
"Jadi.. Mereka berdua adalah ras duyung?" batinku terkejut
Akan tetapi saat itu aku tidak sempat berpikir lebih jauh mengenai apakah mereka adalah ras duyung atau bukan. Saat ini udara sudah terlanjur bertambah dingin dan aku mulai menggigil.
Menyelam di air laut, sementara di luar iklim saat ini begitu cepat membuat kulit ku terasa seperti diiris-iris pisau, karena udara demikian dingin menjelang musim gugur.. Seketika aku mulai merasa pening lalu aku kehilangan kesadaran ku.
Samar-samar aku merasa seseorang memegang tanganku dan dengan lembut, lalu rasanya seperti terapung, ketika sosok itu berenang membawaku ke tepi pantai Oyster Beach.
Mungkin ada sekitar 15 menit aku tidak sadarkan diri. Tapi tak lama kemudian aku terbangun dengan terkejut, ketika mencium wangi-wangian yang di usap di hidungku. Samar-samar aku melihat dua orang yang ku tolong sebelumnya itu duduk jongkok mengelilingi ku, di bawah cahaya rembulan.
Itu adalah satu remaja pria tampan, dan yang seorang lagi adalah anak perempuan yang cantik. Aku buru-buru bangkit dari tidur sementara ku, yang ketika kusadari bahwa semua badanku telah belepotan dengan pasir pasir dari pantai.
Anak perempuan kecil itu buru-buru membantu menutup tubuhku dengan pakaian dan mantel yang kutinggalkan di tepi pantai sebelumnya. Sesungguhnya aku menjadi jengah, hanya dalam pakaian minim dan di tonton dua orang yang tidak aku kenal.
Dengan takut takut tapi penuh rasa penasaran aku bertanya kepada dua orang itu,
"S-siapa kalian apakah kalian adalah duyung?
Mengapa kalian sekarang terlihat seperti manusia biasa, yang memiliki 2 pasang kaki padahal" tanya ku menuntut.
"Jelas-jelas ketika aku menolong kalian berdua di dalam laut itu aku melihat sebagian dari tubuh kalian dalam bentuk ikan.
Mengapa saat ini kalian menjadi seperti manusia biasa" Tanyaku mulai ragu. Aku kuatir jangan-jangan mereka adalah makhluk penyamar yang dapat berganti-ganti rupa.
Gadis kecil itu Lantas tertawa bernada mengejek, ketika mendengar pertanyaan polos ku.
Mungkin pertanyaan itu terkesan bodoh bagi dia. Akan tetapi aku benar-benar dibuat bingung sekarang ini. Ketika aku menyelamatkan mereka berdua dari jalinan jala tali Rami itu, aku yakin melihat separuh tubuh mereka berbentuk ikan.
Lalu mengapa saat ini mereka terlihat begitu normal seperti manusia biasa? Tanya ku dalam hati masih bingung.
Gadis kecil itu makin keras tertawa. Tapi hal itu terlihat menggemaskan. Wajah polos itu, lengkap dengan bola matanya yang berbinar-binar membuatku tidak tersinggung, alih-alih malahan ikut tertawa.
Beberapa saat saling tertawa lepas, akhirnya tawa kami reda setelah aku menertawakan kedunguan ku.
Anak laki-laki itu lantas memperkenalkan diri.
"Maafkan kami berdua kakak beradik ini nona.
Kami amat lah berterima kasih kepada Nona yang telah menyelamatkan kami berdua.
Jika saja Nona tidak ada di sekitar tempat ini. Mungkin kami sudah akan menjadi santapan monster laut"
Aku melongo mendengar anak muda itu berbicara seperti orang dewasa. Tapi aku menghargai cara mereka dalam berkata-kata. Anak muda itu melanjutkan kata-kata nya.
"Namaku Ervin dan ini Alana, adik perempuanku.
Kami berdua berasal dari pulau yang jauh dari sini letaknya di sebelah Selatan, Pulau Crystal namanya.
