Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Penyamun Mantel Hitam


__ADS_3


Angin berhembus pelan, berbaur tipis dengan debu yang menyentuh pipiku, terasa kasar ketika aku mencoba mengusap nya.


Ketika itu siang di Gurun Atulla, aku berdiri bersama-sama dengan tiga tentara sewaan bernama Arash, Hadi dan Sataar menyaksikan kepulan debu di kejauhan sana.


"Lea...


Mereka itu adalah kelompok penyamun. Aku tahu betul, mereka adalah kelompok penyamun terkenal di Gurun Atulla, menggunakan Kelompok Mantel Hitam !" kata Arash ketakutan.


Tiga orang tentara bayaran itu bergegas bersembunyi di balik tebing tebing karang yang berjejeran di sepanjang padang pasir saat.


Tadi aku sempat menepis tangan Arash ketika dia dengan rasa takut mencoba menyeretku, bersembunyi di balik tebing, mencari-cari gua tempat persembunyian. Aku malahan memerintahkan dia untuk bersembunyi menyelamatkan diri bersama Hadi dan Sataar.


Suaraku terdengar dalam dengusan dingin dan berkata kepada Arash..


"Biarkan saja.


Aku kepingin melihat seperti apa lagak para penyamun itu ketika sadar berhadapan dengan seorang penyihir !"


Arash hanya mengangguk kepala, sadar akan kemampuanku, lantas berlari mengikuti dua orang temannya Hadi dan Sataar.


Kini aku terbiar sendiri, berdiri di padang pasir dengan semilir angin panas bercampur debu, menanti kedatangan kelompok Penyamun Mantel Hitam.


Bunyi suara ringkik kuda campur debu nyata terdengar, ketika dua puluh penyamun itu berhenti kira-kira 10 tumbak jauhnya dari hadapanku.


Aku mengerutkan kening, memperhatikan mereka baik-baik ke dua puluh penyamun, ditambah dengan satu orang lainnya, yang sepertinya adalah pemimpin mereka.


Mereka semua mengenakan mantel gelap, panjang hingga ke kaki. Mereka juga mengenakan kain penutup kepala, lengkap dengan kain tipis menyamarkan wajah mereka, hanya memperlihatkan dua pasang mata.


Walaupun wajah dan raut mimik mereka tidak terlihat jelas, akan tetapi siapa pun akan menebak gampang. Dua puluh penyamun ditambah satu pemimpin yaitu adalah sosok manusia keras, jahat dan ganas.


Itu semua tergambar jelas di mata yang menyala dalam warna kemerahan, mirip seperti mata orang yang belum tidur berhari-hari lamanya.


Lagi pula aku melihat aura kebencian yang begitu dalam di mata orang-orang itu.


"Sudahlah dengan penampilan yang tidak menarik bahkan menimbulkan rasa takut semuanya memegang masing-masing satu pedang yang berkilauan ketika tertimpa matahari" batinku mencibir.


Dua puluh satu orang itu, dengan sengaja memantulkan sinar matahari dari pedangnya ke arahku. Tapi aku tidak memejamkan mata, malahan berbalik membuka mata lebar-lebar, menantang tindakan intimidasi itu.


Pedang yang mereka pegang adalah pedang bermata satu, panjangnya hampir mencapai dua depa, dengan ujungnya yang melengkung beraura kematian.


Meskipun keseluruhan tampilan mereka sama, akan tetapi ada seseorang yang membawa aura dan pedang yang berbeda, tidak seragam seperti kepunyaan penyamun lainnya.


"Sepertinya dia adalah pemimpin dari kelompok Mantel Hitam ini" pikirku.


Lagipula dia berdiri dengan kudanya sedikit jauh lebih kedepan memisahkan diri dan menebar aura kekejaman, seolah-olah mengatakan keras-keras bahwa dia adalah yang paling berkuasa di antara penyamun- penyamun ganas itu.


Dengan nada suara yang terdengar dingin mirip seperti suara burung hantu - berkokok ngeri di malam hari, Kepala Penyamun itu berbicara kepadaku, nadanya terdengar seperti meremehkanku katanya.


