Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Vampire Perempuan Bernama Zalrin


__ADS_3

Malam telah menjelang dan ini merupakan hari pertamaku berada di kota Obsidian atau lebih tepatnya berdiam diri di suatu kamar di lantai dua,


pada Puri milik bangsawan Pulau bernama Kravas Savzileg. Aku baru saja menyelesaikan santap makan malam bersama pria Vampire itu, seperti biasa layaknya kebiasaan kaum bangsawan ketika makan malam.


Setelah santap makan malam hari itu, aku menyelinap ke dapur dengan alasan membantu Betty, tapi sesungguhnya aku ingin mengorek informasi tentang Vampire Kravas.


"Sesungguhnya keluarga dari Lord Kravas adalah penguasa kota atau bisa disebut sebagai pemilik kota. Dia lah yang memimpin seluruh rakyat vampir di Pulau Minnetois ini, sebagai satu-satu nya Lord dan semua rakyat Vampire tunduk pada perintah nya" terang Betty ketika aku duduk menemaninya di dapur.


Aku tidak terlalu terkejut setelah mendengar cerita Betty tentang siapa leluhur Kravas sesungguhnya


Ya semua telah jelas terlihat dari sikapnya yang sangat dominan, suka memerintah dan menguasai ketika bercakap-cakap bersamaku. Belum lagi hasil kesimpulanmu setelah melakukan tur pribadi, melihat- lihat lukisan di dinding Puri di lantai dua ketika siang tadi.


Aku juga mengorek informasi mengenai kau keluarga Kravas yang masih hidup, yang kemudian pertanyaan ku dibungkam penjelasan Betty bahwa satu-satunya keluarga terdekat Kravas tewas di dalam peperangan baru-baru ini di daratan Benua Casiopea.


Aku lantas terdiam. Bibirku kelu membisu dan tidak dapat berkata-kata apa- apa.


"Pantas saja Vampire itu amat benci kepadamu" batin ku waspada.


"Ku pikir, aku akan bertindak hal yang sama, jika Adele di sakiti" batin ku.


Tentu saja dalam hal ini, aku tak berani membuka rahasia pertarungan ku di Medan perang, bahwa sesungguhnya sosok yang membunuh sepupu dari Kravas, sang bangsawan vampire yang mereka puja itu adalah aku, gadis muda yang tengah bercakap-cakap dengan Betty.


Aku tak berani membayangkan bahwa diriku dikejar-kejar oleh ratusan vampir penghuni Pulau Minnetois ini, yang mana kesemua Vampire memiliki kekuatan magis mengerikan, sebagaimana bawaan garis keturunan darah mereka sebagai makhluk Abadi - memburu dan menyiksaku.


Lalu.. dengan hati-hati Betty menjelaskan kepadaku bahwa meskipun dengan usia yang hampir mencapai 1000 tahun itu Lord Kravas mereka belum memiliki seorang pasangan untuk menjadi pendamping hidup nya.


Itu berarti bahwa dia adalah idaman semua hampir vampir perempuan lajang, yang ada di pulau ini.


"Apa hubungan nya dengan ku Betty? Mengapa anda menceritakan semua ini padaku" kata ku sendu.. memang harus ku akui. Mata pria Vampire itu selalu membuat ku merinding dan teringat- ingat akan wajah nya yang keras, tapi tampan itu.


Akan tetapi ketika membayangkan bahwa usia nya telah hampir mendekati 1000 tahun itu, aku menggidik seketika.


"Cukup Lea ! Hentikan imajinasi kotormu. Vampire itu bahkan berusia jauh lebih tua dari kakek buyut mu!" Batin ku memperingatkan diri.


Lalu, Betty kembali mengingatkanku bahwa ada seorang gadis bangsawan bernama Zalrin Ozennust, yang adalah anak dari Vampir bangsawan bernama Baron Venstor Ozennust, yang selalu mengejar ngejar Lord Kravas.

__ADS_1


Menurut Betty, Zalrin bahkan mengumumkan di pesta kota, bahwa Kravas adalah tunangan nya. Dan barangsiapa yang berani menggoda Kravas, Zalrin berjanji akan membuat hidup perempuan itu menderita.


Kata Betty setelah penjelasan ya,


"Aku berharap Ketika nanti perempuan Vampir bernama Zalrin datang mengunjungi Lord Kravas di sini... Kamu tidak perlu terkejut melihat sikap dan tindakannya yang cenderung kasar dan memandang rendah" sinyal bahaya dari Betty.


Spontan aku membantah kata-kata Betty dengan berkata seperti ini :


"Mengapa aku harus diberi peringatan seperti itu? Sementara aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Lord Kravaz kalian itu.


Patut di ingat... aku berada di Puri ini tidak lebih sebagai seorang tawanan perang" kataku tegas.


Tapi Betty perempuan Vampir yang bertugas sebagai Juru Masak di Puri Lord Kravas hanya mengangkat bahu dan berkata pelan.


"Well.. Siapa yang akan tahu kejadian kedepan nya.


