Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Good Bye Kota Sahireb


__ADS_3

Pada akhirnya Kami bertiga meninggalkan medan pertempuran di jalan sempit tapi tebing di gurun Atulla. Meskipun dua kawanku terlihat masih menderita luka akibat bertempur menggunakan tenaga sihir secara berlebihan. Tapi aku sangat senang. Tidak ada seorangpun diantara kami yang cedera serius, apalagi sampai meninggal dunia.


Aku menunggang kuda sambil membayangkan Crystal eliksir yang akan kuterima nanti, berpikir kira-kira mantra apalagi yang masih diperlukan untuk memperkuat teknik tempurku sebagai asisten sihir level 3.


Aku bercita-cita meninggalkan kota sahiri ini menuju ke ibukota negeri yaitu Kota Azkabh.


Sahireb tidak lagi cocok bagi diriku seorang asisten sihir level 3. Aku tak ingin karir sihirku terhenti hanya sebatas level 3 assistant sihir. Sesungguhnya aku bercita-cita untuk menjadi Magus, bahkan jika sampai menjadi seorang Sage, itu terlebih bagus lagi.


Di Kota Sahireb aku mengambil uang sebagai imbalan penyelesaian misi sesuai janji Tuan kota. Kemudian membaginya pada dua anggota tim ku Hadi dan Sataar.


"Aku mengambil 10 kristal eliksir peringkat tinggi ini sebagai tanda pelunasan hutang kalian atas Eliksir cair ku, hutang kalian di Gurun Atulla


Kepada Hadi dan Sattar Aku menyerahkan masing-masing 40 Crystal elixir peringkat tinggi setelah memotong hutang mereka. Dua kawanku itu tidak keberatan. Lagipula harga yang kuberikan tanah mereka untuk kristal elixir sebanyak itu, terbilang murah.


Sesampainya dirumah aku memanggil semua orang pegawai yang direkrut dari budak di pasar perdagangan manusia kala itu. Aku memberitahukan mereka bahwa rencanaku akan meninggalkan kota Sahireb dan berpindah ke ibukota Negeri Kota Azkabh.


Mereka semua menangis tak rela untuk berpisah dari ku. Akan tetapi aku mengingatkan mereka semua,

__ADS_1


"Tak mungkin aku membawa kalian semuanya bersamaku pindah di kota Azkabh.


Perjalananku sebagai seorang petarung dalam bidang ilmu sihir adalah sangat berbahaya.


Kalian tahu sendiri di kota-kota besar seperti ibukota negeri ada banyak sekali lawan yang jauh lebih sakti bahkan yang mungkin tak pernah kamu bayangkan kekuatan-kekuatan tak masuk akal itu.


Bukannya aku ingin merendahkan keahlian kalian. Akan tetapi Ketika nanti berhadapan dengan musuh yang memiliki ilmu lebih tinggi, kalian hanya akan menjadi beban bagi diriku" kataku menekan dan mereka Langsung terdiam.


"Namun kalian tak perlu kuatir dengan status kalian. Sebelum aku pergi meninggalkan kota Shakira aku akan membuat surat masing-masing kalian satu persatu. Yang isinya menjelaskan bahwa aku membebaskan kalian dari manusia terkumpul sebagai budak kini menjadi manusia bebas.


Kalian hanya perlu membawa bukti surat yang bersegel pribadi ini, ke kantor pelayanan publik di alun-alun Tuan kota. Berbekal surat ini maka kalian akan surat pengantar dari kantor Tuan kota lalu pergi ke Alchemist Verdous.


Keesokan harinya setelah drama yang melelahkan, diiringi derai air mata dari pekerja pekerja perempuan aku menunggang kuda bersama-sama dengan Shana meninggalkan kota Sahireb.


Shana yang Sekarang telah menjadi asisten sihir level 1 sangat diperlukan dalam perjalanan ini. Gadis itu amatlah terampil ketika bertugas menjadi asisten ramuan di laboratorium pada saat aku bekerja.


Belum lagi kecepatan anak itu menyediakan segala ***** dengan yang diperlukan sehingga aku tak perlu repot-repot mencari benda-benda tercecer seperti dahulu sebelum memiliki asisten setangkas Shana.

__ADS_1


"Katakan Shana, Hai gadis dari kota Sahireb. Apakah kamu gentar untuk pergi berkelana bersamaku, Lea gadis petarung asisten sihir level 3 ini?" Teriakku memastikan sekali lagi ketika kami telah berada di gerbang kota jalan menuju ke Gurun Atulla.


Dengan Teguh yakin dan gagah Siana balas berteriak membuatku terharu.


"Shana Gadis Miskin ini akan mengikuti kemanapun Nona Lea pergi siap untuk melayani dan menjadi asisten anda.


Meskipun harus melewati jurang pedang bahkan Lautan Api sekalipun, Shana tidak akan gentar !" teriak Shana memecah sepi di gerbang kota.


Kami berdua lantas tertawa terbahak-bahak pecah dalam rasa haru.


"Sekarang Mari kita tinggalkan Kota Sahireb ini, menuju ke tempat yang lebih maju lagi kota Azkabh di mana pengetahuan dan ilmu-ilmu termasyhur seluruh negeri berada"


Aku memacu kudaku keras-keras yang lantas melompat terbang membelah gurun menimbulkan debu di mana-mana. Shana Gadis itu tak mau kalah. Dengan pekikan memberi semangat, nyaring seperti suara burung rajawali, dia memerintahkan kudanya untuk mengejar diriku.


" Selamat tinggal Kota Sahireb. Kelak jika ada jodoh kita akan bertemu lagi"


Makin lama kota Sahireb terlihat semakin kecil, lalu kemudian lenyap dari pandangan mata, hilang tak berbekas.

__ADS_1


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2