Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Toko The Bird Hunter


__ADS_3

Pagi itu aku bersiap-siap untuk mengunjungi kantor Tuan Kota, mendaftarkan misi yang kemarin telah aku incar itu.


"Harpiest?" itu nama yang asing bagiku. Belum pernah sampai dengan sekarang ini aku mendengar apa yang dimaksud dengan Harpiest itu.


Bahkan selama menjalani pelatihan di Akademi Dorado, aku belum diajarkan tentang pengenalan makhluk bernama Harpiest itu.


"Mungkin petugas di balai kota nanti akan memberi penjelasan padaku" batinku, sambil keluar kamar dan menutup sebagian wajahku dengan tudung di mantel tipis panjang yang berfungsi menyamarkan wajah ku dan juga menghindari debut gurun.


Aku melihat pria yang mengenakan alat pembantu penglihatan, terlihat besar hingga memenuhi hampir sebagian wajahnya, terlihat aneh.


Meskipun sedang bekerja, aku melihat pria usia 50 tahun itu memegang suatu benda panjang berulir menyerupai pipa, yang berulang kali di hirupnya melalui mulut, kemudian beberapa saat menahannya dalam dada lalu dia hembuskan dalam bentuk asap putih, berbau busuk memenuhi ruangan kantor dan membuatku terbatuk-batuk.


"Uhuk- uhuk !"


Pria ia seperti terkejut mendengar batukku, buru-buru menyembunyikan pipa besarnya di dalam laci.


"Salam..


Halo, nama ku Lea, dan aku ingin mendaftar misi seperti yang tertulis di papan pengumuman" kataku menunjuk ke arah luar dimana papan pengumuman itu di pajang.


"Selamat datang Lea, namaku Parsha Hajaar . Apakah Anda telah menentukan misa yang mana telah anda pilih?


Dan kalau boleh aku tahu, anda adalah Knight di level berapa? juga..


Apakah anda tahu persyaratan kontrak yang perlu dipenuhi untuk misi ini?" jawab pria itu


"Aku telah memilih dari semua misi yang ku lihat semalam.." kata ku mantap. Parsha terlihat senang melihat ada tenaga petarung baru di Kota Sahireb ini.


"Sesungguhnya kemampuanku sebagai petarung ada di peringkat asisten sihir level tiga.


Aku ingin mengambil menyelesaikan Harpiest di Padan Gurun Atula" kata ku.


Parsha tercengang mendengar kata-kata ku. Sepertinya apa yang kulontarkan tadi, tidak dapat dia cerna. Dia tak percaya pendengarannya..


"A-anda Asisten sihir level 3? Berapa usia anda?" tanya Parsha ragu.


Bagi dunia luar dari akademi, penyihir yang nantinya akan menjadi magus, atau seorang knight yang bertempur dengan kekuatan sihir, adalah hal yang tak terjamah serta terlihat demikian mewah di mata orang-orang fana seperti Parsha ini.


Itu sebabnya mereka selalu menanyakan usia ketika melihat seorang penyihir atau knight.


Jika aku mengatakan usiaku baru 17 tahun, mungkin Parsha akan terkejut. Bahkan bisa-bisa hal ini akan menimbulkan kecemburuan yang berakibat buruk bagiku nanti.


"25.. aku berusia 25 tahun.." jawabku tenang.


"T-tapi kau masih terlihat remaja?" Parsha mencoba melihat jelas-jelas, menerobos hingga di balik tudung tipis yang menyamarkanku.


"Sihir.. ini semua karena sihir.

__ADS_1


Dengan sihir aku dapat mempertahankan penampilanku, menahan waktu bergulir yang membuat wajah terlihat cepat tua !" kataku meyakinkan.


Oh.. aku mengerti" jawab Parsha, sesudahnya dia tidak bertanya-tanya lagi tentang usiaku.


"Silahkan anda mengisi formulir ini Lea. Setelahnya maka aku akan mendaftarkan misi Harpiest atas nama mu. Orang lain tidak dapat lagi mengisi namanya di misi itu" jawab Parsha.


Setelah selesai dengan urusan administrasi, aku mulai melakukan pendekatan pada Parsha.


"Sesungguhnya aku baru datang di Kota Sahireb ini.


Kini aku membutuhkan uang dan memilih misi menyelesaikan Harpiest itu..


Dapatkah anda menceritakan sedikit tentang Harpiest itu?" tanyaku pada Parsha.


Parsha hanya menggeleng kepala dan berkata.


"Pengetahuanku mengenai Harpiest ini amatlah buruk. Aku hanya tahu kalau Harpiest itu adalah makhluk legenda yang mengganggu para pedagang yang melintasi Padang Gurun Atula.


"Jika anda betul-betul ingin mengetahui apa yang disebut Harpiest itu,


Toko si Tua Taghi yang menyediakan segala macam perkakas, adalah tempat yang paling tepat anda kunjungi di Kota ini.


Selain dapat menjelaskan apa itu Harpiest, Tua Taghi itu mungkin akan menunjukkan alat yang tepat guna melawan Harpiest" pungkas Taghi.


Aku meninggalkan Kantor Tuan Kota, berjalan di jalanan Kota Sahireb berhiaskan debu dan terik matahari.


Baru dua hari berada di kota Sahireb, aku merasa seakan-akan bekerja di dapur, di hadapan api besar untuk memasak makanan pesta untuk 2000 kepala.


Kadang aku merasa seperti ada sesuatu yang besar, yang menekan dadaku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak untuk mengurangi panas yang semakin lama semakin menyiksa.


