Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Vampir Yang Terbang di Udara


__ADS_3

Map arena perang



  Saat ini aku menggigil ngeri bercampur rasa takut. Akan tetapi yang ada di pikiranku adalah cacian diriku sendiri "Anak Bodoh !. Lakukan saja. Pilihanmu hanya dua. Bertahan hidup dengan balas menyerang, atau kau akan mati !" kata ku menyemangati diri sendiri.


   Sementara itu, di kejauhan sana samar-samar namun kemudian semuanya menjadi lebih jelas, nampak siluet itu, berdiri kokoh seperti batu karang, diatas bukit berbatu paling tinggi itu.


   Kami menyaksikan aksi teatrikalnya, dia seorang pria yang mengenakan zirah berwarna merah dengan jubah panjang dari lehernya, menggantung dan melambai tertiup angin,  sehingga terlihat agung namun menyeramkan.


   Aku berpikir bukankah gaya nya membuat dia dia terlihat seperti iblis pemangsa? Sedang apa orang itu disana? Tapi Lamunanku buyar ketika pria ber-zirah merah itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dan bersuara keras-keras seperti rapalan mantra, begitu keras sampai-samapi terdengar hingga ke arah pasukan kami di seberang.


   Lantas dari langit sesuatu seperti terkuak, benda itu berwujud halilintar besar yang  menyala-nyala, kilat putih membayangi tubuhnya membentuk bayangan merah pantulan zirahnya, yang kini lebih membuatnya tampak menyeramkan.


Dia menunjukan kearah lapangan rumput, dan Petir besar menyapu lapangan kosong itu begitu dahsyat, sampai tanah-tanahnya terbongkar.


"Dia adalah magus level 2, Sang Maestro Pengendali Cuaca Pemanggil Halilintar' bisikku lirih.


"Dia bahkan memiliki keahlian sihir pada tingkat magus level 2, setingkat lebih tinggi dari Panglima sihir kami.. Zachary Pattani" makin lirih suaraku, berusaha tak di dengar siapapun.


   Aku memperhatikan dengan lirikan ekor mataku, Chino Akano terlihat meneteskan air mata di sampingku. Dia memegang Pedangnya erat-erat.


"Ternyata masih ada yang lebih penakut dari diriku


Atau, adalah sesuatu penting yang membuat dia menangis?" kata ku menghibur diri. 


   Aku diam-diam mulai merapalkan mantra Fire Arrow,  siap untuk menembak apapun yang akan muncul di hadapanku nanti.


Mendadak..


   Kerongkonganku tercekat ketika melihat Sakandhi Rokana berjalan maju ke garis depan, bercampur dengan Knight lainnya dalam suara besi zirah bertubrukan.


"K-kau ke garis depan?" suara ku nyaris tak terdengar.


Memang sebagai seorang pengendali air yang merupakan penyihir dengan teknik pertempuran jarak dekat, Sakandhi harus maju dan bergabung tentara di garis terdepan pasukan perang Dorado kami.


   Dia melirik sebentar ke arahku, aku tak dapat berkata-kata lagi, melainkan bibirku bergerak-gerak mencoba membisikkan kata-kata hiburan, dengan suara yang yang tidak terdengar. 


"Semoga sukses. Langit dan Bintang-bintang akan melindungimu" bisikku memberi berkat secara tulus.

__ADS_1


   Sakandhi hanya  hanya balas menganggukkan kepala dalam gerakan tipis, seolah-olah dia mengerti apa maksud kata-kata tanpa suara ku itu.


Sementara Chino disampingku telah banjir dengan airmata. Aku sekarang mengerti. Mungkin telah terjalin kisah asmara antara dua anak itu tebak ku.


"Pantas anak itu mencucurkan Airmata begitu deras" cibirku dalam hati.


"Sebaiknya kau tarik semua air mata itu, tak ada yang menyelamatkan kau selain dirimu sendiri, tidak juga dengan air mata sedih itu" kataku pelan, berusaha tak terdengar


   Semua rasa haru ku akan kepergian Skandhi yang kini lenyap ditelan kegelapan malam. Semuanya langsung buyar, ketika kami dikejutkan dengan suara-suara keras, kepakan sayap yang amat banyak dari arah bagian atas kami.


"Wush - wush - wush" makin dekat dan makin keras.


   Air mata sedih pergi dengan cepat tergantikan rasa ekstasi yang sulit ku gambarkan, ketika melihat langit dipenuhi dengan makhluk yang bersayap besar seperti kelelawar terbang ke arah kami dengan panah di tangan.


