
"Sejuta Kristal Es !" Dark Elf itu menangis, suaranya terdengar ngeri.
Aku merasa dada ku sesak, seperti tertindih batu es yang besar, dingin dan membuatku megap-megap layaknya ikan yang diangkat dari air, terbiar di udara penuh oksigen.
Menyusul pedang kristal itu, yang terkunci ke arah dada, kini menyodok dengan mata pedang yang berkilau-kilauan. Aku memekik keras, memotivasi diri dan membuang jauh-jauh perasaan tertindas dengan mengayunkan samurai penuh api biru.
Duar !
Percikan api dan ledakan es terlihat. Aku terlempar mundur, berguling di punggung mesin terbang ini. Beruntung kakiku terikat ketat, membuat aku tidak lantas terjatuh, terhempas di tanah.
Baldast sepertinya berusaha memahami apa yang terjadi di punggung mesin terbang ini, berulang kali dia bermanuver, berputar-putra dengan harapan Dark Elf ini terlempar pergi dari punggung mesin terbang kami.
Aku makin panik ketika Dark Elf itu menyeringai jahat, dan memutar-mutar pedang es di tangannya. Rupa-rupanya kekuatan es itu telah membekukan seluruh punggung mesin, dan dia leluasa melekatkan diri di atas punggung mesin terbang, tanpa takut untuk terlempar ketika Baldast melakukan manuver-manuver tajam.
"Pertajam pendakian hingga kemiringan 60 derajat !" teriakku keras-keras, berharap Baldast mendengar.
Tak kusangka Baldast mendengar kata-kataku. Mesin terbang ini seketika menanjak cepat, dengan kemiringan yang dapat membuat siapapun terlempar dari punggung mesin terbang itu.
Aku beruntung, dua kakiku melekat ketat di alat pengikat khusus, menyisakan badanku yang membungkuk miring, mencari kesimbangan.
Aku tertawa senang melihat Dark Elf yang berusaha menyeimbangkan diri, sementara gumpalan es terdengar berderak-derak, seperti akan retak, tak kuat menahan beban berat badannya.
Dengan wajah licik aku berkata,
"Ternyata dewa-dewa Benua Casiopea kami, begitu murah hati dan baik padaku.
Hari ini aku akan membuatmu tergelincir dari mesin perang ini!" seringaiku jahat.
Tapi herannya Dak El itu tidak merasa takut ketika aku membakar kristal es yang penuh, memadat di punggung mesin terbang ku ini.
"Pergilah dengan damai !" kataku ketika api terakhir melelehkan semua es di punggung mesin terbang.
__ADS_1
Aku membungkuk agar tidak tergelincir dari pijakan bertali itu, ketika mengawasi Dark Elf itu terjatuh bebas di kelilingi awan malam.
"Tidak !" pekikku melihat kenyataan.
Wajahku memucat, mata terbelalak dengan raut tak percaya, ketika melihat satu makhluk besar, dengan sayap lebarnya, menyambar Dark Elf itu, yang dengan gesit langsung bersalto dan duduk di punggung sang naga.
"Baldast.." bisikku keras
"Kita harus pergi...
Sekarang !" teriakku keras, ketika melihat otot-otot di wajah Naga es itu berkedut-kedut, siap-siap meniup uap es.
Baldast, mencoba menerbangkan mesin itu dengan kecepatan yang terbaik yang dapat dia lakukan, ketika kami membelah langit tinggi, di kejar oleh satu makhluk legendaris, Naga es yang mulutnya terlihat menguap penuh es mematikan.
Kejar-kejaran antara aku dan Baldast di atas mesin aneh yang dapat terbang ini, dengan sosok naga dan penunggang nya Dark Elf berputar dari Utara ke selatan, begitu hingga ke Barat lalu ke Timur, tidak juga menampakkan akhir.
Hingga pada akhirnya, ketika kami berada di atas Lautan Kalumish, sekonyong-konyong Naga Es itu mengeluarkan uap dingin, yang disemprotkan ke arahku dan Baldast.
