Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Diatas Kapal Bulan Patah


__ADS_3

Ini adalah kapal perang terbesar yang pernah aku lihat. Bahkan di Pelabuhan Kota Scorpio kami pun, belum pernah aku melihat kapal sebesar ini. Aku berdecak kagum di pelabuhan, menatap dua kapal perang.


Ada dua kapal perang yang berlabuh di Pelabuhan Kota Obsidian, yang akan membawa kami menuju Ponris Atoll, pulau kecil wilayah perbatasan antara Ras Vampire dengan Ras Dark elf.


Masing-masing bernama 'Kapal Suara Rembulan' dan 'Kapal Bulan Patah' itu, mampu menampung hingga 600 penumpang, belum termasuk alat berat yang akan digunakan dalam peperangan nanti.


Alat-alat perang seperti mesin pelontar batu raksasa, Mesin Panah Raksasa, dua Troll (Troll adalah makhluk raksasa yang ganas, sering di pakai di dalam peperangan jaman dahulu) serta berton-ton anak panah, tombak dan pedang untuk perang, mendahului Vampire-vampire prajurit naik ke kapal.


Satu demi satu prajurit menaiki kapal perang itu, setelah mesin-mesin perang selesai dimuat.


Entah kenapa. Apakah ini adalah jodoh ataukah memang semua telah diatur, aku dan dua kawan Vampire ku ; Engur dan Dram terkejut berada diatas Kapal Perang Bulan Patah, kapal yang sama dengan Zalrin bodoh itu, lengkap dengan tiga dayang-datangnya; Ongier, Ginom dan Vernula berada.


Zalrin terlihat telah memotong rambutnya pendek sekali, menghilangkan hangus dan kondisi tidak rata, sehingga dia terlihat seperti anak cowok. Kalung berlambang keluarga bangsawannya, adalah tanda pengenal yang tidak akan dilupa siapapun.


Wajahnya tertutup dengan topeng hitam yang terbuat dari kain sutra, hanya memperlihatkan bola mata saja.


Dengan angkuh, ratu kecil itu melenggang di depanku, diikuti langkah dayang-dayang nya yang tergopoh-gopoh melayani dia - ketika Zalrin mendadak berubah menjadi bersikap dengan buruk, setelah melihatku.


Tapi aku tak peduli. Yang ada aku malah bergunjing dengan Engur dan Dram .


"Aku menduga bahkan alis dan bulu matanya ikut-ikutan hangus" kata Engur cekikikan. entah kenapa, Engurlah yang paling benci dengan Zalrin.


Konon hal ini dipicu oleh sikap ayah Zalrin - Baron Venstor pernah merampas tanah milik keluarga Engur. Engur berasal dari keluarga penghasil anggur, dengan memiliki perkebunan anggur yang luas di Pulau Minnetois.


Minuman anggur hasil kebun yang diolah keluarga besar Engur, adalah salah satu yang terkenal di Kota Obsidian.


Sementara Ayah Zalrin - Baron Venstor juga memiliki bisnis yang bergerak dalam perdagangan miras. Anggur salah satunya. Mungkin dari situ niat serakah nya muncul lalu menggunakan berbagai cara merebut tanah kebun anggur keluarga Engur.


Sementara itu, kembali di atas Kapal Perang bernama Bulan Patah, aku ikut-ikutan menertawakan Zalrin yang terlihat konyol dengan topeng, yang berusaha terlihat misterius.


Pembicaraan kami terhenti, ketika awak kapal berteriak keras-keras..


"Kapal siap berangkat !


Prajurit berbaris. Beri penghormatan !"


Lalu terdengar suatu bunyi seperti dengungan yang sangat keras dari dalam kapal, sepertinya itu adalah tanda kapal akan berlayar.


Whooaa !


Kami berjejer rapi, sebagian menaiki tiang-tiang kapal, beberapa bahkan berdiri, melayang di sepanjang tali-tali rumit yang terjalin untuk mengatur layar kapal.


Seperti di theater yang aku lihat di Kota Scorpio, layar kapal terlihat terjatuh dengan dramatis, lalu mengembang pelan-pelan, terlihat agung dari bibir pelabuhan.

__ADS_1


Suara tiupan sangkakala dan tambur yang dimainkan pemusik perang, mengiringi kami semua yang memang terlatih untuk bersikap rapi, berjajar memberi penghormatan kepada rakyat Kota Obsidian di pinggir pantai dan di sepanjang pelabuhan - terlihat sesak itu.


Suara rakyat vampire, antusias mengelu-elukan pahlawan-pahlawan mereka, pemuda ras Vampire, suara sorak mereka terdengar berdengung.


"Pahlawan sejati Kaum Vampire !"


"Kembalilah dengan selamat !"


"Semoga Roh Dracula-dracula mula-mula menyertai kamu semuanya !"


"Aku cinta padamu ! kembalilah hidup-hidup !"


Aku melihat dengan meringis pedih, miris dan sedih, ketika menyaksikan pemandangan itu. Rakyat-rakyat vampire itu terlihat begitu besar harapan mereka pada prajurit muda ras mereka.


Bahkan beberapa menganggap dengan pergi berperang adalah tindakan heroik, yang sekembalinya nanti akan di puja-puja sebagai pahlawan dan di gilai cewek-cewek muda.


Aku pernah menyaksikan hal seperti ini.. Dahulu di Kota Virgo. Ketika kami berparade sebelum meninggalkan kota dengan sorak dan pujian warga kota. Tapi apa yang terjadi? Lebih dari separuh tentara kami, kawan-kawanku mati di dalam peperangan itu.