Memang benar. Kami adalah ras Duyung, seperti yang telah kamu tanyakan tadi. Pulau Crystal itu adalah tempat Klan Duyung kami hidup" jelas Ervin.
Seketika mataku terbelalak dan berseru,
__ADS_1
"Benar bukan? Aku tak salah lihat ketika di dalam air tadi aku melihat separuh dari badan kalian berbentuk ikan. Kenyataannya kalian memang adalah ras duyung" kata ku girang. Aku betul-betul beruntung.
Setelah pertemuan dengan Ras Vampire yang konon telah menghilang, sekarang Duyung. "Selanjutnya ras apalagi yang akan aku jumpai?" Batin ku bersemangat.
Ervin melihat pertanyaan di wajahku, mengapa mereka ras Duyung tapi bisa berubah seperti manusia, dan memiliki kaki? Dia lalu berkata.
"Sebelumnya izinkanlah aku mengetahui namamu. Ataukah kamu lebih suka dipanggil dengan sebutan Nona saja?" Kata Ervin jenaka.
Meski Ervin hanya bercanda, entah kenapa aku tersipu malu. Mungkin karena wajah tampan nya itu yang membuatku merasa euforia, gembira berlebihan.
"Namaku Lea. Panggil aku Lea" kata ku gugup.
Aku gugup karena Ervin begitu penuh perhatian sampai membuatku salah tingkah. Meski mencoba bersikap angkuh dan jual mahal, tapi pipiku memerah. Beruntung ini malam yang gelap.
"Dengar Lea.." kata Ervin.
"Dengan menjadi ras duyung seperti kami berdua, bukan berarti bahwa kami tidak memiliki kemampuan untuk berdiri atau berjalan bahkan hidup layaknya manusia dan makhluk di daratan, seperti dirimu...
Sesungguhnya kami adalah makhluk yang memiliki 2 kemampuan. Pertama dapat hidup dengan normal di dalam air laut. Kedua adalah kami dapat hidup seperti makhluk-makhluk daratan pada umumnya" jelas Ervin, sementara aku tercengang mendengar penjelasannya.
"Mengapa hal itu bisa terjadi?" Tanyaku bingung.
Jawab Ervin.
"Sihir dan sihir.
Tentu saja setiap ras duyung kami ketika mulai melakukan pelatihan merapalkan mantra atau teknik pertempuran secara sihir, di saat itu juga kami akan melatih cara hidup di daratan seperti makhluk-makhluk darat lainnya.
Keajaiban dari sihir adalah hal yang membuat sesuatu yang mustahil, menjadi kenyataan. Aku sendiri banyak melakukan hal-hal gaib dan hal-hal yang diluar akal sehat.
Setelah aku melatih diri dan menjadi seorang asisten sihir level, aku bahkan bisa memanggil api dan berubah menjadi Dewi api.
Aku kemudian tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Dan kami lantas terlibat dalam percakapan akrab, layaknya sahabat yang telah saling kenal sejak lama.
Entah mengapa, aku merasa nyaman dengan kedua Duyung ini. Alana dengan kepolosannya, dan Ervin dengan ketampanan nya,
"Diam Lea !" Batin ku dalam hati, ketika tanpa sengaja aku memuji ketampanan Ervin.
Kemudian karena langit telah semakin gelap sementara aku makin kuatir kalau Betty atau pelayan lainnya akan mencari-cari diriku, lalu melaporkan yang tidak-tidak pada Kravas,
"Oh tidak. Jangan sampai itu terjadi" batinku. Aku tak mau dihukum tidak boleh keluar Puri, jika Kravas sampai tahu hal ini.
Aku lantas berpamitan pada Ervin dan Alana.
Ervin memberikan 1 buah rumah keong yang berukuran satu genggaman tangan anak kecil kepadaku. Kata nya
"Ini adalah hadiah dari aku dan adikku.
