Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Pulau Minnetois


__ADS_3

Peta Samudra Kalumish



Ada cerita orang tua jaman dahulu. Di daerah lepas pantai dari pelabuhan Kota Scorpio, daerah terjauh dari Benua Casiopea tersebutlah satu Samudra luas yang bernama Samudra Kalumish yang jarak nya bermil- mil di tengah- tengah perbatasan Benua Casiopea kami dengan Benua Upios.


Dari cerita-cerita para pelaut yang berlabuh di pelabuhan Scorpio, yang asalnya dari Benua Upios itu, kadang-kadang di Samudra Kalumish itu muncul mahluk-mahluk aneh.


Konon ada yang pernah melihat perempuan cantik dan berwujud putri duyung, ada juga yang bersaksi melihat gadis cantik rupawan, memiliki telinga lancip yang diduga adalah Elf.


Dengan kejadian-kejadian aneh itu, maka timbullah desas desus, bahwa di tengah-tengah Samudra Kalumish itu, konon terdapat pulau pulau yang menjadi tempat tinggal ras- ras makhluk terbuang, yang kalah dalam peperangan lama itu.


Disanalah ras Vampire, Dark Elf, Kurcaci, Avianse dan Duyung tinggal dan menghuni pulau sendiri- sendiri.


Aku menertawakan seorang pelaut yang menuturkan kisah- kisah misterius di lautan, dengan menepis nya dan menyebutkan itu hanya ilusi semata - kala itu ketika aku masih di Kota Scorpio.


Namun sekarang, ketika aku terombang- ambing di lautan, terkurung di suatu kamar di bagian bawah kapal dengan tangan yang di rantai, terikat dengan tangan ke atas.


"Aku akan dibawa kemana?" Tanya ku pada laki- laki yang diduga vampir, yang menyerang ku pagi ketika perang pagi itu terjadi.


Dengan wajah dingin, dan sinar mata yang dalam, pria itu menjawab pertanyaan ku.


"Aku akan membawamu ke Negeri, dimana kami kaum Vampire hidup" jawabnya dengan nada mengejek.


"T-tapi mengapa aku harus dibawa ke tempatmu berasal?" Tanya ku mulai ketakutan.


"A-apa alasanmu membawaku pergi ke tempatmu berasal?" Tanya ku semakin keras.


"Diam !"


Tinju Vampire laki-laki itu menghajar tembok kapal di kamar itu. Aku ketakutan dan hanya menutup mata.


Suasana hening sejenak. Aku diam dalam ketakutan, sementara Vampire laki-laki itu menggertak gigi nya keras-keras. Katanya..


"Aku harus membawa mu ke Pulau Minnetois kami.

__ADS_1


Kamu telah berdosa, membunuh banyak Vampire pasukan tentara kami" kata nya muram.


Aku melongo. Apa-apaan ini? Baru kali ini aku tahu bahwa didalam perang antar negara, satu pihak tidak boleh melawan ketika diserang, kira-kira seperti itu bukan? Maksud Vampire pria ini.


Meski aku merasa menderita di gantung tanganku serta di rantai dengan besi seperti ini, tapi aku tersinggung. Dengan amarah yang meluap aku balas bertanya dengan suara licik..


"Jadi... Maksudmu adalah . Ketika berperang dengan ras kalian, kami manusia tidak diperkenankan untuk balas menyerang? Begitu maksudmu?' nada suara ku semakin licik terdengar.


"Tapi yang kau bunuh di dalam perang itu adalah keluarga kerajaan ! Lumos Eldrishird, dia adalah sepupuku.. keturunan bangsawan ras Vampire yang hampir punah ini" kata pria itu.


Aku terdiam.. aku ingin membantah namun rasa enggan mencuat dalam diri ku. Aku paham bagaimana rasanya kehilangan saudara di dalam perang seperti itu. Aku sendiri kehilangan ayahku ketika perang berlangsung, dahulu. Dan aku mengalami kesedihan yang tidak berujung.


Lalu tanpa ku sadari, aku mengucapkan kata dengan nada simpati..


"Maafkan aku.." kata ku pelan.


"Aku tak bermaksud menyakiti siapapun. Aku hanya seorang pelajar akademi yang dipaksa berperang, hanya karena aku memiliki kelebihan.."


"Pemanggil api !


Kelebihan sebagai pemanggil api bukan? Sudah sejak lama sekali seorang dari ras manusia tidak memiliki bakat sebagai pemanggil api.


