Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Benua Upios


__ADS_3

Di satu Pulau Yang bernama Ponris Atoll, dua anak muda ras Duyung itu, berdiri cemas setelah melihat emua baik-baik saja, dan perang sepertinya telah usai.


"Ervin,


Pergi tanyakan keberadaannya, pada pekerja-pekerja tambang vampire itu" kata Alana.


Tanpa menunggu Ervin mendekati kelompok pekerja, yang dia lihat asalnya dari ras vampire. Membedakan ras vampire dari Dark Elf amatlah mudah.


Meskipun dua-duanya memiliki raut yang menawan dibanding ras-ras lain, akan tetapi pembeda paling jelas adalah tampaknya taring di mulut ras vampire, ketika mereka tertawa.


Hal lainnya yang menjadi pembeda, adalah warna rambut. Meski tidak berlaku untuk semua ras Vampire, akan tetapi warna rambut vampire dominan berwarna gelap, alih-alih hitam segelap malam seperti yang menjadi kabar burung.


Sedangkan Dark Elf, rata-rata memiliki rambut yang panjang dengan warna golden atau golden brown, dibiarkan menjuntai jatuh lurus.


Ervin kembali ke Alana yang terlihat gelisah, tak sabar mendengar hasil tanya jawabnya tadi.


"Ervin, ceritakan cepat dan singkat. Apakah mereka tahu dimana Lea?"


Ervin menggelengkan kepala. Dengan sedih dia bercerita bahwa dalam peperangan itu, Lea pergi bertempur menggunakan mesin terbang dan membunuh banyak Kaum Dark Elf yang mati terpanggang.


Sayangnya yang di tewaskan Lea itu, kebanyakan adalah putra putri kaum bangsawan Dark Elf. Sehingga ketika perang usai karena kesepakatan gencatan senjata, Lea sekarang menjadi buronan Kaum Dark Elf, sedangkan di sisi ras Vampire, mereka menetapkan LEa sebagai mata-mata.


Lea dituding telah menjual informasi Pulau Minnetois kepada Dark Elf, jauh sebelum perang.


Baron Venstor Ozennust, seorang vampir bangsawan kota Obsidian bersaksi bahwa di menangkap Folliot yang bekerja pada Lea, dan melakukan tindakan mata-mata.


Sekarang Lea di benci ras Vampire, juga diburu oleh ras-ras Dark Elf.


Wajah Alana menjadi putih seperti kertas. Nyata sekali raut wajah nya mengkhawatirkan Lea.


"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Alana cemas.


"Kita harus segera pergi dari sini. Kabarnya Lea terjatuh ke Lautan Kalumish, ketika diburu Vevos, Dark Elf pengendali es yang mengendarai Rugu Naga es nya.


Kita harus menanyakan ini pada mahluk-mahluk laut. Siapa tahu ada yang pernah melihat perempuan ras manusia, pada saat dia tercebur ke lautan" kata Ervin.


Dua anak muda Duyung itu pun meninggalkan Pulau Ponris Atoll dan mencari informasi di kedalaman laut.


******


Di Pantai Mutiara Hitam Benua Upios,


Seorang gadis dengan rambut hitam sebahu terbangun dari pingsannya yang telah berlangsung selama tiga hari.


Aku tersadar di sebuah pantai asing yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pantai ini betul-betul terasa asing dan aneh, karena aku terbangun di pasir nya yang hitam, agak kasar dan tidak sehalus pasir di pantai Benua Casiopea ataupun pasir di pantai Oyster Beach, Pulau Minnetois.

__ADS_1


"Benua Casiopea? Pulau Minnetois?" Aku seketika tersadar.


Aku mencoba untuk mengingat apa yang terjadi padaku sebelum jatuh pingsan. Samar-sama aku teringat perang itu.


"Ya benar.. aku sedang berperang bagi Kaum Vampire, melawan Kaum Dark Ef di Pulau Ponris Atoll" batinku mengingat-ingat


"Aku bahkan membunuh banyak sekali tentara Dark Elf, membuat marah penunggang naga itu yang lantas mengejarku bersama Baldast dengan mesin terbang aneh nya" batin ku tertawa.


Akan tetapi semua rasa lucu itu hilang seketika, tatkala mengingat kami di sembur api dingin beracun dari naga sial itu, dan kami jatuh kedalam Lautan Kalumish yang dalam, dingin dan mengerikan itu.


Aku menyesali nasib Baldast yang mungkin saat ini telah tewas, akibat racun uap api es yang disemburkan naga itu...


Setelah beberapa saat berpikir, dan semua ingatan ku kembali, diam-diam aku sedikit lega.


"Meskipun tidak patut disebut pahlawan, karena berperang, berjuang mati-matian membakar tentara Dark Elf, bahkan bertarung melawan pemanggil es dan naganya itu, setidak nya aku harus kembali ke Pulau Minnetois" batinku gelisah.


"Kravas harus membebaskanku sepenuhnya setelah baktiku pada ras Vampire mereka, bertarung nyawa seperti ini" aku semakin bersemangat, ingin memperoleh kebebasan dari Kravas.


Pada zaman itu, ketika kamu telah menjadi tawanan oleh suatu bangsa, kamu harus menunggu titahnya membebaskanmu, alih-alih melarikan diri dan akan menjadi buronan seumur hidup.


