
Malam itu bukanlah malam yang biasa-biasa saja. Ini adalah malam ketika semua orang harus membantu dua healer Dylan dan Mukhtaar. Aku ikut-ikutan membantu, dengan mengambil sikap menjadi asisten Healer, dengan menyerahkan ramuan demi ramuan obat yang mereka butuhkan.
Sesungguhnya di Kekaisaran Dorado kami masih ada satu healer, yang juga bekerja di akademi. Nama nya Nona Amaya Kayako. Namun Healer Amaya saat ini sedang penugasan keluar benua, dalam rangka mempelajari teknik terbaru dalam sihir penyembuhan luka.
Malam beranjak menjadi dini hari. Ketika itu semua orang terlihat kelelahan. Bukan pekerjaan yang mudah, setelah seharian kamu terlibat dalam perang fisik, lalu kemudian bertugas menjadi asisten Healer. Akan tetapi aku merasa puas. Meskipun masih terdengar rintih kesakitan dari tentara yang dirawat, namun kami semua puas dengan pekerjaan hari ini.
Aku baru saja menutup mata, mencoba mengembalikan tenaga, dengan harapan dapat tertidur hingga pagi menjelang, sebelum serangan Tentara Aquila kembali terjadi.
Akan tetapi ketika jam menunjuk angka pukul 3 pagi, sekonyong- konyong kabut putih pelan merayap di lapangan rumput, arena peperangan siang tadi.
Belum ada seorangpun dari tentara maupun penjaga malam yang sadar akan keanehan itu. Namun ketika kabut putih itu berubah menjadi uap es yang dingin, seketika terompet dan tambur perang ditiup keras keras 'teeet - tweet !'
'Tanda bahaya!
Tanda bahaya !
Semua tentara siap- siap memulai perang!'
Menyusul suara terompet, aba- aba peringatan langsung terdengar dari suara Tuan Shaakir El-Bacchus dan Zachary Patani selalu panglima perang.
"Serangan sihir !
Ada panah es.. aduh !" Teriak petugas di menara penjaga. Seperti nya di terkena tembakan
Menyusul teriakan dan lolongan kesakitan, tiba-tiba suhu udara turun menjadi ekstrim. Lalu menyusul panah demi panah menghujam tanah dan kemah- kemah kami para tentara, demikian beku, sedingin musim dingin.
"Panah es sihir !" Teriak tentara yang dekat denganku menjerit.
Aku lantas berdiri dengan cepat, berlari luar tenda sambil menutup kepalaku dengan tameng besi, milik pasukan kavaleri.
'Ting - Ting - Ting !' bunyi anak panah kristal menghantam tameng di kepalaku.
Aku meraung ketika satu anak panas dingin itu menggores lenganku yang belum sempat aku pasang kembali armor besi itu. Rasa dingin ketika lenganku tergores, begitu mendalam hingga ke tulang- tulangku.. membuat ku menggigil..
__ADS_1
"Tolong aku ! " Satu suara yang akrab di kuping ku terdengar. Aku melihat di arah semak-semak, satu sosok berjubah hitam yang mengenakan tudung, menggeram sambil mempertontonkan gigi- gigi runcing nya, ke arah Chino Akae yang merangkak ketakutan. Di kaki gadis itu terlihat panas es yang tertancap, dan membekukan darah yang mengalir.
"Tolong aku! Iblis kau.. pergi !" Teriak Chino, ketika aku melihat kalau sosok itu berniat melecehkan perapal mantra itu.
"Fire !" Sumpahku dengan darah yang mendidih. Aku memang tidak suka, apalagi akrab dengan Chino. Akan tetapi, melihat seorang kenalan mu akan dilecehkan di depan mata? Oh tidak !
Nyala api di tangan kanan ku sebesar bola basket, lantas ku lemparkan dengan kekuatan penuh ke arah sosok bertudung itu.
Blam !
Aku memeluk Chino, sama- sama ketakutan ketika melihat sosok bertudung itu berlari mencari penyelamatan dengan suara melolong. Bau daging hangus yang terbakar, tersiar kemana- mana, membuat ku merasa mual.
"Tutup matamu dan hidung jika kamu jijik" kata ku kepada Chino.
