Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Dua Jeritan


__ADS_3

Semenjak kejadian itu tak seorang pun di dalam puri yang melarang ku ketika aku pergi ke ruang latihan tempur untuk berlatih dan mencoba memainkan berbagai macam gerakan yang telah aku pelajari di Akademi Dorado.


Aku bersyukur dalam hati karena meskipun semua kekuatan sihir dan kekuatan fisik ku sebagai seorang Knight-ku menghilang, namun pikiranku masih tetap waras dan sempurna.


Aku masih mampu menghafal melakukan kembali semua gerakan dan teknik pedang yang pernah diajarkan oleh instruktur Academy Dorado kami, Kapten Cannabas.


Sayang sekali aku belum banyak mempelajari teknik- teknik dan gerakan pedang yang semestinya. Semua penguasaan teknik dan gerakan pedang milikku, itu hanyalah teknik-teknik dasar level satu


Itu semua karena aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk pelajaran- pelajaran sihir ketimbang pelajaran teknik tempur seperti ini.


Beruntung sekali di sela- sela pelatihan pedangku, kadang kala ketika Kravaz datang ke Puri, setelah kembali dari perjalanannya, dia melihatku di ruang latih, yang kini begitu giat berlatih.


Bahkan Kravas memberikan beberapa petunjuk kepadaku, dimana dia mengajarkan beberapa teknik pedang ciri khas khas kaum vampir yang mereka namakan Teknik Pedang Abadi.


Teknik Pedang Abadi ini, lebih didasarkan pada kecepatan gerak pedang, disertai kekuatan tempur Knight dan juga kelincahan, maka teknik ini akan membuat seseorang lenyap seperti bayangan, terlihat seperti kaum abadi.


Meskipun itu hanyalah sekilas atau kulit- kulit dari seluruh rangkaian teknik Pedang Abadi, akan tetapi aku merasa sangat bersyukur. Dari Kravas, aku paham bahwa gerakan teknik pedang ini semestinya dilakukan disertai berbagai perubahan- perubahan cepat.


Aku tersadar, sesungguh nya aku sedang mempelajari satu hal ternyata pedang yang diajarkan Kravas ini adalah teknik pedang tingkat tinggi yang setara dengan mantra level tiga.


Waktu pun berlalu dan tanpa terasa kehidupan ku di pulau Minnetois dan saat ini pulau itu mulai memasuki musim gugur.


Terkadang aku diizinkan untuk berjalan-jalan di kebun sekitar Puri dan melihat keindahan tanaman taman. Atau sekedar melihat indahnya daun-daun dan bunga yang berguguran dengan penampakan itu demikian dramatis namun romantis.


Aku terpesona dengan keindahan itu, karena di kota Scorpio kami tidak mengenal akan empat musim seperti layaknya di Pulau Minnetois ini.


Betty pernah menjelaskan bahwa di Pulau Minnetois ini ada terdapat empat musim. Musim panas, musim gugur, musim dingin lalu musim semi - ketika bunga-bunga semua kembali mekar.


Sore itu langit telah berwarna jingga pertanda malam akan tiba. Namun aku belum lagi masuk ke dalam puri dan masih berjalan-jalan di taman bunga penuh dengan penampakan daun daun yang berguguran. Aku merasa seperti putri di kisah- kisah klasik, yang berjalan di hamparan daun berguguran sambil memasang wajah murung, semurung daun yang jatuh pada musimnya.


Menurutku, semua penampakan Musim gugur ini terlihat deJavu, seperti yang pernah aku lihat di lukisan-lukisan di rumah-rumah orang kaya atau di Akademi Dorado sendiri.

__ADS_1


Aku berjalan sambil mengenakan satu mantel yang terbuat dari kain berlapis dan menggelembung sehingga membuat tubuh ku selalu terasa hangat. Aku membayangkan seperti putri- putri terasing, lalu mencoba berakting seperti penampilan artis- artis keliling pada malam pertunjukan di bar kumuh Kota Scorpio kami.


ku berjalan semakin jauh kr bagian belakang dari kebun semakin mendekati daerah pantai, yang sesungguhnya merupakan daerah terlarang yang tidak diijinkan siapapun untuk berkunjung. Pantai itu bernama pantai Oyster Beach.


Aku merenung dan melihat jauh- jauh sejauh mata memandang, lautan yang membentang luas tiada tepi, demikian indah dan berkesan mistis ketika matahari kian memudar. Lalu muncul bayang-bayang bulan tampak di sebelah timur dari Samudra Kalumish.


Ketika aku tengah menikmati suasana yang romantis namun dramatis itu, sekonyong-konyong aku mendengar suara nyanyian yang bernada sedih, terdengar sangat memilukan.