Aku merasakan ingatanku langsung lenyap, tak ingat apa-apa lagi, Baldast apalagi. Kami berdua berikut mesin terbang ini lantas jatuh bebas ke kedalaman Lautan Kalumish, dingin. Tapi aku tak ingat apa-apa saat ini. Aku jatuh pingsan. Semua terasa gelap.
Dalam rasa tidak sadarku ini, aku bermimpi, merasa seolah-olah diriku adalah seorang Magus Agung dengan pedang api , aku yang menyala nyala di tanganku.
Dalam mimpiku itu, sebagai Magus yang memiliki sihir kuat berani berhadapan dengan satu Naga Es yang pada akhirnya membunuh naga itu - tapi terkena kutukan dan terhempas di Lautan Kalumish.
******
"Dimana aku? Tanyaku pusing , ketika aku terbangun dari mimpi buruk itu. Aku melihat sekelilingku dengan silau. Aku heran, mengapa bisa berada di pinggir pantai, dengan pakaian basah kuyup seperti ini.
Namun baru saja mencoba berpikir banyak hal, mendadak sakit di kepalaku kembali menyerang, lalu aku kembali jatuh pingsan, mungkin dalam tidur yang panjang.
******
__ADS_1
Sementara itu...
Lea tak sadar sadar sama sekali. Bahwa sesungguhnya ketika ia jatuh ke dalam air, racun es menyebar di ke seluruh jaringan dalam tubuhku.
Gadis itu beruntung, tanpa dia sadari apa yang berlaku. Lautan Kalumish yang dingin itu, justru membuat hawa dingin racun yang diakibatkan hembusan uap racun naga es, menjadi sirna. Tersisa luka dalam yang parah di tubuh nya.
Meskipun tengah tidak sadarkan diri, akan tetapi daya juang dan keinginan untuk bertahan hidup, begitu kuat tanpa. Dan tanpa LEa sadari, hal itulah yang menyelamatkan dirinya. Energi Api di dalam tubuhnya, merayap dan menjalar ke seluruh saraf-saraf dalam tubuhnya, memperbaiki luka-luka akibat racun dingin.
Lea tertidur hingga berhari-hari, di tepi pantai sepi, di sebuah benua asing yang pasir nya terlihat hitam, segelap arang.
******
Sementara itu, nun jauh di sana, di satu pulau yang bernama Ponris Atoll, dua anak muda - laki-laki dan perempuan berjalan dari bibir pantai menuju kota kecil di daerah pertambangan Eliksir.
Kedua anak muda ini adalah Ervin dan Alana, dua anak muda dari ras Duyung yang membuat janji temu dengan Lea beberapa waktu yang lalu.
Karena musim ombak yang menimbulkan arus dalam di Lautan bergerak cepat, Ervin dan Alana terhambat perjalanannya menuju Ponris Atoll dan tidak bisa ketemu Lea sesuai jadwal yang ditentukan.
Kedua anak muda itu berjalan di atas tanah retak, hancur akibat perang beberapa waktu sebelumnya.
"Apa yang terjadi? Mengapa tidak ada perang seperti yang Lea kabarkan?" tanya Ervin curiga.
"Bahkan tidak terdapat mayat atau apapun seperti bekas-bekas pertempuran, kecual tanah retak berantakan - mungkin akibat bom batu raksasa yang dipakai untuk menghancurkan musuh" kata Ervin menjelaskan.
"Mari kita bertanya di kota kecil, di daerah pertambangan sana" kata Alana.
Yang dimaksud dengan kota kecil itu, sesungguhnya hanyalah tidak lebih dari sepuluh bangunan ala kadarnya, yang membentuk semacam desa atau tempat tinggal darurat.
Ketika keduanya baru akan mengetuk pintu salah satu rumah yang sepi, tiba-tiba dari dalam lubang yang diatasnya tertulis papan nama "Kawasan Pertambangan Kepunyaan Ras Vampire beraliansi dengan Ras Dark Elf" - keluar sekelompok pekerja tambang, yang terdiri dari dua ras yang sebelumnya berperang, Vampire dan Dark Elf.
Bersambung.
__ADS_1
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..