Ini bukanlah keong sembarang keong. Akan tetapi ini adalah keong yang dapat menghubungkan antara kami berdua dengan kamu Lea"
Aku mengambil rumah keong itu, mengamati dan langsung memeluknya. Jika benda ini akan membuat ku seolah dapat berhubungan dengan Ervin dan Alana, bukankah ini menarik? Aku tak perlu merasa kesepian lagi nanti.
__ADS_1
"Ketika kamu ingin berjumpa denganku atau dengan Alana kamu hanya perlu mengusap-usap keong itu dan mengucapkan kata-kata 'datanglah'.
Niscaya kami akan mengetahui bahwa kau ingin berjumpa. Kami telah menunggu di bibir pantai, tidak berani ke daratan. Ras Vampire amatlah benci dengan ras Duyung kami".
Lalu kami bertiga berpisah dengan janji akan bertemu besok siang disini, Oyster beach ini.
Ervin dan Alana telah menjanjikan tour lautan, melihat-lihat keindahan laut dan betapa cantiknya pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Minnetois ini.
Aku lalu berlari lekas-lekas menuju ke Puri yang tentu saja dipenuhi dengan rasa kuatir. Aku tahu bahwa diriku telah dicari-cari oleh Betty dan semua vampir yang bekerja di Puri Lord Kravas itu.
Ketika aku baru saja membuka pintu gerbang Puri, sekonyong-konyong satu suara yang sangat sangat keras berteriak memanggil ku
"Dari mana saja kamu Lea?
Demi dewa dan demi apapun itu. Aku bersyukur tidak terjadi kenapa-kenapa dengan dirimu" Kata Bettu sambil bergegas mendekati ku.
Dia dengan cermat memperhatikan seluruh penampilanku yang terlihat penuh bekas-bekas air laut yang belum terlalu kering di rambut. Sementara butir-butir pasir melekat di mantel dan gaun ku.
Dengan serius Betty bertanya. "Tolong cerita yang jujur. Apa yang terjadi denganmu?
Apakah ada rahasia yang perlu aku ketahui?" tanyanya menatap mataku tajam.
Aku hanya melengos ringan dan berkata ringan.
"Tidak terjadi apa-apa aku hanya terlalu menikmati pemandangan matahari terbenam,lalu aku terhanyut suasana dan jatuh tertidur di bawah pohon tidak jauh dari bibir pantai.
Sesudahnya aku membersihkan pasir yang melekat di pakaian ku, namun ombak menerpa ku dan membuat tubuhku menjadi basah seperti ini" kataku berbohong.
Namun Betty sekali lagi menatap dalam ke arahku menyelidiki dan mencari tahu kalau kalau ada hal yang aku sembunyikan.
Akan tetapi aku terlalu pintar untuk berbohong sehingga Betty tidak mendapati bekas-bekas kebohongan pada wajahku. Kemudian dia berkata,
"Kalau begitu segera kamu ke kamarmu dan bersihkan dirimu. Aku akan menyediakan air panas untuk kamu membersihkan tubuh dari pasir pasir. Aku tidak ingin Lord Kravas mendapati mu penuh pasir seperti itu.
Dia benci laut !" Kata Betty.
Aku bergegas naik tangga dengan dada yang berdebar debar. Berbohong seperti ini terlalu beresiko jika ketahuan.
Karena aku tahu benar. Sesuatu yang aku lakukan ini sesungguhnya sedikit berbahaya. Aku tidak kenal siapa Ervin dan siapa Alana dan aku tidak tahu apa yang terjadi di antara ras Vampire dengan ras Duyung itu.
Apakah mereka merupakan aliansi atau bukan, aku tidak tahu apa-apa. Aku takut Kravas marah dan menghukum ku lebih dalam lagi.
Tapi aku berencana untuk mengorek informasi itu dari Betty esok harinya.
Malam Pun berlalu dengan tenang. Kravas sendiri tidak berada di rumah karena suatu tugas.
Dan kemudian aku tidur dengan nyenyak karena seluruh badanku terasa penat, seharian berjalan di tepi pantai lalu berenang dan menyelam membantu dua Duyung itu lepas dari jerat jala Rami.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..
__ADS_1