"Sesungguhnya aku sendiri merasa jijik melihat mahluk itu terbakar menjadi arang" kataku sambil menutup hidung.
Ketika masa- masa ketakutan seperti itu, ketika merasa sendiri, entah mengapa aku merasa akrab memeluk Chino. Tiba- tiba aku merasa kalau dia adalah satu-satunya kenalan yang dapat aku anggap keluarga di perang ini. Sosok-sosok yang berlari- lari sambil menusuk tombak satu sama lain di depan kami, membuat kami seperti dua saudara yang dilempar ke tanah asing.
Aku tidak melihat ke arah langit, kala itu satu sosok bersayap lebar, melayang- layang di angkasa, seperti mencari- cari sesuatu yang penting. Aku tersadar ketika Chino meremas tanganku kuat- kuat dan bersuara pelan bernada ketakutan..
"Lea .. makhluk itu mengunci kita berdua" wajah Chino tampak horor dalam ketakutan, mata nya melotot dan mulut terbuka menatap ke arah atas.
Melihat reaksi Chino, seketika aku merasa kepalaku membesar, membaal dan tidak memiliki rasa sama sekali. Kepalaku membesar karena ketakutan..
"Tolong Chino. Jangan membuat ku takut!" Teriak ku sambil membalik badan dan menengok ke arah langit.
"Demi Dewa Kura-kura Hitam" batin ku ngeri.
Sosok itu melayang cepat, dengan sayap yang lebar, berwarna hitam mengkilap tertimpa sinar bulan. Di tangan nya ada busur dan anak panah yang terbuat dari kristal es. Dia tampak mengerikan seperti dewa perang Ares layaknya.
Yang membuat ku terpukul adalah, mata makhluk terbang itu. Itu adalah sorot mata dracula, mahluk yang mengerikan aku lihat di lorong- lorong Kota Scorpio di masa lalu.
Mata yang meskipun mengerikan karena dingin seperti es, akan tetapi mata itu sesungguhnya indah. Aku bahkan harus berbohong pada diri sendiri, dengan meng- sugesti diriku bahwa makhluk itu jahat, berwajah buruk. Tapi sebenarnya dia tanpa, bahkan terlalu tampan menurutku.
__ADS_1
"Dia dracula.. Chino.
Kita akan mati. Dia adalah vampir terkuat" bisikku gemetar pada Chinno.
Chino bahkan tidak menangis ketakutan. Kami berdua terhipnotis dalam sihir sihir pemikat vampir itu.
"Sadar Lea, sadar Lea.. gadis bodoh ! Jangan biarkan dirimu larut dalam sihir pemikat nya" teriak Chino panik. Tentu saja sebagai perapal mantra, gadis itu langsung memblokir sihir pemikat vampir dan dia dengan empat tersadar.
Aku tersentak tatkala Chinnoe menjerit keras, tangannya melempar ramuan yang beraroma bawang putih dan jahe kepadaku.
Aku tersadar ketika makhluk itu telah makin dekat, terbang ke arah kami dalam jarak 20 meter..
"Lakukan sesuatu Lea.. tolong lakukan sesuatu" Chino menjerit keras- keras. Lalu..
"Fire !"
"Fire Arrow - tembak " titahku sambil menunjuk ke arah makhluk terbang itu.
Satu panah api meledak dari ujung jari ku, terbang melesat ke arah makhluk terbang itu, siap siap meledak dengan delapan titik ledak nya.
Aku dan Chino menganga ke arah panah api yang siap membuat daging panggang kedua kali nya.
Mendadak!
Pyar !
Suara bunyi seperti cermin yang retak terdengar, ketika vampir itu mengulurkan tangan kanan nya ke depan, lalu dunia membeku - freeze. Makhluk tampan itu terlalu sakti. Dia bahkan menghentikan waktu, membuat ku tidak bisa apa- apa lagi.
Aku langsung jatuh pingsan setelah kejadian dunia membeku. Aku tidak tahu apa- apa sama sekali. Yang pasti, ketika aku siuman, aku mencium bau amis seperti aroma laut dan ikan, aroma yang akrab dengan ku namun anehnya, aku terombang-ambing dalam kamar sempit di bawah sebuah kapal yang sedang berlayar.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..
__ADS_1