Keberadaanmu sebagai pemanggil api, lambat lain akan membuat mu di buru oleh ras-ras lainnya, yang takut dengan pemanggil api" kata pria itu, mengakhiri ceramahnya.


Aku terdiam mendengar penjelasan itu. Aku tak menyadari sama sekali bahwa pemanggil api seperti diriku adalah sosok yang mengerikan bahwa ras-ras abadi seperti Vampire ini misal nya.


Sejak saat itu, Kravas Savzileg Vampire bermata dalam itu hanya datang membawaku makanan, terkadang menyuapiku dengan roti kering, sekedar menahan lapar, karena tangan ku terikat rantai yang dijalin di langit-langit kapal.


Pernah sekali waktu, Kravas memergoki ku mencoba memanggil api, untuk melelehkan baja yang melingkar di tanganku.


"Percuma kau memanggil api, penyihir ! Semua kemampuanmu telah aku blokir dengan kalung ilusi di lehermu, hingga keadaanmu sekarang ini tak ubah seorang makhluk fana. Sebaiknya kamu bersikap baik dalam perjalanan ini, agar aku tidak melemparmu ke dalam Samudra Kalumish, dan menjadi makanan monster- monster abadi yang hidup dalam Samudra" kata Kravas menakut-nakuti ku.


Sejak saat itu, aku berusaha bersikap lebih baik, takut kalau Vampire itu menggila dan melemparku ke dalam Samudra.


Tidak sekali dua kali Kravas mengingatkan ku bahwa dia tahu, aku berasal dari Kota Scorpio. Dalam ancam nya Kravas berkata bahwa jika aku melarikan diri, dia akan mencari Adele, bibiku dan menyandera perempuan yang menjadi satu- satu nya keluarga ku yang masih hidup di dunia ini.

__ADS_1


Tentu saja aku meradang dan mengancam Kravas,


" Lihat saja, jika terjadi apa- apa dengan bibiku itu, aku bersumpah akan membunuhmu!" Teriakku memaki. Kravas hanya tertawa dan berlalu meninggalkan ku sendirian dalam amarah.


******


Waktu berlalu, sebulan perjalanan kami terombang- ambing di Samudra luas itu, pada akhirnya aura aura kehidupan terasa lagi. Burung- burung laut beterbangan, bau harumnya pasir pantai yang akrab, tercium dalam- dalam membuat hatimu lega.


"Daratan..


Pada akhirnya aku akan menginjak tanah lagi" batin ku girang, tapi kembali sedih setelah sadar bahwa aku hanyalah seorang tawanan.


Pulau itu bernama Pulau Minnetois, tempat di mana kaum Vampire tinggal setelah terusir dari daratan besar Benua Casiopea.


Aku berjalan dengan tangan masih diborgol, turun di dermaga yang mana di sambut dengan beberapa tentara yang langsung memerintah ku naik ke dalam kereta sebelum di lihat oleh orang banyak.


Kravas mengikuti ku dan duduk di depan ku, di dalam kereta besar yang hanya ditempati kami berdua. Kravas meletakkan tangannya di dahiku dan mengucapkan mantra, membuat ku terasa tergelitik di perut.


"Itu adalah mantra pembuang bau tubuh.


Sebagai manusia, kau memiliki bau yang khas dan dengan gampang akan diburu oleh seisi pulau" kata Kravas acuh tak acuh.


Aku menggigil mendengar cerita nya. Membayangkan dirimu di buru oleh satu kota yang semua nya adalah Vampire, itu hanyalah sebuah impian horor.


Aku membuka tirai di kereta, mengintip takut- takut kearah luar dan melihat keramaian. Menurutku semua terlihat normal, seperti kota biasa pada umumnya. Yang membedakan adalah pakaian mereka,


"Semua nya adalah pakaian yang ketinggalan mode, mungkin model busana orang- orang itu lebih cocok dipakai pada masa seribu tahun yang lalu" batin ku tertawa.


Mungkin Kravas membaca isi hati ku, lalu dia menjelaskan,


"Yang kau lihat itu adalah Kota Obsidian, kota tempat tinggal kami ras Vampire.


Mereka berpakaian seperti itu, tentu saja karena mereka adalah sosok yang abadi, hidup sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka nyaman dengan busana dari masa awal mereka hidup dulu" aku langsung terdiam dalam rasa malu.


Aku bermaksud membela diri dengan mengatakan bahwa aku tidak menertawakan cara berbusana mereka, tapi seperti membaca isi hati ku, Kravas hanya meletakkan jarinya di bibir, memerintahkan diam.

__ADS_1


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2