Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Bola Api yang sebesar Bola Tenis


__ADS_3

  Aku membuka mataku pada pagi-pagi benar dengan pikiran yang terasa jernih. Otot-otot tubuhku yang biasanya menjerit kesakitan - akibat latihan pertempuran di bawah bimbingan Instruktur Kapten Cannabas, kini terasa rileks dan tidak menjerit kesakitan seperti biasa.


"Apakah ini berkat teknik mengatur nafas yang ku pelajari semalam?" batinku gembira.


   Diam-diam aku membaca kembali salinan kata-kata yang berisi teknik pernapasan itu, mencoba menghafalnya baik-baik. Sepertinya aku harus berhati-hati dengan dua kawan sekamarku, Salome dan Yasmin.


   Dua gadis itu sangat penasaran dengan kemajuan dan kemampuanku di bidang sihir. Aku kuatir jika meletakkan secara sembarangan salinan ini, akan membuat mereka mencuri baca, lalu mencoba melatihnya.


   Aku berpikir kalau teknik seperti ini, khusus dibuat dan menjadi langka, bukan dapat dimiliki oleh semua orang. Jika saja Salome dan Yasmin berlatih teknik ini, aku kuatir perkembangan dan kemajuanku nanti, akan terganggu karena aku tidak akan menjadi sorotan dan perhatian lagi.


   Mungkin dalam hal ini aku terkesan egois. Akan tetapi, sejak masuk di dalam akademi ini, aku belajar tentang arti persaingan dan arti menjadi terhebat, sehingga kamu akan menjadi pusat perhatian, dan semua sumber daya akan mengalir ke kantong kamu tanpa perlu menyiksa diri sepertiku sekarang.


"Akan tetapi itu masih lama untuk menjadi pusat perhatian bukan?" kataku mengingatkan diri.


"Kau bahkan baru sehari berlatih teknik pernapasan ini. Jangan pongah ! Ingat dan selalu bersikap rendah hati. Niscaya orang yang membencimu akan berkuran jika kau memilih rendah hati " kata ku sekali lagi pada diri sendiri.


   Hari ini aku begitu tergesa-gesa dalam menyelesaikan semua pekerjaan dan tugas dari kelas. Aku betul-betul sangat ingin pergi ke aula latihan bertempur secara sihir, untuk  mencoba sekali lagi teknik mengendalikan api.


***

__ADS_1


    Di ruang latihan yang dinding-dindingnya telah dipasang array dan jampi-jampi penahan sihir dan aura mematikan dari siswa yang berlatih, aku duduk dalam posisi lotus (bersila) sesuai dengan ajaran pada salinan pernapasan (siulian) yang kutemukan itu.


   Aku berkonsentrasi penuh, membayangkan bola api yang panas keluar dari benakku, mengalir dengan cepat di kedua tanganku. Dalam konsentrasi itu, aku mengerahkan tenaga aneh yang asalnya dari suatu tempat di bagian perut, dekat dengan pusar.


   Pelan-pelan hawa hangat menjalar keluar dari rongga perut, menjalar kencang ke seluruh urat-urat di tanganku yang ku bayangkan memegang bola api.


"Sekarang ! Buka Mata !" kataku sambil mengerahkan energi sihir dari benak dan bercampur hawa hangat dari bagian perut.


"Aku menjerit kecil senang, ketika melihat dua bola api menyala-nyala, besarnya cukup mengerikan untuk dipakai bertempur - yaitu seukuran bola tenis.


   Karena sikap gegabah ku dengan jeritan kecil itu, seketika dua bola api di tangan kanan dan kiriku padam.


   Tak ingin berputus asa dengan kegagalanku pertama kali tadi, aku mengulangi semua proses seperti memulai dari pertama.


Wush !


   Aku tersenyum tanpa suara - konsentrasiku tetap terjaga - mana kala dua buah bola api menyala-nyala di tangan kanan dan kiriku.


   Seolah tak ingin menyia-nyiakan momentum ini, aku melompat dan melakukan teknik pertempuran dasar yang diajarkan Cannabas dengan dua bola api di tanganku.

__ADS_1


   Tubuh ku menari seperti dewi perang atau dewi api, terlihat indah namun berbahaya. Semua gerakanku pelan dan terkesan lambat. Namun menurut Instruktur Cannabas, justru menggunakan gaya tempur lembek seperti itu, lawanku akan terkecoh dengan menyangka aku adalah perempuan lemah.


"Ketika dia telah terpedaya dengan teknik lembek mu ini, di saat itu banyak titik mematikan di  anggota tubuh nya menjadi terbuka dan melemah.


   Di saat itulah kamu dapat menghabisi lawanmu dengan menggunakan senjata apapun" pungkas Kapten Cannabis.


   Aku mengakhiri tarian perang ku dengan melepaskan satu per satu bola api di tanganku, ke arah patung kayu yang sering menjadi objek pelatihan.


Duar ! - Duar !


Aku cukup terkejut ketika melihat bola api di tanganku yang kecil itu, meledak eksplosive dan membuat orang-orang objek pelatihan bergetar hebat. 


"Beruntung sekali patung itu hanya bergetar, dan tidak hangus atau patah. Sihir yang di pasang di benda ini adalah sihir perlindungan yang bagus" kataku menghibur diri sambil membayangkan biaya yang harus aku bayar jika orang-orangan itu rusak parh.


   Aku melirik kiri dan kanan, untuk memastikan tidak ada yang terkejut atau terlalu peduli untuk masuk ke aula pelatihan kaum penyihir, karena mendengar suara hiruk-pikuk akibat ledakan tadi.


   Dengan gembira aku balik ke kamarku, dan membayangkan perjalananku menuju Hutan Cemara Angin besok. 


Bersambung.

__ADS_1


    Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih


__ADS_2