
Aku berjalan mengikuti langkah kaki empat kawanku dari Akademi Militer Dorado, tentu saja setelah sebelumnya mendaftarkan diri ke dalam bagian adminsitrasi Misi Akademi agar tercatat sebagai anggota kelompok yang Cal pimpin bersama kawan-kawan nya yang semuanya ahli pedang (knight). Tentu saja, kami berharap kelengkapan formasi ini akan meluruskan perjalanan kelompok ini menylesaikan misi akademi.
Perlu aku informasikan disini, setiap tahunnya, siswa di akademi kami, wajib menyelesaikan sekurang-kurangnya dua misi. Atau jika kamu tidak mau menyelesaikan misi itu, kamu dapat membayar dengan point kontribus, atau menggunakan eliksir tingkat tengah yang tentu saja tidak sedikit. Aku tidak mau meghbiskn poin kontribusiku yang cuma seberapa ini, atau menggunakan eliksir tengah guna membayar kewajiban menjalankan misi.
Aku memerhatikan dan menilai empat kawan kelompok ku, termasuk Cal yang telah ku kenal, dimana gambaran umum mereka seperti ini :
Cal sebagai pemimpin kelompok, usia lima belas tahun, kemampuan : Ahli Pedang dan Asisten Knight Level satu.
Boy, juga seorang anak laki-laki, berambut lurus berwarna pirang, kemampuan adalah Ahli Pedang dan Asisten Knight Level satu.
Jerry, laki-laki usia enam belas tahun, penampilan tenang dengan postur tinggi berambut coklat terang. Kemampuan : Ahli Tempur menggunakan tombak dan pedang, seorang Asisten Knight level 1.
Terakhir Debbie, gadis muda usia lima belas tahun. Berambut pirang dengan mata berwarna seterang langit biru. Meskipun Debbie seorang perempuan, namun keahlian nya sebagai ahli panah, membuat Debbie memiliki kemampuan sebagai Asisten Knight level satu.
Dari lima orang yang menjalankan misi ini, aku merasa paling rendah kemampuanku tempurku. Nilai tempurku yang hanya 0,5 - jauh dibanding empat kawanku yang memiliki nilai diatas satu.
Ini mungkin karena aku belum juga menembus Gelar Petarungku sebagai Asisten Sihir Level satu, sehingga membuatku merasa agak minder diantara empat kawanku yang lain.
"Tidak usah kamu kuatir. Kami memang membutuhkan seorang berkemampuan sihir, meskipun dia bukan seorang asisten sihir level satu. Asalkan saja kau telah menguasai minimal satu mantera penyerangan level nol.. itu sudah cukup" demikian selalu Cal ucapkan jika aku mulai mengeluh dan endah diri dengan gelar petarungku, yang bahkan belum memperoleh kultivasi di level terbawah dari seorang petarung.
Namun aku setidaknya bangga akan diriku sendiri. Meskipun aku belum masuk kedalam peringkat rendah untuk di sebut petarung atau penyihir, namun tidak ada yang tahu kalau angka statistik kemampuan dan energi sihir ku telah setara dengan Asisten Sihir Level 1.
__ADS_1
Bahkan, mereka mungkin akan sangat terkejut jika mengetahui kalau aku adalah pemangil api aktif, yang dapat memainkan api sebesar bola basket untuk saat ini (meskipun kemampuan setangguh ini adalah pengaruh Talisman penguat gelombang yang mengangkat nyala ai sihirku dari sebesar bola tenis menjadi sebesar bola basket)
******
Saat itu bulan purnama terlihat di langit Kota Dorado, dengan lingkaran halo nya berpendar kekuningan, mirip seperti cincin mengelilingi bola bundar putih itu. Awan tipis sesekali terlihat melintas, membuat bayangan aneh di hadapan cahaya dingin sang rembulan, yang menambah kesan mistis dan penuh energi sihir bagi petarung atau penyihir gelap untuk menyesap energi Bulan Purnama.
Malam baru saja menjelang, ketika kami berlima tiba di tanah di batas kota Virgo dengan tanah pinggiran yang merupakan tempat atau lahan luas yang dijadikan kawasan pertanian, peternakan dan pabrik pengolah kayu batangan.
