bahwa pemimpin pasukan kami, pasukan Oranye bukanlah dari akademi, melainkan seorang Panglima yang juga peringkat Magus bernama Zachary Patani. Dengan tingkat kemampuan nya sebagai Magus level satu, aku menduga dia pasti memiliki kemampuan sihir kuat dan ditakuti dalam perang.


Sementara itu pemimpin pasukan untuk kaum Knight adalah seorang yang telah ku kenal yaitu Tuan Shaakir El Bacchus. Meski tetap kalah jumlahnya dibanding tentara Fana, namun jumlah Knight itu cukup banyak. Ada sekitar 150 hingga 200 knight di istal saat itu.


Tak lama kemudian, aku melihat Pangeran Kekaisaran bernama Jean Charles, seorang asisten Knight level tiga - cukup tinggi. Dia terlihat gagah dalam balutan zirah khusus yang berwarna keemasan, terlihat mencolok, berbeda dibanding kami semua.


Semua terdiam ketika Pangeran Jean Charles masuk ke istal. Dia lantas naik ke atas punggung kuda putih bersih, dengan surai yang panjang menjuntai. Kuda perang yang mahal, pikir ku.


Ketika itu sang pangeran mengeluarkan perintah keras-keras.

__ADS_1


"Waktunya sebentar lagi tiba. Semua diharapkan untuk naik ke kuda !"


Suara gemuruh terdengar ketika semua orang melompat ke punggung kuda. Semua diam, hawa membunuh dan perang mau menguap memenuhi istal.


Sambil mengeraskan rahang, dan menggertak gigi sambil memandang lurus ke depan, aku menganggukkan kepala kepada Cino Akae dan Sakandhi Rokana, mengucap suara pelan,


"Berperang demi kehormatan"


Mencoba bersikap tabah pada kedua anak itu yang jelas jelas terlihat gugup.


Aku tidak dapat membohongi diriku bahwa sesungguhnya. jantung di dalam dadaku berbunyi demikian keras seperti lonceng yang dipukul keras, bergema dengan suara bertalu-talu.


Aku melirik pada semua wajah-wajah kelompok pasukan orange kami yang terdiri dari Penyihir itu. Semua dalam diam tidak memperlihatkan wajah yang bahagia. Semua terlihat tertekan dan ketakutan tapi berusaha disembunyikan.


Kaisar Kerajaan Dorado kami muncul paling akhir, dengan pakaian zirah berwarna perak seperti cahaya bintang, juga kudanya yang juga berwarna putih senada dengan pakaiannya.


Kaisar seketika meraung keras-keras, suaranya menggelegar memerintah pintu gerbang untuk di buka.


Bunyi derap kaki kuda dari ratusan pasukan yang berada di instal yang demikian bergemuruh, diiringi dengan bunyi langkah kaki prajurit dan tentara yang bernyanyi dengan yel-yel perang, mengiringi gesekan besi di zirah, terdengar seperti luapan air bah di sungai kering.


Aku hanya terdiam tidak bisa mengeluarkan suara. Merasa horor dan ketakutan di dalam hati ketika pasukan kami melintasi dalam konvoi dan pawai perang, di jalanan kota.


Diiringi suara riuh rendah teriakan para penonton dari rakyat negeri Dorado yang mengelu-elukan dan mengharapkan kemenangan kami. Aku menutup pikiranku dan melirik kepada Cino yang bibirnya bergetar ketakutan.


Pelan-pelan kuda kami berjalan mendekati Penghujung kota untuk mencapai tembok pembatas kota, melewati rumah-rumah penduduk yang mulai jarang, siap-siap mendaki Pegunungan Hantu untuk kemudian menuju arena perang.


Zimmer, makhluk roh Foliot yang menjadi budakku mengikuti aku dalam wujud seorang tentara. Dia telah memberi informasi bahwa dalam peperangan kali ini, kami akan bertempur melawan negri Aquila karena alasan upeti yang tidak disetujui sesuai kesepakatan antara Dorado dengan Aquila.


Bersambung.


   Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2