Yang pasti aku melihat perlakuan Lord Kravas kepadamu berbeda dibanding kepada perempuan Vampire lainnya"


Aku lalu membanting kakiku dengan kesal dan melangkah ke kamarku di lantai dua. Saat ini aku uring-uringan karena rupa-rupanya diriku telah menjadi bahan gunjingan di antara semua vampir pelayan di Puri ini.


Waktu pun berlalu dengan lambat, sinar bulan terlihat muram tertutup awan hitam yang bergerak ditiup angin laut selatan. Pohon pohon bergoyang dihembus angin Malam.


Tapi ada satu kamar yang belum padam lampunya terletak di lantai 2 dari Puri kediaman bangsawan vampir bernama Lord Kravas, kamar satu- satunya yang masih terang benderang di banding kamar- kamar lain di Puri.


Dalam perjanjian darah antara roh halus dengan Master nya meskipun apapun yang terjadi kepada sang master, kontrak antara Master dengan roh tidak akan pernah batal kecuali Sang Master mengalami kematian atau memutuskan kontrak tersebut secara sepihak.


Tentu saja. Hal ini membuat aku dengan percaya diri menunggu datangnya si Folio Zimmer yang telah menandatangani kontrak dengan ku, untuk datang berkunjung ketika malam tiba dan keadaan sepi, seperti perintah ku.


Sesungguhnya juga, ketika di dalam perjalanan lautku menggunakan kapal bersama Kravas, tiap-tiap malam tatkala semua keadaan telah sepi... Folliot bernama Zimmer itu selalu datang mengunjungi ku mengunjungiku.


Itulah sebabnya aku tidak pernah terlihat takut atau khawatir ketika dibawa pergi oleh Kravas menuju Pulau Minnetois yang sepi dan tidak pernah ku tahu, yang letaknya di tengah Samudra Kalumish.


Sementara aku tengah melamun, sekonyong-konyong dari arah bulan muncul satu titik berbentuk sosok makhluk roh dalam wujud seperti Vampire yang dengan cepat melayang menuju jendela kamarku.


Dia hinggap ranting pohon di jendela kamarku yang mana jendela ku sengaja aku biarkan terbuka. Aku lantas bertanya kepada Zimmer.

__ADS_1


"Apakah kamu berhasil mendapatkan apa yang aku minta itu? Kumis Khaimera?" tanyaku berharap.


Folliot itu segera merogoh sesuatu dari dalam saku aja Dan Dia memberikan padaku Kumis Khaimera.


Tentu saja aku senang. Meski terpenjara, Folliot ini dapat menyamar menjadi seorang penyihir mirip dengan ku, lalu pergi ke daratan membeli keperluan sihir.


Aku telah memperhitungkan dengan cermat bahwa meskipun aku berada di dalam puri sebagai tawanan dari Vampir, ini namun aku bertekad untuk tetap mengembangkan kemampuan sihir ku maju dan menjadi asisten sihir level 3.


Hanya saja sayang sekali aku menghadapi kendala. Kalung ilusi yang dikutuk oleh Kravas ini tetap membuatku menjadi seperti orang fana biasa yang tidak dapat mengeluarkan energi atau mengolah kekuatan sihir ku.


Aku berkata kepada Zimmer.


"Tidak Pernahkah kamu di dalam pengalaman kamu selama ribuan tahun hidup sebagai makhluk gaib itu, memperoleh informasi sedikitpun tentang bagaimana cara mematahkan kalung ilusi yang dibuat oleh makhluk Abadi berkekuatan sihir tinggi ini?" Tanyaku berharap.


Sang Folliot itu berkata bahwa dia belum pernah mendengar bahwa ada sesuatu mantra atau sesuatu benda sihir yang mampu mematahkan kutuk dan mantra sihir dari vampir.


Terlebih lagi kutukan yang berbentuk kalung ilusi yang mencekik leherku seperti ini.


Tapi aku dengan percaya diri memerintahkan Zimmer untuk pergi mencari informasi dengan menyamar sebagai vampir di Kota Obsidian ini.


"Kamu harus berhati-hati mencari Informasi tentang jenis mantra lainnya yang dapat mematahkan kutuk sihir kalung ilusi ini" aku lalu menyerahkan sekantung Eliksir padatku peringkat tengah milikku yang terakhir.


Zimmer berkata bahwa dia hanya mampu untuk menyamar menjadi vampir berkekuatan rendah dan tidak terdeteksi.


Aku berkata kepada Zimmer.


"Kalau begitu kamu harus mencari vampir yang kekuatan sihir lebih rendah.


"Kamu harus menipu dia dengan menyamar sebagai sesama vampir lalu secara pelan-pelan kamu mencari tahu rahasia kutukan kalung ilusi ini"


Setelah pertemuan ku dengan simar selesai dan sepakat yang mana dia akan mencari tahu rahasia mematahkan kutuk kalung ilusi, akupun tertidur nyenyak.


Di dalam mimpi, aku berhalusinasi bahwa aku berhasil mematahkan rantai kalung sihir yang dikutuk oleh Kravas kemudian melarikan diri dari pulau Minnetois ini.


Bersambung.

__ADS_1


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2