
Angin gurun bertiup kencang dan aku melangkah pelan-pelan menuju ke arah Hadi dan Sataar yang tengah bertempur melawan 2 Bandit itu.
Pertarungan antara antara Hadi melawan Bandit bernama Kamyar itu terlihat seimbang. Hadi berulang kali melempar kutukannya, itu adalah kutukan cairan asam yang efeknya adalah munculnya tetesan air seperti hujan lokal, siap melelehkan lawan menjadi cairan tak berarti.
Akan tetapi lawannya Hadi, si bandit bernama Kamyar itu mungkin memiliki satu benda sihir, mungkin itu adalah seperti penangkal sihir kelas rendah.
Mengapa aku menyimpulkan seperti itu? Semua terlihat jelas pada saat dua kali mantra yang dikutuk, keluar dari mulut Hadi, kutukan itu menjadi tidak berarti apa-apa, manakala Kamyar menghadang kutukan Hadi dengan melempar satu benda, terlihat seperti kertas yang bertuliskan kata-kata mantra dan simbol rune kuno.
Aku menduga kalau lembar demi lembar yang di lemparkan Kamyar itu adalah Talisman, atau sebutan lainnya adalah jimat penangkal sihir level rendah.
Memang sesungguhnya mantra cairan asam asam itu hanyalah suatu kutukan level 1 belaka. Aku menyesalkan Hadi yang tidak meng upgrade mantra sihirnya, mengandalkan mantra usang tidak berarti itu.
Setelah dia mengucapkan dua kali kutukan Hadi terlihat mulai ngos-ngosan. Dia loyo karena hampir seluruh energi sihirnya terbuang percuma sementara lawannya Bandit bernama kamyar itu sepertinya masih memiliki banyak persediaan Talisman.
'Bodoh.. dia merayu kematian dan ingin berhadapan cepat dengan maut' caci ku dalam hati. Aku benci keteledoran Hadi yang berani berperang tanpa Eliksir cair, dan kini mempertontonkan kelemahan nya dengan kutukan lemah level satu.
Beruntung sekali bagi Hadi. Jauh-jauh hari sebelum pertempuran itu terjadi aku telah memperingatkan dia dan Tuan Sataar untuk meminjam eliksir cair kepunyaanku.
'Penyihir bodoh itu tak lama akan mati. Dia mengandalkan sihir lemahnya, sementara lawan memiliki Talisman defense' batin ku kesal.
Aku membiarkan Hadi bertempur dengan Bandit Kamyar, tidak bermaksud membantunya.
'Biar ini menjadi pelajaran berharga bagi Hadi' bisikku gemes.
Setelah melihat bahwa Hadi telah terkuras habis energi sihirnya, Kamyar memanfaatkan keadaan dengan menyerang menggunakan golok di tangan, siap membelah dada Hadi. Hadi terlihat pucat pasi karena tidak pernah diberi kesempatan oleh Bandit itu untuk menyesap eliksir cair, Eliksir sumber energi kaum sihir.
"Hahaha...
Inilah saat kematianmu .Tak kusangka sama sekali, untuk membunuh seorang penyihir amat sangatlah mudah.
__ADS_1
Teknik ini hanya membiarkan dia melepas kutukan mantra dan mantra bodohnya. Mantra lemahnya hanya akan membuat energi sihirnya terbuang percuma.
Penyihir ini amat lemah. Aku hanya perlu melempar Talisman pertahanan ini, Terima kematian !"
Golok berkelebat memantulkan cahaya Rembulan dan Hadi menjerit tertahan ketika dia melihat, tahu-tahu golok ditangan Kamyar telah berada 10 cm dari batang lehernya.
Tentu hal ini tidak akan kubiarkan. Aku tak ingin ada anggota tim ku yang menerima kematian saat menjalankan tugas bersama-sama denganku.
Aku memanggil Api, yang muncul dari kehampaan lalu dilemparkan dengan teknik khusus, melesat cepat ke arah Golok di tangan Bandit Kamyar.
