Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Kesepakatan


__ADS_3

The Phantom adalah satu-satunya bar dan rumah minum yang ada di Kota Sahireb. Penampakan dalam Bar adalah suasana klasik nuansa khas Benua Upios. Ada terdapat kursi kayu tua, meja antik dengan dekorasi kepala mahluk-mahluk ganas seperti kepala Leopard, yang dikeringkan menghias dinding The Phantom, selain lukisan pemandangan.


Pemilik The Phantom bernama Mahyar itu, tahu bahwa minuman alkohol, ilegal di Negeri Chambat ini. Akan tetapi karena Kota Sahireb letak nya jauh dari ibukota Azkabh, The Phantom dengan bebas menjual minuman beralkohol untuk pelanggan.


Minuman segar non alkohol adalah pilihan lain jika pelanggan tidak suka minuman beralkohol. Mahyar sendiri sang owner yang juga seorang knight jago pedang tua, melayani di bar sebagai bartender.


Aku melihat Mahyar, Knight pemilik The Phantom tersenyum ramah ketika pelanggan masuk ke dalam bar satu demi satu . Suasana di dalam tavern ini sungguh menyenangkan, namun diwarnai dengan lagu-lagu Padang pasir yang mengalun lembut. Di dalamnya, Anda bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan.


Aku berdiri di pintu bar bernama The Phantom, melihat dan mencari cari ke sekeliling ruangan, kalau- kalau ada pria yang terlihat sebagai seorang petarung, atau lebih baik lagi kalau dia adalah tentara bayaran atau mantan tentara yang bersedia aku sewa jasanya untuk menemaniku pergi ke Gurun Atula besok


Dalam pengamatan ku, setelah aku menyelidiki pria-pria kuat dalam The Phantom, memang ada banyak sekali pria seperti yang terlihat cocok dengan deskripsi petarung.


Pria botak yang sana misalnya (dia duduk sendirian, dengan gaya dramatis, seolah-olah mengumumkan kalau dia adalah seseorang yang berbahaya). Dia mengenakan jaket kulit dengan muka memiliki codet atau bekas bacokan senjata tajam. Dari penampilannya saja aku tahu bahwa dia seorang petarung.


Akan tetapi aku bukan mencari seseorang yang berpenampilan mengerikan saja. Yang aku cari adalah pria kuat juga memiliki pengalaman di Gurun Atula. Lebih bagus lagi jika dia adalah seorang asisten Knight level satu, yang mengetahui pelajaran teknik-teknik pertempuran dengan kekuatan roh, bukan sekedar menjadi petarung hanya karena pengalaman saja.


Itulah sebabnya aku melacak hanya orang yang terbaik saja untuk membantu perjalanan ke Gunung Atula. Menurutku ini bukan pekerjaan yang main-main sekedar gagah-gagahan. Ada nyawa yang dipertaruhkan nanti.


Bolak-balik aku melakukan pemindaian, seketika itu aku melihat sekelompok pria yang meskipun badan mereka tidak kekar seperti tukang pukul atau petarung, tapi di balik tubuh itu, mereka terlihat memiliki dasar-dasar kelincahan juga kegesitan yang sangat diperhatikan kaum kami, penyihir. Orang-orang seperti inilah yang menjadi targetku, yang memiliki gerakan cepat, untuk berburu Harpiest.


Kelompok orang-orang itu terlihat sedang bermain catur, ada juga yang bermain kartu sementara yang lain tampak bercakap-cakap terlihat santai minum bir.


Sekonyong-konyong aku mendapatkan ide. Mungkin dengan berteriak dan mengajukan penawaran kalau siapa yang berminat dengan tawaran ku adalah ide yang Brilian.


Aku berteriak keras-keras..


"Namaku Lea !.


Aku mencari 3 pria kuat dan pengalaman di Gurun Atula. Barang siapa yang ingin menjadi tentara bayaran ini, maka aku akan membayar dengan kompensasi yang pantas"


Tentu saja di antara puluhan orang itu lebih dari setengahnya menoleh dan memperhatikanku dengan baik baik bahkan beberapa dari mereka bahkan berdiri dan berjalan mendekat. Wajah mereka terlihat antusias bertanya mengenai kompensasi dan tugas yang akan aku berikan nanti.


"Hai Lea,

__ADS_1


Namaku Arash. Aku dengar anda sedang mencari tentara bayaran untuk dibawa ke Gurun Atula besok?" tanya salah satu nya.


"Benar aku memang membutuhkan orang-orang yang berani Gesit dan berpengalaman dalam perjalanan di Gurun Atula.


Dalam hal ini, aku membutuhkan orang yang bukan saja sekedar memiliki otot yang besar saja. Orang yang kusewa menjadi tentara bayaran nanti, dia juga harus hafal dengan jalan jalan tikus atau sudut-sudut gampang melarikan diri, di Gurun Atula,


Rencananya aku akan mengambil misi dari Tuan Kota untuk membereskan Harpist yang suka mengganggu pelintas di Padang Gurun"


Sontak saja wajah tga orang itu, Arash, Hadi dan Sattar berubah nya menjadi gelap. Rupa-rupanya mendengar nama Harpiest, mereka semua menjadi gentar.