"Betulkah kamu yang bernama Lea? Gadis petarung yang menurut kabar burung telah mengambil misi di kantor Penguasa Kota Sahireb? Kau berniat menghabisi Harpiest itu bukan?" kata pimpinan Penyamun, terdengar dingin dengan sinar mata menyala yang menampilkan urat- uratnya berwarna merah.


"Ya benar. Itu aku, Lea !" jawabku singkat sedikit malas- malasan.


"Bagus !" jawabnya tercengang, melihat aku tidak terlihat takut sama sekali.

__ADS_1


"Apakah kau pernah mendengar nama Mansour dan Kelompok Penyamun Mantel Hitam sebelumnya? Mantel Hitam adalah kumpulan penyamun penguasa di Gurun Atula ini !


Dan kau tidak usah repot-repot mencari mereka. Kami inilah Kelompok yang disebut Penyamun Mantel Hitam" Balas mansour pongah.


Aku seperti merasa di tengah tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang disepuh dengan emas, kuning berkilauan tapi mengerikan. Perutku seketika mual.


Mansour bahkan menambahkan, semakin congkak terdengar..


"Mereka semua ini adalah anak buah ku, pengikut setiaku.


Dengar baik-baik perempuan.. kami datang untuk memperingatkan mu. Jangan kamu mencoba mengusik keberadaan Harpiest makhluk legenda yang diam di Gurun Atulla.


Kutukan akan terjadi kalau Harpiest itu sampai mati !" ancam Mansour diantara mata merahnya seperti setan.


Aku mengerutkan kening ku merasa heran dengan ancaman mansour. Kataku.


"Mengapa?


Mengapa aku tidak boleh menumpas makhluk pengganggu itu?


Coba berikan aku satu alasan yang tepat agar aku bisa pergi dengan hati lapang" jawab ku acuh tak acuh.


Tsinggg ! Dua Puluh pedang seketika di acungkan ke arahku.


Bukannya menjawab pertanyaanku dengan alasan tepat mengapa Harpiest itu mereka lindungi, yang ada malahan dua puluh anak buah Mansour mengacungkan pedang bermata satu kearahku, siap-siap merobek seperti membunuhku, mati ditempat.


Kata Mansour, mengejek karena merasa diatas angin dengan bantuan dua puluh bilah pedang..


"Lupakan semua itu! Lupakan tentang Harpiest !


"Aku peringatkan awal-awal, agar kamu tidak akan menyesal nanti" ancam Mansour.


Hihihi, tawaku terdengar seperti iblis betina, pecah di kesunyian padang gurun tak berpenghuni itu.


Aku pun tertawa mengejek Mansour, membalas sikap angkus penyamun-penyamun itu. Kataku


"Dear Mansour dan semua kelompok Penyamun Mantel Hitam..." suaraku terdengar dramatis.


"Aku heran. Mengapa kalian melindungi Harpiest monster pengganggu itu?


Apa ada rahasia tertentu yang disembunyikan di balik ini semua?"


Blam ! Ini jelas-jelas tantangan dari ku.


Dan mata Mansour terlihat semakin berwarna merah pertanda dia dilanda rasa marah. Tapi aku memang sengaja melakukannya guna memancing murka dari pemimpin Kelompok Mantel Hitam itu.


Dengan suara yang semakin dingin, bergetar menyembunyikan rasa marah Mansour berkata..


"Kami kelompok penyamun ini, berusaha melindungi Harpiest itu karena kami menghormati nya sebagai makhluk legenda.


Mengenai alasannya, kamu perlu tahu bahwa Harpiest itu memiliki kekuatan yang luar biasa.


Kami percaya bahwa dengan kekuatan sihirnya, selama ini dia telah melindungi kami, tetap selamat dari kejaran dan siksa musuh-musuh.


Kekuatan sihirnya memang membantu kami dalam setiap pertempuran berbahaya di gurun ini.

__ADS_1


Patut kau catat perempuan... jika kekuatan Harpiest itu jatuh ke tangan yang tidak benar, bencana akan terjadi ! Dalam hal ini kami pun tidak percaya dengan dirimu !" caci Mansour.