Kamyar Bandit itu berteriak kesakitan tatkala api berwarna biru terang keputih-putihan melalap habis senjata goloknya, itu seperti gunung es yang mencair ketika dipindahkan ke Gurun Pasir Atulla pada siang terik.
Hal itu terjadi amat cepat tak terbayangkan oleh manusia fana seperti Kamyar, yang hanya dapat jerit kesakitan tatkala tangannya melepuh, merah seperti akan luka.
Dia orang tengah bertempur itu terkejut melihat kedatangan ku yang dramatis.
Buru-buru penyihir level 2 itu menenggak 2 tabung reaksi berisi eliksir cair lalu duduk dalam posisi semedi menyerap semua cairan itu agar dapat diedarkan manfaatku, keseluruh tubuh, memperbaiki diri agar fit seperti sedia kala.
Di lain pihak Kamyar yang tangannya melepuh menganga dengan wajah terkejut menatap ke arahku, dia terlihat seperti ngeri ketakutan tatkala melihat aku merentangkan sayap Pelangi ini. Wush, sayapnya amat lebar, membentang terbuka membuat penampilan ku berlayar belakang Rembulan, membuat ku seperti ratu iblis.
"Ka-kamu penyihir iblis ! "
Bagaimana caranya seorang manusia bisa memiliki sayap seperti itu ?" kata Kamyar terbata-bata sambil kakinya melangkah mundur pelan-pelan.
Aku Tersenyum licik kepada kamyar dan berkata menakut-nakuti bandit itu. Kataku...
"Kamu mengatakan aku penyihir iblis?
Tidakkah kamu melihat sayap pelangi ini?" Jawabku mencemooh.
__ADS_1
"Jika aku berkata bahwa aku adalah makhluk jadi-jadian keturunan Harpies, dia yang adalah keturunan makhluk mengerikan si pembuat badai di gurun Atulla ini, Apakah kamu akan percaya?.
Lihatlah Bukankah wajahku juga cantik, tak kalah menarik dibandingkan Harpiest yang ditakuti semua orang itu?" Aku merentangkan sayap transplantasi ini, lalu melayang setinggi satu tombak dari tanah.
"T-terbang.."
Kamyar semakin terlihat ketakutan. Dia sadar akan kemampuanku. Aku melihat gelagat Kamyar akan melarikan diri. Namun aku terlebih dahulu mengambil tindakan yang cepat.
Sayap Pelangi Ini ku kibaskan, suara nya keras seperti badai. Angin dingin itu mengunci ke arah kamyar. Efek kepakan sayap pelangi ini, seketika menimbulkan angin dingin malam berhembus tajam lebih tajam daripada pisau belati.
Kamyar melolong kesakitan ketika dua anggota tubuhnya yaitu tangan dan kaki termutilasi oleh terpaan badai angin kepakan sayap Pelangi ini,lebih tajam dari belati.
Dengan mata yang menyala wajah kini tak lagi menunjukkan raut ketakutan, berganti rasa sakit yang di tahannya, kamyar berkata kepadaku
"Kamu perempuan iblis. Bunuh saja aku. Jangan kau siksa aku seperti ini. Seorang laki-laki pantang menangis dan bertekuk lutut meminta ampun. Lebih baik bunuh aku"
Wajah Kamyar terlihat bengis, tampak seperti seseorang yang betul-betul merindukan kematian. Aku tersenyum tipis. Mataku menyala dengan tatapan keji, merasa marah karena dikatakan mirip perempuan iblis.
"Kalau kematian adalah jalan yang kau pinta, sekarang.. detik ini juga aku akan mengabulkannya.
Pergilah kamu dengan damai, Semoga kamu tidak menderita dan menjadi kerak neraka"
Aku menjentikkan bola api yang langsung melalap Kamyar, hilang menjadi abu.
Angin berhembus debu berterbangan bercampur dengan abu jasad Kamyar. Bandit dari kelompok barisan tengkorak hitam itu lenyap tak tersisa sama sekali. Apa yang berasal dari debu kembali menjadi debu.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..
__ADS_1