
"Apakah ini pertanda kalau aku telah menerobos?
Apakah aku telah resmi menjadi seorang asisten Sihir Level 3?"
Aku bertanya-tanya dengan cemas di dalam hati. Lalu aku mencoba memanggil api.
"Fire !"
Aku melihat benda itu, percikan itu. Indah menyala, mengelilingi tanganku seperti ular yang dipakai penari ular ketika beraksi. Tapi ini adalah benda ber percik-percik dalam warna merah dan kuning.
"Membakar !" Perintahku.
Aku terpesona ketika melihat nyala api itu menyemprot deras seperti air terjun, deras dalam warna yang berubah biru. Kursi rias di hadapanku seketika lenyap menjadi debu.
"Ini adalah kekuatan penyihir pemanggil api yang sangat kuat !.
Bahkan nyala api itu warna nya berubah menjadi biru, seperti nyala api terpanas yang meluap dari Kawah Gunung di suatu negeri eksotis, nun jauh di Timur sana (aku pernah membaca tentang ini di teks kuno di perpustakaan).
Dengan hati yang gembira aku lantas berdandan seadanya, lalu keluar kamar dan mencari Kravas. Vampire itu biasanya berlatih pedang pada jam-jam pagi hari seperti sekarang.
Di dalam ruang latihan itu, aku duduk di samping pedang dan tombak yang merupakan senjata latihan, menunggu Kravas selesai dengan satu putaran tarian pedang nya.
Sambil menunggu, aku menikmati pemandangan di hadapanku ini. Pria dengan wajah keras, tampan lengkap dengan bola matanya yang biru dengan tatapan sedalam lautan terdalam.
tubuhnya yang berkeringat, jatuh di sela-sela lengan dan dadanya, yang saat ini tidak mengenakan atasan, hanya celana panjang ketat, membuat wajahku memerah.
"Cih.. kau seorang remaja yang tidak tahu malu Lea" kata ku menahan diri.
Lalu aku menyibukkan diri untuk melamun, membayangkan kehidupanku sebelumnya di Benua Casiopea.
Aku terkejut ketika satu tangan menyentuh lenganku, memudarkan semua lamunan yang baru saja aku rancang untuk kunikmati.
"Apakah ada sesuatu yang aku perlu tahu, Lea?" tanya Kravas yang tahu-tahu telah berada di hadapanku.
Wajahnya begitu dekat dengan wajahku, bahkan aku dapat mencium aroma kelelakiannya, dan melihat kilat keringat yang membasahi wajah kenyal, seperti pria usia 25 tahun saja.
Kravas tidak terlihat tua sama sekali. Bahkan dia terlihat sangat muda, jauh dari lukisan Betty tentang umur Kravas sebagai Vampire yang telah berusia ratusan tahun itu.
"Er.. ini" dengan gugup aku langsung berdiri, tidak mau tertindas aura dan pesona nya.
"Sepertinya aku telah mengalami peningkatan peringkat sihirku.
Kekuatan sihir, gerak kelicahanku ketika mencoba berlatih tempur, semua berubah" kataku.
Karavas bertepuk tangan, terlihat senang dan memujiku.
"Selamat Lea. Mungkin kau adalah orang pertama yang mampu menerobos tingkat sihir, dan efek Debu Phoenix maupun Essens Demon Horn itu bermanfaat bagimu, bahkan di bawah 24 jam" kata Kravas
__ADS_1
Namun aku hanya dan dan tidak menanggapi pujian Kravas.
"Ada yang salah, Lea?" tanya Kravas.
"Tidak. Eh maksudku, apakah di Kota Obsidian ini, negri Vampire kalian.. apakah ada semacam lembaga atau laboratorium yang memberikan jasa pengecekan data dan statistik seorang penyihir atau Knight?" kataku pelan.
Kravas menertawakanku. Dan berkata kalau aku terlalu menganggap rendah kultur dan peradaban di dunia Vampire mereka.
"Kau terlalu menganggap kami hidup dan terperangkap di masa lalu Lea.
Hanya karena kota kami yang terlihat berarsitektur kuno, serta cara berpakaian kami demikian kuno, bukan berarti disini tidak terdapat alkemis atau lembaga sejenisnya" kata Kravas mencela.
"B-bukan itu maksudku" pipiku memerah.
"Pertanyaanku adalah ingin mengetahui. Apakah aku diizinkan untuk melakukan tes dan uji hitung angka statistik kemampuan sihir dan kekuatan ini, setelah menjadi penyihir Asisten 3 ini?" buru-buru aku menjawab agar Kravas tidak tersinggung.
"Alkemis Angom Bolnimen yang akan melayani mu nanti.
Ayo kita pergi !" kata Kravas sambil menarik tanganku.
Kami berdua pergi ke kantor Alkemis Angom Bolnimen, yang berada di pusat Kota Obsidian ini. Kendaraan yang kami tumpangi adalah kereta kuda tanpa penutup, miliki Kravis.