"Fire !" teriak ku sekali lagi. Bola api yang lebih besar dari bola basket menyala di tangan kanan dan kiriku. Aku merasa berubah menjadi dewa api, di antara bayang-bayang malam.


"Vampire ! Vampire"


"Serangan udara!"


"Tembak mereka !"


   Aku tak tahu entah keberanian dari mana, dan tanpa menunggu aba-aba lagi seketika mulutku merapalkan mantra terbaikku


"Fire arrow"


   Ada lima Fire Arrow Yang aku lepaskan dengan mantra penuh, yang langsung menguras energi sihir ku. Aku menenggak lima tabung reaksi Eliksir cair sekaligu.


Wush ! Energi shirku meluap, kembali dalam stamina penuh.


"Fire Arrow - Fire Arrow !" kutukku dalam serapah mantra sihir.


Dua anak panah berapi-apai, yang memiliki titik ledak penuh menyala-nyala di tanganku.


"Tembak !" aba-aba terdengar. Ak melepaskan dua Fire Arrow itu berurutan. Langit meledak dalam nyala api eksplosif ketika balasan itik ledak itu memenuhi langit di padang arena perang.


   Kontan saja dua anak panah terakhir ku  20 Vampir itu terkejut. Api adalah musuh Vampire.  Mereka para Vampire terbang itu terlihat berusaha menghindar 


   Lalu aku mendengar suara dari Vampire terbang itu saling berbicara keras-keras dalam rasa takut.

__ADS_1


"Pemanggil api ! Pemanggil Api !" 


Tolong kami, ada seorang pengendali api dari tentara sihir Dorado"


"Bunuh dia terlebih dahulu !"


   Aku tidak memperdulikan teriakan orang ingin membunuhku.  Yang ada aku jatuh dalam ekstasi dan seperti kesurupan memuntahkan Fire Arrow demi Fire Arrow, membuat langit menjadi terang..


"Mati kau mahluk terkutuk !" caci ku.


   Aku merasa amat gembira,  tatkala 2 ledakan Fire Arrow yang dilemparkan ke udara mengakibatkan 2 mahluk Vampir meledak dan terjatuh ke tanah dalam keadaan gosong.


   Semua tentara negeri Dorado kami berteriak-teriak mengelu-elukan diriku pemanggil api.


"Hidup pemanggil api !"


"Mari kita panggang mahluk-mahluk terkutuk itu !" suara memberi semangat terdengar dari tentara pemanah Dorado kami.


   Setelah kejadian matinya dua Vampire itu, secara mendadak pasukan terbang yang tersisa bergerak kembali ke arah mana di bagian utara  perkemahan Negeri Aquila di Utara sana.


   Aku bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa mereka berbalik begitu cepat? Sementara kami belum juga selesai bertempur? Ini belum apa-apa pikirku.


   Aku tak sadar dengan keberadaanku. Penyihir atau magus pengendali api amatlah jarang. Pengendali api bahkan dapat membunuh siapapun dari jarak jauh atau dekat. Pengendali pi ini adalah kekuatan nomor dua terkuat, setelah sihir berbasis element hitam. 


   Aku tak tahu apa-apa, bahwa diriku sekarang ini menjadi target utama pembunuhan dari Pasukan Negeri Aquila. Aku memang bodoh dan lugu, telah merasa senang ketika membunuh dua vampire itu. Belakangan aku baru tahu apa arti seorang pemanggil api bagi perang antara kerajaan.


***


   Aku berpaling pada Moses dan Anita, dua pemanggil pengendali cuaca yang lantas mulai merapalkan mantra dan memanggil asap kabut hitam menutupi kami dari pengamatan dan bayang-bayang musuh.


   Padang gurun padang perang itu seketika dipenuhi dengan kabut dan untuk sementara Perang terhenti.


   Aku menarik nafas panjang panjang serta menenggak lagi dua tabung reaksi berisi eliksir cair demi mengembalikan kekuatan sihir ku.


   Sementara itu Dilan dan Muchtaar terlihat sangat sibuk. Dua pria Penyembuh atau Healer itu berulang kali mengucapkan mantra untuk menjahit luka luka secara sihir, dari tentara dan prajurit yang masih selamat ketika perang berhenti. Keda nya berkeringat jagung karena pasien mereka mengalir seperti air, tak berhenti.


Bersambung.


   Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2