Beruntung Toko Tua Taghi telah di depan mata. Papan besar yang menuliskan merek dagang "The Bird Hunter" telah menjelaskan bahwa ini yang aku cari.


Dengan tergesa-gesa aku langsung menerobos masuk, dan merasakan sejuknya dalam ruangan yang menggunakan alat besar seperti kipas mekanik, anginnya berhembus sejuk di pipiku.


"Halo, namaku Lea. Aku seorang kelana dan ingin bertemu dengan pemilik toko ini"


Pria itu berdiri di area terlarang bagi pembeli, di temani satu anak muda dan mereka berdua menatapku menyelidik.


"Akulah Tua Taghi, pemilik Toko The Bird Hunter.


Bagaimana aku dapat membantu anda? Apakah ada hal tertentu yang anda perlukan?" Tua Taghi menjelaskan.


"Ah Tuan Taghi, aku baru saja tiba di kota Sahireb dan mencari beberapa bahan makanan serta beberapa perlengkapan berburu. Dapatkah anda menjelaskan padaku apa saja yang diperlukan untuk berburu Harpiest di Gurun Atula?" tanya ku.


Aku menangkap sinar mata terkejut di mata Tua Taghi dan anak muda pelayannya itu. Tapi aku terus-terusan berbicara, seakan ini adalah pertanyaan yang wajar.


"Tuan Taghi, apakah anda seperti apa tahu tentang makhluk Harpiest yang mengganggu di Gurun Atula itu?"...

__ADS_1


Hening, diam sebentar dengan sinar mata horor ketakutan membayang di mata Tua Taghi dan pelayannya.


"Badai gurun. Pernahkah anda melihat badai di Gurun Pasir?" tanya Tua Taghi.


"Harpiest itulah penyebab badai yang mengambil nyawa orang-orang" kata Tua Taghi pelan.


Orang tua itu lantas menjelaskan kepadaku dengan lengkap, apa yang dimaksud dengan Harpiest. Dia sedikit terbuka setelah aku mengatakan bahwa aku penyihir level tiga, dan tindakan ku ini demi menyelesaikan misi di papan pengumuman di kantor Tuan Kota.


Harpiest adalah satu makhluk legendaris, makhluk sihir yang berwujud setengah perempuan cantik, dan setengahnya lagi adalah wujud burung.


Harpiest ini jahat adanya, dengan mencuri tubuh orang mati, menebar bau busuk dan suka meracuni makanan dan minuman, di desa atau kota yang dia lewati.


Konon kabarnya, penyebab badai angin dan debu di Padang Gurun, disebabkan oleh makhluk bernama Harpiest ini


Aku mengangguk kepala pertanda puas dengan penjelasan Tua Taghi, lalu menyodorkan dua Kristal Eliksir peringkat tengah dan meminta jala-jala yang besar sesuai saran Tua Taghi, untuk menjebak Harpiest nanti.


Selanjutnya, ini yang paling penting bagiku.


"Tua Tahgi. Apakah anda pernah mendengar sebuah Benua lain yang bernama Benua Casiopea?" tanya ku cemas.


Sebagai seorang pedagang yang telah lama bergaul dengan banyak orang.. tentu saja aku berharap dia pernah mendengar nama Benua asalku, dan aku akan mencari cara untuk pulang nanti.


"Benua Casiopea?


Apakah ada satu benua yang memiliki nama seperti itu? Aku sama sekali belum pernah mendengarnya" jawab Tua Taghi yang lantas membuat hatiku mencelus.


"Habis sudah harapanku" batin ku menyesali semuanya.


Mungkin melihat perubahan wajahku yang menjadi tidak bagus, Tuan Taghi menghiburku.


"Aku memang belum pernah mendengar nama Benua Casiopea. Akan tetapi ini hanyalah satu kota kecil yang ada di Negri Chambat ini.


Jadi menurutku, jika anda tidak menemui apa yang anda inginkan di Kota terpencil Sahireb ini, mengapa anda tidak pergi ke ibukota Chambat kami?


Aku yakin di ibukota Azkabh itu pasti ada yang pernah pergi, atau paling tidak mendengar tentang Benua Casiopea kamu" hibur Tua Taghi kepadaku.


Aku memang menceritakan kesedihanku yang terdampar karena kapal yang kami tumpangi, karam (Sstt aku berbohong untuk ini. Menyebutkan perang biasanya akan menimbulkan ketakutan). Aku meninggalkan The Bird Hunter sesudahnya, setelah membeli peta Negeri Chambat.


***


Aku berjalan masuk ke Tavern - bar satu-satunya yang konon diisi dengan pelanggan orang-orang berbahaya. Di sini berkumpul, pedagang pemburu hadiah dan pemburu harta berkumpul dan bahkan penjahat yang menjadi buronan di kota lain.


Lea tidak gentar karena aku tahu kalau aku dapat melindungi dirinya sendiri. Aku menatap tegas dan misterius dari balik tudungku dan berjalan pasti ke meja di sudut bar. Aku lantas duduk di bangku dan memesan minuman.


Sebagian orang di bar memperhatikannya, tapi mereka kemudian kembali ke pembicaraan mereka sendiri. Lea tidak peduli karena hal yang lebih berbahaya 'Perang' pernah aku lewati.


Keberadaanku di Tavern ini adalah mencari tentara sewaan, yang nantinya akan membantuku di Gurun Atula melawan Harpiest nanti.

__ADS_1


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2