******
Aku menikmati udara pagi, ketika angin berhembus menyapa kulit-kulitku. Rasa nya sejuk sekali berkendara pagi-pagi, ketika angin segar bertiup lembut.
Tak lama setelah berada di dalam kantor Alkemis Angom Bolnimen, vampir setengah tua itu memberikan alat tes pengukur dan memintaku menggenggam selama sepuluh detik, lalu dia merekam jejak jiwaku.
Angom Bolnimen masuk kedalam laboratoriumnya, menyisakan diriku dengan Kravas berdua, di ruang tunggu. Aku berusaha tenang, sambil berdoa semoga kekuatan sihirku meningkat drastis, karena ini akan menjadi tiket sekali jalan untuk melarikan diri ketika perang terjadi nanti.
Dan jantungku berdebar kencang ketika alkemis Angom Bonimen kelua dari laboratorium, menyerahkan selembar kertas yang tertulis rapi dalam huruf kapital besar-besar.
Aku melirik dan membaca catatan serta angka-angka di kertas itu.
Nama Lea,
Tingkat : Asisten sihir Level 3
Kekuatan tempur : 7,5
Kelincahan tempur : 9
Daya hidup : 1
Kekuatan sihir : 15,5 (lebih tinggi 0,5 dari batas maksimum)
Status : sehat
__ADS_1
Aku tersenyum tips, berusaha menahan diri agar tidak menjadi bahan tertawaan Kravas.
"Nilai kekuatan sihirmu sepertinya diatas rata-rata nilai maksimum yang dimiliki penyihir di tingkat serupa bukan?" kata Kravas.
Pada akhirnya aku tak dapat membendung rasa bahagia ini. Mulut ku merekah menjadi sebuah senyuman lebar, dan aku menatap pria itu sambil mengucapkan terima kasih.
"Dengar Kravas..
Aku harus berterima kasih kepadamu. Esens Debu Phoenix serta tanduk iblis itu adalah barang langka.
Aku berterima kasih yang sedalamnya kepadamu. Aku berjanji akan membantu perang ini dengan kemampuanku" kata ku tulus. Kravas menatap balik, menyelidiki ketulusanku.
Beberapa detik berlalu, dan dia berkata.
"Dengar Lea.
Perang ini begitu penting bagi kejayaan dan kemuliaan Ras Vampire kami di Lautan Kalumish ini.
Aku tak segan-segan menginvestasikan kekuatan dalam dirimu, sepanjang kau akan menakuti Dark Elf dalam peperangan nanti" kata Kravas tegas.
"Api sihir adalah musuh bagi sebagian besar makhluk gaib, termasuk Dark Elf.
Karena kau akan membuat mereka bertekuk lutut, coba katakan mantra yang kau kuasai apa saja?
Aku yakin mantra mu itu telah tidak berguna ketika kamu naik kelas menjadi Asisten Sihir Level 3.
BErikan salinan mantramu, dan birkan Alkemis Angom Bolnimen merombak ulang susunan mantra dan menambahkan beberapa katalisator material sihir, untuk meningkatkan mantra itu menjadi pantas dipakai seorang Asisten Sihir Level 3!" tegas Kravas.
Aku terkejut ketika mendengar bahwa mantra sihir itu dapat di upgrade. Jelas aku sangat gembira mendengarnya.
Aku lalu menyerahkan salinan mantra-mantra sihir kepada Kravas, lalu kami berdua menyeleksi mantra mana yang masih kan berguna untuk di upgrade.
"Mantra tangan Racun level nol ini tidak mungkin di upgrade ke mantra level 3" kata Kravas mengembalikan mantra pertamaku itu.
"Aku melihat ada dua mantra yang dapat diUpGrade" kata Kravas.
"Mantra Fire Arrow dan Mantra Benteng pertahanan adalah dua mantra level dua minus yang masih dapat di upgrade menjadi mantra sihir level tiga.
Lagipula, aku melihat tidak banyak mantra yang kau miliki" kata Kravas, dan membuatku tersipu malu. Aku memang terlalu dalam mengejar uang Kristal Eliksir, sampai-sampa melalaikan tugasku untuk membeli mantra tempur kuat lainnya sesuai afinitas api.
Aku lalu melihat Alkemis Angom Bolnimen membawa masuk dua salinan mantra sihir itu ke dalam laboratorium. Mungkin dia akan menghitung jumlah katalisator yang diperlukan untuk peningkatan mantra, serta kata apa yang perlu dirubah di mantra ku itu.
Hatiku semakin senang, karena aku menerobos menjadi Asisten sihir level tiga, sekaligus memperoleh hadiah dua mantra sihir level tiga. Aku melirik Kravas dan dia-diam mengucapkan terima kasih dalam hati.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..
__ADS_1