Di sela-sela nyanyian yang pilu itu kadang diselingi dengan suara rintihan yang berkata "Tolong kami.. tolong kami "


Leherku rasanya tercekat mendengar suara itu. Lalu tanpa sadar aku pun bersuara


"Siapa itu?"


"Mengapa kamu meminta pertolongan.. dan di manakah kamu berada?"


Keadaan menjadi Hening sebentar setelah aku bertanya seperti tadi. Lalu, kembali terdengar suara 1 orang laki-laki. Sepertinya itu suara anak muda.


Kami terperangkap di dalam suatu perangkat jala yang dengan sengaja ditebar.


Jala itu untuk menangkap makhluk-makhluk jahat di laut, namun sayangnya kami lah yang terjerat" kata suara laki-laki itu. Dia melanjutkan..


"Jika kamu tidak menolong kami. mungkin kami berdua akan mati dan menjadi santapan makhluk jahat nanti. Tolonglah.." rengek suara laki-laki itu.


Pengalaman membuatku tidak lantas percaya mentah-mentah akan kata-kata seperti itu. Bisa saja itu adalah jebakan dari makhluk laut yang, menipu lalu menyantap ku. Ragu-ragu aku berteriak.


"Jika kamu betul adalah seorang manusia, tunjukkan wujud kamu. Atau setidaknya bagian tubuh manusia mu, bukan hanya memperdengarkan suara seperti itu" kataku


Laki-laki itu lalu menjawab dari arah laut.


"Sesungguhnya kami berdua terjebak di dalam air dan kami tidak bisa menunjukkan diri kami.

__ADS_1


Namun jika kamu menghendaki.. aku dapat menunjukkan tanganku, meskipun tidak bisa menampilkan seluruh badanku" kata suara dari arah laut.


Lalu dengan cepat seperti seseorang yang melompat dari kedalaman laut, berusaha menyembul ke udara, 1 tangan dari dalam air, tapi dengan cepat kembali masuk ke dalam air.


Aku memperkirakan jarak ku dari bibir pantai ini, ke arah mana munculnya tangan itu ada kurang lebih sekitar 50 sampai 100 meter. Sebagai seorang yang dibesarkan di kota tepi laut, bagiku untuk berenang pada jarak seperti itu,itu hanya hal yang sepele.


Aku telah melihat tangan yang muncul itu dan memastikan bahwa itu adalah tangan manusia. Lantas aku melepaskan mantel tebal ku dan semua pakaianku, menyisakan pakaian dalam air


"Byur !"


Aku melompat ke dalam air laut dan kedinginan. Namun karena memikirkan keselamatan 2 manusia yang berteriak meminta tolong itu, aku Mengabaikan semua rasa dingin. Tubuhku bergerak dengan cepat di dalam air laut seperti ikan pesut.


Tidak membutuhkan waktu terlalu lama, aku telah tiba di tempat mana tangan itu muncul tadi lalu aku menyelam dan mencari-cari mereka di kedalaman laut.


Aku menyelam kira-kira 5 m dari permukaan air. Meskipun keadaan saat itu gelap namun mataku yang telah terlatih sebagai mata seorang ahli sihir, aku dapat melihat dalam kegelapan dalam batas toleransi tertentu.


Aku melihat dua sosok yang di dalam lautan di dalam air bergerak-gerak dan memanggil-manggil sambil berteriak memenuhi benakku,


"Sebelah sini.. sebelah sini.. tolong kami"


Dengan terlatih aku merogoh belati yang selalu aku simpan di dalam tas antariksa, dan aku mengoyak-ngoyak jala yang sepertinya terbuat dari tali Rami khusus.


Saat itu juga ketika dua makhluk itu lolos dari jala tali Rami itu mendadak aku terdiam, membeli. Leherku rasanya tercekat dan tidak bisa berkata-kata apapun lagi.


Dua sosok itu adalah 2 manusia yang laki-laki usianya sekitar 16 tahun dan yang perempuan mungkin berusia 12 tahun. Laki-laki itu berambut pirang hidungnya mancung dan mungil. Bibirnya bagus dan kulitnya mulus, melengkap kesan tampan, dia bermata biru.


Anak perempuan itu juga tak kalah menariknya dibanding sang laki-laki. Dengan rambut yang terlihat Ikal berwarna emas, bola matanya yang biru terlihat demikian besar, menarik dipandang mata. Kulit juga bagus sehingga total penampilannya amat menarik.


Akan tetapi... yang membuatku terkejut dan tidak bisa berkata- kata adalah bagian bawah dari kedua orang tersebut berbentuk seperti ikan. Ikan yang sangat besar. Mereka berdua adalah ras duyung.


Bersambung.

__ADS_1


   Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2