Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Gadis bernama Chino Akae


__ADS_3

  Aku tidak tahu, apakah aku seharusnya merasa senang, ataukah bertambah minder dengan pujian dua kawan sekamarku, Yasmin dan Salome.


   Kenyataan yang sesungguh nya terjadi ketika kami memulai kelas di akademi itu. Lebih dari tiga puluh siswa dan siswi di kelas itu adalah anak-anak jenius yang berasal dari kota-kota di Negri Dorado kami. Yang lebih sialnya adalah, selain jenius, mereka rata-rata berasal dari keluarga pejabat negeri, atau paling tidak keluarga bangsawan kaya.


   Seorang gadis bernama Chino Akae misalnya. Dari nama dan penampilan fisiknya saja, jelas-jelas dia adalah keturunan suku Han dari negeri Hydra. Namun siapa mau menyangka kalau Chino Akae ini adalah putri tunggal dari seorang kolonel anggota militer Negri Dorado kami.


   Chino Akae ini adalah seorang gadis manis berusia enam belas tahun, berambut hitam sekelam malam, lurus menjuntai bagaikan air terjun. Mata nya seperti burung elang, tajam dengan wajah kuning langsat dengan tinggi badan sekitar  seratus tujuh puluh senti. Dia selalu mengenakan sepatu boot yang terbuat dari kulit sapi pilihan. Jangan kamu tanyakan berapa harga sepatu itu - well meskipun kami di bagikan seragam baik pakaian maupun sepatu oleh akademi.


   Sebagai putri dari seorang perwira menengah militer, tentu saja Chino Akae ini sejak usia dini telah berlatih dengan teknik-teknik pertempuran. Gadis itu bahkan mahir menggunakan pedang - aku melihatnya memperagakan satu teknik pedang di ruang makan, ketika kami semua makan bersama di malam itu.


   Chino bahkan sangat mahir menggunakan panah, bahkan dia mengaku kalau sebuah alat panah bernama crossbow, adalah makanan sehari-hari ketika dia berlatih di rumahnya. Dari kisah-kisah yang sengaja dia ceritakan keras-keras di ruang makan, aku tahu kalau Chino sering kali di ajak berburu oleh ayahnya sang kolonel.

__ADS_1


   Bahkan Chino Akae ini sesumbar kalau dia pernah menembak seekor macan tutul, yang langsung mati dalam sekali tembakan crossbow nya. Tentu saja semua orang terpukau mendengar bualan Chino, dan mungkin hanya aku yang mendengus ketus bernada mencibir. 


   Chino Akae mendengar dengusan dinginku itu, dan mulai detik itu juga, gadis itu memasukkan namaku di dalam daftar musuh yang harus dia bully. 


   Sebenarnya aku tidak peduli dengan bullyan Chino karena aku datang ke tempat ini adalah untuk menjadi seorang Knight - alih-alih menjadi pengendali api seperti yang dikatakan Tuan Shaakir.


   Chino Akae ini memiliki satu sahabat bernama Sakandhi Rokana, seorang anak muda anak bangsawan di Kota Virgo yang konon masuk di dalam kelompok sepuluh orang kaya Kota Virgo.


   Tubuh Sakandhi terbilang tinggi untuk anak seusia dirinya. Seratus delapan puluh senti kupikir adalah termasuk tinggi bagi anak usia lima belas tahun. Sakandhi ini juga amat mahir menggunakan pedang, karena dari cerita gadis-gadis yang tertarik pada dirinya (termasuk Salome dan Yasmin) mereka bercerita kalau Sakandhi bahkan telah memiliki guru pribadi untuk teknik bertempur sejak dia berusia tujuh tahun.


   Well.. kupikir cukup sudah aku menggambarkan dua orang yang kemudian seperti membentuk aliansi guna membully ku bukan? Kamu bisa membayangkan apa yang akan menjadi penderitaanku selama berlatih di akademi bukan?

__ADS_1


   Ya betul sekali. Dengan keahlian kedua anak itu, setiap kali ada kesempatan sparing, keduanya tanpa segan-segan memukul ku dengan sengaja, tanpa mengurangi kekuatan sedikitpun. Aku kemudian menjadi sangat benci dengan pelajaran teknik bertempur, karena instruktur idiot itu selalu memasangku dalam sparing kalau tidak dengan Chino, dia memasangku untuk sparing melawan Sakandhi.


   Aku belum memberitahumu, instruktur bela diri kami adalah seorang pria bertubuh tinggi besar, ahli pedang dan bela diri tangan kosong bernama instruktur Canabbas. Menurut Canabbas, aku sebagai satu-satu nya siswa yang tidak tahu apa-apa tentang pertempuran, wajib melakukan latih tanding dengan ahli bela diri sesungguhnya, agar teknik tempurku menjadi cepat berkembang.


   Aku rasa aku lupa memberitahukan kalian semua. Yang membuat ku sangat kesal selain sparing tempr dengan dua anak pembully itu adalah, aku harus berada sekelas dengan Chino Akae dan Sakandhi  Rokana pada pelajaran-pelajaran tertentu. Dasar-dasar sihir misalnya.


   Mengapa aku harus bertemu dengan dua pembully itu di kelas khusus? Karena Chino Akae adalah seorang gadis kelebihan khusus perapal mantra dan Sakandhi Rokana adalah anak kelebihan khusus pengendali air. 


Bersambung.


    Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2