Disana adajuga area pemakaman kuno bercampur pemakaman baruyang ketika kami melewati gerbang makam saja, terlah terdengar suara-suara aneh yang mendirikan bulu roma. Kami melangkah penuh rasa waspada, ketika melewati situs atau spot tempat peninggalan purbakala setelah perjalanan satu jam melintasi makam besar itu.
(Jika kamu bertanya-tanya, mengapa dibutuhkan waktu satu jam melintasi jalanan yan sisi kirinya adalah area pemakaman? Jawabannya mudah sekali. Perang dan korban perang yang di bawa pulang keluarga untuk di makamkan di negeri leluhur mereka. Itu tidak termasuk ribuan lagi jasad yang tidak sempat di identifikasi, atau tidak di bawa pulang oleh kaum keluarga, dari arena peperangan empat negri, di suatu tempat luas di balik jejeran Pegunungan Hantu ini.
Reruntuhan kuno tujuan kami itu terletak di paling sudut, paling beakang area luas ini, dan bersebelahan dengan jajaran pegunungan hantu yang panjang.
"Misi utama kita adalah membasmi komplotan Imp licik yang melakukan praktek perampokan terhadap para pelintas orang-orang fana dari Negeri Dorado menuju tanah seberang di Negeri Hydra atau sebaliknya" kata Cal mengakhir penjelasannya.
(Perlu aku jelaskan disini. Untuk kaum masyarakat yang tidak menguasai kekuatan petarung sebagai Knight atau kekuatan sihir sebgai penyihir, kami menyebut mereka dengan sebutan Kaum Fana atau Kaum Mortal).
Dengan pedang terhunus di tangan, kecuali aku yang memegang sepasang belati karena hanya itu senjata yang aku punya, kami berjalan mengendap-endap, penuh kewaspadaan dari serangan Imp jika saja mereka melakukan tindakan membokong dan menyerang dari belakang.
Kami berputar-putar diatas reruntuhan kuno itu selama dua jam lebih dan tidak menjumpai satu makhluk hidup pun, apalagi Imp yang dikabarkan sering mengganggu para pelintas.
__ADS_1
Lalu kemudian rasa bosan mulai melanda kami berlima, karena suara-suara angin berdesir dan cicitan burung malam tidak lebih dari suara pelengkap malam yang membuat semua orang merasa tercekam dan berpikir yang tidak-tidak dalam fantasi berlebihan.
Meskipun demikian, aku tak menghilangkan kewaspadaanku sama sekali. Pengalaman di Hutan Cemara Angin mengajarkanku agar selalu waspada jika berada di tempat perburuan seperti ini.
Ketika itu keheningan pecah karena secara tiba-tiba aku menjerit keras, dimana mataku terpaku melihat dua pasang mata terbelalak terlihat kontras diantara kegelapan. Bahkan kian lama makin terasa mengerikan ketika bola mata merah itu berpendar dan berpaling menatapku. Aku merasa nafasku terhenti karena mata itu seperti akan mengoyak tubuhku dengan kekuatan asing yang sulitku lukiskan.
"Imp !" teriakku lantang, meminta seseorang untuk menembak dua pasang mata merah itu.
Dengan tangkas, Debby langsung melepaskan empat anak panah, berurutan dengan cepat menyambar ke arah dua pasang mata itu.
"Mati kau iblis !" sumpah Debbie ketika empat anak panah terlepas dari busurnya. Kekuatan tempur level satu asisten knight, tentu saja membawa dampak hebat atas tembakan anak panah gadis itu
Tep - tep - tep suara anak panahnya melesat secepat angin, dan jatuh tepat kena sasaran. Asap putih keluar pertanda makhluk itu langsung tewas terkena sambaran anak panah kepunyaan Debbie, asisten knight level satu.
Melihat kematian dua Imp itu, seketika kabut putih lainnya seperti asap terlihat muncul dari dalam kegelapan. Lalu ketika kabut putih itu lenyap, terlihat lebih dari sepuluh imp atau makhluk roh yang badannya berubah menjadi nyata. Kata salah satu Imp itu dengan suara bergema yang menakutkan..
"Kalian telah mengganggu kenyamanan tempat ini.
Tidak tahukah kamu, kalau reruntuhan kuno ini akan kami bangun menjadi tempat pemujaan dan markas kami?
Bersambung.
__ADS_1
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih