
Aku terbangun pagi-pagi benar, lalu buru-buru mencoba mengalirkan energi sihir ku. Aku amatlah antusias mendapati kenyataan bahwa tingkat kultivasi sihir ku saat ini meningkat menjadi asisten sihir level 2.
"Setidaknya aku tidak akan terlalu takut untuk berperang nanti. Seorang Asisten Sihir Level dua tidak terlalu buruk, untuk bergabung di dalam pasukan perang" bibiku tersenyum, sedikit bahagia menjalar di hati, meskipun dalam hati aku tetap takut dengan perang itu.
Dengan perasaan yang sangat gembira, aku lantas buru-buru pergi ke laboratorium akademi kami, untuk melakukan pengecekan atas data statistik nilai-nilai semua kekuatan fisik, kelincahan, daya tahan dan kekuatan sihir ku, setelah menjadi seorang Asisten Sihir Level 2.
"Seperti biasa.. aku ingin melakukan tes ulang dan menghitung nilai statistik kekuatanku" kataku sambil menyerahkan token berisi poin kontribusi.
Herannya, sekali ini pria penjaga di laboratorium, tersenyum hangat, dan mempersilahkan aku menunggu, dengan nada sabar. Biasanya mereka dingin dan kasar.
"Mungkin ia berpikir aku sudah akan mati, di peperangan nanti" batinku sedih.
Tak lama kemudian, pria petugas itu datang membawa hasil tes ku dalam selembar kertas.
Aku membaca kertas hasil pengecekan yang dilakukan petugas laboratorium dengan wajah yang harap-harap cemas. Begini isinya :
Nama : Lea
Peringkat : Asisten Sihir dua
Kekuatan tempur : 4,5
Kelincahan : 5
Daya hidup : 6
Kekuatan sihir : 12
Dan status : sehat
Aku hampir meledak di dalam kegembiraan ketika melihat angka statistik ku yang berubah drastis. Aku bahkan melompat-lompat dan petugas laboratorium it dengan tulus berkata
"Semoga kamu sukses dan kembali hidup-hidup Lea" suaranya terdengar tulus.
Aku memeluknya dalam luapan kegembiraan dan berkata.
"Tentu saja. Aku akan tetap hidup. Lihatlah.. dengan kekuatan sihir setinggi ini, aku bahkan mampu merapalkan mantra sihir api yang jaraknya bisa mencapai lima ratus meter" kata ku menyombong. PAdahal, sama sekali aku belum pernah mencoba daya lempar sihir api ku.
Aku lalu memperhatikan angka 5 pada atribut kelincahan. Dengan nilai kelincahan di angka 5 itu, kurasa, aku tidak akan kesulitan lagi ketika mengenakan baju besi Zirah di dalam perang.
Bahkan, aku dengn mudah dapat melakukan teknik-teknik pertempuran menggunakan belati, sekaligus meramalkan mantra saat bertempur nanti.
Menurutku, terlebih-lebih dengan kekuatan sihir ku yang bernilai 12 itu, tentu saja aku akan mampu melakukan pemanggilan api yang lebih besar dan dahsyat. Bahkan aku membayangkan mantra Fire Arrow akan lebih berefek eksplosif yang memakan korban banyak nanti.
__ADS_1
Puas dengan angka hasil kenaikan atribut ku ketika menjadi asisten sihir level dua, aku lantas memutuskan untuk mengganti penampilanku.
Menurutku dengan rambut hitam panjang terurai mencapai punggung seperti ini, aku lebih cocok untuk menjadi perempuan penghibur, dan jelas-jelas tidak cocok untuk menjadi seorang tentara di perang nanti.
Sore itu, aku pergi ke pusat kota di pasar dan menemui seorang gadis penata rambut dan penata penampilan bernama Alina.
"Apakah Alina, sang Penata rambut ada di dalam toko?" tanya ku pada penjaga oko, seorang gadis cantik berpenampilan menarik, dengan rambut berwarna kuning keemasan.
Ketika melihat gadis itu, aku sedikit iri. Dia tak perlu bersusah payah pergi berperang, dan tak perlu memotong rambut pendek- pendek seperti yang akan aku lakukan.
Aku membuyarkan lamunanku, ketika Alina sang penata rias itu muncul dari dalam toko kecantikan itu,
Dia terlihat sangat cantik, dalam balutan rok panjang seperti model rok penari balet, dengan mengenakan sandal tinggi - mungkin adalah sendal yang dikenakan orang-orang negeri Hydra batinku.
"Hai.. namamu Lea bukan?
Perkenalkan. Aku Alina. Penata rambut dan penata penampilan di toko ini.
Apakah kamu ingin penampilan khusus? Riasan atau tata rambut untuk menghadiri pesta misalnya?" tanya Alina serius.
Gadis itu tercengang ketika aku berkata bahwa aku memintanya menata rambutku, sehingga cocok sebagai seorang tentara wanita yang akan berperang.. "Juga lengkapi penampilan mu sebagai tukang sihir" kata ku menambahkan, acuh tak acuh.