Tapi kata-kata kekuatan itu membuatku tersentak.


"Aku harus membunuh Harpiest itu, lalu mengambil kekuatan sihir yang disebut Mansour" dalam hati aku menjadi girang luar biasa.


Ketika kultivasiku mentok dan tidak bisa melakukan penerobosan, bukankah informasi Mansour ini adalah secercah titik terang bagi kemajuanku? Bibirku melengkung, senyuman tipis membayang wajah.


******


Cuaca sedang cerah dan aku berdiri di tengah padang gurun menghadapi dua puluh satu penyamun yang bersenjata pedang.


Aku menutup mataku bersiap untuk memompa kekuatan sihir ku ke tangan kanan dan kiriku.


Bibirku tersenyum mencibir lalu tiba-tiba api menyala di sekelilingku meluap dalam nuansa warna biru dan putih terbentuk dalam wujud Pedang Api yang terlihat mengerikan di tanganku. Semua Penyamun yang tadinya angkuh dan arogan, seketika tercengang melihat atraksi yang dramatis ini


Ketakutan tergambar jelas di wajah para Penyamun itu, mereka terpaku dalam diam penuh rasa horor. Namun mereka tidak mundur karena hanya ada dua pilihan. Maju menyerang atau menyerahkan diri kepada takdir gadis ini.


Aku bergerak dengan cepat seperti bayangan dan dengan satu gerakan aku berniat menghancurkan semua pedang di tangan Penyamun Mantel Hitam itu.


Tsing, sentakan terjadi, bunyi goresan pedang terdengar.


Aku mendengar suara sumpah serapah dari mulut dua puluh satu Penyamun itu, ketika mereka melepaskan pedang yang terasa mendidih ketika berbenturan dengan pedang apiku.


Teriakan-teriakan perih yang menyebut kan kata "Panas, bara api !" kini terasa akrab di telinga ku.


Wajah-wajah ketakutan itu berubah menjadi putus asa ketika menyadari bahwa aku, perempuan yang mereka remehkan itu adalah seorang Penyihir Afinitas pemanggil api.


Aku tertawa menyeramkan, terlihat mengerikan seperti iblis api betina, ketika sekali lagi membuat lingkaran api, panas mirip neraka, dengan lidah api biru berpendar hingga dua tombak jauhnya.


Dalam rasa panik serta ketakutan, karena berhadapan dengan penyihir pemanggil api sepertiku.. sekonyong-konyong Mansour pemimpin Penyamun Mantel Hitam itu berseru..


"Siapkan kabut putih"


Aku melihat bingung ketika mereka 21 Penyamun merogoh sesuatu dari kantong mereka, benda itu berbentuk bulat kecil lalu menghancurkannya dengan meremasnya, kemudian melempar ke arahku.


"Racun..


Inil adalah asap beracun!" batinku berusaha menahan nafas.


Aku terbatuk-batuk bahkan tersedak ketika dikelilingi 21 benda yang dengan kekuatan penuh mengeluarkan asap putih membentuk kabut beracun.


Aku hampir tak kuat melawan racun membius dan membuat tubuhku terasa lemas itu. Tapi beruntung statusku sebagai asisten penyihir level 3, dan dengan nilai daya tahan hidup ku sebesar 10 - element daya tahan inilah yang mampu membuatku bertahan terhadap efek racun.


Saat itu juga aku menjadi meluap dalam amarah lalu mengeluarkan kutukan mantra api Fire Arrow.


Fire arrow, dengan api biru membumbung di tanganku ketika panah itu terbentuk lalu aku meludah kan kutukan dan berteriak keras-keras.


"Mematikan !"


Duar - duar - duar !


Aku tak melihat apa-apa lagi namun samar-samar aku mendengar ledakan keras akibat dari kekuatan ledakan mantap. Satu hal yang aku yakini bahwa 21 Penyamun itu pasti mati dengan kutukan dengan mantra Fire Arrow yang jangkauannya amat luas itu.


Bersambung.

__ADS_1


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2