Aku bahkan tidak bisa menebak pasti, apakah Chino Akae itu masih hidup? Apakah Sakandhi Rokana itu lolos dari kematian ketika dia maju di garis depan? Sungguh miris rasanya melihat antusias penduduk Kota Obsidian yang bersorak memberi semangat seperti itu.


Mungkin bukan bunyi sangkakala atau tambur pemberi semangat berperang yang pantas dimainkan pemusik. Bagi ku sekumpulan pemain orkestra dengan lagu kematian adalah musik yang cocok untuk mengantar kepergian anak-anak muda ras vampire itu ke Ponris Atoll.


Makin lama Pulau Minnetois itu terlihat semakin kecil, lalu kami bubar dan masuk ke ruang palka besar di bagian bawah, tempat prajurit-prajurit vampire beristirahat berdempetan.


Aku tidak langsung berkumpul di palka tempat prajurit berkumpul untuk beristirahat. Aku akan melakukan ritual sesuatu yang aku telah rencanakan jauh-jauh hari.


Aku mengelus-elus keong itu berulang kali, penuh rasa rindu akan kehadiran Ervin dan Alana.


"Kau harus merasa terhubung dengan kami Lea, ketika menginginkan komunikasi dengan telepati jarak jauh pada kami berdua" Kata ervin ketika itu.


Kemudian aku merasakan perubahan di keong itu, sesuatu seperti menanggapi usapan lembut ku. Lalu kemudian keong itu berpendar dalam warna merah muda lembut.


Aku seketika girang.


"Berhasil... seperti nya ini berhasil" batinku gembira.


Buru-buru kudekatkan lubang keong mati itu ke mulutku dan mulai berkata-kata.


"Emergency - Emergency !"


"Dengar Ervin..


Aku diajak berperang oleh ras Vampire melawan ras Dark Elf di Pulau bernama Ponris Atoll, perbatasan wilayah Vampire dan Dark Elf

__ADS_1


Jika memungkinkan, tolong bantu aku. Tunggu di tepi pantai Ponris Atoll ketika perang berlangsung. Aku akan melarikan diri !"


Ku ulangi kata-kata yang sama lebih dari dua kali. Hal ini penting, karena kadang-kadang penyampaian pesan secara telepati seperti ini, mengalami gangguan transmisi sehingga pengulangan amatlah penting.


Setelah selesai dengan penyampaian pesanku itu, aku merasa lega, berharap Ervin dan Alana menangkap pesanku di keong ajaib itu.


Aku membayangkan adegan meloloskan diri dari peperangan, berlari dan menyusup ke pantai Ponris Atoll, lalu meminta bantuan Ervin dan Aln mengantarku ke Benua Casiopea. Ras Duyung mereka adalah penguasa lautan. Tentu adalah hal yang mudah untuk membawaku ke Benua Casiopea, tanpa menggunakan kapal.


Aku membayangkan ulang rekaan dan simulasi cara menyusup ketika perang berkobar, berlari di bawah panah yang bterbangan, ledakan bola api dan benturan batu raksasa. Aku bahkan mengulangi simulasi di benak sendiri, mencari celah lemah lalu memperbaiki simulasi itu, agar tidak gagal ketika melarikan diri nanti.


Puas setelah mengulang empat kali, strategi dan cara menyusup nanti, aku lantas berjalan menuruni tangga-tangga di dalam kapal. Aku menuju palka tempat prajurit-prajurit vampir itu beristirahat.


Waktu kami adalah dua hari sebelum mencapai Ponris Atoll. Itu waktu yang cukup untuk menjaga stamina dengan beristirahat setelah berminggu-minggu badan lelah di kamp pelatihan.


"Lea..


Kesini. Ayo pilih kasur yang berdekatan dengan kami berdua"


Aku yang baru saja akan memilih di sudut, tempat prajurit perempuan dengan tempat istirahatnya, terhenti ketika mendengar suara yang akrab.


Itu adalah Engur, Vampire yang baik denganku. Engur terlihat melambai bersama Dram, mengajakku untuk memilih tempat tidur bersebelahan dengan mereka.


"Aku ini perempuan bodoh !


Untuk apa aku harus memilih tidur di sebelah kalin semua vampir-vampir laki-laki yang terlihat buas itu" kataku tertawa ketika berjalan ke arah dua sahabatku itu.


"Tenang saja Lea.


Tak usah berpura-pura bodoh! Dengan kemampuanmu sebagai penyihir pemanggil api, laki-laki mana yang terang-terangan berani mengganggumu saat ini?


Ayolah pilih kasur mu. Lagipula, dengan berpakain zirah seperti itu, siapa yang akan mampu mengaulimu?" kami bertiga lantas tertawa terbahak-bahak.


Aku memilih kasur yang tepat diantara mereka berdua.


"Awas saja. Kalau kalian berani-berani menggerayangi dadaku ketika aku lelap, api biru ini tidak akan pandang bulu menghanguskan tangan jahil itu" kata ku mengancam setengah bercanda.


"Cih !" caci Engur.


"Lagipula siapa yang bernafsu untuk menggerayangi perempuan yang bahkan lebih perkasa dibanding laki-laki?" kembali kami tertawa keras-keras. Semua prajurit di palka itu memandang kami bertiga, seperti menegur.


Lalu pelan-pelan kami berbicara pelan-pelan, lalu cekikikan layaknya anak-anak muda jalanan di Kota Scorpio aku.


Sementara itu, aku tak menyadari. Ada satu tatapan mata berkilat-kilat keji. Mata yang bercahaya membara penuh rasa dendam dan kelicikan. Dia menatapku dari balik topeng wajahnya.

__ADS_1


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2