Alin menatapku dalam-dalam, berulang kali dan berbisik pelan..
Jadi kamu adalah tentara merangkap penyihir?' tanyanya tak percaya
Aku hanya mengangkat bahu, tidak peduli dan memintanya untuk aku memberi pendapat. Tentang warna rambut apa yang cocok dan sesuai pekerjaanku sebagai penyihir, atau magus istilah kerennya.
Alina diam sejenak. Kemudian dia berkata setelah menentukan warna rambut yang tepat untuk ku.
'Dengan warna rambutmu yang hitam seperti sekarang, kau tidak terlihat berbeda daripada manusia biasa, kaum manusia Fana.
Sepengetahuanku, rata-rata ahli sihir, magus maksudku...
Mereka memiliki penampilan unik. Misalkan mengenakan baju kulit binatang. Leopard, ular atau kulit buaya,asalnya.
Lagi.. mereka memiliki penampilan rambut dengan warna yang tidak seperti biasanya" kata Alina
Aku lalu bertanya penasaran,
"Kira-kira menurutmu, warna rambut apa yang cocok buatku sebagai magus perang?"
Alina lantas menyarankan untuk merubah warna Rambutku menjadi biru dan memangkas pendek rambut ku setinggi telinga ku.
__ADS_1
Sambil berkaca dan mencoba membayangkan penampilanku akan seperti apa, aku memutuskan menerima saran Alina.
Ketika aku berkata tidak keberatan, Gadis itu lantas memintaku duduk di kursi rias, mulai memotong pendek-pendek rambutku, setelinga. Aku melihat wajah yang asing, tak kukenal, di depan cermin, dengan penampilan rambut baru ini.
Alina kini memainkan jari-jari tangannya, di atas kepalaku, mewarnai dengan warna pilihan yang katanya cocok dengan karakterku.
Selesai dengan pekerjaannya yang memakan waktu hingga malam. Alina lantas membawaku ke ruang yang penuh dengan Cermin di kiri dan kanan.
Di ruangan itu..
Aku menatap wajah saat wajah asing yang sama sekali berbeda. Jauh sekali berbeda keseluruhan penampilanku kini.
Di cermin, aku tidak melihat lagi seorang gadis lugu berasal dari kota kecil bernama Scorpio lagi, gadis yang dahulu sering disebut sebagai wanita dusun.
Akan tetapi di cermin itu aku melihat seorang berkarakter keras seperti petarung dan juga merangkap tukang sihir - lengkap dengan rambut berwarna biru terang.
"Begini lebih baik menurutku" batin ku menghibur diri. Biar bagaimanapun, aku masih seorang gadis remaja, yang sejak kecil memiliki rambut panjang, tak pernah dipotong sependek ini. Belum lagi warna biru terang ini, membuatku semakin jelas terlihat sebagai magus tukang sihir.
"Orang-orang di Kota Scorpio akan ketakutan mendekatiku, dengan penampilan ini" batinku tertawa, menghibur diri.
Aku mengucapkan terima kasih kepada Alina atas perawatan rambutnya yang membuat penampilan ku terlihat berubah, layaknya petarung.
******
Hari yang ditentukan itu telah tiba. Ketika itu, kami semua para tentara perang ini telah dikumpulkan di markas besar tentara di kamp yang dekat dengan Istana Kaisar Dorado.
Pagi itu aku telah mengenakan zirah perang berwarna coklat tembaga, sedikit oranye. Saat itu aku menatap wajahku di depan kaca.
Aku sedikit tercekat di kerongkongan.. melihat akan penampilan ku yang terlihat amat menyeramkan dalam balutan Baju besi berwarna tembaga oranye, lengkap serta rambut pendek yang berwarna biru.
Aku yakin siswa-siswa (dalam hati aku membayangkan wajah Salome dan Yasmin) di akademi yang tidak berperang, pasti tidak akan mengenalku lagi. Mungkin.. dan mereka pasti akan ketakutan melihat seorang tentara perempuan dalam balutan zirah tembaga mengkilap, yang juga tukang sihir berambut biru.
Aku berjalan panjang-panjang, sedikit gemetar menuju istal tempat kuda-kuda perang disiapkan, untuk kami pasukan Kavaleri.
Menurut informasi, aku masuk dalam pasukan Oranye, pasukan khusus yang memiliki kemampuan sihir.
Pagi ini, kami semua para tentara pasukan berkuda atau pejalan kaki harus berkumpul di istal, lalu berkeliling kota dalam konvoi dan pawai, di elu elukan rakyat Dorado, beberapa bahkan di berkati oleh para ahli nujum dan pendeta agama Dorado kami, sebelum meninggalkan kota menuju medan perang
Aku berjalan melewati lorong dengan pikiran yang sedikit mulai kalut, sedikit takut bercampur perasaan tertantang. Biar bagaimanapun aku seorang perempuan muda, yang akan pergi bertarung nyawa di medan perang. Aku tak tahu, apakah aku akan kembali hidup-hidup, ataukah menjadi mayat tanpa jelas keberadaannya di medan perang nanti.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.
__ADS_1