Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Tiga Penyihir Di Gurun Atulla


__ADS_3

Matahari bersinar terik. Tiga bayangan bergerak pelan menaiki unta, pakaian mereka adalah jubah hitam panjang melambai ditiup angin panas dan kering di Gurun Atulla.


Tiga sosok itu tidak diketahui jelas gender mereka. Apakah laki-laki atau perempuan. Namun yang pasti wajah mereka tertutup dengan selembar kain hitam, Senada dengan warna jubah dan mantel mereka. Hanya mata tajam yang jelas terlihat dan itu adalah sorot mata mencorong, dalam seperti mata harimau yang buas, pertanda tiga sosok itu adalah orang-orang yang memiliki kekuatan sihir.


Mereka terlihat seperti jago-jago dengan jubah melambai, terlihat agung membuat siapapun merasa gentar dan takut untuk mendekati ketiganya. Bahkan burung-burung Nassar yang biasa terbang di langit menakut-nakuti pelintas jalur sutra, kini ikut-ikutan ketakutan menjauh dari tiga sosok yang terlihat berbahaya itu.


"Mungkin kita akan tiba di tempat lokasi kelompok 3 Penyamun bernama Barisan Tengkorak Hitam yang berbahaya itu, ketika malam telah menjelang.


Aku harap kalian mempersiapkan diri sejak awal-awal dengan menyimpan tenaga. Bolehkah aku bertanya sesuatu?..." Suaraku terdengar, memecah kesunyian yang kaku dengan mengajukan pertanyaan. Itu hanyalah sekedar Cross cek persiapan sebelum pertempuran dimulai dan menganalisa kepatuhan anggota tim.


Pertanyaan pertanyaan itu sengaja ku ajukan kepada Hadi dan Satar selaku anggota dari tim pembasmi kelompok Barisan Tengkorak Hitam - tim kami dari kota Sahireb.


"Silakan Anda mengajukan pertanyaan Nona Lea sebagai pemimpin dari tim kota Sahireb anda tentu saja berhak untuk bertanya.." jawab Hadi dan Sataar bersamaan.


Aku menarik nafas lega. Mereka ternyata bersikap kooperatif dan menganggapku sebagai pemimpin.


"Baiklah kalau demikian aku tidak akan sungkan lagi untuk bertanya seberapa besarkah kalian menyimpan eliksir cair untuk pertempuran nanti ?" Tanyaku.


Hadi dan Sataar saling berpandangan keduanya terlihat ragu-ragu seperti ada yang disembunyikan aku menangkap pada ketidakberesan dari sinar mata yang terlihat ragu-ragu itu. Kataku..


"Silahkan kemukakan kendala kalian. Tak perlu ragu-ragu denganku.

__ADS_1


Ini adalah misi berbahaya dan aku harap kita semua telah bersiap apapun itu bahkan hal sekecil seperti eliksir cair wajib aku teliti.


Sesungguhnya aku tak ingin ketika pertempuran nanti terjadi, dan manakala kalian melepaskan satu atau dua mantra sihir namun kepada kenyataan penyamun-penyamun itu adalah sosok yang imun, kebal dengan sihir kalian.. atau barangkali memiliki arti Artefak Defense pertahanan. hal itu akan berbahaya ketika energi sihir kalian habis dan tidak dapat merapal mantra baru"


Aku mengakhiri ceramah dengan memandang wajah dua orang itu. Mereka terlihat pucat nyata betul kalau mereka memang tidak membawa persiapan eliksir cair.


Dengan tegas aku menceramahi dua petarung yang lebih tua dariku itu.


"Tuan Hadi dan Tuan Satar. Aku akan memberikan pinjaman lunak kepada kalian masing-masing 100 eliksir cair.


Akan tetapi ingat ini bukanlah cuma-cuma. Aku akan melakukan penagihan ketika misi ini selesai.


"Eliksir adalah hal mutlak yang diperlukan oleh kaum petarung dari kelompok Ahli Sihir maupun kelompok petarung Knight seperti Tuan Satar.


Kedepannya ketika melakukan misi bersama-sama denganku Aku tak ingin ada anggota yang menyepelekan tentang eliksir cair ini.." pungkasku.


Aku lantas membagikan masing-masing 100 eliksir cair baik untuk Hadi maupun Satar. Dalam hal ini Tentu saja aku tak ingin ada anggota tim yang aku Pimpin mengalami nasib sial dan tewas dalam rangka menjalankan misi.


Yang kulihat adalah wajah berterima kasih tergambar jelas di wajah penyihir Hadi dan juga Knight Satar. Mungkin ini adalah pelajaran berharga bagi mereka, dimarahi seorang penyihir remaja seperti diriku. Tapi aku yakin, suatu ketika nanti mereka tidak akan menyepelekan benda yang bernama eliksir cair.


Sekali lagi perlu ku Jelaskan di sini energi sihir yang dikelola oleh seorang ahli sihir ataupun energi tempur yang dikelola seorang Knight itu terbatas amatlah jumlahnya.

__ADS_1


Tatkala mereka melakukan teknik pedang tertentu, atau teknik serangan-serangan tertentu atau bahkan teknik buat ahli sihir, dalam hal ini mantra-mantra sihir, percayalah. Hampir separuh dari energi yang ada di dalam tubuh kami akan lenyap.


Itu berarti jika dua kali mantra sihir dilepaskan dalam kutukan, maka tubuh kami hampir kosong dari energi.


Dan itu adalah titik terlemah dari seorang penyihir atau seorang Knight, yang dengan gampang dapat dibantai oleh musuh atau lawannya.


Cara untuk mengembalikan energi sihir kamu hanya dapat dilakukan dengan melakukan dua cara yang paling umum.


Pertama adalah dengan melakukan semedi berkultivasi, menghirup lagi energi yang ada di dunia ini.


Perlahan-lahan energi di dalam tubuh kami akan kembali posisi penuh dan siap untuk bertempur lagi. Akan tetapi perlu dicatat itu membutuhkan waktu lebih dari 12 jam.


Cara yang kedua adalah dengan menggunakan cairan eliksir yang digunakan dengan menenggak satu atau dua tabung reaksi eliksir cair berwarna biru. Tapi ku akui Eliksir cair harganya amat mahal. Mungkin ini penyebab Penyihir Hadi dan Knight Sataar tidak membeli Eliksir cair.


Beruntung sekali aku mampu membuat ramuan Eliksir, walaupun hanya Eliksir tingkat rendah saja.


Itulah sebabnya aku selalu membawa beribu-ribu botol eliksir cair yang kubuat sendiri, guna berjaga-jaga jika terjadi pertempuran tak disangka-sangka.


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2