Memang Harpiest adalah salah satu makhluk legenda yang terkenal memiliki kekuatan sihir. Dia mampu menimbulkan badai di padang gurun.


Setelah diam sebentar lalu Arash yang sepertinya merupakan pemimpin dari tiga orang itu bertanya kembali


"Bagus.. Membunuh Harpiest ditemani penyihir seperti kamu, adalah suatu kehormatan bagi kami.


Kalau begitu tolong katakan, berapa kompensasi yang akan kami terima nanti?


Sebagai catatan, ami tidak menerima pembayaran menggunakan koin emas. Kami hanya menerima pembayaran dengan kristal elixir !" tegas Arash.


Karena kristal eliksir itu adalah bahan yang terbatas untuk diketahui hanya di kalangan penyihir atau Knight saja.


Rupanya tiga orang ini adalah individu yang telah terbiasa menjadi tentara sewaan oleh kaum penyihir atau Knight. Tentu saja dalam hal ini, ku merasa senang. Mereka telah berpengalaman melakukan misi bersama seorang ahli seperti aku.


******


Sambil menenggak minuman di gelasku - itu adalah minuman bir rendah alkoholnya, aku berkata.


"Baiklah aku akan membayar kalian masing-masing 10 kristal elixir tingkat menengah.


Tanda jadinya adalah 1 kristal, sisanya 9 eliksir, akan aku berikan ketika nanti telah selesai semua misi !" kata ku, sambil sekali lagi bir di dalam gelasku.


Tadinya aku menduga bahwa mereka akan keberatan dengan penawaran ku 10 kristal tingkat menengah itu. Menurutku cukup rendah akan tetapi ternyata di mata tentara tentara bayaran, 10 kristal eliksir ini adalah nilai yang tinggi. Aku menjadi girang dalam hati.

__ADS_1


******


Beberapa saat kemudian setelah kesepakatan itu terjadi, kami berempat tenggelam dalam pesta kecil minum-minuman bir, yang aku pesan.


"Selamat kita sudah mencapai kesepakatan" kata Aras mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.


Aku pun tak mau kalah dengan mengangkat gelas ku tinggi-tinggi, lalu berteriak


"Selamat ! Aku sangat senang kalian menjadi bagian dalam tim ku untuk membereskan Harpiest.


Mari kita minum sambil merayakan perkenalan ini !" kami semua langsung meneguk minuman bir yang seketika gelasnya menjadi kosong.


"Tambah !" teriak-teriak pada bartender.


Malam itu berlalu dengan cepat di mana udara dingin merayap di kota sepi bernama Sahireb. Angin berdesir kencang menjadikan malam yang indah berselimut kan sepi, dihiasi suara makhluk-makhluk malam.


Awan mendung di langit yang berwarna biru gelap, terlihat suram, tak ada lagi kicau burung atau suara hewan lainnya. Tak ada lagi cahaya yang menyinari kota Sahireb, semua benar-benar hening dan sepi.


Aku berjalan bersama 3 pria tentara bayaran itu menyusuri Gurun Atula di pagi hari. Di sepanjang jalan angin berdesir seperti berbisik dan mengingatkan kami semua bahwa ada banyak sekali bahaya yang mengintai di padang gurun itu dan membuatku lebih berhati-hati lagi.


Meskipun suasana gurun terasa sunyi, dan panas belum lagi turun akan tetapi tidak ada satupun diantara kami yang berani berbicara keras-keras, takut membangunkan makhluk-makhluk tak diinginkan yang kapan saja dapat menerjang dan mengganggu perjalanan ini.


Waktu pun berlalu, tak lama lagi matahari telah berada di titik tertinggi yaitu di puncaknya di atas kepala kami. Dengan peluh yang bercucuran kami tetap bersemangat menyusuri jalan sambil di komandani oleh sang pencium jejak, Arash.


Tiba-tiba...


Kami terkejut mendengar suara keramaian dengan bunyi-bunyian akrab, itulah bunyi beberapa kaki kuda yang dari kejauhan saja telah terlihat berupa debu tinggi pertanda kecepatan yang dilarikan Kuda itu amat cepat menyusul kami.


Arash mendesis, memperingatkan kami.


"Perampok! Mereka adalah kumpulan perampok yang biasa beraksi di tengah-tengah gurun atula merampas bahkan membunuh tanpa rasa iba sedikitpun" wajahnya pucat. Kami hanya berempat, sedangkan merek perampok itu? Mungkin lebih dari 20 anggota


Arash dan dua kawannya terlihat menggigil, mereka menarik-narik tanganku memaksa untuk bersembunyi. Akan tetapi tidak demikian dengan keinginan hatiku. Aku tetap duduk tegak di atas kuda, terlihat sengaja menanti kedatangan perampok- perampok itu.. Aku ingin melihat aksi mereka, benarkah mereka tidak kenal ampun? Aku penasaran dan ingin merasakan tanpa ampun itu seperti apa rasanya.

__ADS_1


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2