Aku kehausan dan lapar. Mungkin telah berhari-hari aku terdampar di pantai hitam ini, tanpa makan dan minum. Tentu saja selain lemah, aku sangat kelaparan dan kelelahan.


Aku tak sanggup berdiri dan mencari pertolongan. Ku biarkan tubuh ksustku tetap berbaring di pantai kasar, warna hitam yang terlihat kontras dengan sisa-sisa jubah perang tubuhku, yang berwarna silver perak, meski kini telah pudar.


Lalu di tengah-tengah rasa putus asa akan haus dan kelaparan itu, aku mendengar senandung kecil,


Mata ku menyala, bibirku kelu mengucapkan teriakan meminta pertolongan. Sampai pada titik putus asa ku, suara itu keluar, terdengar sember dan mengerikan.


"Tolong aku !"


Akhirnya, anak gadis yang bersenandung tadi berlari ke arahku, tergeletak mengerikan seperti seonggok kain lap kotor, berbalut warna perak imitasi yang mulai pudar.


Aku menunjuk-nunjuk mulut ku dengan suara tidak jelas..


"A-air.. air"


Anak gadis itu berlari, pergi sebentar lalu dia kembali dengan satu daun tanaman lebar, yang di bentuk seperti dulang, terisi air.


Di suapnya air itu ke bibirku, mengalir dingin membasahi tenggorokan, masuk ke perut membuat perasaanku terasa lebih baik lagi.


"Lagi" tanya anak itu menatapku polos.


Dalam sekejap mata air di daun lebar itu tuntas ku habisi. Perasaanku semakin membaik setelah meminum air itu. Sayangnya satu masalah baru muncul


Tanpa dapat aku kendalikan, terdengar suara keras seperti ayam berkukuruyuk dari bagian perutku, suaranya keras membuat anak perempuan kecil itu terkejut.

__ADS_1


Wajah anak itu berubah sedikit menahan senyum. Katanya,


"Kakak lapar?"


aku mengangguk kepala dengan malu-malu. Tak pernah ku duga sama sekali, Lea si ratu api itu akan mengalami nasib naas seperti ini, dan menggantungkan hidupku pada anak gadis kecil ini.


Dengan sigap gadis kecil itu merogoh sesuatu dari sakunya, dan dia mengeluarkan satu roti kering, besarnya dua kali genggaman tangan orang dewasa.


Suara mengganggu dari perutku, makin jelas terdengar.


"Makanlah. Kakak terlihat sangat kelaparan" kata anak itu, menyodorkan roti kering itu.


Aku menyambar roti kering itu, tanpa malu-malu mengunyahnya dengan rakus. Melihat ku kalap seperti itu, anak kecil itu terlihat bergegas pergi. Tapi dia memintaku untuk menunggunya di tempat ini. aku hanya mengangguk, sibuk mengunyah seperti orang rakus saja.


Mungkin ini adalah makanan paling lezat yang pernah aku makan seumur hidupku. Apa mungkin ketika seseorang dilanda rasa lapar dan tidak makan berhari-hari, maka makanan pertama yang dijumpainya akan menjadi makanan terlezat di seluruh dunia.


Begitu aku selesai makan roti kering besar itu, si anak kecil telah kembali dengan membawa satu dulang air diatas lembaran dedaunan liar yang lebar.


Ketika sedulang terakhir dari air yang dibawa anak itu, aku merasa tubuhku jauh lebih membaik. Kini saatnya aku memperhatikan keadaan sekitar. Anak kecil baik hati inilah yang pertama menjadi perhatianku.


Matanya bulat, kulitnya sedikit gelap, dengan rambut rapi diikat kepang satu. Pakaiannya adalah pakaian panjang hingga mencapai tumit, terlihat sopan.


Aku lantas memperkenalkan diri.


"Hai, namaku Lea. Siapa nama kamu?"


"Saya bernama Shana.


Eh aku menjadi bertanya-tanya, Apa yang kakak lakukan di sini? Tertidur di pasir gelap ini dengan pakaian yang mulai koyak?" tanya gadis itu.


"Oh mengenai itu, sesungguhnya aku terombang ambing di lautan Kalumish, mungkin telah berhari-hari dan saya pingsan.


Sekarang ketika aku tersadar, aku terbangun di pantai ini. Maukah kamu menceritakan dimana aku berada sekarang ini?" tanya ku.


Dengan rasa heran, Shana anak gadis itu menjawab.


"Oh wow! sungguh kisah yang panjang. Kakak seperti nya terombang-ambing dan berasal dari tempat lain.


Ini adalah Pantai Mutiara Hitam. Dan Pantai Mutiara Hitam adalah pantai di Kota kecil bernama Kota Sahireb" jawab Shana.


Aku terdiam, membisu dengan sejuta perasaan campur aduk.


"Benua Upios? Dimanakah Benua Upios ini berada?" seketika kepalaku menjadi pusing. Belum lagi keluar permasalahanku lepas dari Pulau Minnetois, sekarang aku terbangun di Benua asing bernama Upios.


"Saya akan mencari cara untuk kembali ke tempat mana aku berasal. Apakah ada seseorang disini yang bisa membantuku?"

__ADS_1


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2